I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Villa, Naufal.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


Di depan gedung Apartemen mewah. Aldebaran atau yang biasa di sapa Bara oleh orang terdekatnya dan Albar sebutan nama panggungnya. Pemuda tampan itu sedang duduk di dalam mobilnya menunggu seorang gadis. Yaitu Lula, mereka akan pergi liburan ke Villa mewah milik Naufal yang baru dibeli bulan lalu.


"Akhirnya dia turun juga," ucap Bara pada dirinya sendiri begitu melihat kedatangan Lula degan satu buah koper baju yang berukuran kecil karena mereka hanya liburan selama dua hari.


"Hai... Maaf, sudah membuatmu menunggu," sapa Lula tersenyum.



"Huem, tidak apa-apa! Kita akan menunggu di rumah Naufal, soalnya Alvin dan keluarganya belum berangkat dari rumah mereka." jawab Bara yang hanya membuka pintu mobil dari dalam karena takut apabila ada orang yang mengenalinya.


"Oke, aku ikut saja. Terima kasih!" kata Lula setelah dia duduk di dalam mobil.


"Pasang sabuk pengamannya," titah Bara sebelum menjalankan kendaraan mewahnya.


"Iya, ini juga lagi aku pakai." Lula menjawab singkat. "Bara, apakah tadi malam kau sudah tidur?" tanya gadis itu melihat wajah tidak semagat sang idolanya.


"Tidak! Aku tidur dengan sangat nyenyak. Apakah muka ku terlihat jika lagi putus cinta?" Bara balik bertanya.


"Iya, apakah kau lagi putus cinta?"


"Kenapa? Apakah kau mau menertawakan aku?" Bara tersenyum kecil saat mengatakannya karena dia dan Lula memang sangat dekat. Namun, hanya sebagai fans dan artis yang dia idola saja.


"Haa... ha... aku sebetulnya tidak ingin menertawakan mu. Namun, karena kau bilang sendiri, jadi aku katakan saja. Bahwa aku memang ingin menertawakan dirimu," jawab Lula jujur.


"Awas kau ya, nanti saat kau putus cinta maka aku akan menertawakan mu." ancam Bara sambil mengemudikan mobilnya menuju rumah mewah milik Naufal.


Soalnya teman-temannya yang lain juga akan menunggu di sana. Termasuk Alvian dan keluarga kecilnya. Namun, tadi Bara menelepon Alvian, pemuda itu mengatakan lagi menunggu Ayara mandi.


Sebagai pria sudah beristri, sangat tidak heran bila Alvian sampai terlambat karena setelah hampir satu Minggu tidak bertemu. Tentu tadi malam akan begadang untuk melepas rasa rindu, bersama istri tercintanya.


"Semoga saja aku bisa memiliki kekasih dan bisa merasakan yang namanya suka dan duka dalam menjalin sebuah hubungan." jawab Lula memaksakan untuk tersenyum, karena dia memang belum pernah pacaran. Jadi tidak tahu bagaimana rasanya di cintai, ataupun di kecewakan oleh pacar.


Mungkin karena selama ini semenjak mengenal member ALV yang bernama Aldebaran. Cinta Lula hanya untuk sang idola, jadi dia sampai tidak pernah tertarik pada laki-laki lain yang bisa membalas cintanya.


Sedangkan pada Bara, diibaratkan sebuah ilusi yang nampak sangat indah. Namun, tidak bisa dia sentuh ataupun di nikmati. Baik itu dulu, maupun sekarang.


Walaupun saat ini mereka sudah berteman dekat dan saling menelepon setiap hari untuk bertukar kabar. Tetap ada jarak diantara keduanya dan Lula sedang berusaha menjaga jarak tersebut.


Bagi gadis itu cinta tidak harus memiliki. Melihat Bara bahagia dengan pasangan yang pemuda itu cintai. Maka Lula juga akan bahagia, walaupun sebetulnya dia akan tetap menyimpan perasaannya dalam diam.


"Lula, apakah kau serius belum pernah berpacaran?" tanya Bara masih tetap tidak percaya. Padahal sudah sering Lula bercerita jika dia tidak pernah berpacaran.


"Kenapa? Apakah kau juga mau mengejekku? Ck, aku sudah biasa di ejek, jadi tidak akan mempan hanya karena diejek olehmu." decak Lula tetap terlihat tenang.


"Tidak! Aku tidak menyangka saja, bahwa di jaman sekarang masih ada gadis yang umurnya sudah dua puluh dua tahun, tapi belum pernah pacaran,"


"Umurku sudah hampir dua puluh tiga tahun. Aku dan Ayara seumuran." imbuh gadis itu membetulkan tebakan Bara yang salah.


