
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
Jam empat lewat lima belas menit. Ayara baru kembali masuk kedalam kamar Alvian, yang berada di lantai dua rumah tersebut.
Setelah hampir seharian berkumpul bersama keluarga besar Rafael dan juga keempat sahabat suaminya. Ya, suami! sekarang dia tidak hidup sendiri lagi Sudah ada yang akan bertanggung jawab untuk kehidupannya bersama sang putri.
Sedangkan Alvian sendiri masih bersama keempat sahabatnya, yang lagi berkumpul di gazebo belakang rumah tersebut.
Di sinilah mereka saat ini, yang sejak tadi selalu menggoda Alvian. Si pengantin baru yang akan malam pertama lagi bersama Ayara.
Soalnya mereka semua memang mengetahui bahwa Alvian dan Aya akan kembali ke Apartemen, karena di sana Nyonya Lili telah menyuruh orang-orang kepercayaan keluarga Rafael. Menyiapkan kamar untuk malam pengantin anak dan menantunya.
Bukan bermaksud apa-apa Nyonya Lili melakukan hal tersebut. Beliau hanya ingin sang menantu merasakan pernikahan seperti gadis-gadis lain. Jangan mentang-mentang karena Aya sudah tidak perawan lagi dan juga tidak memiliki keluarga akan diperlakukan dengan asal saja.
Sebagai sesama wanita dan seorang ibu yang memiliki dua orang anak. Tentu Nyonya Lili tahu rasanya berada di posisi sang menantu dan juga apabila hal tersebut berada di posisi Almarhum Jasmeen besan mereka.
Ibu mana yang tidak akan bersedih apabila menyaksikan hidup anaknya tidak baik-baik saja. Hanya karena tida di akui oleh keluarga besar Wilson.
Setelah mendengar cerita Tuan Abidzar suaminya. Baik itu Alvian maupun Nyonya Lili. Sama-sama bertekad ingin membahagiakan Ayara. Agar gadis itu merasakan memiliki Ibu dan keluarga yang menyayanginya.
Mereka semua sekarang sudah tahu bahwa Ayara adalah putri dari sahabat Tuan Abidzar. Sehingga rasa simpati keluarga besar Rafael pun semakin besar untuk sang menantu pertama. Dari putra pertama pula.
Berbeda dengan Tuan Abidzar, beliau bertekad akan membalaskan perbuatan keluarga Wilson yang sudah menyia-nyiakan putri dari sahabatnya.
"Al, bagaimana rasanya setelah merubah statusmu menjadi seorang suami?" tanya Sandy yang duduk bersebelahan dengan Alvian.
"Rasanya... eum, membahagiakan sekali. Aku benar-benar merasa bahagia setelah bisa hidup bersama Aya lagi." jawab Alvian yang senyum di wajahnya tak pernah memudar sejak kemarin pagi.
"Wah, melihat wajah bahagia mu kenapa aku tiba-tiba ingin menikah juga, ya. Tapi... masalahnya gadis mana yang akan aku nikahi," seloroh Bara yang sebetulnya sudah disuruh oleh orang tuanya untuk menikah, karena dia adalah anak tunggal.
Namun, gara-gara Ria kekasihnya yang saat ini sedang kuliah kedokteran. Belum bisa untuk diajak menikah, membuat Bara sering berdebat dengan orang tuanya.
Soalnya orang tua Bara ingin menjodohkan sang putra dengan wanita yang bagi mereka cocok untuk dijadikan menantu.
"Menurutku, jika kau tidak mencintai Ria, kenapa harus dipertahankan, Bar. Cari saja gadis yang benar-benar mencintaimu. Lalu kau bisa mengajaknya menikah." sahut Naufal karena Bara pernah bercerita pada keempat sahabatnya. Bahwa dia sendiri saja ragu dengan perasaan yang dia miliki untuk Ria.
Semua itu Bara tidak pernah merasa cemburu pada kekasihnya itu. Meskipun lagi bersamaan dengan laki-laki lain. Terkadang untuk bertukar kabar saja, mereka sampai satu minggu hanya satu kali mengirim pesan singkat.
Jadi boleh dikatakan pemuda itu tidak pernah menikmati yang namanya hidup berpacaran seperti pasangan pada umumnya.
