
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
"Ini suapan terakhir," ucap Ayara menyuapi sang putri eskrim yang terakhir. Vania memang seperti itu, jika dia sudah lelah, maka mamanya yang menyuapi.
"Yee... sudah habis," seru Vania kegirangan. "Tita pelgi beli jajan, kan?" tanyanya memastikan.
"Iya, kita akan pergi membeli jajan untukmu, sekalian temani Mama belanja." jawab Ayara tersenyum.
"Beli susu, Ma," ingat si kecil karena susu bagaikan ibu kedua baginya. Apabila Ayara sibuk melayani pembeli, maka dia hanya ditemani susu formula.
"Tentu saja, nanti sebagai tambahan Vania juga boleh membeli susu kotak atau minuman yang lainya. Tapi tidak boleh banyak-banyak, ya. Hanya bolehnya dua saja," apabila uangnya cukup. Maka Ayara akan membiarkan putrinya menambah sedikit jajanan.
"Talau begitu tita pelgi nya cekalang," ajak Vania sudah berdiri lebih dulu. Lalu dia merentangkan kedua tangannya agar sang mama mengangkat tubuh kecilnya keatas sepeda.
Tentu saja dengan senang hati ibu muda itu melakukannya. Lalu dia pun menyusul naik. Setelah sang putri berpegangan barulah dia mengayuh sepedanya lagi.
Apa yang mereka lakukan tentu saja diperhatikan oleh kelima orang pemuda yang lagi duduk sekitar seratus meter dari tempat Ayara dan putrinya tadi. Siapa lagi jika bukan Alvian dan keempat sahabatnya.
"Al, apakah kau melihat wanita tadi, kenapa perasaanku dia agak mirip seperti Ayara, ya?" tanya Naufal dan dianguki oleh yang lainnya.
"Alvian! Kau kenapa?" Bara menyenggol lengan sahabatnya yang malah terdiam menatap kepergian ibu dan anak tadi.
"Al, kau kenapa? Apakah kau merasa wanita tadi agak mirip seperti Aya mantan kekasihmu?" sekarang Sandy yang bertanya. Soalnya mereka semua melihat kearah Ayara dan Vania yang terus tertawa.
Namun, sayangnya jarak mereka cukup jauh. Jadi tidak tahu, itu adalah Ayara yang mereka kenal atau bukan.
"Iya, dia Ayara ku," seru Alvian menoleh kearah mereka semua dan berkata. "Aku akan pergi menemuinya. Tolong kalian kembali duluan, agar Staf Muzaki tidak mencari ku. Aku mohon!"
Belum lagi sahabatnya menjawab. Dia sudah berlari kearah mana Ayara perginya. "Pulanglah! Jika sudah bertemu dengannya, maka aku akan kembali ke hotel," ucapnya berhenti lagi untuk mengatakan itu.
"Apakah benar tadi Ayara? Aku benar-benar tidak salah lihat. Dia Ayara ku," gumam Alvian yang sebetulnya tidak kuat untuk berlari, karena tubuhnya seakan-akan gemetar tidak karuan.
"Tapi jika itu memang Aya, dia bersama siapa? Bukannya waktu itu kata penjaga keamanan di rumahnya dia kuliah di luar negeri. Apakah dia tidak jadi kuliah? Atau bagaimana? Aaah... aku harus bertanya sendiri," Alvian semakin berlari sampai pada tempat penyewaan sepeda. Dia tidak melihat siapapun. Kecuali pemilik sepeda itu saja.
"Permisi, ini, ini tadi dipakai oleh wanita bersama anak kecil. Kemana mereka?" tanya Alvian dengan nafas terengah-engah.
"Oh, nona muda bersama anaknya tadi?" si penyewa kembali bertanya.
"Iya, wanita tadi," seru Alvian langsung mengeluarkan dompetnya dan memperlihatkan foto Ayara yang masih dia simpan sampai saat ini. Agar dia tidak salah mengejar orang lain.
"Ini, Saya rasa mungkin wajahnya tidak akan berubah sampai saat ini," ucap Alvian degan jantung berdebar-debar tidak menentu.
"Iya, benar nona ini yang menyewa sepedanya," jawab laki-laki itu membenarkan. Meskipun foto yang ditujukan oleh Alvian foto saat Ayara masih sekolah menengah atas. Namun, wajahnya masih sama tidak ada yang berubah.
"Kalau Saya tidak salah dengar saat dia berbicara dengan putrinya tadi mau ke supermarket depan,"
"Baiklah! Ini buat Anda, terima kasih," seru pemuda itu memberi beberapa lembaran dolar sebagai rasa terima kasihnya.
Lalu setelah itu dia berlari kearah supermarket yang ada di samping Taman tersebut.
Setibanya di dalam masih dengan cara berlari. Alvian mencari keberadaan Ayara. Namun, dia malah melihat gadis kecil yang lagi kesusahan mau mengambil minuman kaleng khusus buat anak-anak seusianya.
Namun, kebetulan gadis kecil itu menoleh kebelakang karena mendengar suara mamanya.
Deg!
"Siapa gadis kecil ini? Kenapa begitu mirip denganku? Apakah dia anak Ay---"
"Vania, kenap perginya tidak bilang sama Mama, Mama kira Vania hilang," seru Ayara langsung memeluk sang putri. Tanpa dia sadari jika beberapa meter darinya ada Alvian berdiri membeku.
"Maaf, Ma. Via mau ini," tunjuk si cantik Vania pada minuman yang dia mau.
"Oh, baiklah! Ambil dua saja, ya. Setelah ini kita pulang," ucap Aya mengambil dua kaleng minuman seperti yang ia katakan tadi.
"Ma, Via mau tiga," pinta si kecil yang langsung ditolak oleh ibunya.
"Tidak boleh! Dua saja ya, Mama tidak punya uang jika beli tiga," Ayara mengelus kepala putrinya. Hanya satu kaleng minuman saja dia tidak mempu untuk membelinya. Lalu bagaimana mungkin dia bisa membelikan boneka yang diinginkan oleh sang putri.
"Tapi---"
"Shuuit! Tunggu Mama kerja lagi ya, Sayang. Nanti baru kita datang ke sini untuk membeli minumannya lima, bukan tiga lagi," bujuknya yang dianguki oleh sang putri.
"Iya dua taja, Ma," meskipun tidak bisa membeli tiga kaleng minuman. Vania yang memiliki pikiran di atas anak lain hanya setuju dan tidak menangis.
"Oke, ayo kita bayar, setelah ini kita pulang," Aya mengambil apa yang diinginkan oleh sang putri. Lalu mereka pun pergi membayarnya ke meja kasir.
"Dia memang Aya, dan itu putrinya? Dia menikah dengan siapa? Kenapa anaknya sudah besar?" gumam Alvian menatap Ayara dan Vania. Tidak mungkin dia mendekati sekarang. Jadi Alvian menunggu mereka keluar.
Tidak lama, karena Ayara hanya membeli sedikit barang belanjaan. Jadi lima menit kemudian ibu muda itu sudah menuntun tangan Vania keluar dari sana.
"Aya!" panggil Alvian begitu mereka sudah berada diluar. Tepatnya masih disamping Taman Danau itu juga.
Deg!
"Alvin!" gumam Ayara semakin menggenggam erat tangan kecil putrinya. Dia belum menoleh kebelakang. Namun, Ayara tahu siapa pemilik suara itu.
...BERSAMBUNG......