
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
Minggu pukul setengah tiga sore, waktu dunia halu. Keluarga kecil Alvian lagi dalam perjalanan menuju kediaman Bara dan Lula. Acara yang dibuat oleh Bara memang sore agar mereka bisa menyiapkan untuk makan malam bersama.
Tamu yang diundang juga hanya keempat sahabatnya beserta pasangan masing-masing saja. Tidak ada para orang tua karena jika acara untuk merayakan kehamilan Lula menunggu pernikahan mereka diumumkan.
"Vi, apakah mau membeli sesuatu?" Alvian bertanya pada putri kecilnya yang duduk di kursi belakang bersama Baby Arka.
"Eum..." gadis kecil itu nampak memikirkan sesuatu. "Via mau... beli..." ucapnya tergantung tidak jadi.
"Mau apa, sayang? Biar papa mu yang turun untuk membelinya, ya." kata Ayara yang mengerti jika putrinya belum berani bila harus ikut ketempat ramai seperti Mall ataupun supermarket.
"Papa yang belikan, Kakak Via sama adek mau apa?" Alvian pun ikut bertanya.
"Via mau es klim sama makanan yang dibeli Mama." jawab di cantik cepat. Karena tadi dia takut bila harus ikut turun membelinya sendiri.
"Oke! Papa yang belikan, Kakak, Adek Arka sama mama tunggu di mobil. Sebentar lagi kita akan melewati supermarket." Alvian mulai memelankan laju kendaraannya. Apabila lagi bersama anak dan istrinya, pemuda itu selalu membawa mobilnya sendiri. Namun, ada dua mobil yang mengikuti mereka ke mana-mana. Siapa lagi kalau bukan bodyguard pribadinya dan anak buah Tuan Abidzar.
Benar saja tidak sampai lima belas menit. si tampan member ALV tersebut sudah membelokkan mobilnya ke sebuah minimarket. Untuk membeli makanan ringan kesukaan Putri dan putranya.
"Tunggu sebentar ya, Papa masuk untuk mencari jajanan kesukaan Kakak sama adek." pamitnya pada ketiga orang yang dicintai.
"Tuan Muda, apaka---"
"Tidak usah. Aku akan baik-baik saja karena memakai masker penutup wajah. kalian cukup jaga istri dan kedua anakku." sela Alvian cepat. Sehingga para pengawal pun hanya menjaga mobil milik bos mereka.
Setibanya di dalam. Alvian langsung mencari berbagai macam makanan ringan maupun minuman kesukaan anaknya. Sebagai ayah yang siaga tentu dia tahu apa saja kesukaan Vania dan Baby Arka. Berhubung membeli banyak makanan karena mau sekalian untuk para sahabatnya, jadi Alvian membawa troli biar mempermudah saat dia berbelanja banyak.
"Sepertinya Via juga suka makanan ini." ucapnya pada diri sendiri. "Ini juga, ini juga bagus untuk pertumbuhan anak-anak." lanjutnya seperti sebuah gumaman kecil. Cukup lama dia berkeliling sebelum sebuah pelukan mengagetkan Alvian. Pemuda tersebut sudah memakai masker penutup wajah, jadi merasa aneh bila ada yang mengenalinya.
"Alvin..." suara merdu seorang perempuan yang sama memakai masker seperti pemuda itu.
"Ais!" seru Alvian setelah berhasil melepaskan pelukan dari tubuh belakangnya.
"Kau masih mengenalku walaupun serba tertutup seperti ini?" Alice ingin maju ke depan untuk memeluk Alvian lagi. Namun, oleh pemuda itu langsung didorong tubuhnya agar menjauh.
"Sedang apa kau disini? Apakah sengaja mengikuti ku?" Alvian bertanya dengan suara tertekan tidak berani berbicara keras. Takut bila pengunjung lainya mengenali mereka berdua. Karena walau bagaimanapun Alice seorang mantan artis terkenal.
"Tidak-tidak! Aku tidak sengaja melihat mu masuk, karena kebetulan sekali aku juga mau membeli sesuatu." jawab Alice jujur. "Al, aku ingin berbicara dengan mu."
