I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Untuk Vania.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


"Maafkan aku, andai aku tahu kau tengah mengandung anak kita. Aku tidak pernah mengambil jalan hidupku sendiri," ucap Alvian masih memeluk Ayara yang duduk pada lantai Toko, karena tidak kuat lagi untuk menopang tubuhnya.


Tulang-tulang Ayara seakan tidak ada lagi. Tubuhnya seperti tidak berdaya, mungkin karena harus dihantam rasa sakit yang pernah dia rasakan empat tahun lalu.


Dimana Ayara muda di tinggalkan oleh pemuda yang dianggapnya adalah malaikat penolongnya dari Tuhan. Sebagai penganti sang ibu yang sudah diambil saat dia masih berumur dua tahun.


Setelah itu penderitaannya belum juga berakhir. Justru baru saja dimulai. Aya harus menerima kenyataan hamil diluar nikah. Diusir tanpa diberikan uang sepeser pun.


Makanya saat ini dia sampai terlihat begitu hancur. Untung saja Vania tidak menyaksikan hal itu. Bila tidak maka sudah pasti si cantik akan histeris melihat keadaan mama terhebatnya menangis.


"Aku tahu, kata maaf ku tidak akan merubah semuanya. Aku tidak bisa menyembuhkan luka mu. Tapi aku mohon, demi Vania... biarkan aku melakukan tugasku sebagai ayahnya," Alvian kembali mengatakan hal itu karena tidak ada jawaban apapun dari Ayara.


Wanita itu hanya terus menangis tersedu-sedu. Diantara rasa sakitnya, dia juga dilema harus mengambil keputusan seperti apa.


Sekarang mereka berdua sama-sama merasakan sakit karena perbuatan mereka sendiri. Sehingga adanya Vania kecil, sebagai bukti atas dosa yang sudah dilakukan oleh kedua orang tuanya.


"Aku tidak pernah memiliki pikiran untuk merebut Vania darimu. Hanya aku ingin dia memanggilku papa, aku ingin membiayai semua kebutuhannya, karena itu memang tanggung jawabku. Bukan tugasmu, sudah cukup selama ini kau berjuang sendirian," sambil mendekap tubuh Ayara, pemuda itu terus mengungkapkan maksud kedatangannya.


Agar Ayara tidak salah paham dan mau menerima kehadirannya sebagai ayah Vania. Meskipun tidak menikah, tapi setidaknya anak mereka memiliki orang tua.


"Kau ti--tidak berbohong? Ka--kau datang bukan untuk mengambil Vania?" tanya Ayara meskipun tersedu-sedu.


"Tidak! Aku tidak mungkin melakukan hal itu, karena kau lebih berhak atas dirinya," jawab pemuda itu cepat.


Tttddd!


Ttttddd!


"Bara!" gumam Alvian yang masih bisa didengar oleh Ayara. Namun, dia tetap tidak merubah posisinya.


Aya masih bersimpuh di atas lantai, sedangkan Alvian bertekuk lutut sambil memeluknya. Dada yang empat tahun lalu selalu menjadi sandaran Ayara. Akan tetapi sekarang tidak lagi karena kehidupan mereka sudah terpisah bagaikan langit dan bumi.


📱 Alvian : "Huem, ada apa?" tanya Alvian setelah menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.


📱 Bara : "Kalian dimana? Ini kami baru saja pulang dari membeli makanan untuk makan malam kita," jawab Bara sambil mengelus kepala Vania yang duduk di pangkuannya.


Gadis kecil itu seakan-akan tahu bahwa Bara adalah sahabat baik kedua orang tuanya. Sehingga mau saja saat digendong atau diajak berbicara.


📱 Alvian : "Kami masih di Toko bunga. Apakah Vania menangis?" mendengar perkataan Alvian menyebutkan nama malaikat kecilnya.


Membuat Ayara langsung mendorong tubuh Alvian secara kasar. Lalu dia berdiri untuk pulang kerumahnya.


📱 Alvian : "Bara, sudah dulu. Ini mungkin kami akan pulang sekarang," kata pemuda itu langsung menutup sambungan telepon mereka secara sepihak, karena dia ingin mengejar Ayara yang sudah mau keluar dari pintu masuk.


"Aya, tunggu dulu!" cegahnya menarik tangan Ayara. Sehingga membuat Aya terhenti di tempat yang berdiri.


