I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Rencana Alice.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING.......


.


.


"Ian, tunggu!" wanita yang memangil Alvian di depan lift membuat pemuda tampan itu berhenti pada tempatnya berdiri.


"Kak Mauza," seru Alvian pada partner kerjanya yang sejak awal selalu mendampingi ALV.


"Kenapa buru-buru sekali," tanya wanita itu menoleh kearah Ayara degan tersenyum mengembang dan berkata. "Hai, kita bertemu lagi. Apakah kau masih ingat denganku?"


"Iya, aku masih ingat. Waktu itu Kakak yang menjemput Alvin di Apartemen, kan?" tebak Ayara tersenyum karena dia memang masih mengigit wajah Kak Mauza.


"Iya, benar sekali! Ternyata tebakan ku waktu itu benar, ya. Ian terlambat datang karena lagi memadu kasih degan istrinya. Tapi kenapa saat itu kalian mengaku sebagai pacar," Kak Mauza tersenyum.


"Kakak baru datang?" Alvian bertanya dengan pertanyaan yang lainnya. Anggap saja lagi mengalihkan pembicaraan.


"Iya, untuk membahas pekerjaan kita Minggu ini,"


"Oh, yasudah! Kalau begitu lanjutkan saja karena ini sudah hampir sore. Jadi kami mau pulang sekarang." ucap si tampan sambil melihat jam pada pergelangan tangannya yang sudah menunjuk pukul tiga sore.


Padahal mereka berangkat sejak pagi. Untungnya Vania sudah lengket dengan opa dan oma nya. Jadi Alvian dan Aya tidak perlu khawatir pada sang putri.


"Baiklah! Lanjutkan," Kak Mauza berhenti sejenak sebelum kembali berkata lagi. "Ayara, lain kali ikutlah bersama suamimu. Agar kau bisa melihat seperti apa dia suka mengaggu para gadis-gadis yang menyukainya,"


"Haa... ha... Kak Mauza benar. Aya harus ikut supaya bisa mengetahui bahwa suaminya ini suka sekali menggoda para fans ALV." tawa Sandy yang langsung membuat Alvian menatapnya tajam.


Sedangkan yang di tatap malah tersenyum lebar dan langsung melangkah masuk kedalam lift.


"Kak, kami pulang duluan. Kakak pergilah temui Staf Muzaki," tidak ingin Kak Mauza menggoda Aya. Suami yang telah menjadi bucin akut itu langsung menyusul Sandy dan para member yang lain ikut berlari masuk karena pintu lift mau tertutup.


"Hai Kak, sampai berjumpa lagi," sapa Hanan, Bara dan Naufal yang membuat Kak Mauza mengelengkan kepalanya dan berkata.


"Kalian berlima mau kapan dewasanya. Selalu bertingkah seperti anak kecil," ucap wanita tersebut yang setengah bergumam.


"Kak," panggil Alice yang diam-diam tadi mendengar pembicaraan Alvian bersama Kak Mauza.


"Alice, ada apa? Apakah kalian mau pulang juga?"


"iya," gadis itu menjawab singkat disertai anggukan kepalanya. "Apakah dia gadis yang Kakak maksud waktu kita di Amerika?" tanyanya memastikan.


"Benar, dialah gadis yang aku maksud. Ternyata hubungan mereka masih terjalin sejak dulu sampai sekarang. Sungguh pasangan yang saling setia," puji Kak Mauza yang sudah menonton saat Alvian melakukan live streaming tadi pagi dan seperti apa saat si member inti bermesraan di depan kamera yang menyiarkan siaran langsung.


"Apakah selain pertemuan saat Kakak menjemput Alvian. Kalian tidak pernah bertemu lagi---"


"Kak, Kakak sudah ditunggu oleh Smith Muzaki. Soalnya ini sudah sore dan dia juga mau pulang," saat Alice masih mau bertanya tentang Ayara.