"Aku tidak ada waktu, Ais. Lagian setelah apa yang kau lakukan pada putriku masih berani mengajakku bicara baik-baik." Alvian yang tadinya tenang sedikit emosi setelah mengigat penculikan terhadap Vania.
"Soal itu aku... benar-benar minta maaf. Aku hanya---"
"Pergilah! Aku tidak mau melihat mu lagi. Jika tidak, maka aku akan menyeret mu ke kantor polisi." ancam pemuda itu yang tidak ingin berurusan dengan Alice. Wanita yang hampir tiga tahun memiliki hubungan dekat dengannya.
"Al, please! Tolong beri aku waktu untuk berbicara. Aku tahu aku salah dan kau tahu kan semua itu karena aku sangat mencintaimu." Alice mengenggam tangan Alvian yang berada diatas troli.
"Please! Aku mau berbicara denganmu dan meminta maaf pada Ayara." ucapnya lagi.
"Apa yang ingin kau bicarakan? Katakan sekarang karena aku tidak ada waktu." tegas pemuda tersebut.
"Aku tidak bisa membicarakan disini. Mari kita buat janji untuk bertemu dalam waktu dekat ini. Karena aku tidak punya kesempatan bila sengaja mau menemui kalian." Alice mengatupkan kedua tangannya di depan dada. "Please! Al, aku mohon padamu. Aku sadar jika banyak salah pada kalian. Walaupun sudah dipenjara, tetap saja kejahatan ku tidak bisa dimaafkan oleh siapapun." gadis itu terus memohon.
"Baiklah! Besok siang di kafe Andreas PC. Kau tunggu saja di ruang VIP karena aku akan datang bersama istriku." Alvian akhirnya mengambil keputusan. "Tapi ingat, bila kau berani berbuat macam-macam. Maka aku sendiri yang akan menyeret mu ke penjara."
"Iya, aku berjanji tidak akan berbuat macam-macam. Aku ingin menemui kalian untuk minta maaf dan meminta bantuan mu."
"Bantuan apa?"
"Besok aku akan memberitahu mu dan Ayara. Jika kau buru-buru maka pergilah! Aku juga hanya mau membeli makanan ringan." ucap Alice melihat sekeliling mereka yang berjejer berbagai jenis makanan pada rak penyimpanan.
Ada tiga kresek besar yang dia bawa saat keluar dari dalam. Satu makanan dan minuman untuk Baby Arka, satu lagi buat si cantik Vania dan satu kresek besarnya lagi buat dibawa ke rumah Bara.
Kleeek!
Suara pintu mobil dibuka oleh pengawal yang berjaga diluar mobil. Lalu langsung ditutup lagi setelah Alvian masuk.
"Kenapa lama sekali? Seperti ibu-ibu saja?" tanya Ayara karena si Baby Arka mengajak mamanya turun untuk menyusul ayahnya.
"Papa, punya Via yang mana?" si cantik Vania ikut bertanya.
"Puna Alka mana?" bukan hanya kakaknya. Tapi si tampan Arka juga mempertanyakan jajanan miliknya. Dia bertingkah seolah-olah sudah besar.
"Ini buat Kakak Via dan ini buat Arka sama mama ya." jawabnya seraya menyerahkan barang bawaan pada kedua buah hatinya.
"Iya," jawab keduanya bersamaan.
"Makan jajanan dan duduk kembali. Papa mau kembali menjalankan kendaraan menuju rumah Om Bara." Alvian memberikan pengertian pada anak-anak agar duduk diam dan karena sudah biasa mereka pun menurut.
"Alvin!" tanya Aya setelah mobil tersebut meninggalkan halaman supermarket.
"Sayang, tadi saat aku memilih jajanan untuk anak-anak. Tidak sengaja bertemu Alice. Besok siang dia mengajak kita bertemu di Kafe Andreas PC." jelas pemuda itu tidak pernah menyembunyikan hal sekecil apapun.
