I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Deal Untuk Menikah.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


Merasa puas setelah merasakan manisnya bibir Lula. Pemuda itu pun melepaskan pangutan bibirnya. Lalu ia usap mengunakan jari tangannya karena bibir Lula basah oleh Saliva mereka.


Lula tidak bicara apa-apa. Tubuhnya menegang dengan perasaan berdebar-debar tidak menentu. Namun, tatapan mata gadis itu terus menatap muka Bara yang tersenyum tampan padanya.


Fiuuuh!


"Maaf, karena aku sudah lancang," Bara meniup muka Lula. Agar gadis itu segera tersadar.


"Agh! A--apa? Tadi ka--kau bicara apa?" tanya Lula tergagap dibuatnya.


"Lula... maukah kau menikah dengan ku?" bukannya menjawab. Namun, Bara kembali melemparkan pertanyaan yang belum dijawab oleh gadis itu.


Akan tetapi bukan pertanyaan biasa. Melainkan pertanyaan seperti bom atom bagi seorang Lula.


"Lula, kau kenapa hanya diam saja? Apakah kau tidak mau?" lagi-lagi tangan Bara menyentuh pipi Lula yang langsung memejamkan matanya.


"Aku serius, tidak sedang bercanda, Lula. Tapi jika kau tidak mau, maka malam ini juga aku akan meninggalkan Apartemen mu," ucap Bara lagi karena pemuda itu mulai bingung.


Apakah Lula mau menerima lamaran dadakan darinya, atau tidak? Soalnya gadis tersebut diam seribu bahasa.


"It's oke... kalau kau tidak menjawab juga. Maka diam mu, aku anggap sebagai penolakan dar---"


"Tidak! Aku mau! Tapi... kau serius, kan? Tidak sedang mempermainkan aku?" sela Lula cepat. Jangan lupakan tangannya sudah menutup mulut Bara. Agar berhenti bicara, karena dia mana mungkin menolak lamaran dari idolanya.


"Lula, aku serius! Mana mungkin aku berbohong tentang hal sebesar ini. Jadi kau mau menikah denganku, kan?" jawab pemuda tersebut menurunkan tangan Lula dari mulutnya.


"Tentu saja aku mau! Tapi... bagaimana dengan keluarga mu? Apakah mereka mau menerima ku? Bagaimana dengan fans ALV, apakah mereka bisa terima idolanya menikahi gadis biasa?" semagat yang ada diwajah Lula. Tiba-tiba langsung meredup.


"Yang mau menikah kan kita berdua. Kenapa harus meminta persetujuan orang lain. Soal keluarga ku, kau tidak perlu khawatir karena aku sangat yakin mereka akan menerima mu," jawab Bara berusaha menyajikan.


Shuuit!


Bara meletakan jari telunjuknya pada bibir Lula yang tadi sudah ia nikmati. "Mari kita bersama-sama berjuang. Seperti Alvian dan Ayara. Apapun akan terasa mudah, asalkan kita saling percaya satu sama lain," ucap Bara disertai senyum.


"Bara..." lirih Lula yang tidak sanggup menahan rasa harunya. "Aku mau berjuang bersama mu," ucapnya lagi sudah memeluk tubuh Bara sambil menagis.


Cup!


"Huem, mari kita berjuang bersama, karena aku sendiri tentu akan kesulitan," jawab pemuda itu mengecup kepala Lula yang juga ia peluk sangat erat.


"Walaupun aku belum tahu pasti sudah mencintaimu atau belum? Tapi aku sangat mencintaimu Lula. Aku selalu gelisah bila jauh darimu. Perasaan ini belum pernah aku rasakan saat masih berpacaran dengan Ria. Apalagi setelah kita tinggal bersama, membuatku tidak ingin berpisah darimu lagi."


Gumam Bara di dalam hatinya. Soalnya pemuda tersebut memang baru menyanyangi Lula. Belum mencubitnya. Akan tetapi dia sudah tidak mau berpisah dari gadis yang selama ini hanya ia anggap sahabatnya.


Hampir lima belas menit, mereka berpelukan. Lalu setelah itu barulah Bara merenggangkan pelukannya dan menatap lekat muka Lula yang sembab karena menangis.


"Jadi kita sudah deal untuk menikah, kan? Jika memang iya. Setelah masalah ini benar-benar selesai. Maka aku ingin kita langsung menikah,"


"Se--secepat itu?"


"Iya, lebih cepat bukannya lebih baik. Aku tidak ingin tinggal berjauhan darimu lagi. Tapi bila kita selalu tinggal bersama, maka aku takut kita sama-sama khilaf," ungkap pemuda itu jujur.


Dia adalah pria normal. Bukan tidak mungkin bila tidak tertarik pada tubuh indah Lula.


"Baiklah, aku mau. Tapi... aku hanya ingin kita menikah biasa saja. Tidak perlu orang lain tahu,"


"Oke! Tapi ini untuk sementara. Tapi bila sudah saatnya. Aku ingin kita membuat pesta pernikahan yang sangat mewah," imbuh Bara menyetujui permintaan Lula.


"Iya, tidak apa-apa," Lula tersenyum semakin lebar.


"Ayo kita masuk! Lihatlah, sekarang mau turun hujan," ajak Bara menarik lembut tangan calon istrinya yang ia lamar dadakan malam ini.


...BERSAMBUNG......