Salah satu Staf memangil Kak Mauza karena wanita itu telah di tunggu oleh Staf Muzaki dalam ruangan kerjanya.


"Iya, aku datang," Kak Mauza menoleh kearah Alice dan Rima.


"Aku mau masuk dulu. Lain kali kita bicara lagi," sebelum Alice dan temannya menjawab. Kak Mauza sudah pergi dari sana.


"Aah! Kenapa masalahnya bisa seperti ini, sih," seru Alice sambil masuk kedalam lift dengan kesal diikuti oleh sahabatnya.


"Ais, kenapa kau malah mencari masalah seperti ini? Ini sih namanya menggali kuburan sendiri. Dengan sengaja kau sudah membuat hubungan Ian dan Ayara semakin kuat. Membuat hubungan mereka diketahui oleh publik," ucap Rima menyesali keputusan Alice untuk membuat hubungan Ayara dan Alvian diketahui oleh publik.


"Rima, diamlah! Kau membuatku tidak bisa berpikir dengan benar," kesal Alice mengusap wajahnya kasar. Sebab gara-gara dia berniat membuat Ayara hancur. Justru mengangkat derajat dan hubungan Aya bersama Alvian.


Ya, yang menyuruh wartawan datang ke sekolah Vania adalah orang suruhan Alice. Setelah kepulangan dari Amerika, gadis itu menyuruh seseorang untuk mengikuti Alvian di kelurganya.


Namun, tidak berhasil karena Alvian pergi liburan ke Villa mewah milik Naufal. Akan tetapi begitu Alvian kembali dari berlibur. Orang suruhan Alice mengikuti Bara ke sebuah rumah mewah.


Lalu di sana terlihatlah Alvian lagi bersama istri dan anaknya. Alhasil Alice menyuruh anak buahnya semakin menyelidik masalah tersebut dan ketahuan lah bahwa Vania sudah sekolah.


Di salah satu sekolahan yang bertaraf internasional dan satu fakta baru kembali terungkap. Yaitu tentang Vania masuk sekolah di sana mengunakan data Ayara.


Dari situlah Alice berasumsi bahwa Ayara adalah simpanan Alvian yang telah memiliki anak haram. Tanpa dia ketahui bahwa Ayara bukan berdiri seorang diri. Melainkan Tuan Abidzar di bekang nya.


Jangankan Alice. Ayara saja juga tidak tahu bahwa dia bisa mudah memasuki Vania di sekolah mahal. Walaupun tidak memakai data Alvian.


Padahal data aslinya sudah diselesaikan oleh sekertaris pribadi ayah mertuanya. Jadi jika para guru memang tidak tahu. Karena data tersebut segaja disembunyikan oleh kepala sekolah. Atas perintah Tuan Abidzar. Sebab beliau sudah tahu jika cepat atau lambat pasti akan ada orang yang mengungkapkan semua.


Tujuannya adalah agar Alvian ataupun keluarga Rafael tidak lebih dulu membuat jumpa pers untuk menjelaskan semuanya. Akan tetapi biar jumpa pers itu terjadi atas permintaan publik.


Begitulah cara Tuan Abidzar melakukan taktik untuk mengecoh orang-orang yang mencoba mengganggu keluarganya.


Dengan begitu tidak akan ada yang mengatakan bahwa keluarga Rafael tengah berbohong. Namun, sebaliknya. Bila seperti yang terjadi saat ini. Satu orang saja tidak akan ada yang ragu dengan pernyataan bahwa seorang Ian ALV yang merupakan aset negara mereka. Telah menikah dan memiliki seorang putri.


Seperti itulah fakta yang sebenarnya. Tuan Abidzar melakukan itu semua demi nasib menantunya yang sudah beliau anggap seperti mana putrinya sendiri.


Apalagi setelah mengetahui bahwa Ayara adalah anak Jasmeen. Gadis yang pernah beliau sukai dan berakhir menjalin persahabatan seperti mana saudara.


