
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
Di sebuah Apartemen mewah. Alvian tegah minum, minuman keras. Untuk meluapkan rasa kecewanya pada sang ayah dan sakit hati karena lagi-lagi dia harus mengambil keputusan yang tidak bisa dia pilih.
Membuat pemuda yang baru dua puluh tiga tahun itu kehilangan kesempatan untuk menjadi seorang suami. Sekaligus ayah untuk putrinya yang dua bulan lagi akan genap tiga tahun.
Tadi setelah bertengkar dengan Tuan Abidzar yang akhirnya membuat Alvian menyerah. Pemuda yang menjabat sebagai vokalis inti di group ALV. Langsung pulang ke Apartemennya sendiri. Dia butuh waktu untuk sendiri.
Disinilah dia sekarang. Seluruh lampu Apartemennya dia matikan. Satu-satunya yang menyala ialah lampu khusus ketika tidur saja.
"Aya, kenapa kau tidak mengangkat telepon dariku? Apakah kau sudah tahu jika aku akan menikahi gadis lain?" tanya Alvian pada ponselnya.
Sejak tadi siang Alvian mencoba menghubungi Ayara. Akan tetapi ibu dari anaknya itu tidak kunjung mengangkat telepon darinya.
Tidak! bukan tidak diangkat tapi memang nomor ponsel Aya, yang diberikan oleh Alvian tidak aktif dari siang hari. Entah apa yang terjadi pada gadis itu.
Namun, ketika Alvian menelpon Lula dan menanyakan keadaan Aya bersama putrinya. Gadis itu mengatakan bahwa mereka baik-baik saja. Bahkan untuk meyakinkan Alvian. Lula sampai mengirimkan video pendek tentang kegiatan yang dilakukan oleh Vania dan Aya saat mereka bekerja di Toko bunga.
Hanya saja jika untuk berbicara dengannya, Ayara tidak mau. Tapi wanita itu memberi izin Vania berbicara dengannya mengunakan ponsel Lula.
"Apa kau tahu, aku tidak berdaya! Aku tidak berdaya untuk menolaknya karena papa mengancam akan menyakiti kalian." ucap Alvian lagi yang kesadarannya mulai kacau.
Tidak ada satupun dari teman-temannya yang mengetahui hal tersebut, karena Alvian memang belum bercerita pada mereka.
"Aku mohon, percayalah! Aku akan menantang papa setelah aku berhasil membawa kalian ke tempat aman terlebih dahulu. Tapi untuk itu aku butuh kau dan anak kita," racau nya lagi.
Rasanya Dunia Alvian benar-benar sudah hancur. Untungnya Minggu ini jadwal manggung mereka lagi dikosongkan oleh Staf Muzaki.
Akan tetapi jika Minggu depan jadwalnya mulai padat seperti biasanya.
Tttttdd!
Mendengar ponselnya bergetar, Alvian cepat-cepat mengangkat panggilan tersebut. Tanpa dia lihat siapa yang meneleponnya, karena pikiran Alvian hanya ada Ayara dan Vania.
📱 Alvian : "Aya, kenapa ponselmu dimatikan?" tanyanya dengan lirih.
Soalnya dia berharap Ayara mau mendengarkan penjelasannya. Namun, sayangnya yang meneleponnya adalah Alice.
📱 Alice : "Al, kau baik-baik saja, kan? Apakah kau mabuk?" tanya gadis itu khawatir.
📱 Alvian : "Apakah kau bukan Aya ku? Kemana dia? Kenapa kau yang menyimpan ponselnya?" tuduh pemuda itu tidak ingat jika nomor Ayara tidak aktif.
📱 Alice : "Alvian, ini aku Alice? Aya siapa maksudmu? Apakah---"
Tidak menunggu Alice menyelesaikan ucapannya. Alvian yang sudah muak mendengar nama gadis itu langsung memutuskan panggilan tersebut.
Lalu dia kembali meneguk minuman memabukkan itu sampai dia benar-benar tidak sadarkan diri.
Pada pagi harinya.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Tapi Alvian tidak juga bangun, semalaman dia cuma tidur diatas karpet dalam kamarnya dan tidak mengunakan bantal maupun selimut.
"Papa... ayo banun," sayup-sayup Alvian mendengar suara putrinya.
"Papa Ian, banun!" suara cadel Vania semakin mengelitiki telinga pemuda itu. Mabuknya memang sudah hilang, tapi rasa kantuknya dan rasa malas untuk menatap dunia. Membuat Alvian terus memejamkan matanya.
Cup, cup!
"Papa Ian, banun. Ini tudah tiang," kali ini karena merasakan ciuman lembut di kedua pipinya. Membuat pemuda tampan itu mengerjabkan matanya pelan.
