
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
Di rumah sakit yang tidak jauh dari kediaman Tuan Edward. Ayara sedang duduk termenung degan Alvian berada di samping istrinya. Di kiri-kanan mereka ada para bodyguard yang menjaga keamanan.
Mendadak saja siang ini rumah sakit tersebut langsung di stop untuk umum. Semua itu atas perintah Tuan Abidzar yang saat ini sedang berada dalam perjalanan menuju ke rumah sakit tersebut.
Alvian memang tidak memberitahu papanya. Akan tetapi para orang-orang setia Tuan Abidzar tentu langsung memberi kabar tentang apa yang terjadi. Bagaimana Ayara bisa diserang.
"Sayang, kau baik-baik saja?" tanya Alvian menyentuh bahu istrinya. "Ini minum dulu, jangan khawatir Tuan Edward pasti akan baik-baik saja," ucapnya lagi menenangkan hati Ayara.
"Huem... iya, aku tidak apa-apa. Aku tidak khawatir pada keadaanya," dusta Ayara yang diiyakan saja oleh Alvian. Meskipun dia tahu pasti Ayara mengkhawatirkan keadaan Tuan Edward.
Walau bagaimanapun dalam darah Ayara. Mengalir darah Tuan Edward. Hanya saja mungkin karena terlalu kecewa pada sang ayah. Membuat hati gadis itu menjadi keras seperti tidak peduli dan memiliki rasa kasihan.
Tap!
Tap!
Suara langkah kaki menggema di lorong rumah sakit. Yaitu suara sepatu yang dipakai oleh Tuan Edward dan juga para pengikutnya. Sehingga membuat Alvian dan Ayara berdiri dari tempat duduknya.
"Papa---"
Plaaak!
"Apa yang kau lakukan? Apa seperti ini caramu melindungi istri dan anakmu? Apa gunanya para bodyguard yang ikut kalian, apabila melindungi Ayara saja tidak bisa," seru Tuan Abidzar menampar keras pipi putranya. Semua itu karena beliau sangat menyayangi Ayara. Dia khawatir pada keadaan sang menantu.
"Maaf, Pa. Alvin sudah lalai," jawab Alvian karena dia sendiri juga sangat menyesali kecerobohannya.
"Bagaimana bila yang terkena adalah Aya? Papa menyuruh membawa pengawal karena ingin kalian aman, bukan untuk menonton konser," Tuan Abidzar masih tetap memarahi Alvian karena menurut laporan Denis, mereka tidak boleh mendekat atas perintah putra beliau sendiri.
Maka dari itu Tuan Abidzar marah pada Alvian. Soalnya sejak tadi malam beliau mengatakan harus berhati-hati karena kelurga Wilson sangatlah licik dan tidak mungkin mereka akan menerima kekalahan begitu saja.
"Jika Aya sampai kenapa-kenapa, maka anak kalian juga pasti dalam bahaya, Alvin. Berapa kali Papa harus bilang padamu, jangan pernah terlalu menyepelekan sesuatu yang mungkin itulah musuh terbesar kita," serunya lagi benar-benar marah setelah mendapatkan laporan tersebut.
Sampai-sampai beliau meninggalkan rapat penting hanya untuk memastikan keadaan anak dan menantunya.
"Papa... tenanglah. Semua ini bukan salah Alvin. Dia tidak bersalah, tapi Aya yang bersalah sudah ceroboh," dengan takut-takut Ayara mencoba menyabarkan ayah mertuanya.
"Aya, Nak, syukurlah kau tidak apa-apa. Papa benar-benar sangat mengkhawatirkan mu," seru Tuan Abidzar memeluk Ayara dan Alvian secara bersamaan.
"Papa khawatir pada keadaan kalian berdua, Papa akan menjadi pembunuh hari ini. Apabila kau dan Alvin sampai terluka," ucap beliau membuat Ayara kembali menangis haru dibuatnya.
Berbeda dengan Alvian, pemuda itu justru balas memeluk papanya. Tuan Abidzar marah seperti tadi, semua itu karena beliau terlalu khawatir pada keadaan putranya.
"Sudahlah, jangan menangis yang penting kalian berdua tidak apa-apa. Ini menjadi pelajaran berharga untuk kalian berdua. Papa tidak mungkin mengirimkan penjaga bagitu banyak, apabila tidak ada yang mengancam keselamatan kalian,"
Tuan Abidzar melepaskan pelukan mereka dan menatap pada putranya. Pipi putih Alvian sudah memerah karena tamparan beliau.
