I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Maafkanlah. ( Alvian )



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


"Tapi... Anda masih memiliki Saya," mendengar suara yang begitu lantang. Namun, bergetar itu semua mata menoleh kearah sumber suara.


"Aya," lirih Tuan Edward karena suara beliau sudah tercekat di dalam tenggorokannya. Seakan-akan tak percaya akan perkataan putrinya.


"Iya, ini adalah Aya. Aya yang selalu mengharapkan pelukan dari ayahnya karena ibunya sudah meninggal sejak dia masih kecil," jawab gadis itu meneteskan air matanya.


Dengan langkah pelan Ayara berjalan mendekati Tuan Edward yang juga meneteskan air mata. Namun, sekarang beliau menangis karena merasa haru.


"Aya, maafkan Papa. Papa benar-benar menyesal sudah..." Tuan Edward tidak melanjutkan ucapnya karena beliau sudah menarik pelan Ayara untuk dia peluk.


"Maafkan Papa, Nak. Papa benar-benar berdosa padamu dan mama Jasmeen," ucap beliau saling memeluk bersama anak satu-satunya.


Setelah semuanya terbongkar. Ternyata kelurga Wilson yang tersisa hanyalah Tuan Edward dan Ayara. Dua orang adik beliau bukanlah darah keturunan Wilson. Karena Marlin dan Rose sama-sama wanita tidak benar.


"Maafkan Papa, Aya. Maaf karena kebodohan Papa kau dan mamamu harus menderita," ungkap beliau semakin terisak.


Tuan Edward tidak malu pada besannya, Alvian, Renata dan juga Lula. Bagi beliau bisa mendapatkan maaf dari sang putri saja adalah sebuah anugrah.


"Apakah kau mau memberi Papa kesempatan untuk menebus semuanya?" tanya Tuan Edward merenggangkan pelukannya dan menyeka air mata Ayara.


sebelum menjawab. Ayara kembali mengigat nasehat dari Alvian tadi siang. Saat pemuda itu mengajak Ayara kembali ke rumah Tuan Edward sore ini.


...Flashback on......


"Sayang," panggil Alvian pada istrinya yang lagi bermain game pada ponsel pemuda itu.


Alvian memang tidak pernah memakai sandi pada ponselnya dan Ayara bebas mengunakan benda tersebut karena Alvian tidak pernah menyimpan nomor ponsel wanita lain, selain mama, adik sepupunya dan Ayara.


Adapun nomor ponsel Alice sudah ia blok agar tidak ada hubungan dengan gadis itu lagi.


"Huem, iya sayang?" jawab Aya meletakan ponsel suaminya keatas meja.


"Ayo sini, aku mau bicara," degan lembut pemuda itu menarik pelan Ayara agar bersandar pada tubuhnya.


"Mau bicara apa?"


"Kau memberiku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita, apakah sekarang kau menyesalinya?" ucapan Alvian tentu saja langsung membuat Ayara menoleh cepat.


"Apa maksudmu? Tentu saja aku tidak pernah menyesalinya, karena aku sangat bahagia,"


Cup!


Alvian tersenyum seraya mengecup kepala Ayara. "Kalau begitu bisakah kau memberi Tuan Edward kesempatan untuk menjadi seorang ayah yang baik untuk putrinya?"


"Maksudmu, ap---"


"Coba tatap mataku dan ceritakan apa yang membuatmu tidak bisa memberinya kesempatan?" Alvian memegang kedua pipi istrinya dan ikut menatap mata gadis itu.


"Kau kecewa karena selama ini dia tidak pernah ada untukmu, atau karena sudah diusir dari rumah?" tanya Alvian membuat Aya terdiam sebelum menjawabnya.


"Aku... tidak terlalu kecewa dia mengusirku karena aku memang bersalah sudah hamil diluar nikah. Tapi aku kecewa dia begitu menyayangi Arianti dan selalu menganggap aku tidak ada. Padahal kami tinggal serumah. Padahal aku juga putrinya, hanya saja mamaku sudah meninggal dunia," jawab jujur Ayara dengan mata merah menahan tangisnya.


"Kau sudah tahu kan seperti apa nasib Arianti saat ini? Dan kau juga tahu bahwa Papa mu sudah menyesali perbuatannya?" lagi-lagi Ayara kembali mengangguk pelan.