"Huem, itu jugalah yang sedang aku pikirkan. Terkadang aku merasa bahwa dia tidak pernah menyukaiku. tapi hanya terobsesi karena aku adalah member ALV." jawab Bara dengan helaan nafas panjang.
"Wanita yang mencintaimu itu adalah Lula, menurutku dia sangat cantik, baik, anaknya ceria dan yang pasti Lula adalah tante dari putriku." imbuh Alvian yang langsung di todong pertanyaan oleh ketiga sahabatnya yang lain. Soalnya mereka memang tidak mengetahui siapa Lula sebenarnya.
"Lula siapa, Al? Apakah dia adiknya Aya?" tanya Hanan yang mewakili pernyataan Sandy dan Naufal.
"Lula adalah gadis yang sudah banyak menolong. Istri dan anakku di kota B."
"Apakah orangnya cantik?" sekarang bergantian Sandy yang bertanya.
"Huem, lumayan cantik. Dia adalah gadis yang minta tanda tangan untuk calon ponakannya yang belum lahir waktu kita konser pertama di kota B dan tanda tangan itu ternyata adalah untuk Vania. Malam itu juga lah Aya melahirkan putri kami."
"Astaga! Benarkah? Aku lupa dengan wajahnya seperti apa, tapi aku ingat ada gadis yang pernah meminta tanda tangan pada baju bayi. Berarti dia adalah fansnya ALV." seru Hanan hampir nggak percaya bahwa baju yang ditandatangani oleh kedua sahabatnya adalah untuk Vania.
"Bara, apakah kau tidak memiliki foto nya?" Naufal menatap ke arah Bara yang diam saja saat Alvian menceritakan Lula.
"Tunggu, aku tahu Instagram miliknya. Mana tahu dia ada mengunggah foto di sana." kata Bara langsung mengeluarkan ponselnya untuk menunjukkan foto Lula.
Gadis yang hampir setiap malam melakukan panggilan telepon bersama dirinya. hanya saja barang tidak menceritakan hal tersebut kepada member ALV yang lainnya.
"Ada atau tidak? Kenapa lama sekali?" desak Sandy yang heboh. Padahal hampir setiap kaum hawa menyukai mereka semua. Hanya saja yang namanya perasaan sulit untuk ditebak. Terbukti kebanyakan dari mereka adalah jomblo tidak memiliki kekasih.
"Tunggu sebentar! Aku cari dulu akunnya yang mana," jawab Bara masih mencari foto Lula. "Agh, ini dia," serunya setelah mengklik Foto profil gadis itu. Bara pilih salah satu fotonya dan diperlihatkanlah kepada ketiga sahabatnya.
"Oh ini orangnya, tidak terlalu buruk. Menurutku lebih cantik daripada Ria kekasihmu, Bar." puji Sandy setelah melihat foto Lula.
"Tu kan, apa kataku. Lula bukan hanya cantik, tapi dia juga baik hati. Selama ini gadis itu telah banyak menolong Aya dan putriku, kata papa, sebelum kembali ke sini. Papaku ingin memberi bantuan pada keluarga gadis itu. Namun, dia menolaknya karena persahabatannya bersama Aya, tidak mau digantikan oleh uang." papar Alvian panjang kali lebar.
"Wah! Ternyata masih ada gadis sepertinya." imbuh Hanan setelah melihat foto Lula dan mengabaikan lagi ponsel milik Bara.
"Ada, mungkin yang lebih dari itu juga masih ada. hanya saja sangat sulit untuk kita menemukannya mungkin seperti mencari jarum di tumpukan jerami." sambung Naufal ikut menimpali.
Akhirnya untuk menghabiskan sisa waktu mereka sebelum berpisah masing-masing mereka membicarakan ulah dan gadis-gadis lainnya yang bisa untuk dijadikan istri.
Ternyata kehidupan manis mereka sebagai member ALV. Tidaklah seindah yang dipikirkan oleh fans mereka di luaran sana, karena nyatanya kelima pemuda tampan itu memiliki berbagai macam drama kehidupan dan kisah cinta.
Mereka ini adalah orang yang pemilih, begitu sulit untuk jatuh cinta. Makanya sampai saat ini meskipun dikelilingi oleh wanita-wanita cantik dari berbagai kalangan. Tetap saja betah hidup menjomblo daripada menghabiskan waktu untuk para wanita yang tidak sesuai dengan karter masing-masing.