"Bawa istri mu makan siang di mobil. Papa sudah membawa makanan untuk kalian. Jangan sampai karena hal ini, kau dan Aya menjadi sakit," titahnya yang membuat Alvian dan Ayara menatap pada beliau.
"Papa masih sempat membawa makan siang untuk kami?" tanya pemuda itu tersenyum kecil.
"Ck, jika saja kau bukan anakku, maka Papa tidak akan membawa makanan untuk kalian," decak beliau membuat Alvian semakin tersenyum lebar.
"Ayara, pergilah makan siang dulu. Semuanya akan baik-baik saja, di dalam ada dokter terbaik yang menangani Tuan Edward," ucap beliau pada sang menantu dan diiyakan oleh Ayara.
"Terima kasih, Pa. Alvin sangat menyayangi Papa," ungkap pemuda itu langsung memeluk Tuan Abidzar lagi. Bukan seperti Alvian yang tampan saat berada di atas panggung dan disoraki oleh jutaan penonton yang tergila-gila padanya.
Namun, Alvian malah terlihat seperti anak kecil yang tidak mau berpisah dari papanya. Ayara yang melihat hal tersebut malah menjadi tersenyum semakin lebar dan melupakan kesedihannya tentang orang tuanya.
"Sudah-sudah! Nanti saja jika kau ingin bermanja-manja. Sekarang pergilah ke mobil Papa. Di sana ada pengawal yang menyiapkan semuanya. Selagi masih hangat karena baru saja dibeli dalam perjalanan ke sini,"
"Baiklah! Terima kasih, Pa. Maaf karena Alvin selalu membuat Papa khawatir," ucap pemuda itu setelah melepaskan pelukan mereka. Lalu dia dan Ayara pun pergi keluar rumah sakit untuk makan siang.
Mereka bisa berjalan bebas karena di rumah sakit tersebut. Sedang di tutup untuk umum. Adapun pasien yang lama. Mereka semua dilarang merekam ataupun membuat berita yang memberitahukan bahwa Ian si member ALV ada di rumah sakit itu.
Setelah kepergian Alvian dan Ayara.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Tuan Abidzar pada pengawal yang berjaga di depan pintu ruang operasi.
"Keadaan beliau baik-baik saja. Hanya saja tadi sebelum dibawa masuk kerumah sakit ini beliau pingsan," jawab pengawal tersebut.
"Lalu bagaimana mana degan Denis dan yang lainya. Apakah mereka sudah bekerja seperti yang sudah kita rencana?" Tuan Abidzar kembali bertanya.
"Sudah, sekarang para penyidik sudah mengintrogasi Rose. Dalam kasus ini Marlin ibu Tuan Abidzar memang terlibat,"
"Saya sudah tahu itu. Suruh Denis mengancam Rose untuk buka mulut. Agar mengatakan siapa saja yang terlibat dalam kematian Jasmeen. Karena Saya sangat yakin bahwa ada yang membantu mereka melakukan semua ini. Kalau tidak mana mungkin kecelakaannya bisa dimanipulasi,"
"Soal itu Anda tidak perlu khawatir, semua akan kami selesaikan dengan baik. Satu masalah selesai, tinggal membereskan Tuan Noah Norin. Hanya dia yang menjadi ancaman untuk kebahagiaan Tuan Muda Alvin dan Nona Ayara," jawab si pengawal yang selalu bekerja dengan sangat baik.
"Iya, kau benar. Maka dari itu terus awasi sampai kita bisa mengikat mati perusahaannya lewat perusahaan adik ipar Saya," kata Tuan Abidzar yang tidak akan segan-segan menghancurkan semua orang yang akan menyakiti anak-anaknya.
"Dokter, bagaimana keadaannya?" tanya Tuan Abidzar pada dokter yang berjalan kearahnya.
"Keadaan beliau baik-baik saja. Paling satu atau dua jam, akan sadarkan diri," jawab si dokter penuh hormat karena mereka mengenal Tuan Abidzar maupun Tuan Edward. Dua orang pengusaha yang sama-sama hebat.
Akan tetapi karena kelalaiannya yang terlalu percaya pada anak sulung Rose. Membuat Tuan Edward kehilangan Wilson group karena memiliki hutang dimana-mana.
"Baiklah, kalau begitu pindahkan dia ke ruang VIP. Dan jangan biarkan lantai ini ada penghuninya," titah Tuan Abidzar sambil melihat jam pada pergelangan tangannya.