Jangan lupakan air matanya sudah menetes. Akan tetapi Alvian membiarkan saja tidak memeluk sang istri karena mau Ayara memahami setiap perkataannya.


"Sekarang tolong dengarkan aku, huem!" ucap pemuda tersebut dan Ayara hanya mengiyakan tanpa suara.


"Apakah setelah melihat papamu menderita seperti saat ini kau sudah bahagia? Apakah kau merasa puas karena dia menerima hukumannya yang menyia-nyiakan dirimu?"


"Ti--tidak juga. Aku---"


"Kau sebetulnya sakit melihatnya tidak ada yang merawat? Kau sebetulnya ingin hubungan kalian seperti mana hubungan anak dan ayah, kan?" tebak Alvian membuat Ayara mengagguk dan semakin menangis.


Alvian tersenyum seraya menyeka air mata sang istri dan setelahnya baru ia peluk. Pemuda itu adalah bahu tempat Aya berkeluh kesah sejak dulu. Tentu sudah tahu seperti apa istrinya.


"Alvin..."


"Menangis lah! Ada aku, jangan khawatir semuanya akan baik-baik saja,"


"Tapi aku---"


"Kau bisa melakukannya. Walaupun terasa sulit diawal, akan tetapi setelah itu kau akan mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Percayalah karena aku tahu, bahwa Ayara ku memiliki hati yang lembut dan pemaaf," sela Alvian ingin sang istri bisa hidup tenang. Tanpa memiliki dendam pada ayah kandungnya sendiri.


"Maafkanlah papamu. Aku tidak ingin kau merasakan bahagia hidup bersama ku. Tapi juga merasakan beban batin karena selalu terpikirkan keadaan Papa Edward. Selain dirimu, dia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi," pintanya merenggangkan pelukan mereka.


"Kau pasti bisa, istriku. Ingatlah, Papa Edward juga terluka setelah mengetahui berita bahwa Marlin adalah orang yang melenyapkan kedua orang tuanya. Bukan hanya itu, adik yang dia sayangi juga bukanlah adik kandungnya. Kau pasti tahu seperti apa hancurnya hati papamu," lanjut pemuda itu karena Ayara masih terus menangis.


Hampir dua puluh menit kemudian barulah Ayara mendorong pelan dada bidang suaminya.


"Apakah Papa akan pulang hari ini?" tanyanya sudah menyebut papa, bukan Tuan Edward lagi.


Cup, cup. Muaach!


"Aku tahu bahwa Ayara ku pasti memiliki hati yang lapang. Bisa memaafkan papanya," bukannya langsung menjawab. Namun, Alvian malah mengecup kedua pipi dan terakhir kening istrinya.


"Iya, Papa Edward akan pulang sore ini dan setelah dirumah nanti Papa Abidzar mau menyerahkan hasil dari penyidik. Termasuk tentang penyebab kecelakaan Mama Jasmeen," jawab Alvian seperti yang papanya katakan.


"Jadi bagaimana, kau mau kan kita kesana untuk menemui papa mu?"


"I--iya, kita akan kesana. Tapi bila dia terlihat baik-baik saja. Maka aku tidak mau me---"


"Tentu saja, jika Papa Edward tidak baik-baik saja. Maka kau temui dia karena aku yakin setelah itu kalian bisa hidup bahagia. Tanpa adanya dendam gara-gara dia menyia-nyiakan mu," sela Alvian tersenyum kecil begitu pula Ayara.


...Flashback off......


"Aku... akan memaafkan, Papa," jawab Ayara membuat Tuan Edward kembali menarik anaknya untuk beliau peluk.


"Papa tidak salah dengar kan, Nak? Kau mau memberi Papa kesempatan untuk menjadi orang tua yang baik untukmu?"


"Tidak! Aya memaafkan Papa," jawab gadis itu menyakinkan. Sehingga Lula dan Renata yang mendengarnya ikut menangis bahagia.


"Aya, semoga semoga kau dan keluargamu selalu dilimpahkan kebahagiaan, karena dirimu adalah orang yang sangat baik."