"Agh, sudah jam lima, aku mau pulang duluan karena sore ini sudah melewatkan jadwal olahraga aku." kata Sandy berdiri lebih dulu dan diikuti juga oleh ketiga temannya yang lain.
"Aku juga mau pulang! Tidak enak kita malah mengobrol di sini, sedangkan Aya pasti lagi sendirian," ucap Hanan juga berpamitan mau pulang.
"Ck, kalian bicara apa! Aku hanya ingin membahagiakan Via terlebih dahulu. Agar dia merasakan kasih sayangku, takutnya apabila kami memiliki anak lagi yang ada dia kekurangan kasih sayang. Tapi... jika langsung jadi seperti dulu, maka apa salahnya." Alvian malahan ikut tertawa.
"Sudah-sudah jangan diteruskan lagi ini sudah sore. Kami mau pulang dulu dan selamat bersenang-senang menikmati malam pertama kalian sebagai suami istri." kata Bara mengambil jas nya yang dia letakan di atas tempat duduknya.
"Iya, terima kasih karena hari ini kalian berempat sudah menemaniku." Alvian ikut berdiri karena sahabatnya juga akan pulang.
"Bara!" panggil Alvian saat Aldebaran baru saja melangkah pergi dari tempat tersebut sehingga membuat pemuda itupun berhenti di tempatnya berdiri dan menoleh lagi ke arah sahabatnya.
"Huem, ada apa?" tanya Bara singkat.
"Kalau jadi kata papaku Lula akan dibawa pindah ke sini. Agar dia memiliki pekerjaan yang layak."
"Oh, iya syukurlah! Itu jauh lebih baik, karena kasihan juga apabila dia mengandalkan bekerja di toko bunga itu. Kita tahu sendiri gajinya hanya beberapa dollar dalam satu minggu." Jawab Bara disertai anggukan kepala. Lalu setelah itu dia kembali lagi melanjutkan langkah kakinya menyusul Naufal dan Sandy yang sudah berjalan lebih dulu.
"Benarkah Lula akan pindah ke kota ini untuk bekerja? Tapi kenapa dia tidak pernah memberitahuku. Bukankah tadi malam kami masih berteleponan? Awas kau, ya."
Gumam Bara sambil menuju ke arah mobilnya yang terparkir di halaman rumah mewah milik keluarga Rafael.
Sementara itu Alvian pun kembali masuk ke dalam rumah untuk mencari anak dan istrinya, karena saat tadi dia tinggal ke gazebo belakang. Aya lagi berkumpul bersama saudara sepupunya di ruang keluarga.
"Nenek, Aya dan Via mana?" tanyanya pada sang nenek yang lagi duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi.
Sedangkan di ruang tengah, sampai ke ruang tamu depan. Orang-orang lagi sibuk membuka dekorasi bekas pernikahan Alvian dan Ayara tadi siang.
"Aya sudah sejak tadi diantar oleh mamamu ke kamar kalian. Sedangkan Via lagi menemani Opa dan Om nya memberi ikan makan di taman samping rumah." jawab wanita paruh baya itu yang hanya menatap cucunya sebentar, karena dia lagi fokus mau nonton sinetron kesayangannya.
"Oh, baiklah! Kalau begitu Alvin mau ke kamar dulu. Terima kasih, nek." pamit si tampan yang langsung pergi menuju tangga untuk sampai ke lantai atas rumah tersebut.
Saking lamanya berkumpul dengan keempat sahabatnya. Alvian sampai tidak tahu jika anggota keluarganya yang lain sudah kembali ke rumah mereka masing-masing, karena hari memang sudah sore. Apalagi mereka sudah menginap di rumah utama sejak kemarin malam.
"Kira-kira Aya sedang apa, ya?" tanya pemuda itu pada dirinya sendiri dengan tersenyum bahagia.
Ceklek!
"A--alvin," seru Aya tergagap. Untung saja dia baru keluar dari ruang ganti pakaian. Jadi Alvian tidak melihatnya yang hanya memakai handuk saat habis mandi.
"Kenapa kaget? Apakah wajahku seram seperti hantu?" bertanya sambil jalan mendekati istrinya.
"Ti--tidak! Aku hanya kaget saja karena tadi pintunya tidak aku kunci. Aku takut di saat lagi di dalam kamar mandi. Ternyata kau malah datang. Jadi aku tidak bisa mengunci pintunya." jawab Aya tidak ingin Alvian berpikiran yang aneh-aneh.
