I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Sebuah Anugerah.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


... HAPPY READING... ...


.


.


"Sayang, kalian sudah datang." sambut Nyonya Lili berdiri dari tempat duduknya dan langsung memeluk Lula maupun Bara. Ya, walaupun kecewa pada Bara, keluarga Rafael masih bersikap baik seperti biasanya pada pemuda itu. Sebab semua orang pasti memiliki kelebihan maupun kekurangannya masing-masing.


Contohnya adalah Alvian putra mereka. Setelah begitu banyak kesalahan yang diperbuat. Tetap saja ada sisi baiknya yang bertanggung jawab dan begitu mencintai anak dan istrinya. Padahal Alvian masih muda dan diibukota mereka menikah umur dua puluh tiga tahun masih tergolong muda.


Rata-ratanya memiliki keluarga apabila berumur dua puluh tujuh tahun keatas. Agar memiliki pemikiran yang dewasa dan bertanggung jawab.


"Iya, Tan. Maaf ya, Lula kembali menyusahkan kalian lagi." jawab Lula menundukkan kepalanya karena malu akan kebaikan keluarga Rafael.


Bukan hanya keluarga Rafael yang begitu memperhatikan Lula, tapi juga Tuan Edward. Papa Ayara sudah bekerjasama dengan orang tua Lula membuat sebuah Restoran terbesar di ibukota B. Mereka berbagi hasil degan ayah Lula yang mengelolanya.


Alangkah beruntungnya orang-orang yang bisa mengenal keluarga Rafael. Tidak pernah memandang rendah orang yang tidak mampu. Justru mereka malah membantunya agar bisa maju dan hidup layak.


"Apa yang kau katakan, Nak. Tante akan marah bila kau berkata seperti itu lagi." sahut wanita itu.


"Om Abi kemana, Tan?" tanya Bara karena tidak ada siapa-siapa di ruang keluarga.


"Om lagi di perusahaan dan sebentar lagi pasti pulang. Alvin dan keluarganya juga mau kesini." jawabnya berhenti sejenak dan berkata lagi.


"Bara... ayo duduklah! Tante mau menyiapkan untuk makan siang kita. Tadi Tante juga sudah membuat makanan kesukaan istrimu."


"Tante-tante! Tunggu dulu! Kami mau memberitahu berita bahagia." Lula memeluk pergelangan tangan wanita setengah baya tersebut.


"Berita bahagia apa, sayang?" tanyanya tersenyum kearah Lula.


"Eum... Kami akan memiliki anak kembar tiga, Tan." Bara dan istrinya menjawab serempak.


"Apa? Be--benarkah?" seru Ayara yang baru saja datang. Ibu muda itu hanya sendirian karena Alvian masih dibelakang mengendong Baby Arka dan menuntun tangan putri cantik mereka.


"Aya!" Lula langsung memeluk sahabatnya erat. "Iya, ternyata aku hamil anak kembar tiga. Kami baru saja melakukan pemeriksaan pada Dokter Jenny." imbuh Lula.


"Selamat ya, aku benar-benar tidak menyangka jika kau hamil sekali langsung ada tiga bayi. Pantas saja lama sekali baru kalian diberikan anak." Ayara mengelus perut sahabatnya. "Sejak awal aku juga merasa curiga dengan kehamilan mu. Soalnya saat aku hamil Via dan Arka, perutku tidak sebesar ini. Kau hamil tiga bulan tapi sudah seperti hamil lima bulan." lanjutnya yang tidak bisa menahan senyum bahagianya.


"Aku juga tidak menyangka akan hamil anak kembar. Aku benar-benar bahagia sekali, Aya." seru Lula yang kembali berpelukan bersama Ayara.


"Sepertinya Om harus membuat sebuah acara untuk menyambut kelahiran tiga cucu Rafael lagi." timpal Tuan Abidzar yang masuk sambil mengendong Baby Arka. Entah mengapa kedua anak Alvian dan Ayara sangat menempel pada opa nya.


"Om!" sapa Bara mencium sopan tangan pria setengah baya yang tetap terlihat begitu tampan.


"Selamat ya, Om sangat bahagia mendengarnya. Ini sebuah anugerah untuk kalian. Sudah dua tahun lebih menanti tau-taunya sekarang Lula langsung hamil anak kembar." ucap beliau mengelus kepala Lula menggunakan satu tangannya.