"Papa, banun dah tiang," ucap gadis kecil yang membuat Alvian mau gila karena takut bila Ayara membawa sang putri menjauh darinya.
"Vi--via!" seru Alvian langsung duduk sambil memegang kepalanya yang terasa berdenyut kencang.
"Papa tudah banun," imbuh si cantik tersenyum.
"Sayang, Papa sangat merindukanmu. Terima kasih sudah datang meskipun dalam mimpi," ucapnya langsung memeluk tubuh Vania.
Apartemen yang lampu dan gorden nya belum ada yang dibuka. Membuat tempat tersebut masih terlihat gelap.
"Papa mandi dulu, Via mau matan," kata si kecil mendorong tubuh ayahnya agar menjauh.
"Ini kan hanya mimpi, kenapa Via mau makan juga?" tanya Alvian bingung.
"Eh, tunggu-tunggu! Apakah ini nyata?" seru Alvian melihat botol minuman berserakan di dekat tubuhnya tidur dari tadi malam. Lalu matanya melihat kearah sang putri yang sudah cantik karena sudah mandi.
"Via, tolong katakan apakah Papa lagi bermimpi?" bertanya pada anaknya karena binggung.
"Papa tudah banun, jadi tidak mipi," entah ide dari mana si cantik berjalan kearah ranjang papa dan mengambil jam tangan Alvian yang pemuda itu lepas beserta jaketnya tadi malam.
"Dam tuduh, dah tiang, Pa," jelas Vania karena gadis itu juga binggung kurang mengerti mimpi yang dikatakan oleh papanya.
Dia yang tidak tahu jam pun asal sebut jam tujuh saja. Padahal aslinya sudah jam sembilan pagi.
"Via, sayang! Apakah ini bukan mimpi? Kenapa Via ada di sini?" tanpa aba-aba Alvian menarik Vania untuk dia peluk. Meskipun dia belum bisa berpikir jernih, bahwa itu semua nyata.
"Papa tidak mipi, ini tudah tiang," seberapa pun Alvian mengatakan dia lagi bermimpi. Maka si cantik juga berkata bahwa itu bukan mimpi.
"Cup, cup, Muaach! Sayang Papa rasa terlalu banyak minum, sehingga bisa berhalusinasi seperti ini," ucapnya mencium si buah hati.
"Tapi... " tidak melanjutkan lagi ucapnya karena Alvian lagi memikirkan sesuatu.
"Apakah ini nyata? Aku tidak mungkin gila kan? Ini nyata, apa mungkin Aya menyusul ku? Tapi Lula mengirim video mereka lagi berada di Toko. Jadi mana mungkin Aya ada di Apartemen ku." Alvian bergumam di dalam hatinya. Sebelum kembali mendengar suara cadel anaknya.
"Papa, tepat mandi," titah Vania mendorong tubuh Alvian lagi.
"Sayang, kau datang ke sini sama siapa?" tanyanya dengan perasaan berdebar-debar. Alvian berharap jika dugaannya memang benar Ayara menyusulnya ke kota B.
Maka bila itu benar, hari ini juga dia akan menikahkan ibu dari putrinya itu. Baru setelah itu dia melawan ayahnya.
"Tama mama," menjawab singkat dengan jari tangannya menunjuk kearah pintu kamar yang terbuka lebar.
"Mama Aya?" Vania mengangguk membenarkan.
"Sekarang mama lagi ada dimana?" rasanya jantung pemuda itu mau keluar dari tempatnya.
"Mama lagi matak di dapul,"
"Benar, ini bukan mimpi, mereka memang menyusul ku ke sini. Oh Tuhan! Terima kasih." seru si tampan di dalam hatinya dan dia langsung mengajak putrinya keluar dari kamarnya.
"Ayo, kita lihat mama," ajaknya dan Vania degan senang hati berlari kecil di depan papanya. Dia tidak mau berjalan, karena tempatnya sangat luas.
"Mama, papa dah banun," teriak Vania pada mamanya yang lagi menyiapkan makanan di atas meja makan.
Sehingga membuat ibu muda itu menoleh dan tatapan matanya langsung bertemu dengan mata Alvian.
"Alvin, kenapa dia sampai sekacau ini? Apakah cintanya padaku memang masih sama seperti dulu?" gumam Ayara masih seling tatap.
Dapat gadis itu lihat, muka Alvian dan mata mantan kekasihnya itu sembab.
"Aya!" lirih Alvian langsung berjalan mendekati meja makan.
"Sayang, aku tidak bermimpi," gumamnya yang masih bisa di dengar oleh Ayara.
Hanya saja ibu muda itu cuma diam. Dia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Alvian setelah melihat dia dan Vania sudah ada di Apartemen.
...BERSAMBUNG......