"Hah? Buat apa? Apakah belum cukup dia membuat kekacauan sehingga tega menculi---"
"Sayang!" Alvian memberikan kode cepat. Takutnya Aya kebablasan saat berbicara.
"Ma--maaf, aku lupa, Vin." Ayara menarik nafas dalam-dalam dan dihembuskan perlahan. "Dia mengatakan apa saja?" Ayara bertanya lagi setelah dirinya tenang.
"Entahlah! Katanya selain mau meminta maaf padamu, dia ingin meminta bantuan ku."
"Bantuan seperti apa? Awas bila dia minta bantuan kau menikahinya." seloroh Ayara yang merasa kesal bila mengigat perbuatan Alice pada putri mereka. Namun, karena tidak ada bukti lengkap gadis itu bisa lolos dari jeratan hukum.
"Aku juga tidak tahu bantuan seperti apa. Namun, aku mohon agar kau berpikiran tenang dulu, oke! Lagian kita akan datang bersama ke kafe itu. Aku mana mungkin akan berpaling dari istri sesempurna dirimu." Alvian menyatukan jari tangannya dan Ayara. Dia kecup berulangkali karena tahu bahwa Aya nya lagi marah atau bisa jadi merasa cemburu.
"Kau ini bisa saja membuatku tenang." Aya akhirnya tersenyum kecil.
"Tidak seharusnya aku cemburu karena Alvian tidak mungkin mengkhianati aku dengan Alice. Karena jika dia menyukai gadis itu, sudah sejak dulu mereka bersama. Namun, Alvin memilih diriku dan juga putri kami."
Batin Ayara mulai tenang hatinya. Setelah membicarakan tentang Alice, pasangan suami-istri itu membicarakan masalah putri mereka. Untuk satu bulan ke depan, si princess Vania masih dibantu oleh psikiater khusus anak-anak.
"Pa, tita tudah papai?" tanya Baby Arka karena mobil mereka sudah berhenti di depan rumah mewah yang hampir sama seperti rumah mereka.
"Iya, tampannya Papa. Kita sudah sampai." jawab Alvian tersenyum. Lalu dia melepaskan salt belt dari tubuh Ayara.
"Ayo kita turun! Sepertinya dalam sudah selesai menyiapkan untuk makan malamnya." dengan penuh kesabaran. Ayah siaga itu menurunkan anak-anaknya satu persatu dari atas mobil.
"Sayang, biar aku yang membawa barang-barang ini. Kau ikuti anak-anak. Takutnya mereka terjatuh karena tidak mau diam." Alvian mengambil barang yang tadi dia beli di supermarket. Wanita itupun tidak menolak karena kedua anaknya memang tidak mau diam.
Apalagi Baby Arka, bocah yang umurnya baru dua puluh satu bulan itu tidak pernah pelan saat berjalan. Dia selalu berlari agar cepat sampai.
"Wah-wah! Ternyata si cantik dan si tampan sudah datang. Ayo sini sayang!" seru Lula merentangkan kedua tangannya untuk memeluk kedua anak-anak Ayara.
"Alvin, Aya. Syukurlah kalian sudah sampai. Kami kira kalian tidak jadi datang karena sudah jam segini belum juga nampak batang hidungnya." kata Naufal yang membawa alat untuk membakar daging barbeque.
Ya, seperti biasanya. Jika lagi berkumpul bersama. Kelima member ALV itu selalu membakar daging barbeque.
"Tadi kami mampir ke supermarket dulu dan ini ada makanan untuk kita nikmati dibelakang." jawab Alvian menyerahkan kresek besar yang dia bawa pada salah satu pelayan.
"Sayang, kau disini saja temani Lula. Aku akan ke taman untuk membantu yang lain." ucap Alvian pada istrinya.
"Ya, pergilah! Aku akan menunggu di sini. Sekalian melihat kakak sama adek yang lagi bermain." Ayara melirik kearah Vania dan Baby Arka yang langsung bermain di atas karpet. Ternyata Bara dan Lula menyiapkan berbagai bentuk permainan untuk kedua anak kecil tersebut.
... BERSAMBUNG... ...