I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Rumah Baru, Kehidupan Baru.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


... HAPPY READING......


.


.


"Sayang, ayo turun," ajak Alvian pada sang istri yang hanya terdiam dengan tatapan kosong melihat ke arah depan. Sehingga membuat Ayara tidak sadar bahwa mobil yang dikendarai oleh suaminya sudah tiba di rumah baru yang akan menjadi kehidupan baru juga bagi keluarga kecil mereka.


"Agh... a--apakah ini rumahnya," seru wanita itu tergagap.



"Huem, iya! Ayo kita turun dan lihat ke dalamnya. Jika memang kau dan Via tidak cocok, maka kita cari rumah baru lagi." tangan pemuda itu terangkat untuk menyelipkan anak rambut Ayara yang sedikit berantakan pada telinga istrinya.


"Maafkan aku, tapi semuanya sudah terjadi. Mari kita mulai semuanya dari rumah ini." lanjut Alvian menatap Aya degan perasaan bersalah, menyesal dan kasihan. Karena sejak kecil. Istrinya tidak pernah hidup bahagia, bila tidak berpacaran dengannya yang tau-tau berujung menyakitkan juga.


"Ayo! Aku juga ingin memulainya dari rumah ini." jawab Aya ikut menempelkan telapak tangannya pada tangan sang suami yang masih menempel pada pipinya.


Cup!


"Sayang, aku mencintaimu," setelah mengecup kening Ayara. Barulah Alvian menjauhkan tubuh mereka dan berkata. "Via tidur, jadi untuk kali ini kau turun sendiri, ya, karena takut apabila terlalu banyak bergerak. Putri kita malah akan terbangun." ucapnya meminta maaf.


"Kenapa malah minta maaf, kau ini aneh sekali," Aya tersenyum sambil tangannya membantu melepas salt belt pada tubuh suaminya. Setelah itu dia melepaskan yang ada di tubuhnya lagi.


Baru setelah itu mereka sama-sama turun dari mobil. Alvian mengendong si cantik Vania yang tertidur sejak tadi. Namun, meskipun begitu Alvian masih menggandeng satu dengan istrinya juga.


"Selamat datang, Tuan Muda, Nona Muda." ucap penjaga kebun di rumah tersebut. Dia adalah orang kepercayaan keluarga Rafael.


"Terima kasih, Paman. Apakah kunci pintunya sudah dibuka?" tanya Alvian yang menjawab karena Aya hanya menggangguk kan kepalanya pelan. Soalnya dia tidak mengenal pria tersebut.


"Sudah Tuan Muda, tadi Tuan Abidzar telah memberitahu Saya. Bahwa tuan Alvian mau melihat rumahnya." jawab pria yang bernama Henry.


Semenjak Tuan Abidzar membeli rumah mewah itu, yang menjaga dan merawatnya adalah Paman Henry bersama istrinya. Sebab Tuan Abidzar seakan sudah memiliki firasat jika putranya telah memiliki anak. Jadi rumah tersebut sudah dibeli kurang lebih sejak dua tahun yang lalu.


"Oh, baiklah! kalau begitu terima kasih, kami akan masuk ke dalam. Untuk melihat-lihat karena putri Saya juga sedang tidur." si tampan Alvian menarik lembut tangan istrinya.


Rasanya tidak ada kebahagiaan selain bisa merasakan berjalan bersama istri dan anak dalam gendongan. Seperti hal yang dilakukan olehnya saat ini.


Jika tahu rasanya sebahagia itu. Maka Alvian akan memilih menjadi pengusaha. Agar hubungannya dan Ayara tidak pernah kandas dan berpisah sampai bertahun-tahun lamanya.


Ceklek!


"Selamat datang Nyonya Alvian," ucapnya tersenyum begitu pintu utama rumah tersebut dibuka oleh tangannya yang tadi mengenggam tangan sang istri.


"Terima kasih," Ayara tersenyum meskipun mukanya masih sembab karena terlalu banyak menangis.


"Wah, Alvin. Rumahnya besar sekali." seru Ayara mengikuti ke mana sang suami membawa dirinya berjalan. Yaitu ke lantai atas rumah tersebut, karena kamar mereka berada di lantai atas.


"Apa kau suka? Sekarang kita ke kamar dulu, ya. Setelah menidurkan Via, baru aku menemanimu melihat-lihat seluruh ruangan di rumah ini."


"Tidak perlu di lihat-lihat, aku menyukai tempatnya. Apalagi di luar begitu banyak tanaman hiasnya. Apa kau tahu, sejak dulu aku selalu mengimpikan memiliki rumah yang begitu banyak tanaman hiasnya."


"Benarkah? Kenapa aku tidak pernah tahu hal itu? Saat kita berpacaran, kau tidak pernah mengatakan bahwa dirimu menyukai rumah yang memiliki Taman." sambil berjalan mata Alvian menatap istrinya degan tersenyum bahagia, karena dia senang apabila Aya menyukai rumah baru mereka.


"Huem, tentu saja benar! Aku tidak menceritakannya kepadamu, karena kau terlalu sibuk dengan musik. Jadi aku tidak ingin membahas hal yang tidak penting dengan mu." jawab jujur wanita itu.


