I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Program Hamil.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


"Lula, apakah kau belum ada tanda-tandanya juga?" tanya Renata pada Lula. Saat ini mereka lagi berkumpul dalam ruangan VIP tempat Ayara bersama Baby Arka.


"Eum... belum, Kak," jawab Lula terdiam sebelum menjawab setiap orang bertanya tentang dia yang belum juga hamil.


"Sabar saja, mungkin memang belum waktunya. Tante Anis dulu sampai hampir empat tahu baru hamil si Sisil." sahut Nyonya Lili mengelus rambut panjang Lula layaknya seperti seorang ibu.


Berbeda terbalik dengan perlakuan Nyonya Marry, yang belum pernah memberikan Lula pelukan hangat. Namun, sampai saat ini Lula masih tetap bertahan sebagai menantu keluarga Anderson.


"Iya, Tante." jawab wanita itu tetap menampilkan senyum agar orang-orang tidak tahu masalah dalam rumah tangganya.


"Lula, apakah kalian sudah pernah melakukan program Hamil? Tapi melalui konsultasi dengan Dokter Riri. Dia adalah sahabatku. Sudah banyak yang tadinya dinyatakan mandul tapi setelah ditangani olehnya bisa hamil." usul Arya yang merupakan sepupu Alvian. Dia adalah seorang dokter muda dari keluarga Rafael.


"Belum pernah, kami hanya mengikuti saran dari Dokter kandungan biasa. Namun, sampai saat ini hasilnya masih sama saja. Belum ada perubahan." jawab Lula lagi yang bisa didengar juga oleh Bara.


Soalnya pria tampan itu tengah melihat Alvian mengendong putranya. Silih berganti para member ALV menjenguk Ayara. Termasuk Bara salah satunya.


"Sayang, jika mau kau coba menemuinya? Tapi itupun bila kau dan Bara benar-benar sudah siap untuk menjadi orang tua. Jika belum siap, maka tidak apa-apa. Kalian masih muda tidak usah terburu-buru. Lagian pernikahan kalian juga belum genap satu tahun."


Tetap dengan lembut Nyonya Lili berbicara pada Lula. Sebab beliau tidak mau membuat wanita muda itu tertekan.


"Iya Tan, nanti akan kami pikirkan lagi." Lula pun kembali mengiyakan karena dia memang tidak bisa memutuskan sendiri.


"Jika nanti kalian mau mencobanya, maka hubungi saja aku." kata Arya yang diiyakan oleh Lula.


"Iya, nanti kami---"


"Arya, apakah kau bisa mempertemukan kami dengan sahabat mu sore ini? Biar setelah dari sini kami bertemu dengannya." sela Bara cepat.


Sehingga Lula dan yang lainnya menatap pada Bara. Termasuk juga Ayara yang tadinya lagi memejamkan matanya.


"Kenapa harus terburu-buru, Bar. Ingatlah, anak adalah rezeki dari yang kuasa. Jika Tuhan belum menghendaki, maka sebagai manusia hanya perlu berusaha dan bersabar." ucap Alvian yang sudah sering mendengar keluhan Bara.


Sahabatnya itu memang begitu mendambakan agar Lula segera hamil. Puncaknya adalah setelah mendengar istri Hanan yang langsung hamil. Padahal baru beberapa bulan menikah.


"Aku juga sabar, Al. Aku hanya ingin memanfaatkan waktu sore ini. Kau kan tahu jika lusa aku harus ke luar negeri untuk album terbaru ku."


"Aku akan menghubungi Dokter Riri. Tunggu sebentar ya dan semoga dia ada waktu luang sore ini." Arya berdiri dari sofa. Pemuda yang tidak kalah tampan dari Alvian itu menelepon diluar ruangan.


"Bar, ini saran dari ku sebagai sahabat mu. Jika kau dan Lula benar-benar mau memiliki anak, maka begitu album terbaru mu diluncurkan. Luangkan waktu untuk bersama istrimu. Ingatlah, kita tidak hanya membutuhkan uang. Tapi juga keluarga adalah nomor satu." lagi- Alvian menasehati sahabatnya.


"Iya, itu benar sekali, Bar. Terkadang stres banyak pikiran bisa membuat masalah yang menyebabkan Lula tak kunjung hamil." timpal Nyonya Lili.


"Iya, Tan. Jika itu penyebabnya aku akan resign dulu sambil menunggu Alvian." jawab Bara yang saling tatap dengan Lula.


