
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
Malam harinya. Yaitu pukul setengah tujuh malam. Alvian lagi menunggu istrinya bersiap-siap untuk makan malam. Setelah tiba tadi sore dan masuk kedalam kamarnya. Mereka bertiga tidak ada yang turun kebawah karena Ayara hanya tiduran di atas ranjang melihat putri dan suaminya yang bermain bersama.
Ya, sore ini si member ALV yang terkenal paling tampan diantara yang lainnya. Tidak istirahat. Melainkan hanya menemani putrinya bermain.
Vania akan terlihat jauh dari papanya bila belum berduaan saja. Akan tetapi apabila mereka hanya berduaan maka Vania akan menempel seperti perangko.
Tadi saja Om Deri nya datang karena mau mengajak Vania menonton film kartun di televisi. Gadis kecil kesayangan keluarga Rafael itu sampai tidak mau karena hanya ingin bermain dengan papanya.
"Alhasil Deri kembali ke kamarnya dan tidak jadi menonton karena tidak ada teman. Soalnya dirumah megah tersebut tidak ada lagi yang bisa diajak bermain. Jadi Deri kesepian tidak memiliki teman.
"Sayang, sudah atau belum?" tanya Alvian karena Ayara belum juga selesai menyisir rambutnya.
"Sudah, ayo kita turun. Mama dan yang lainnya pasti sudah menunggu kita," ajak Ayara berjalan mendekati suami dan anaknya.
"Huem, iya," ajak Alvian berdiri dari sofa sambil menggendong Vania. "Wajahmu kenapa terlihat pucat? Apakah lagi demam?" Alvian menempelkan punggung tangannya pada kening istrinya.
"Tidak panas? Kau kenapa sayang? Apakah ada yang sakit?" bertanya khawatir karena selama mereka menikah baru kali ini Ayara terlihat pucat seperti orang lagi demam.
"Aku baik-baik saja. Sudah ayo turun sekarang," ajak Ayara sudah berjalan lebih dulu. Tidak biasanya dia seperti itu.
"Mama mu kenapa princess?" tanya Alvian pada putrinya yang hanya menggelengkan kepalanya tidak tahu juga.
"Ayo kita turun sekarang. Papa rasa mama mu lagi sakit," ucap ayah satu anak itu lagi.
"Mama nda takit, itu tidak tangis," jawab Vania yang tahunya bila mamanya menangis berarti lagi sakit. Padahal itu bukan sakit karena demam. Melainkan karena sakit hati pada papanya.
"Iya, semoga saja tidak sakit. Papa hanya khawatir," Alvian dan Vania terus saja mengobrol sampai mereka tiba di meja makan. Ternyata semua anggota keluarga sudah berkumpul. Hanya tinggal dia dan Vania saja.
"Ayo duduk sini. Dekat Opa saja," ucap Tuan Abidzar agar Vania duduk didekatnya.
"Via mau dekat opa atau Papa?" tanya Alvian sebelum menurunkan putrinya.
"Dekat opa," jawab gadis kecil itu tersenyum kearah opa nya. "Om Deli tama Papa tidak boleh tembulu, ya kan, Opa?" ucap si cantik Vania membuat mereka yang mendengar menjadi tertawa.
"Siapa bilang Papa akan cemburu padamu. Kan Papa sudah ada mama mu," Alvian tergelak karena dia memang sangat candu dekat dengan istrinya.
"Belati Om Deli tidak boleh tembulu," Via tersenyum menunjuk pada om nya.
"Kata siapa Om cemburu. Om kan punya Oma sama Nany," jawab Deri tidak mau kalah. Soalnya Vania memang selalu menggoda papa dan omnya. Agar tidak cemburu padanya yang selalu menempel pada sang kakek.
"Haa... ha... Nenek rasa Via ini seharusnya menjadi adik kalian berdua," tawa nenek Alvian karena beliau begitu bahagia dimasa tuanya bisa melihat cucu dan cicitnya saling bercanda.
"Seharusnya iya, Bu. Tapi karena---"
"Tidak apa-apa, sekarang kita sudah memiliki si cantik Via. Dan mana tahu dalam waktu dekat ini Aya akan---"
Hoek!
Belum lagi si nenek selesai bicara. Namun, mereka sudah dibuat kaget karena Ayara berlari kearah kamar mandi yang ada di dalam dapur bersih. Tiba-tiba gadis itu perutnya terasa di aduk-aduk sehingga muntah-muntah tanpa sebab.