"Jujur aku juga tidak menyangka bahwa seorang member ALV yang dicintai para fans-nya. Ternyata juga mengalami patah hati karena masalah percintaan. Tadinya aku kira semua gadis itu akan tergila-gila pada kalian semua." sekarang bergantian Lula yang mengejek Bara.


"Bukankah kau juga salah satu fans ALV yang tergila-gila padaku?" ucap Bara yang langsung membuat Lula terdiam tidak bisa menjawab apa-apa lagi.


"Aku bukan tergila-gila, tapi hanya... Apakah kita sudah sampai?" tanya Lula yang segaja mengalihkan pembicaraan.


Kebetulan sekali mobil Bara sudah berbelok ke sebuah rumah megah. Selain pagar besinya menjulang tinggi. Ada begitu banyak pengawal yang berjaga di depan rumah mewah tersebut.


"Iya, ini adalah rumah Naufal, kita akan menunggu di sini sampai Alvin dan Aya datang." jawab Bara hanya tersenyum kecil disudut bibir atasnya yang tidak bisa dilihat oleh Lula karena gadis itu hanya menatap ke depan.


"Ayo turun! Nanti aku akan memperkenalkan mu degan mereka." ajak Bara karena Lula memang belum pernah bertemu dengan Sandy, Naufal dan Hanan.


Jika saat konser tiga tahun lalu memang sudah pernah bertemu. Namun, saat itu hanya sebagai artis dan para idola saja. Bukan seperti hari ini bertemu sebagai teman.


Ya, anggap saja sebagai teman, karena Lula adalah sahabat Ayara dan ke empat member ALV adalah sahabat Ayara juga. Sedangkan Alvian sudah menganggap Lula sebagai saudara dari istrinya yang tidak memiliki keluarga lagi.


"Lula, ayo kita turun! Kau tidak perlu takut karena ke-tiga sahabat ku orangnya baik-baik. Apalagi Hanan, dia sangat gampang dekat dengan seseorang. Satu-satunya yang pendiam adalah Naufal. Namun, dia juga orang yang sangat baik." papar Bara karena dia juga mengerti apa yang lagi dirasakan oleh Lula.


"I--iya, aku tadi hanya merasa---"


"Ada aku, jadi jangan takut dan gugup," sela pemuda itu sambil turun dari mobilnya lebih dulu. Lalu dia berjalan memutar untuk membukakan pintu mobil. Agar Lula segera keluar dari sana.


Jangan lupakan Bara juga mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu turun dari mobil, dan disambut pula oleh Lula karena dia memang merasa gugup.


"Kau sudah tahu aku?" jawab Lula yang pada dasarnya memang gadis yang sangat ramah.


"Tentu saja! Bara selalu menceritakan mu. Jadi kami sudah kenal," timpal Hanan yang baru datang dari belakang.


"Hai... salam kenal! Aku Lula," ucap gadis itu tetap memperkenalkan dirinya.


"Hai juga, aku Sandy, terserah padamu mau memangil apa." jawab Sandy tersenyum ramah.


"Iya," jawab Lula singkat. Lalu setelah berkenalan dengan Sandy, dia juga berkenalan Hanan dan Naufal. Baru setelahnya ikut duduk karena Alvian dan keluarganya belum juga datang.


"Lula, kapan kau tiba di kota ini?" tanya Hanan sambil memperhatikan lawan bicaranya.


"Lula datang saat kita baru tiba di Amerika Minggu lalu." Bara yang menjawab lebih dulu, sehingga dia menjadi pusat perhatian sahabtanya.


"Kenapa kalian menatapku horor seperti itu?" tanyanya tanpa memikirkan apa penyebab ketiga sahabatnya menatap penuh selidik.


"Aku bertanya pada Lula, tapi kenapa malah kau yang jawabnya?" ujar Hanan dengan sengaja ingin menjahili Bara.


"Betul sekali, kau sudah seperti Alvian saja, Bar, yang selalu---"


"Selalu apa?" sela Alvian sudah masuk degan satu tangannya mengandeng Ayara dan tangan satunya lagi dia gunakan untuk menggendong putri kecilnya.


"Wah-wah! Princess sudah datang! Ayo sama Om Hanan," seru Hanan langsung berdiri dari duduknya dan mengajak Vania agar mau dia gendong.


"Mau tama papa," tolak Vania malah memeluk erat leher sang ayah yang hanya memaki baju kaos biasa. Namun, tetap saja terlihat sangat keren.


"Agh, tidak seru, kenapa tidak mau digendong? Huem!" Hanan mengelus kepala Vania. Gadis kecil yang dilimpahi kasih sayang dari keluarga besar Rafael dan juga keempat sahabat Alvian.