"Lepas! Kau mau apalagi," sentak Ayara kasar. Begitulah ciri khas jika perempuan sedang marah.


"Aku ikut, ini Tokohnya apakah tidak di tutup lagi?" meskipun belum tahu Ayara mengizinkan dia untuk ikut atau tidak. Namun, yang jelas Alvian sudah memakai kembali masker penutup wajah dan topinya.


"Awas!" jawab Ayara berjalan kearah meja kasir buat mengambil kunci Toko tersebut. Jika Alvian tidak mengingati dirinya, maka Ayara sudah lupa.


"Kau tetap sama seperti dulu, jika lagi marah akan terlihat menggemaskan." gumam Alvian sambil mengambil alih kunci dari tangan Ayara, karena dia yang akan mengunci Toko tersebut.


"Biar aku yang lakukan," Alvian mengunci pintunya. Sedangkan Aya hanya diam memperhatikan.


Sekarang jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, karena baru saja turun hujan besar. Jadi di luar sudah sepi, yang ada hanya orang-orang yang lewat saja.


"Ini," ucapnya lagi menyerahkan kunci Toko karena Alvian cuma membutuhkan gembok nya saja.


Ayara tidak berkata apa-apa, dia hanya diam dengan mata sembabnya. Akan tetapi dia masih menunggu Alvian mengecek pintunya dengan benar.


"Sudah, ayo! Aku tidak tahu dimana jalannya," ajak pemuda itu lagi yang tidak disahuti oleh Ayara sama sekali.


"Eh, tunggu sebentar! Kau pakai ini, nanti ada orang yang melihat matamu yang sembab." sebelum Ayara sempat menjawab perkataannya. Alvian sudah lebih dulu menutup kepala Aya dengan jaketnya.


"Nah, seperti ini lebih baik," Alvian menyugikkan senyum kecil, karena ingatannya kembali ke masa lalu. Namun, semua kebahagiaan mereka hancur karena keputusan yang dia pilih sendiri.


"Ayo," ajaknya karena Aya hanya diam saja. Mungkin bukan hanya Alvian yang mengigat serpihan masa lalu. Tapi juga Ayara, makanya dia terdiam membeku.


Lalu setelah mendengar suara ajakan dari Alvian barulah dia mengerjabkan matanya dan air mata kembali menetes. Namun, cepat-cepat dia hapus.


"Sadarlah Aya... buang jauh-jauh pikiran masa lalu mu. Alvin datang hanya untuk Vania," gumam Ayara di dalam hatinya. Lalu dia mulai melangkah pelan sambil memeluk tubuhnya sendiri.


"Apakah tempatnya jika malam hari akan sepi seperti ini?" meskipun tidak yakin Aya akan menjawab pertanyaannya. Tapi Alvian tetap mencoba untuk mengajak berbicara.


"Kau pikir ini di Apartemen, mau jam berapa saja akan ramai," jawab Ayara ketus.


"Iya, aku lupa," meskipun Ayara menjawabnya dengan nada marah. Namun, Alvian sudah merasa lega karena Aya tidak melemparnya dengan barang-barang tajam atau bahkan membunuhnya.


"Ya Tuhan! Ternyata selama ini Aya dan putriku tinggal di tempat seperti ini? Aku kira di pusat ibukota seperti ini, maka tidak ada rumah-rumah tidak layak tinggal."


Gumam Alvian sambil berjalan dengan mata memandang ke kiri-kanan rumah-rumah yang mereka lewati.


"Aya, apakah tempatnya masih jauh?"


"Kenapa? Aku tidak ada mengajakmu. Jadi pergilah dari sini," usir Ayara terus mempercepat langkahnya.


"Tapi aku yang mau ikut bersamamu," jawab pemuda itu ikut mempercepat langkahnya. Setelah beberapa menit kemudian, mereka sudah tiba di depan rumah tua yang kecil. Soalnya mobil Bara juga terparkir di depannya.


"Jadi mereka tinggal di sini... sungguh aku tidak pantas untuk dimaafkan. Aya menderita seperti ini karena diriku." hati Alvian terasa di cabik-cabik melihat tempat tinggal Ayara. Padahal mereka belum saja masuk kedalamnya.


Tok!


Tok!


"Iya, tunggu! Aku segera datang," sahut Lula dari dalam.