"Baik Tuan, lantai ini memang sudah kosong sejak tadi. Orang-orang Anda juga sudah mengambil kendali untuk penjagaan CCTV rumah sakit ini," jawab si Dokter yang menjadi Tim saat operasi Tuan Edward.
"Oke, bagus sekali. Ayo bawa dia ke ruang perawatan," setelah perintah dari Tuan Abidzar. Para dokter membawa Tuan Edward ke ruang rawat intensif. Lalu setelah memastikan semuanya baik-baik saja mereka berpamitan dari sana. Jadi yang ada dalam ruangan tersebut hanyalah Tuan Abidzar dan orang-orang nya.
Tidak lama, sekitar sepuluh menit setelah itu Alvian sudah datang. Namun, bukan hanya bersama Ayara saja. Tapi juga ada Lula dan Renata.
Kedua wanita itu langsung mendatangi rumah sakit setelah mengetahui jika Ayara berada di rumah sakit.
"Lula, kau juga ke sini," seru Tuan Abidzar kaget. Beliau sampai berdiri dari tempat duduknya.
"Iya, Om. Lula khawatir pada keadaan Ayara," jawab gadis itu menyalami tangan Tuan Abidzar yang sudah seperti orang tuanya sendiri. Jangankan pada Ayara, pada Lula saja Tuan Abidzar menyanyanginya.
"keadaannya baik-baik saja, sekarang hanya tinggal menunggu dia sadar. Oh ya, apakah ini yang bernama Renata?" Tuan Abidzar menatap pada Renata. Wanita hamil yang dibawa oleh Ayara karena merasa kasihan padanya.
"I--iya Tuan, Saya adalah Renata,"
"Huem, duduklah. Kita tunggu Tuan Edward sadar," imbuh beliau.
Sehingga semuanya ikut duduk dan mengobrol ringan satu sama lain. Begitupun dengan Ayara, walaupun hatinya ingin mendekati Tuan Edward. Namun, ia tahan karena didalam hatinya masih mengingat seperti apa sang ayah mengusirnya dari rumah.
Hampir dua jam mereka menunggu. Ternyata Tuan Edward sudah siuman. Lalu mereka mendekati beliau setelah diperiksa oleh dokter.
"Tuan Abidzar... Anda juga ada disini," ucapnya degan suara lemah.
"Iya, Saya mau mengucapkan terima kasih karena Anda sudah menyelamatkan putri dan calon cucu Saya," jawaban Tuan Abidzar tentu membuat Tuan Edward tersenyum kecil.
"Anda tidak perlu berterima kasih karena sudah tanggung jawab Saya melindunginya. Saya sudah sangat berdosa pada Aya maupun pada Jasmeen," jawab beliau hanya bisa menyesali perbuatannya.
"Bisakah tinggalkan Saya dan Aya? Saya ingin berbicara berdua dengannya?" kata Tuan Edward yang tidak mungkin berbicara dihadapan orang banyak masalah keluarga mereka.
"Silahkan, kami akan menunggu diluar," jawab Tuan Abidzar yang membuat Alvian menatap pada beliau.
"Tapi , Pa---"
"Tidak apa-apa, biarkan mereka bicara berdua," sela Tuan Abidzar mengerti bahwa besannya itu malu pada mereka. Sedangkan Ayara hanya diam dan tidak menolak juga saat Tuan Edward mau bicara berdua karena Ayara juga mau menanyakan sesuatu pada beliau.
"Ayo kita keluar," ajak Tuan Abidzar yang tidak bisa dibantah oleh siapapun.
"Sayang, aku akan keluar dulu," ucap Alvian setelah mengecup kening Ayara sekilas. Gadis itu hanya mengangguk kecil.
"Syukurlah kau menemukan keluarga yang sangat menyayangi mu, Nak," ucap Tuan Edward tersenyum penuh luka karena perbuatannya sendiri.
"Maafkan Papa, Aya. Papa sangat berdosa pada Jasmeen maupun dirimu," lanjutnya dan Aya masih tetap diam tidak bicara apa-apa. Hanya saja saat ini Ayara sudah duduk di kursi sekitar setengah meter dari Tuan Edward.
"Papa memang tidak pantas untuk dimaafkan. Sudah begitu fatal perbuatan yang Papa lakukan padamu. Tapi ketahuilah, setelah mengusirmu hari itu, Papa sangat menyesal dan langsung menyuruh orang-orang Wilson untuk mencarimu. Namun, sampai berbulan-bulan tidak bisa menemukan mu," ungkap beliau membuat Ayara yang tadinya hanya menunduk mengangkat kepalanya sedikit ke atas.