"Via kemarin demam dua hari, saat kita masih di luar negeri dan mamanya sengaja tidak memberitahuku." jelas Alvian, supaya baik Hanan atau sahabatnya yang lain bisa mengerti bila Vania tidak mau sama orang lain.


"Pantas saja, mungkin dia masih tidak enak badan." imbuh Naufal ikut mendekati Alvian hanya buat mengelus kepala Vania.


"Aya, bagaimana kabarmu?" sapa Hanan melihat Aya hanya tersenyum setelah melepaskan pelukannya dan Lula.


"Kabarku sangat baik," jawab Ayara tersenyum pada keempat, sahabatanya dan juga sahabat sang suami.


"Syukurlah! Kalau begitu ayo kita berangkat sekarang saja. Agar saat jam makan siang kita sudah tiba di sana." ajak Naufal sambil melihat jam mewah pada pergelangan tangan.


"Al, jam yang diberi oleh fans mu hari itu kau apakan? Kau buang, atau diberikan pada orang lain?" Bara yang bertanya karena dia baru mengigat jika Alvian diberi jam tangan oleh fans ALV yang merupakan adik iparnya sendiri.


"Aku kasih pada Kak Mauza, agar bisa dia berikan pada suami atau saudaranya." jawab Alvian yang sengaja tidak mau memberitahu Aya. Bahwa dia diberi jam tangan mewah oleh Arianti. Adik tiri dari istrinya, semua itu dia lakukan agar tidak mengingatkan Aya tentang keluarga yang sudah membuangnya.


"Oh, baguslah! Ayo kita berangkat sekarang. Lula biar bersamaku saja. Agar aku ada temannya." ujar Bara keluar lebih dulu. Diikuti oleh Lula di belakangnya. Setelah itu disusul oleh Alvian dan keluarga kecilnya.


"Sandy, kau mau satu mobil dengan Hanan dan Naufal, atau bersama kami?" tanya Alvian sebelum masuk kedalam mobilnya. Sedangkan Ayara sudah dia bukakan pintu karena Alvian berangkat bersama Denis dan satu orang bodyguard nya.


"Aku akan berangkat sama Hanan dan Naufal saja." jawab Sandy karena mereka berencana bergantian saat membawa mobilnya.


"Oke, kalau begitu kalian duluan saja, biar mobilku mengikuti dari belakang." setelah berkata seperti itu Alvian pun menyusul masuk kedalam mobilnya.


Braaak!


Suara pintu mobil di tutup oleh Alvian yang baru masuk bersama putri cantiknya. Gadis kecil itu tidak mau turun dari gendongan papanya. Jadi anggap saja jika Vania lagi bermanja-manja karena sudah ditinggal selama satu Minggu.


Maka dari itu Alvian menyuruh Denis dan Bodyguard kepercayaan nya untuk satu mobil saja. Agar dia bisa fokus buat memberikan kenyamanan pada si buah hati.


"Sayang, jika kau lelah maka tidur saja," ucap Alvian pada Ayara yang terus menguap sejak tadi.


"Ini masih pagi, nanti saja setelah sampai ke Villa." Ayara hanya tersenyum kecil mendengar ucapannya suaminya yang menyuruh dia tidur saat masih pagi seperti saat ini.


"Baiklah, tapi bila kau mengantuk, maka tidurlah." ujar Alvian yang terus mendekap tubuh putri kecilnya selama dalam perjalanan.


Sedangkan di belakang mobil mereka ada mobil Bara dan dua buah mobil bodyguard. Jika mobil jaguar XF milik Naufal sudah melesat lebih dulu, sebagai penunjuk jalan ke Villanya yang terletak cukup jauh dari pusat ibu kota.


"Lula, apakah kau tidak berniat untuk menikah?" tanya Bara tiba-tiba. Sehingga Lula yang tadinya lagi termenung langsung menatap kearah Bara.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" bukannya menjawab. Namun, Lula kembali bertanya.


"Aku hanya bertanya saja, Soalnya satu-satunya teman dekat mu adalah Aya dan dia sudah memiliki suami berserta anak juga."


"Jika ditanya seperti itu dan membandingkan dengan Aya, tentu saja aku ingin sepertinya. Memiliki suami dan anak yang sangat lucu. Namun, kehidupan manusia itu berbeda-beda, Bar. Tidak boleh kita samakan dengan diri kita sendiri." jawab bijak Lula.


"Dibalik kebahagiaan yang dirasakan oleh Ayara. Ternyata dia harus menderita terlebih dahulu. Jadi jangan samakan diri kita dengan takdir orang lain," lanjutnya lagi yang membuat Bara terdiam.


... BERSAMBUNG... ...