Do'a Lula di dalam hatinya. Gadis itu sangat terharu karena melihat kebesaran Ayara yang mau memberi Tuan Edward kesempatan untuk membagi hubungan di antara mereka.


Cup!


"Terima kasih anakku. Papa berjanji mulai saat ini akan membahagiakanmu. Sekali lagi tolong maafkan Papa yang sudah begitu banyak melewatkan kebersamaan kita. Hanya untuk mereka yang telah menghancurkan keluarga Wilson," ungkap Tuan Edward mencium kepala Ayara sebelum melepaskan pelukannya.


Lalu beliau pun menoleh ke arah Tuan Abidzar dan Alvian. "Tuan Rafael, Nak Alvian... terima kasih! Aku sangat yakin semua ini karena kebesaran hati keluarga kalian yang mengizinkan Ayara untuk memaafkan semua kesalahanku," ucapnya pada sang besan dan menantunya.


"Sama-sama, Tuan Edward. Apa yang aku lakukan adalah untuk putriku. Aku tidak mau Ayara kami menderita lagi," jawab Tuan Abidzar sedikit menyugikkan senyumannya.


Sedangkan Alvian berjalan kearah Tuan Edward dan menyalami tangan pria itu sambil berkata.


"Papa... tolong maafkan Saya yang sudah---"


"Tidak-tidak! Papa yang seharusnya meminta maaf pada kalian. Terima kasih karena kau sudah mau mencintai Ayara degan begitu tulus tanpa memandang status keluarganya seperti apa," sela Tuan Edward cepat.


Sebab beliau tidak mau jika Alvian sampai salah bicara tentang putrinya yang hamil luar nikah. Sebab bukan hanya ada mereka saja di sana, melainkan ada Lula dan Renata.


Alvian yang mengerti pun tidak bicara tentang hubungannya dan Aya lagi. Namun, yang jelas dia sudah memanggil Tuan Edward dengan sebutan papa juga. Seperti mana Ayara menyebut beliau.


Hampir setengah jam mereka saling mengobrol seperti mana sebuah keluarga sesungguhnya. Aya duduk satu sofa dengan Tuan Edward, dan di sebelahnya ada Alvian.


"Aya, bisa kalian pergi keruang lain. Ada yang mau Papa dan Alvian bicarakan dengan papamu," ucap Tuan Abidzar karena beliau mau membicarakan tentang pengembalian perusahaan Wilson dan rumah tersebut pada Tuan Edward lagi.


"Iya, Pa. Aya akan pergi ke Taman belakang saja," jawab Ayara tidak tahu apa yang mau dibicarakan oleh para laki-laki.


Setelah kepergian Ayara.


"Alvin, mau Papa yang berbicara atau dirimu?" tanya Tuan Abidzar pada putranya.


"Papa saja, karena Alvin ikut seperti apa baiknya,"


"Oke, kalau begitu Papa yang akan bicara," Tuan Abidzar kembali mengeluarkan amplop coklat yang telah dipersiapkan oleh Denis dan diberikan lagi pada Tuan Edward.


"Apa lagi ini?"


"Buka saja," titah Tuan Abidzar. Sehingga membuat besannya langsung membuka kembali amplop tersebut dan mulai membacanya.


"Tuan Abidzar... Apakah Anda serius mau mengembalikan rumah ini dan juga perusahaan Wilson?" tanya Tuan Edward memastikan.


"Iya, kami serius karena semua ini juga demi Aya,"


"Baiklah, kalau aku sudah bisa menjalankan perusahaan dengan normal lagi, dan bisa stabil seperti semula. Maka pada saat itu barulah mengembalikan uang kalian," putus Tuan Edward karena isi amplop yang diserahkan oleh besannya. Adalah tentang dia yang boleh mengambil alih Wilson group dan juga rumah yang begitu banyak memiliki kenangan tersebut.


"Namun, tolong bantu merenovasi dalam rumah ini. Karena aku ingin mengubah semua ruangannya. Agar Aya bisa melupakan kenangan masa lalu yang sudah menyakitinya," pinta Tuan Edward.


"Tidak masalah, karena aku juga sependapat dengan mu," Tuan Abidzar tersenyum. Karena ternyata Tuan Edward juga memiliki pemikiran yang sama seperti beliau.


...BERSAMBUNG......