"Papa sangat khawatir pada keadaanmu. Papa melakukan semuanya karena terlalu kecewa padamu yang hamil diluar nikah. Tanpa berpikir bahwa sejak kau ditinggal oleh mamamu. Papa tidak pernah memperhatikan mu. Apakah sudah makan atau belum. Apakah kau sehat atau sakit. Apakah kau sekolah atau tidak. Apakah kau pulang atau tidak. Lalu dengan seenaknya Papa menyalakan dirimu atas apa yang sudah terjadi,"
"Bohong! Anda tidak mungkin mengkhawatirkan Saya. Bukannya saat mengusir Saya hari itu, Anda sudah berkata jika tidak mau memiliki Putri seperti Saya?"
"Iya, itu benar sekali. Akan tetapi Papa benar-benar sangat menyesalinya. Sekarang Papa tidak minta diakui sebagai orang tuamu, karena kau sudah menemukan orang tua yang sesungguhnya, yang menyayangimu begitu tulus. Melihatmu bahagia, Papa benar-benar ikut merasakan bahagia," jawab Tuan Edward tidak menyangkal semua yang terjadi.
"Hiduplah dengan bahagia, Aya. Meskipun kau diakui negara sebagai anak pembantu. Namun, didalam dirimu ada darah Papa yang mengalir," ucapnya lagi.
"Akan tetapi bisakah kau memberikan Papa pelukan untuk terakhir kalinya? Papa---"
"Buat apa? Bukannya sebelum Saya pergi meninggalkan keluarga Wilson, juga meminta agar bisa memeluk Anda untuk terakhir kalinya. Namun, apa yang Anda lakukan? Anda dengan sangat keji mengusir Saya agar cepat pergi," sela Ayara degan mata yang memerah menahan air matanya.
"Sekarang Saya tanya, kenapa Anda tidak mengantarkan Saya kepanti asuhan setelah mama Jasmeen meningal dunia? Kenapa Anda menikahinya jika hanya untuk disakiti? Apakah karena Anda hanya menganggap dia sebagai---"
"Tidak, Nak. Papa sangat mencintai mamamu. Papa tidak mengantarmu ke panti asuhan karena Papa menyanyangi mu. Hanya saja papa terlalu bodoh tidak memiliki pendirian untuk memilih kalian. Papa selalu mendengarkan aduan dari Rose dan juga nenekmu," Tuan Edward menyela perkataan Ayara karena beliau benar-benar tidak berbohong dengan ucapannya.
"Ck, Anda dan Marlin serta Rose bukannya sama saja. Kalian sama-sama penjahat," decak Ayara ketus.
"Iya, kau benar sekali. Papa memang jahat. Jika Papa adalah orang baik, maka tidak akan pernah mengusir putrinya sendiri di saat sedang sakit dan juga mengandung cucunya sendiri," jawab Tuan Edward tersenyum kecil pada sang putri.
"Kau berhak membenci Papa, Aya. Papa benar-benar ikhlas karena itu semua tidak sebanding dengan luka yang kau rasakan. Hanya saja tolong izinkan Papa untuk memelukmu yang terakhir kalinya," pinta beliu tidak mau berharap lebih kecuali untuk bisa dimaafkan.
"Maksudnya? Apakah setelah ini kita tidak akan bertemu lagi. Jika memang betul begitu Saya akan melakukannya? seru Ayara cepat.
"Maksudnya setelah keluar dari rumah sakit. Papa akan pergi meninggalkan kota ini. Agar kehadiran Papa tidak menyakitimu. Papa hanya ingin kau bahagia, Nak. Karena Papa sendiri tidak mampu membahagiakan mu," ungkap beliau yang telah memikirkan masalah ini sejak beberapa hari lalu.
"Baiklah, mungkin itu adalah ide yang bagus," Ayara berdiri dari tempat duduknya dan mendekati ranjang Tuan Edward baring tidak berdaya.
"Saya bukanlah orang yang kejam seperti Anda. Jadi Saya akan memberikan pelukan terakhir sebagai bentuk perpisahan kita. Karena sejak awal Anda sendirilah yang memutuskan ikatan ini," ucap gadis itu degan perasaan tidak menentu. Begitu pula Tuan Edward.
... BERSAMBUNG... ...