"Jika aku tahu akan berakhir seperti ini. Tentu saja aku akan membiarkan Alvian menyembunyikan pernikahan mereka dan aku akan membuatnya bisa menjadi milikku," sesal Alice yang sudah salah bertindak.


Seperti kata Pepatah. Bila melempar sesuatu terlalu keras. Maka lebih banyak berbalik ke orang yang melemparnya. Nah, itulah yang terjadi saat ini.


"Sudahlah! Tidak perlu kau sesali. Lebih baik kau berpikir mencari cara untuk merebut Alvian dari Ayara." Rima menepuk pelan pundak Alice. Sebagai penyemangat untuk sang sahabat.


"Sekarang pasti semakin sulit, Rim. Kau lihatlah seperti apa Alvian menempel pada wanita sampah itu," Alice mengepalkan tangannya erat.


Sebagai bentuk penyaluran rasa emosinya, karena begitu membenci Ayara. Apalagi Alvian malah seperti dengan sengaja menyuapi Ayara dihadapan mereka semua.


Belum lagi saat melihat sang pujaan hati menarik Ayara kedalam pelukannya. Agar gadis itu bisa duduk dengan nyaman. Sungguh Alice sangat membenci hal tersebut.


Padahal jika dia mau marah, maka marahlah pada Alvian. Soalnya benar kata Bara, bahwa Alvian menjadi Kompor untuk membuat orang-orang iri dan cemburu.


"Bagaimana jika saat kita konser serempak Minggu ini. Kau lakukan sesuatu pada Ian. Misalnya jebak dia," usul Rima. Saat ini mereka sudah keluar dari dalam lift dan sedang menuju kearah mobil yang telah menunggu mereka berdua.


Alice dan Rima memang artis papan atas juga. Namun, penjagaan mereka tidak seperti para member ALV.


"Maksudnya?" tanya Alice menatap pada Rima.


"Ian adalah pria beristri. Bukan pemuda polos yang tidak menyukai perempuan. Ataupun penyuka sesama jenis. Seperti yang sering heater isukan untuk para member ALV selama ini," jelas Rima karena Alice sangatlah bodoh.


"Sudahlah! Nanti didalam mobil aku akan mengatakan padamu cara menjebaknya. Agar kau bisa menjadi istrinya," Rima menarik tangan Alice untuk cepat-cepat masuk kedalam mobil mereka yang sudah ada bodyguard sebagai sopir dan juga penjaga keamanan mereka.


Di luar gedung tersebut ternyata sudah sepi dan kembali normal seperti biasanya. Karena para member ALV sudah pulang. Jadi fans ALV maupun wartawan, yang sudah mendapatkan klarifikasi tentang yang terjadi. Sudah ikut pulang bagitu jumpa pers selesai.


"Rima, ayo katakan apa yang harus aku lakukan?" Alice bertanya tidak sabaran.


"Kau jebak Alvian degan obat-obatan terlarang. Selagi dia berada diluar rumah. Alvian adalah pria beristri, Ais. Jadi bila ditawarkan tubuhmu yang indah sudah pasti dia tidak akan pernah menolak. Kau paham kan apa maksudku?" Rima tersenyum jahat.


"Iya-iya! Aku tahu maksudmu. Aku akan menjebaknya. Tapi untuk melancarkan rencana ku, tolong kau lakukan sesuatu agar kita tidak satu kamar," Alice juga ikut tersenyum karena telah memiliki cara untuk mendapatkan Alvian.


"Tentu saja aku akan membantumu. Namun, apabila kau sudah berhasil mendapatkan nya. Giliran dirimu yang membantuku. Agar aku bisa mendapatkan Naufal. Aku sangat heran dengan mereka berlima. Kenapa tidak pernah menjalin kasih seperti para artis lainya? Mereka sangat sulit untuk kita sentuh." keluh Rima yang sudah lama menyukai Naufal.


