
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
Malam sudah berganti siang. Siang sudah berganti hari dan hari sudah berganti bulan. Tidak terasa saja Ayara sudah berada dirumah sakit untuk melahirkan anak keduanya.
Sekarang Tuan Abidzar, Tuan Edward dan anggota keluarga yang lainnya lagi menunggu cemas didepan ruang operasi. Ya, gara-gara bayinya terlalu besar. Jadinya Ayara tidak bisa melahirkan secara normal. Seperti saat melahirkan Vania, anak pertamanya.
"Edward, tenanglah! Aya pasti baik-baik saja dan bisa melewati semuanya. Didalam ada Alvian yang menemaninya." ucap Tuan Abidzar menyentuh bahu besannya. Padahal beliau sendiri juga merasa was-was. Takut bila menantu kesayangan dan cucu Rafael kenapa-kenapa.
"Aku tahu dia pasti kuat, Abi. Tapi aku sangat menyesali perbuatan ku yang mengusirnya saat hamil Via. Putriku berjuang sendiri saat itu. Tidak ada suami ataupun keluarga yang mendampinginya." Tuan Edward akhirnya menumpahkan air mata penuh penyesalan.
"Sudahlah! Jangan diingat-ingat lagi. Bukan hanya kau yang merasa bersalah. Aku pun merasakan hal yang sama. Andai aku tahu lebih awal bahwa puteraku sudah menghamili putri seseorang. Maka akan aku nikahkan mereka sejak awal." kata Tuan Abidzar berhenti sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
"Andai saja aku memerintahkan anak buahku mengikuti Alvin kemanapun dia pergi. Maka Aya dan cucu kita tidak akan pernah menderita."
"Aku yang seharusnya memperhatikan putriku. Namun, ini malah sebaliknya. Aku malah memperhatikan Arianti yang ternyata bukan anakku." kedua pria paruh baya tersebut saling menyalahkan dirinya masing-masing.
Padahal yang salah tentu saja Alvian. Yaitu mencoblos sebelum waktu pemilu. Alhasil Aya hamil saat mereka masih sama-sama lulus sekolah menengah atas.
"Kau tahu Ed, jika aku tahu Aya hamil. Aku tidak akan perduli pada Agensi yang mengontrak member ALV. Aku lebih rela kehilangan harta keluarga Rafael daripada harus menelantarkan darah keturunan Rafael. Apalagi ternyata Aya adalah anak dari sahabat baikku." ungkap Tuan Abidzar yang begitu menyanyangi Ayara.
"Ya, aku tahu kau pasti akan melakukannya, bila kau tahu putriku hamil sejak awal. Terima kasih karena keluarga Rafael mau menerima putriku apa adanya. Kau adalah laki-laki yang bertanggung jawab atas keluargamu. Padahal awalnya kalian tidak tahu bahwa Ayara putri keluarga Wilson." Tuan Edward menyeka air matanya sendiri.
Sungguh bila waktu bisa diputar, beliau mau menanyakan baik-baik siapa pemuda yang menghamili anak gadisnya.
Kleeek!
Suara pintu ruangan operasi terbuka lebar. Seorang Dokter tersenyum bahagia sambil mengendong bayi dalam dekapannya. Membuat semuanya berdiri serentak dan mendekati sang dokter.
"Dok, bagaimana keadaan putri Saya?" tanya Tuan Abidzar dan Tuan Edward secara bersamaan. Lalu mereka saling pandang dan tersenyum. Begitupula dokter tersebut juga ikut tersenyum.
"Putri kalian baik-baik saja. Saat ini Nona Muda Ayara lagi dipersiapkan untuk pindah keruang perawatan." jawabnya seraya menyerahkan bayi tersebut pada Nyonya Lili.
Biasanya bayi begitu lahir akan ditempatkan dikamar khusus bayi sampai beberapa jam. Namun, tidak berlaku untuk putra kedua Alvian. Soalnya bayi tersebut memiliki berat badan hampir empat kilo.
"Selamat ya, Nyonya. Cucu kedua kalian adalah laki-laki. Dia begitu tampan sama seperti paparnya." ucap sang dokter.
"Sama-sama, Dok. Saya juga sangat berterima kasih karena Tim dokter sudah menolong putri dan cucu kami." sahut Nyonya Lili tidak bisa menyurutkan senyum bahagia.