"Itu memang harus kau lakukan, Bar. Kau tahu kan saat Aya hamil lima bulan. Semua persiapan untuk Album solo ku gagal total. Hanya gara-gara Aya tidak mau aku tinggal walaupun hanya satu hari." imbuh Alvian karena dia tidak mau bila sahabatnya lebih mementingkan karier.


"Apakah kau mau menyalahkan aku karena kau mengalami kerugian besar?" sahut Aya memanyunkan bibirnya.


"Hei... sayang! Mana mungkin aku merasa rugi karena si tampan ini lebih dari seluruh hartaku." Alvian membawa Baby Arka untuk mendekati istrinya.


"Jangankan harta, nyawaku pun tidak ada artinya, bila dibandingkan dengan keluargaku." lanjutnya lagi yang membuat Ayara tersenyum bahagia.


"Aku juga ingin merasakan kebahagiaan memiliki anak, Al. Tidak seperti sekarang setiap pulang. Pasti mendengar keributan mama dan Lula."


Batin Bara yang sudah seringkali mendengar pengaduan tentang Lula dari mamanya. Namun, sejauh ini Bara tidak menghiraukan karena percaya pada sang istri yang tidak mungkin berbuat macam-macam.


Kleek!


Pintu ruangan terbuka lebar. Ternyata yang masuk adalah Arya dan dibelakangnya ada Tuan Abidzar, Tuan Edward beserta si cantik Vania. Gadis kecil itu baru saja dari supermarket untuk membeli es krim kesukaannya.


"Bar, katanya bisa sore ini. Untuk tempat dan jam nya, kau datang saja ke alamat yang aku kirimkan padamu." ucap Arya.


"Baiklah! Aku akan menghubunginya. Tolong kirim nomor Dokter Riri padaku." jawab Bara pindah tempat duduk di samping Lula.


"Om Albal, mau pelgi?" tanya si cantik Vania yang masih memanggil Bara dengan sebutan Albar. Seperti para fans ALV.


"Iya, sebentar lagi Om mau pergi." Bara merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Via.


"Kenapa buru-buru sekali, Bar?" kali ini yang bertanya adalah Tuan Abidzar.


"Kami mau pergi menemui Dokter Riri sahabat Arya, Om."


"Iya, Om. Jika Lula mau, Bara akan mengantarnya biar tidak kesepian karena ke rumah mama Lula juga tidak pernah lama."


"Antar ke rumah juga tidak apa-apa, Bar. Om sudah menganggap Lula seperti pada Aya. Mereka sudah hidup bersama dalam susah dan senang bersama." timpal Tuan Edward.


"Iya, Om." hanya kata itulah yang bisa Bara jawab. Soalnya tahu jika begitu banyak yang menyanyangi istrinya.


"Sayang, ayo kita pergi sekarang. Soalnya jangan sampai Dokter Riri yang menunggu kita terlalu lama." ajak Bara karena Vania juga sudah turun dari pangkuannya.


 Semenjak mamanya melahirkan. Vania sudah tidak terlalu rewel. Tapi, dia tidak mau jauh dari opa dan kakeknya. Maka dari itu Tuan Abidzar dan Tuan Edward membawa si cantik mencari makanan kesukaannya.


"Iya, ayo kita pergi sekarang." Lula pun ikut berdiri dan berpamitan pada semua yang ada di sana.


Sampai mereka tiba didalam mobil. Wanita itu tidak ada mengeluarkan sepatah katapun. Sehingga membuat Bara bertanya padanya.


"Lula, kau---"


"Aku baik-baik saja." sela Lula cepat karena sebetulnya sudah sejak tadi dia menahan tangisnya.


"Ada apa? Huem! Apakah perkataan ku sudah melukai hatimu?" tebak pemuda tersebut karena saat mereka berangkat istrinya tidak sependiam sekarang.


"Aku... baik-baik saja, Bar. Ayo jalankan mobilnya. Nanti kita malah terlambat menemui Dokter Riri." Lula masih bersikeras mengatakan jika dia baik-baik saja.


Namun, Bara yang tidak percaya langsung menariknya kedalam pelukannya.


Cup!


"Katakan ada apa, Lula? Jangan suruh aku menebaknya sendiri, karena aku bukan peramal." ucapnya mengecup kening Lula dengan lembut. "Apakah kau masih marah gara-gara Ria yang sering datang ke rumah mama?"