Hoek!
Hoek!
"Sayang," seru Alvian memeluk tubuh Ayara yang bersandar pada dinding kamar mandi. Bila tidak dipegang oleh Alvian, maka tubuh Ayara sudah jatuh kelantai kamar mandi.
"Avin, Aya kenapa, Nak?" tanya Nyonya Lili khawatir. Beliau juga ikut berlari mengikuti menantunya.
"Entahlah, Ma. Alvin juga tidak tahu," jawab pemuda itu sambil memijit tengkuk Ayara. Agar bisa membantu istrinya yang terus muntah-muntah.
Hoek!
Hoek!
Ayara tidak menghiraukan suami dan ibu mertuanya di belakang. Gadis itu terus mengeluarkan semua makanan dari perutnya.
"Alvin, kepalaku pusing," Ayara yang tidak tahan pun akhirnya menangis. Berbeda dengan Nyonya Lili. Beliau malah tersenyum lebar.
"Sayang, kamu pasti lagi hamil, Nak," tebaknya karena saat hamil Alvian dan Deri beliau juga mengalami muntah-muntah seperti Ayara saat ini.
"Apa! Hamil, Ma?" seru Alvian ikut tersenyum lebar karena dia benar-benar sangat berharap jika Ayara hamil.
"Iya, Mama sangat yakin jika istrimu lagi hamil. Kau bantu putri Mama, ya. Mama mau menelepon dokter keluarga kita. Agar dia datang kemari untuk memeriksa Aya," sebelum anaknya menjawab. Nyonya Lili yang sangat bahagia sudah pergi dari kamar mandi.
"Papa... Ibu, kita akan memiliki cucu Rafael yang baru. Papa cepatlah telepon Dokter Jessie. Agar dia memeriksa keadaan putri kita. Mama tidak mau Aya sampai kenapa-kenapa," titahnya pada Tuan Abidzar yang langsung berdiri karena beliau sama merasa begitu bahagia.
"Baiklah, Papa akan menelpon Dokter Jessie," jawab Tuan Abidzar pergi mengambil ponselnya di dalam kamar.
Sedangkan Deri yang melihat keponakannya ditinggal malah pindah untuk duduk di samping Vania.
"Lili, apakah kau yakin Aya tengah mengandung? tanya nenek Alvian pada menantunya.
"Iya, Bu. Aku benar-benar sangat yakin. Ibu lihat kan tadi wajah Aya memang sangat pucat. Lalu sekarang dia muntah-muntah seperti saat aku hamil kedua anakku," jawab Nyonya Lili kembali mau menyusul anak dan menantunya di dalam kamar mandi.
Akan tetapi Alvian sudah menuntun Ayara keluar dari sana dan diajak duduk di kursi meja makan.
"Sayang, kau tidak apa-apa, Nak? Tunggu papa menghubungi Dokter Jessie, ya." ucap Nyonya Lili menghampiri menantunya.
"Bibi, tolong buatkan Teh hangat. Tapi jangan terlalu manis," titah nenek Alvian pada pelayanan. Gara-gara melihat Ayara muntah-muntah membuat mereka semua melupakan makan malam, karena keadaan Ayara jauh lebih penting.
"Baik Nyonya," jawab si pelayan cepat.
"Apakah masih mau muntah?" tanya Alvian karena melihat Ayara hanya diam saja dengan mata memerah karena habis menangis.
"Tidak! Sudah hilang pusingnya. Tapi aku mau makan di restoran yang kita datangi sama mama waktu itu," perkataan Ayara tentu saja membuat Nyonya Lili dan nenek Alvian semakin yakin bahwa Ayara benar-benar lagi hamil.
"Tapi aku mau sekarang. Aku tidak sakit," jawab Ayara tidak mau bila harus besok.
"Sayang, tunggu Dokter Jessie datang sebentar lagi, ya. Nanti setelah kau diperiksa maka pergilah. ucap Nyonya Lili agar sang menantu diperiksa lebih dulu.
"Baiklah," jawab Ayara tersenyum kearah ibu mertuanya. "Tapi nanti Aya mau makan di restoran yang kita datangi Minggu lalu, Ma," ucap Ayara yang diiyakan oleh ibu mertuanya maupun Alvian.