"Mari ikutlah bersama Saya. Sebentar lagi Nona Aya dan Tuan Alvin akan menyusul keruang perawatan." ajak sang dokter dan diikuti mereka semua.
Sementara itu didalam ruangan operasi, Aya sudah siap mau dibawa keluar mengunakan ranjang pasien.
"Sayang, terima kasih. Maafkan aku karena ketika kau melahirkan Via harus berjuang sendirian." entah untuk ke berapa kalinya Alvian mengucapkan kata maaf.
"Sudahlah, jangan diingat-ingat lagi. Aku bahagia bisa memberimu seorang putri dan putra." jawab Ayara yang masih terlihat pucat.
Tidak lama setelahnya pasangan suami-istri tersebut sudah meninggalkan ruangan itu bersama Tim dokter terbaik yang sudah dipersiapkan dari jauh-jauh hari oleh Tuan Abidzar dan Tuan Edward.
"Aya... sayang! Syukurlah kau baik-baik saja, Nak." Tuan Edward sebagai ayah kandung memberikan pelukan hangat pada Aya lebih dulu.
"Iya, Pa. Aya baik-baik saja. Papa kenapa menangis?" Aya tersenyum setelah keningnya dikecup oleh Tuan Edward.
"Papa, takut terjadi sesuatu pada kalian berdua. Papa menyesal sudah membuatmu berjuang sendiri saat melahirkan Via, Nak."
"Pa, semuanya sudah berlalu. Lupakanlah semuanya karena Aya sekarang sudah bahagia. Lagian semua ini salah kami berdua yang... berpacaran dengan bebas." Aya menyentuh tangan papanya.
"Mama Jasmeen pasti juga bahagia melihat kita berdua bahagia. Jadi Aya mohon jangan diingat-ingat lagi. Sekarang Papa cukup menikmati masa tua bersama ketiga cucu papa." lanjutnya lagi yang tidak lupa menyebutkan anak Renata sebagai cucu papanya.
"Iya, Aya benar, Pa. Disini yang bersalah adalah Alvin yang memutus hubungan bersama Aya. Jadi sekarang lupakan saja kenangan masa lalu yang pahit." Alvian juga ikut menimpali.
"Sudah-sudah! Jika membahas masa lalu maka kita semua tidak akan pernah bahagia. Sekarang lihatlah seperti apa pangeran kecil kita." seru Nyonya Lili membuat mereka semua ikut menoleh pada box bayi tampan tersebut.
"Kakak, dia sangat mirip saat Alvin masih bayi." ucap Tante Anis karena bayi tersebut memang begitu mirip dengan papanya.
"Jika dia mirip seperti orang lain, maka orang curiga bukan putraku." Alvian dan Ayara saling pandang.
"Mau kau beri nama siapa, Al?" tanya Tuan Abidzar.
"Namanya... Arkananta Fauzan Rafael." jawab Alvian yang sudah menyiapkan nama untuk anaknya. Walaupun mereka tidak tahu bayi yang dikandung Ayara, laki-laki atau perempuan. Sebab saat dilakukan USG memang si bayi tidak mau menampakan jenis kelaminnya.
"Nama yang sangat bagus, Papa suka dengan namanya." kata Tuan Edward dan dibenarkan juga oleh Tuan Abidzar.
Berbeda dengan Alvian dan Ayara. Pernikahan Bara dan Lula sampai saat ini belum juga ada tanda-tanda akan memiliki momongan juga.
Padahal Hanan yang baru menikah beberapa bulan lalu, sekarang istrinya sudah hamil muda.
Akan tetapi Bara dan Lula tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Hubungan mereka masih baik-baik saja. Walaupun pernikahan tersebut masih dirahasiakan dan tak kunjung direstui sampai saat ini.
Lula yang tadinya memiliki tubuh berisi. Sekarang sangat kurus karena makan hati atas sikap ibu mertuanya. Bukan hanya satu atau dua kali. Nyonya Marry mengundang Ria ataupun gadis lain. Padahal dirumah tersebut ada menantunya.
Semua itu beliau lakukan untuk membuat Lula tersiksa. Namun, cinta gadis itu begitu besar sehingga masih tetap bertahan disamping Bara.
... BERSAMBUNG......
.
.
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya ya, agar Mak Author juga semagat untuk menulisnya. Terima kasih 🙏😘😘😘