I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Sebut Saja Namaku.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


Di Taman belakang rumah mewah Tuan Edward. Ayara lagi duduk bersama Renata dan Lula. Di hadapan mereka ada cemilan maupun jus yang sudah dibuatkan oleh pembantu di sana.


"Kak Renata, Lula terima kasih karena kalian berdua sudah mau---"


"Hey... apa yang kau bicarakan. Kita saudara bukan.. Jadi jangan pernah berkata seperti ini lagi. Karena bila ingin mengucapkan kata terima kasih, maka kami tidak pernah bisa membalas kebaikan mu maupun keluarga Rafael," sela Lula cepat.


"Iya, Nona Ayara. Saya---"


"Kak, tolong jangan panggil aku Nona. Kakak sebut namaku saja. Aku tidak memiliki saudara lain di dunia ini. Bukannya kalian berdua sudah tahu sendiri bahwa keluarga Wilson hanya tersisa aku dan papaku saja. Sedangkan yang lainya sudah dihabisi oleh para siluman itu," kali ini Ayara yang menyela perkataan Renata.


"Tapi---" .


"Sudah, Kak. Panggil saja dia Aya, karena itulah nama panggilan kesayangan si member tampan ALV yang kita cintai. Kelima bujangan itu memanggilnya Aya. Agh! Manis sekali," seru Lula sambil menarik kedua pipi Ayara yang semakin terlihat berseri-seri karena sekarang kebahagiaan gadis itu sudah lengkap.


"Baiklah, aku akan memangilnya Aya. Tapi aku tidak akan dihukum kan karena menyebut namanya saja?" kata Renata karena dia benar-benar masih canggung.


Tidak disangka-sangka jika niatnya mau memberi istri idolanya hadiah. Malah bisa ikut bersama Ayara ke kota S.


"Haa... haa... Kakak tidak perlu takut. Keluarga Rafael itu adalah orang yang sangat baik dan tidak pernah menilai seseorang dari hartanya. Paman Abi adalah sosok yang baik dan belum pernah aku temukan sebelumnya. Beliau adalah orang kaya yang begitu menghargai orang miskin seperti kita," tawa Lula karena dia benar-benar merasa berhutang budi pada keluarga Rafael yang sudah mengangkat derajat kelurganya.


"Sayang..." saat ketiga wanita itu masih asik bercerita. Alvian sudah datang mencari istrinya karena urusannya bersama Tuan Edward sudah selesai.


"Alvin," Ayara berdiri menyambut suaminya dan langsung masuk kedalam pelukan pemuda itu.


Tidak bicara apa-apa. Kami hanya lagi mengobrol biasa," jawab Aya tersenyum setelah merasa cukup berada dalam pelukan sang pujaan hati.


"Sudah, semakin sore. Ayo masuk! Nanti setelah makan malam kita baru pulang. Tidak apa-apa, kan?" Alvian yang ingin Ayara semakin dekat dengan ayah mertuanya tidak menolak saat Tuan Edward meminta mereka makan malam di sana.


Sedangkan Tuan Abidzar sudah berpamitan pulang begitu urusannya selesai. Selanjutnya adalah tugas Alvian untuk mengurus sisanya.


"Tapi Papa Abi?"


"Papa sudah pulang barusan. Ayo masuk dulu, ada yang mau dibicarakan papamu pada Kak Renata dan Lula juga," jelas si tampan Alvian.


"Heum, iya," jawab Ayara menatap pada Renata dan Lula. "Ayo kita masuk," ajaknya yang masuk kedalam rumah dan menemui Tuan Edward di ruang keluarga.


"Pa," sapa Ayara lebih dulu dan duduk disamping suaminya.


"Sayang, ayo duduklah. Ada yang mau Papa katakan pada Renata dan juga Lula," jawab Tuan Edward. Lalu mereka semua duduk dan siap mendengarkan perkataan pria itu.


"Lula, Renata... apakah kalian berdua mau tinggal di sini saja?" tanya beliau yang sebelumnya sudah berbicara pada Tuan Abidzar dan menantunya.


"Maaf, Om. Sayang bukannya tidak mau. Tapi Saya bekerja di perusahaan Evander. Jika Saya tidak tinggal di Apartemen. Tentu tidak bisa datang tepat waktu," tolak Lula langsung.


"Kalau begitu bagaimana jika Kak Renata saja?" usul Lula karena Renata belum memiliki pekerjaan dan tempat tinggal. Begitulah menurut pemikiran gadis itu.


"Tentu Om akan bahagia bila Renata mau tinggal di sini. Ada Bibi Erin dan Bibi Lucia. Jadi kita akan ramai," seru Tuan Edward yang sangat butuh orang ceria disekitarnya, yang bisa menghibur kehancuran hati beliau sudah di tipu selama puluhan tahun lamanya.


"Renata, bagaimana. Apakah Kau mau? Jangan anggap rumah orang lain. Tapi anggap rumah Om mu sendiri?" pria dewasa itu bertanya langsung pada Renata.


"Baiklah, aku mau," jawab Renata cepat tanpa berpikir ulang. Karena tidak mau terlalu banyak menyusahkan Ayara dan Alvian.


...BERSAMBUNG......