"Aya, mulai saat ini, apapun yang kau impikan. Tolong ceritakan kepadaku. Karena aku tidak bisa menebak isi hatimu." pinta pemuda itu berdiri di depan pintu kamar yang bergandengan dengan pintu kamar satunya lagi.


"Oke, mulai sekarang aku akan menceritakan apapun yang aku impikan kepadamu." Aya membalas senyum suaminya sebelum bertanya.


"Alvin, ini kenapa pintunya bisa bersebelahan?"


Kleek!


"Wah, indah sekali! Ternyata papa sampai repot-repot menyiapkan tempat seperti ini untuk menyambut Via." seru Ayara yang tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya begitu mereka masuk ke dalam kamar Vania.


"Papa bukan hanya menyiapkan atas kedatangan Via saja, tapi juga dirimu. Aya. kalian berdua sama berharganya. Baik itu bagi diriku, maupun bagi keluarga besar Rafael." Alvian menidurkan Vania pada tempat tidur gadis kecil yang serba berwana pink.


"Alvin---"


"Tidak usah bicara apa-apa, aku tidak suka mendengar kau mengucapkan kata terima kasih karena yang seharusnya berkata demikian adalah aku." sela pemuda tersebut membawa Aya kearah lemari pakaian putri mereka.


"Nah, jika yang ini bagian Mama yang menyiapkannya. Malam ini juga kita sudah bisa pindah ke sini karena semuanya telah tersedia. Termasuk pakaian dirimu dan aku sendiri.



"Alvin, bagaimana mungkin mama sampai menyiapkan pakaian Vania lengkap seperti ini, termasuk berbagai sepatunya. Jika Via bangun pasti dia akan kegirangan melihat kamarnya yang indah." seru Ayara degan mata berkaca-kaca.


"Semua ini memang hak kalian berdua. Kau dan Via adalah prioritas utama aku saat ini. Jadi jangan pernah memiliki pikiran yang aneh-aneh. Termasuk protes dengan apa yang akan aku maupun keluarga Rafael berikan, untuk bisa membuat kalian bahagia."


"Vin, aku---"


"Sudah! Nanti saja jika ingin memelukku. Sekarang lebih baik kita ke kamar sebelah, untuk melihat kamar tidur kita berdua." sela Alvian dengan percaya dirinya.


Namun, baru saja pemuda itu menarik tangan Ayara. Wanita tersebut langsung menahan pergelangan tangannya dan berkata.


"Kita mau kemana? Kalau kita pergi dari sini. Siapa yang akan menjaga Via? Aku takut nanti dia tiba-tiba bangun, lalu menuruni tangga sendirian." cegah si ibu muda yang membuat suaminya tersenyum.


"Aya, sayang! Apa kau pikir aku akan meninggalkan anak kita begitu saja. Jika tidak ada itu?" tunjuk nya pada kamera CCTV dalam kamar sang putri.


"Kamera pengawas!" seru Aya singkat.


"Iya, kamera pengawas nya terhubung ke kamar kita yang ada di sebelah. Jadi apabila ada pergerakan dari Via. Maka kita akan mengetahuinya."


"Keren sekali! Ya sudah, ayo kita kesana sekarang." ajak Ayara merasa lega karena masih bisa memantau keadaan sang putri.


"Huem," si tampan hanya berdehem kecil. Lalu mereka berdua pun keluar dari kamar tersebut dan masuk lagi pada kamar sebelahnya.


"Inilah kamar kita." Alvian tersenyum karena desain ruangan tersebut adalah kesukaan Ayara.


"Alvin, apakah ini papa sama mama juga yang menyiapkannya?" tanya Ayara langsung berjalan mengelilingi kamar tersebut.


Ternyata dugaan suaminya benar. Bahwa Aya begitu menyukai kamar baru mereka, yang berwarna tosca muda di padukan dengan warna silver dan putih. Jadi terlihat sangat elegan dan mewah.



"Huem, ini aku rasa mama yang mengaturnya. Soalnya aku pernah menunjukkan desain seperti ini hanya pada mama. Tapi sudah lama sekali. Mungkin sekitar tiga tahun lalu."


"Lalu apakah kau sudah melihatnya sebelum ini? Bukankah katamu saat papa berada di kota B, baru direnovasi ulang?"


"Iya, aku sudah melihatnya. Yaitu saat aku tahu akan dijodohkan oleh Papa denganmu. Sorenya aku langsung mengajak Deri melihat tempat ini."


"Licik sekali, Itu berarti kan aku dan Via sudah ada di rumah keluargamu. Tapi kenapa kau tidak sekalian mengajakku waktu itu?" Aya memanyunkan bibirnya.


"Apakah kau ingin tahu alasannya?"


"Iya, ayo cepat katakan apa alasannya?"


"Alasannya adalah, karena kita belum resmi menjadi pasangan suami-istri. Aku takut kembali khilaf seperti dulu. Sehingga menghamilimu sebelum kau, aku nikahi." jawaban Alvian tentu saja langsung membuat kedua pipi Aya terasa panas dalam waktu seketika.


...BERSAMBUNG......