
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
... HAPPY READING... ...
.
.
"Ayo, turun!" ajak Alvian pada Bara yang selalu satu kursi dengannya. Sekarang mereka baru saja turun dari pesawat. Setelah dua hari melakukan konser yang terakhir.
"Kau ke rumahku dulu, kan?" tanya Alvian sambil mereka berjalan keluar menuju mobil yang menjemput.
"Ya, tentu saja karena istriku ada disana," jawab Bara yang sudah tidak sabar untuk bertemu sang istri. Entah mengapa konser kali ini membuatnya ingin cepat-cepat pulang dan bersama dengan Lula.
Mungkinkah karena wanita itu lagi hamil? Atau memang ada hal lainya? Jawabannya tentu saja karena Bara sudah mengungkapkan perasaannya pada sang istri. Seorang Bara baru menyadari bahwa dia mencintai Lula. Setelah ditinggal pergi oleh wanita itu.
"Kau ini, baru juga dua hari tidak bertemu. Tapi tingkah mu seolah-olah seperti pengantin baru." ejek Alvian karena jika dia sejak awal kembali bersama Ayara memang sudah bucin akut.
"Haa... ha... terserah kau mau bicara apa." Bara hanya tertawa tidak mengelak bahwa dia sekarang mulai ketularan dari sahabatnya. "Ternyata begini rasanya, Alvin. Aku dulu seringkali geli melihat kau ingin cepat-cepat pulang bila pekerjaan sudah selesai."
"Ya, memang seperti itulah rasanya. Apalagi jika ketiga anak-anak mu sudah lahir. Pasti rasanya untuk pergi meninggalkan mereka tidak mau." kedua pemuda tampan itu saling mengobrol selama dalam perjalanan pulang.
Sedangkan Hanan naik mobil jemputan nya sendiri. Namun, tidak dengan Sandy dan Naufal. Kedua jomblo tersebut langsung pergi ke klub untuk bertemu dengan teman-teman mereka.
"Aku sudah tidak sabar menunggu kelahiran mereka. Rencananya bila Lula sudah melahirkan aku mau resign dulu dari pekerjaan kita. Kau tahu sendiri jika ibu mertuaku jauh. Sedangkan mama seperti bukan mamaku saja."
"Bersabarlah! Semoga Tante Maryy segera menyadari bahwa tindakannya salah. Namun, kau tetap tidak boleh membencinya, Bar. Walau bagaimanapun dia adalah wanita yang telah melahirkan mu." nasehat Bara yang sama seperti ayahnya. Memiliki sifat bijak saat menghadapi masalah. Selalu terlihat tenang walaupun begitu banyak masalah yang dihadapi.
Begitu pula lah seorang Alvian Fatir Rafael. Empat tahun lamanya dia menderita karena harus meninggalkan kekasih yang sangat dicintainya. Akan tetapi satu orang saja tidak ada yang tahu bahwa dia menderita. Kehidupan real dicintai jutaan gadis, bahkan ibu-ibu kompleks. Nyatanya Alvian mencintai satu orang gadis dan selalu merindukan Ayara di setiap saat.
"Kau memang harus resign bila istrimu melahirkan. Keluarga nomor satu, Bar. Jadi luangkanlah waktu untuk bersama istri dan anak-anak mu." obrolan tersebut terus berlanjut sampai mobil mereka tiba di depan rumah mewah Tuan Abidzar.
Baru saja kedua turun dari mobil. Ternyata Ayara berama kedua anaknya sudah berdiri di depan rumah. Begitu juga dengan Lula. Senyum bahagia terbit di wajah kedua wanita beruntung itu.
Cup, cup!
"Anak-anak Papa ternyata sudah mandi semua." Alvian langsung mencium dan mengendong kedua anaknya secara bersamaan. "Kakak Via tidak menangis kan saat Papa tidak ada?" tanyanya pada sang putri, karena biasanya yang rewel memang Vania. Gadis kecil itu saat mau tidur saja harus menelepon papanya.
"Kakak Via tidak nakal, kan Papa sudah berjanji mau membelikan oleh-oleh." Ayara yang menjawab setelah keningnya dikecup oleh Alvian. Tingkah romantis pasangan suami-istri tersebut memang membuat siapa saja merasa mengontrak di dunia yang sama.
"Ai Miss You!" bisik Alvian tersenyum seraya menatap penuh rasa rindu dan cintanya.
"Huem... Sayang, ayo kita pulang! Jika terus melihat kemesraan mereka bisa-bisa kita merasa tidak sanggup membayar cicilan kontrakan ibu kos." Bara berdehem dan merangkul tubuh Lula untuk diajak pulang.
"Haa... haa... bahasa apa yang kau katakan, Bar." tawa Alvian. "Apakah kau tidak ingin masuk dulu?" lanjutnya lagi.
"Tidak! Aku mau langsung pulang saja." jawab Bara karena tahu bahwa Nyonya Lili dan Tuan Abidzar lagi tidak ada di rumah.
"Ya, hati-hati. Minggu saat merayakan pesta di rumah mu. Kita langsung membuat live secara bersamaan." kata Alvian mengingatkan lagi rencana mereka.
"Oke! Kami pulang dulu ya, terima kasih!" pamit Bara dan Lula serempak. Lula memang tidak perlu repot-repot membawa barang-barang pribadinya bila menginap di sana, karena Nyonya Lili telah menyiapkan satu kamar khusus untuk Lula.
Setelah menatap kepergian Bara dan Lula. Alvian mengajak istrinya untuk masuk kedalam. Oleh-oleh yang dia bawa sudah dibawa masuk oleh bodyguard pribadinya.
"Alvin, biar aku saja yang mengendong Arka?" pinta wanita itu merasa kesihan pada suaminya bila terus mengendong sekali dua.
"Sudah tidak apa-apa. Kita langsung ke kamar ya, aku mau mandi." ajak pemuda itu yang diangguki oleh Ayara. Dia berjalan disamping suaminya dan tersenyum tipis.
"Aku benar-benar bersyukur karena Alvian adalah suami dan ayah yang bertanggung jawab pada kami. Sejak awal mengetahui bahwa Via adalah putrinya, dia mulai menunjukkan dirinya sebagai ayah yang baik."
Gumam Ayara di dalam hatinya. Rasa bahagia yang Aya rasakan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Memiliki keluarga dan suami yang nyaris sempurna.
... BERSAMBUNG... ...