"Nyonya, ini Teh hangat nya," ucap pelayan memberi Teh hangat seperti yang diperintahkan oleh nenek Alvian.
"Iya, terima kasih," Nyonya Lili menerima Teh nya lalu diletakan dihadapan Ayara. "Ayo sayang minum sedikit-sedikit. Agar perutmu tidak mual lagi," titah beliau begitu perhatian. Seperti mana perlakuan ibu kandung terhadap putrinya sendiri.
"Iya, Ma," Aya menjawab singkat dan mulai menyendok air Teh tersebut.
"Aya, apakah kau telat datang bulan, Sayang?" sekarang yang bertanya adalah neneknya Alvian.
"Eum..." Ayara langsung terdiam karena lagi mengingat-ingat kapan dia terakhir kali datang bulan.
"Apakah benar jika aku lagi hamil? Waktu terakhir kali aku datang bulan adalah... Kalau tidak salah beberapa hari setelah kami menikah, Iya benar itu adalah mens terakhirku."
"Sepertinya awal kami menikah, Nek," Alvian yang menjawab lebih dulu karena dia tentu sangat hafal kapan terakhir kali dia berpuasa tidak bisa menyentuh istrinya.
"Wah, kalau begitu benar sekali. Aya pasti memang lagi mengandung," seru si nenek tak berhenti mengembangkan senyum bahagianya karena akan memiliki cicit dari Alvian.
"Jika kakak ipar hamil lagi, berarti keponakan aku akan bertambah banyak. Ini pasti sangat menyenangkan," sahut Deri sambil menyuapi Vania dan dirinya. Karena mereka berdua sudah sama-sama lapar, jadinya makan lebih dulu.
"Tentu saja kakak iparmu lagi hamil. Kau suapi Via makan yang benar ya, kami mau menemui Dokter Jessie yang sebentar lagi pasti akan datang," ujar Nyonya Lili karena Deri memang sangat pandai apabila disuruh mengasuh Vania.
"Oke, Oma. Via biar sama Om Deri saja ya, Sayang. Biar Mama diperiksa lebih dulu," jawab Deri yang sama-sama tersenyum dengan Vania.
Mereka berdua sangatlah cocok dan tidak pernah bertengkar. Berbeda bila Vania bersama Papanya. Akan sering mendengar si princess menangis. Gara-gara Alvian menggoda anaknya sampai menangis.
Tap!
Tap!
Suara langkah kaki Tuan Arka yang baru saja menyusul ke dapur.
"Dokter Jessie sudah datang, ayo kita ke depan," ucap Tuan Abidzar seraya menoleh ke arah cucunya. "Aduh sayangnya, Opa. Maaf ya sudah mengabaikanmu, karena kita harus memeriksa keadaan mamanya Via. Benarkah lagi hamil atau sedang sakit," lanjut beliau merasa bersalah pada sang cucu.
"Iya, Opa. Via matan tama Om Deli," jawab Via sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya.
Cup!
"Anak pintar. Oke, Via sama Om Deri dulu ya," setelah mengecup kepala cucunya. Tuan Abidzar pun kembali ke depan. Diikuti oleh Alvian, Ayara, Nyonya Lili dan ibunya. Jadi yang ada di meja makan hanya Deri dan Vania saja.
"Selamat malam semuanya," sapa dokter Jessie melihat kedatangan anggota keluarga Rafael. Saat ini dokter muda itu lagi duduk di ruang tengah rumah tersebut.
"Selamat malam juga Dokter. Bisa dilakukan pemeriksaannya sekarang juga," jawab Nyonya Lili dan langsung meminta agar Ayara segera diperiksa.
"Tentu saja mari kita melakukan pemeriksaan," jawab si dokter sudah siapa dengan peralatan kerjanya.
"Ayo Dok, kita ke kamar tamu saja," ajak Nyonya Lili berjalan lebih dulu menuju kamar yang ada di lantai bawah dan tidak jauh dari tempat mereka saat ini. Sedangkan Tuan Abidzar dan ibunya menunggu di ruang tengah.
"Nona, kapan terakhir kali Anda datang bulan?" tanya Dokter Jessie sambil memeriksa Ayara yang sudah baring di atas tempat tidur.
"Mungkin sekitar satu setengah bulan yang lalu," jawab Ayara dengan perasaan berdebar-debar tidak menentu. Karena dia takut apabila setelah diperiksa, ternyata tidak hamil dan membuat keluarga Rafael kecewa.