"Kau tenang saja, setelah aku mendapatkan Alvian dan berhasil menyingkirkan Ayara beserta putrinya. Maka aku akan membantumu untuk mendapat Naufal," imbuh Alice dengan penuh keyakinan karena tidak tahu bahwa Ayara juga akan ikut bersama mereka. Saat tour minggu ini.


Sementara itu di dalam mobil. Ayara dan Alvian baru saja tiba di kediaman rumah utama keluarga Rafael. Dari jauh kediaman mewah tersebut sudah mulai nampak.



"Sayang, kenapa begitu banyak mobil, Apakah ada tamu yang datang?" tanya Ayara pada suaminya.


Sebab apabila mobil anggota keluarga Rafael yang lainnya. Ayara sudah hafal. Kecuali bila mobilnya baru dibeli.


"Entahlah! Aku juga tidak tahu, sayang" Alvian menyimpan kembali ponselnya, karena sejak tadi pemuda itu sedang melihat nilai dari fans ALV yang menyukai Ayara.


Walaupun do'a dan ungkapan kebahagiaan mereka selalu terselip rasa sedih dan patah hati karena sang artis telah menikah. Tetap saja bukan menjadi ancaman untuk karier Alvian bersama keempat sahabatnya.


"Kita sudah sampai, ayo turun," ajak pemuda itu lebih dulu karena pintu mobilnya sudah dibuka oleh Denis si Bodyguard pribadi.


Masih melalui pintu yang sama Alvian mengulurkan tangannya lagi untuk membantu sang istri turun dari mobil. Sungguh perhatian yang diberikan oleh pemuda itu bak seperti seorang raja pada ratunya.


"Terima kasih!" ucap Ayara tersenyum karena yang Alvian dulu dan Alvian yang sekarang, masih tetap sama. Selalu memanjakan Ayara.


Tidak perlu berterima kasih, karena sudah tangung jawab ku untuk membahagiakan istriku," Alvian membawa Ayara masuk lewat pintu samping, karena mereka tidak tahu siapa orang yang lagi bertamu. Ada tiga mobil mewah yang terparkir di depan rumah tersebut.


"Bibi, ada siapa di depan?" tanya Alvian pada salah satu asisten rumah tangga yang kebetulan lewat setelah mengantarkan minuman.


"Eum... itu, itu keluarga Wilson Tuan Muda," jawab si asisten tidak enak menyebutkan karena ada Ayara.


Sebab tadi Nyonya Lili sudah berpesan agar tidak memberitahu Ayara, karena tidak mau sang menantu kembali merasakan sakit hati dengan kedatangan keluarga Wilson.


"Mereka datang? Sudah berapa lama?" tanya Alvian tersenyum karena dia sudah menduga hal ini akan terjadi. Namun, tidak menyangka akan secepat ini.


Sebab baru tadi pagi mereka melakukan jumpa pers untuk mengklarifikasi hubungannya dan Aya sekaligus latar belakang sang istri.


Akan tetapi keluarga Wilson sudah datang, yang dapat Alvian tebak. Pasti ingin membawa Ayara pulang. Sejak mereka pacaran, pemuda itu sudah tahu seberapa liciknya keluarga Wilson.


"Sudah ada sekitar satu jam lalu, Tuan. Namun, kata Nyonya Lili, Nona Ayara tidak usah menemui mereka,"


"Tidak apa-apa, kami akan menemuinya. Bibi teruskan saja pekerjaannya," kata Alvian menyuruh sang pelayan pergi dan wanita itupun langsung meneruskan pekerjaannya di belakang.


"Sayang, kita harus menemui mereka sekarang. Karena bila tidak, mereka pasti akan terus mengusik mu," ucapnya dengan mengelus kepala sang istri.


"Iya, kau benar. Cepat atau lambat, kita pasti akan bertemu mereka," Aya tersenyum kecil untuk menyembunyikan luka hatinya.