"Iya, Om. Ini benar-benar anugerah besar bagi kami." sahut Bara juga beranggapan seperti itu.


"Om Albal mau puna adik bayi tiga?" tanya si cantik Vania yang sudah duduk diatas sofa. Yaitu duduk berdampingan dengan opanya.


"Iya, Tante sama Om Albar mau punya bayi tiga." Lula yang menjawabnya.


"Mama..." Vania menatap pada mamanya. "Via mau puna dedek bayi duga?" pinta gadis kecil itu membuat Alvian tergelak.


"Kan sudah ada Arka, kenapa Via mau punya adik lagi?" jawab Aya karena dia dan Alvian sudah ada rencana mau memiliki anak dua orang saja.


"Tapi Via mau puna adik perempuan. Alka suka nalakin Via." keluh si cantik yang sering menagis karena adiknya.


"Nanti jika sudah besar, adikmu tidak akan nakal lagi, Vi. Jadi sabar ya cantik. Biar Opa yang bilang pada Arka agar tidak merusak mainan Kakak Via lagi." Tuan Abi yang menasehati cucunya.


"Via tidak boleh bertengkar sama Arka ya, kan sudah menjadi Kakak. Jadi harus apa?" lanjut beliau lagi.


"Halus mengalah, tidak boleh beltengkal kalena Alka masih kecil." jawab Via langsung mengerti. Lalu si cantik itupun turun dari sofa karena adiknya Arka juga minta diturunkan. Keduanya sibuk bermain di atas karpet besar. Khusus tempat mereka bermain.


"Jika yang berbicara pawangnya, maka keduanya akan patuh." seloroh Alvian yang duduk menempel pada Ayara. Keromantisan pria itu tidak usah diragukan lagi.


Apalagi Alvian dan Ayara memiliki banyak waktu berduaan saja, karena anak-anak mereka lebih sering menginap di rumah orang tuanya.


Terkadang Aya juga masih ikut menemani suaminya konser ke daerah terdekat. Sehingga masih terlihat seperti orang berpacaran.


"Dia kan memang cucu papa." jawab Tuan Abidzar hanya tersenyum bahagia. Di umurnya yang sudah hampir lima puluh tahun, masih bisa menikmati kebahagiaan bersama anak, menantu dan cucunya. Maka dari itu beliau sangat mementingkan keluarga daripada harta.


"Pa, Mama mau kebelakang dulu untuk melihat persiapan makan siang ya. Kalian mengobrol saja." kata Nyonya Lili yang tidak jadi-jadi pergi ke dapur.


"Iya, Ma." jawab Tuan Abidzar yang setiap makan siang pulang ke rumah. Beliau tidak pernah makan bila tidak ada istrinya.


"Ma, Aya juga ikut!"


"Tante, Lula juga mau ikut kebelakang!" ucap Lula dan Aya secara bersamaan. Membuat ketiga wanita itu pergi menyiapkan untuk makan siang.


"Bara, tadi kau bilang mau membuat jumpa pers hari ini?" tanya Alvian setelah hanya tinggal mereka.


"Rencananya iya, bagaimana menurutmu?" Bara balik bertanya. Tadi saat di rumah sakit dia memang sempat memberitahu Alvian melalui pesan singkat.


"Jika menurutku ya tidak apa-apa. Lagian bulan depan masa kontrak kita bersama Agensi AX Si sudah habis." pemuda itu berhenti sejenak dan berkata lagi. "Coba tanya pendapat papa, aku tidak bisa memutuskan sendiri."


"Menurut Om jangan dulu, Bar. Mamamu dan Rendra tidak akan tinggal diam. Mereka sudah hancur, jadi sudah pasti akan menyerang member ALV karena membuatmu jatuh sendiri tidak mungkin dilakukan oleh Marry." kata Tuan Abidzar yang sudah membuat saham Rendra hampir bangkrut.


"Apa mungkin mama akan bertindak sejauh itu, Om?"


"Kenapa tidak? Dia dan papamu sampai bercerai karena perbuatannya pada Lula. Tidak semua orang sudah kalah langsung mundur. Terkadang mereka akan menyerang lebih dari sebelumnya." jawab Tuan Abidzar lagi.


Beliau adalah seorang pengusaha hebat dalam bertindak. Tidak mungkin segalanya tidak diperhitungkan terlebih dahulu.


... BERSAMBUNG... ...