"Aya," seru gadis itu yang hanya dilewati saja oleh Ayara. Soalnya dia ingin segera memeluk putrinya.


"Mama," ucap Via melihat kedatangan sang ibu. Gadis itu minta diturunkan dari atas pangkuan Bara, karena Vania seakan-akan mengerti apa yang dirasakan mamanya.


"Vania, putirku," lirih Ayara kembali menjatuhkan tubuhnya di atas lantai papan rumah mereka. Lalu dia menentangkan kedua tangan untuk menyambut pelukan sang putri.


"Mama tangis lagi," benar saja hanya melihat keadaan ibunya sekarang. Vania sudah ikut menagis dengan tangan memeluk berat tubuh kecil wanita yang sudah berjuang sendiri untuk melahirkannya ke dunia ini.


"Mama.. Via Atut," tangis si kecil. Entah hal apa yang dia takutkan.


"Vania tidak boleh takut, ada Mama bersamamu."jawab Ayara merenggangkan pelukannya.


Apa yang mereka lakukan tentu disaksikan oleh Lula, Bara dan Alvian. Bahkan Alvian cepat-cepat membelakangi mereka, karena tidak ingin Lula melihat dia menangis.


"Mama tangis lagi," ucap Vania sesenggukan juga.


"Mama menangis karena lagi bahagia. Vania tidak usah menangis juga," jawab Aya yang terus mendekap sang putri.


Mereka berdua sama-sama saling menguatkan hatinya masing-masing.


Sebetulnya Aya tidak mau menunjukkan kesedihannya di depan Vania. Akan tetapi apabila belum memeluk tubuh kecil sang putri. Maka dia tidak akan bisa tenang, karena semenjak memiliki Vania. Hanya putrinya itulah tempat dia bercerita.


Soalnya selain bercerita saat dia baru tiba di kota tersebut. Yaitu pada Lula dan Almarhumah Bibi Atika. Gadis itu selalu menyimpan lukanya sendiri.


Padahal dia sangat dekat dengan Lula, tapi dia tidak pernah bercerita jika itu adalah masalah pribadi.


"Mama tangis mau naik peda lagi?"


"Iya, Mama menangis mau naik sepeda lagi. Jadi Vania jangan ikut menangis lagi ya, Mama hanya butuh pelukan Vania," memaksakan untuk tersenyum sembari menyeka air mata buah hatinya.


"Tunggu Mama telja tita taik peda tama beli---"


"Minuman kaleng, iya kan?" Ayara kembali memeluk Vania. Rasanya sakit sekali karena buat menambah satu kaleng minuman saja dia tidak mampu.


"Andai aku mengikuti permintaan Aya, untuk menjalin hubungan jarak jauh. Tidak saling menghubungi lewat telepon. Maka mereka berdua tidak akan pernah menderita seperti ini. Dan pastinya dia akan tetap menjadi Ayara ku," setelah mendengar celotehan putrinya yang membahas minuman. Alvian kembali lagi memutar tubuhnya.


Dia juga sama sakitnya karena menyaksikan sendiri Vania ingin minuman kaleng tiga. Sedangkan Ayara hanya mampu membelinya dua.


"Mama takit?" tanya si kecil menempelkan tangannya pada kening sang ibu.


"Tidak! Mama baik-baik saja, mungkin badan Mama panas karena belum mandi. Vania tunggu di kamar ya, Mama mandi. Setelah itu baru kita Bobo," jawab Ayara kembali berdiri dan tidak ada memperhatikan orang sekitarnya.


"Ara, kau mandi saja, biar aku yang menjaga putrimu." cegah Lula karena melihat ibu dan anak itu sudah saling berpegangan tangan.


"Biarkan saja dia ti---"


"Aya, biarkan Vania di sini. Aku tidak akan membawanya kabur. Lagian ada temanmu yang mengawasi kami," sela Alvian karena dia ingin mencoba mendekati anaknya.


"Aya, kau mandi saja. Aku tidak akan pernah membiarkan Alvian membawa Vania darimu. Jika dia berani melakukan hal itu, maka aku yang akan menyeretnya ke kantor polisi." imbuh Bara jujur, karena dia tidak akan membiarkan Ayara dan Vania menderita lagi.


"Apakah mereka semua bisa aku percaya? Kenapa pada Lula aku juga jadi ragu seperti ini," batin Ayara menatap mereka secara bergantian.