Cup!


"Jangan takut, ada aku. Tidak akan pernah aku biarkan mereka melukai istriku lagi," Alvian mengecup kening Ayara cukup lama dan setelah itu mereka berdua berjalan kearah ruang tamu. Sebab meskipun terletak di depan, orang- orang tidak akan tahu bahwa mereka sudah pulang.


Soalnya mobil mereka masuk lewat pintu bagian kanan rumah megah tersebut. Saat sampai Alvian dan Ayara juga lewat pintu samping.


"Tenanglah! Tunjukkan pada mereka, bahwa kau bisa hidup tanpa status Keluarga Wilson, sayang. Mau sampai kapanpun kau hanya putri Mama Jasmeen. Bukan Edward," ujar Alvian berjalan sambil memasukan kedua tangannya kedalam saku celana dan Aya berada di sebelahnya.


Meskipun sudah beraktivitas seharian. Tetap tidak mengurangi ketampanan Alvian dan begitu pula kecantikan Ayara. Mereka berdua benar-benar sangat serasi.


"Walau bagaimanapun Ayara adalah cucu dari keluarga Wilson. Jadi tolong biarkan kami membawa pulang," ucap nenek Ayara yang paling banyak bicara sejak tadi.


"Haaa... ha... kalian pikir putri Saya akan mau pulang ke sana," tawa Tuan Abidzar yang tetap terlihat santai dan menekankan kata-katanya. Yaitu bahwa Ayara adalah putrinya, bukan memantu.


"Tapi---"


"Meskipun Aya mau kembali ke sana. Maka Saya tidak akan pernah membiarkan dia pergi dari sini," sela Alvian yang membuat mereka menoleh kearah sumber suara.


Sedangkan Ayara hanya mengenggam ponselnya semakin erat.



"Pergilah, mulai hari ini kau bukanlah bagian dari keluarga Wilson." ucapan Tuan Edward saat mengusirnya. Ayara teringat kembali ucapan tersebut.


"Tapi Pa, Aya mau kuliah." suaranya sendiri yang menangis. Juga masih dia ingat. Yaitu disaat Ayara baru lulus sekolah.


"Jika kau mau kuliah, maka carilah pekerjaan. Agar bisa mendapatkan uang buat membayar kuliah mu. Nanti Papa akan membantu sisanya."


Seperti sebuah kaset, semua percakapan Tuan Edward dan keluarga Wilson lainnya. Berputar di dalam benak Ayara. Sehingga rasa sakit itu kembali harus dia rasakan. Untungnya saat ini Ayara tidak sendirian. Akan tetapi ada sosok suami yang sangat mencintainya dan juga keluarga Rafael.


Mereka semua menyayangi Ayara dengan sangat tulus. Tanpa pernah terlintas sedikitpun seperti apa latar belakang gadis itu.


"Sayang, kalian sudah pulang," sambut hangat Nyonya Lili berdiri memberikan pelukan pada sang menantu dan disaksikan oleh keluarga Wilson.


"Mama," lirih Ayara langsung balas memeluk Ibu mertuanya dengan sangat erat.


"Sudah tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja. Karena ada Mama, papa, Alvian dan nenek. Bahkan semua keluarga Rafael. Ketahuilah kami semua ada bersamamu, Nak," ucap Nyonya Lili yang sangat ngerti bahwa saat ini menantu kesayangannya itu sedang tidak baik-baik saja.


"Aya, ayo duduklah! Ini mereka semua ingin bertemu denganmu," ucap Tuan Abidzar menggeser tempat duduknya.


Agar Aya dan Alvian duduk bersama beliau beserta istrinya. Biar seluruh keluarga Wilson mengetahui seperti apa cara mereka menyayangi sang menantu, yang sejak kecil sudah dikucilkan oleh keluarganya sendiri.


...BERSAMBUNG......