"Aya, kau cantik sekali," ucap pemuda itu sudah menarik pinggang ramping Aya. Sehingga tubuh keduanya saling menempel.
"A--alvin! A--apa yang kau lakukan, tolong lepaskan aku. Bagaimana nanti jika ada yang melihat kita seperti ini," kata Aya yang terkesan ambigu.
"Tidak masalah bila ada yang melihat kita seperti ini, karena sekarang kau adalah istriku." bukannya melepaskan rangkulan tangannya. Namun, Alvian semakin mengeratkan kedua tangannya pada tubuh gadis itu.
"Alvin, ak---"
Cup!
"Kenapa? Apakah kau malu berada dekat denganku seperti ini?" Alvian langsung mengecup bibir ranum Ayara yang dulunya setiap hari selalu dia nikmati.
"Bu--bukan! Aku hanya---"
"Aya, kau tidak perlu malu karena sekarang aku adalah suamimu dan lagian, bagian tubuhmu yang mana yang tidak pernah aku lihat." ucapan Alvian tentu saja langsung membuat kedua pipi Ayara memerah seperti mana kepiting rebus.
Meskipun dahulu mereka sering melakukan hubungan suami istri. Tetap saja dia merasakan malu. soalnya sudah hampir 4 tahun mereka tidak pernah bertemu dan menjalani kehidupan masing-masing.
Namun, baru bertemu kurang lebih sepuluh hari. Mereka sudah bersatu lagi sebagai pasangan suami istri yang sah di negara maupun agama.
"Aku sudah tahu inci dari setiap lekuk tubuhmu, bahkan aku selalu menikmatinya. Jadi jangan pernah merasa bahwa aku bukanlah Alvin mu dulu." Alvian memang sengaja berbicara seperti itu, karena ternyata hanya dia yang tidak merasa canggung ataupun malu saat bersama Aya.
Akan tetapi perubahan sikap Aya yang seperti lagi menjaga jarak dengannya. Membuat Alvian sadar, jika mungkin saja Aya seperti itu karena sekarang dia adalah seorang member ALV yang dicintai banyak fansnya bahkan sudah menyeluruh dunia.
"Alvin," lirih Aya karena ternyata suaminya itu masih saja mengingat perkataannya yang mengatakan bahwa Alvin adalah miliknya. Sedangkan Alvian adalah milik para penggemar kekasihnya. Hal itulah dulu yang sering dikatakan oleh Ayara.
"Huem, apa?" jawab Alvian berdehem kecil. Lalu diapun berkata lagi. "Aya, sayangku! Tolong dengarkan aku baik-baik. Mau seperti apapun aku di luar sana, tapi sejak dulu sampai sekarang. Aku adalah Alvin mu dan akan terus seperti itu tidak akan pernah berubah."
"Tapi... jika mereka semua tahu tentang ku, tentang Vania. Maka sudah pasti aka---"
"Shuuit! Aku tidak peduli mereka mau tahu tentang kalian berdua atau pun tidak, karena sekarang aku hanya ingin fokus untuk keluarga kecilku saja. Jika pun aku harus mundur dari member ALV. Maka pasti akan aku lakukan, asalkan bisa membuatmu dan putri kita bahagia." perkataan Alvian langsung membuat Aya masuk ke dalam pelukan laki-laki itu.
"Dia Alvin ku, dia masih Alvin yang dulu aku cintai dan Alvin yang selalu membuatku bahagia." gumam Ayara menagis dalam pelukan suaminya.
Begitulah pengertiannya seorang Alvian. Dia sangat peka tentang perasaan wanitanya. Sehingga meskipun Ayara tidak menyebutkan langsung tentang kecanggungan yang gadis itu rasakan.
Pemuda tampan tersebut akan tahu dengan sendirinya dan pasti langsung menjelaskan supaya tidak terjadi kesalahpahaman di antara mereka berdua.
Cup!
Alvian balas memeluk wanita tersebut dan memberikan kecupan berulang kali pada kepala Ayara.
"Jangan seperti ini lagi, aku ingin kau tetap menjadi Ayaraku. Sama seperti dulu." ucapnya yang diangguki oleh Aya.
... BERSAMBUNG... ...