"Vania, Mama mandi dulu, ya," ucapnya setelah terdiam beberapa saat. Vania hanya mengangguk kecil karena dia memang tidak tahu pasti apa yang membuat mamanya menangis.


Setelah kepergian Ayara ke kamar mandi. Alvian berjalan mendekati Vania. Gadis kecil itu lagi menatap punggung mamanya yang sudah hilang dibalik pintu kamar.


"Hai... " sapa Alvian kembali berjongkok untuk mensejajarkan dengan tubuh sang putri.



"Ayo peluk Papa," ucap pemuda tersebut karena pandangan Vania saat melihatnya dan Bara benar-benar berbeda.


Dia hanya diam sambil menatap lekat wajah Alvian. Seakan-akan Alvian seperti seorang penjahat yang sangat ditakuti oleh anak-anak.


"Ini Papa, apa Via tidak mau punya Papa?" tanya Alvian yang ikut serta memangil Vania degan sebutan. Via. Seperti sang putri menyebutkan namanya sendiri.


"Via tatut, tidak mau tama Om," jawab si cantik berlari kearah Bara untuk mencari perlindungan.


"Kenapa ini, kenapa Vania tidak mau padaku. Aku sangat ingin memeluknya. Jika aku paksa, takutnya dia semakin takut." gumam Alvian menahan sesak di dadanya.


Sebab bukan hanya Ayara saja yang tidak mau bertemu dengannya.b Akan tetapi juga sang putri, gadis kecil yang merupakan darah daging Alvian sendiri.


"Om Abal, Via tatut," ucapnya begitu sudah berada dalam pelukan Bara.


"Via tidak boleh Takut ya, itu Papa Alvian. Dia tidak jahat, nanti jika dia nakal biar Om yang akan memukulnya," Bara mencoba memberikan pengertian.


Sehingga Vania menoleh kearah belakang lagi untuk menatap muka Alvian. Itu semua entah gara-gara si cantik ikut sakit hati sama seperti ibunya. Atau dia takut karena wajah mereka mirip? Entahlah! Hanya Vania sendiri tahu penyebabnya.


"Apakah dia memang seperti itu bila bertemu dengan orang yang tidak dia kenal?" tanya Alvian pada Lula.


Gadis itu sejak tadi selalu tersenyum karena melihat seperti apa Alvian maupun Bara saat berbicara pada Ayara sahabatnya


"Tidak! Vania adalah anak yang ramah. Sama seperti pada Albar, dia juga seperti itu biasanya." jawab Lula cepat.


"Albar? Apakah kau salah satu pengemar ALV?" tanya Alvian karena dia memang belum kenal gadis yang masih berdiri di sampingnya.


"Tentu saja," jawab Lula cepat. "Apakah kalian ingat saat ALV debut tiga tahun lalu?"


"Iya, memangnya kenapa?" sahut Bara yang juga tidak ingat jika tadi sore Lula telah mengatakan perihal tanda tangan Alvian.


"Apa kalian ingat saat para Fans-nya ALV meminta tanda tangan kalian? Nah waktu itu aku minta pada Albar buat menandatangani baju untuk calon keponakanku yang belum lahir. Bayi itu adalah Vania," papar Lula tersenyum sambil menatap pada Vania.


"Ara dulunya past sangat bahagia. Makanya dia bisa memiliki anak dengan Ian ALV. Aaaaa dia beruntung sekali," gumam Lula merasa bahwa Ayara adalah wanita yang beruntung.


"Apa? Benarkah?" seru Alvian dan Bara secara bersamaan.


"Iya, aku meminta untuk Vania dan malam itulah Ara melahirkan. Dia pergi ke rumah sakit sendirian karena tidak mau mengagalkan rencana ku untuk menonton konser kalian," saat bercerita terdengar helaan nafas berat dari gadis itu.


"Dan... eum, baju yang ada tanda tangan mu, itulah yang menemani Vania bila dia tidur dan itu sampai sekarang. Mungkin kalian tidak percaya, tapi ini nyata," tutur Lula mulai bercerita karena dia bingung bila hanya diam saja.


"Jadi gadis yang memakai dress yang sama persis seperti punya Aya. Adalah dia dan itu benar baju yang aku berikan" Alvian kembali bergumam sambil mendekati Vania dan Bara.


...BERSAMBUNG......