"Ti--tidak! Aku---"


"Percayalah bahwa aku benar-benar tidak pernah menyuruhnya datang. Aku juga bertemu dengannya waktu itu tanpa disengaja." Bara lagi-lagi memberikan penjelasan. Soalnya beberapa hari lalu dia dan Lula bertengkar karena Ria.


Tes!


Tes!


Lula akhirnya tidak mampu mendung air matanya. Wanita yang tubuhnya kurus itu menangis tersedu-sedu dalam pelukan Bara. Pernikahan yang diimpikan akan bahagia. Nyatanya malah membuatnya tersiksa.


Apakah itu semua ada hubungannya dengan restu dari orang tua Bara? Entahlah! Namun, satu hal yang jelas. Jauh didalam lubuk hatinya. Ada terselip rasa menyesal sudah menerima lamaran Bara.


Seharusnya Lula sadar diri jika mereka berbeda kasta. Akan tetapi pada saat itu Lula benar-benar buta akan cintanya pada pria tampan tersebut.


"Jangan menangis! Aku mohon!" pinta Bara semakin memeluk erat. "Jika ada masalah ceritakan padaku. Jika... kau tersiksa karena belum juga hamil, maka jangan pikirkan lagi. Aku tidak mau gara-gara hal itu hubungan kita menjadi bertengkar."


"Tapi bagaimana mungkin aku tidak memikirkan hal itu, Bar. Aku tahu kau sejak awal kita menikah ingin aku segera hamil. Tapi---"


Cup!


Sebelum Lula menyelesaikan ucapannya. Pria itu sudah menyambar bibir ranum sang istri. Bara bahkan menahan tengkuk Lula. Guna memperdalam ciuman mereka.


"Please! Jangan dibahas lagi. Mungkin aku yang terlalu egois tidak pernah memikirkan perasaanmu. Tapi mulai saat ini aku berjanji tidak akan menuntut mu untuk segera mengandung anakku." Bara menempelkan kening mereka berdua. Lula tidak menjawab dan hanya diam saja.


"Maafkan aku sudah membuatmu menangis. Tapi setelah ini aku akan berusaha sebisaku untuk membuatmu bahagia. Bukannya malah terlihat seperti orang yang tersiksa. Tubuhmu semakin hari juga semakin kurus."


"Tapi bagaimana bila aku benar-benar mandul seperti kata mama mu? Bagaimana jika aku tidak bisa hamil?" jawab Lula saat Bara menyeka air matanya.


"Itu tidak akan terjadi. Aku sangat yakin bahwa kita berdua bisa memiliki anak. Mungkin saat ini Tuhan belum percaya pada kita. Seperti yang Alvian katakan tadi." Bara berhenti sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.


"Mulai sekarang mari kita sama-sama berusaha. Namun, semuanya kita pasrahkan pada pencipta. Aku tidak ingin lagi kita bertengkar seperti ini. Oke!" berusaha menenangkan Lula dan dirinya sendiri jika semuanya sudah ada skenario masing-masing.


"Huem, baiklah!" jawab wanita itu mengagguk kecil. Walaupun tidak tahu apa yang terjadi nanti.


Setelah istrinya tenang, Bara mulai menjalankan kendaraan mewahnya menuju tempat mereka bertemu dengan Dokter Riri. Yaitu disebuah klinik bagi ibu-ibu muda yang melakukan program Hamil.


"Apakah kau mau membeli sesuatu?" tanya Bara yang sesekali melirik pada sang istri.


"Tidak! Kita langsung saja. Tapi... pulangnya nanti langsung ke rumah saja, ya. Aku sangat lelah ingin istirahat."


"Baiklah! Sesuai permintaan istriku." jawab Bara menggoda Lula. Membuat wanita tersebut ikut tersenyum juga.


Begitu sampai pasangan suami-istri itu disambut hangat oleh sang dokter. Namun, di klinik tersebut hanya tinggal Dokter Riri saja. Sebab dia tahu bahwa harus merahasiakan hal tersebut.


Hingga saat ini memang selain keluarga Rafael dan anggota member ALV. Tidak ada yang tahu bahwa Aldebaran sang idola sudah menikah.


Berbeda dengan Alvian yang pernikahannya sudah diketahui seluruh dunia. Hanan juga pernikahannya masih dirahasiakan oleh pihak Agensi AX Si. Namun, apabila kontrak sudah habis mereka semua bebas. Tidak terikat lagi dengan Agensi yang sudah membesarkan nama ALV.


... BERSAMBUNG......