"Oke-oke! Kalau begitu besar kemungkinan Anda memang sedang hamil. Jadi sekarang kita lakukan tes kehamilan dulu. Silahkan Anda masuk kedalam kamar mandi, lalu celupkan ini pada air seninya. Nanti sekitar dua menit bawa tespeknya keluar lagi," titah Dokter Jessie.
Ayara pun langsung mengangguk mengerti dan dia masuk ke dalam kamar mandi bersama Alvian. Karena pemuda itu tidak mau membiarkan istrinya sendiri.
"Sayang, sini alatnya biar aku yang celupkan," ucap pemuda itu sama seperti Ayara merasakan gugup karena ini adalah kali pertamanya merasakan hal tersebut. Saat Ayara hamil Vania, dia tidak ada di sisi wanita itu.
"Ini," Ayara pun memberikan air seni yang ia tampung ke pada suaminya. Sehingga Alvian yang melakukan pengecekan tersebut.
"Sayang, jika positif hamil seperti apa tandanya?" tanyanya begitu selesai. Akan tetapi tidak terjadi apa-apa pada alat tersebut.
"Aku juga tidak tahu, karena saat hamil Via aku lagi demam dan dokter hanya memeriksa ku, jawab Aya setelah selesai mencuci tangannya.
"Maafkan aku. Seharusnya aku berada di sisimu saat itu," ucap Alvian meminta maaf.
"Iya, tidak apa-apa. Ayo kita keluar sekarang," ajak Ayara karena tidak mau mereka kembali bersedih bila mengigat kisah masa lalu.
"Ayo," ajak Alvian membuka pintu kamar mandi dan menuntut lembut tangan Ayara keluar dari sana. "Ini Dok, kami sama-sama tidak tahu hasilnya bagaimana," Alvian menyerahkan alat tespek tersebut pada Dokter Jessie.
"Ternyata tebakan Anda benar, Nyonya. Nona Ayara sedang hamil," ucap si dokter setelah memeriksa alat tersebut yang menunjukkan garis dua.
"Be--benarkah? Jadi istri Saya benar-benar sedang hamil, seru Alvian langsung memeluk Ayara.
Cup!
"Sayang, ternyata benar kau lagi hamil," ucap Alvian setelah mengecup lama kening Ayara.
"Huem!" Dokter Jessie berdehem sehingga membuat Alvian melepaskan pelukan dari Ayara. Wanita itu hanya bisa tersenyum dengan air mata bahagia yang menetes begitu saja.
"Bukannya pada berita hari ini Tuan Muda sudah mengumumkan bahwa Nona Ayara lagi mengandung?" tanya dokter itu merasa heran karena dia pikir Ayara memang sudah diperiksa sebelumnya.
"Iya, benar sekali. Tapi Saya hanya menebak saja," jawab Alvian tersenyum tampan. Soalnya dia tidak menyangka bahwa kebohongannya tentang istrinya yang hamil malah benar-benar nyata.
"Dokter Jessie, jadi bagiamana degan kesehatan putri Saya? Tadi dia muntah-muntah seperti yang Saya jelaskan tadi," tanya Nyonya Lili yang begitu posesif pada sang menantu.
"Ini Saya sudah membawa vitamin dan juga obat untuk pencegahan mual nya. Hal seperti ini tidak perlu khawatir karena sudah biasa terjadi pada ibu hamil," Dokter Jessie mengeluarkan obat-obatan yang sudah dia persiapkan dari rumah.
Tadi Tuan Abidzar memang sudah mengatakan disuruh memeriksa menantunya yang hamil. Jadi dokter tersebut sudah menyiapkan obat yang diperlukan.
"Besok pagi lebih baik kita lakukan pemeriksaan USG. Agar lebih jelas sudah berapa umur kehamilan Nona Ayara. Saya akan menunggu di rumah sakit untuk melakukan persiapan. Jadi jam berapa sempatnya saja," jelas si dokter karena anak yang dikandung Ayara sangatlah berharga. Sudah pasti dokter tersebut akan memberikan pelayanan terbaiknya sebagai dokter pribadi keluarga Rafael.
"Baiklah, Dokter siapkan saja. Kami akan datang ke rumah sakit untuk memeriksa kesehatan istri dan anak Saya," jawab Alvian langsung setuju untuk memeriksa istrinya di rumah sakit.
... BERSAMBUNG ... ...