
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
"Lula, bagaimana keadaanmu?" tanya Bara saat mereka sudah berada di tempat duduk yang jauh dari orang-orang.
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja dan... jauh lebih baik daripada saat bersama mu." jawab Lula masih tetap memeluk erat sweater nya. Sejauh ini Bara memang belum tahu jika sekarang dia tengah berbadan dua.
"Maafkan aku! Aku benar-benar sangat menyesal tidak percaya pada ucapanmu." Bara menatap kearah istrinya yang terlihat menjaga jarak. Sehingga membuat mudah itu tidak berani untuk langsung memeluk istrinya. Padahal niat hati saat berangkat dari rumah mau langsung mendekap tubuh Lula, supaya bisa mengobati rasa rindunya selama ini.
"Ya, aku sudah memaafkan mu." wanita itu menjawab seperlunya.
"Ayo kita pulang! Aku tidak bisa hidup tanpamu," Bara mengenggam lembut tangan Lula yang tidak memegang buket bunga darinya.
"Untuk apa aku kembali jika sejak awal tidak pernah diinginkan."
"Tidak! Itu semua tidak benar karena sejak awal aku menginginkan dirimu. Aku tahu aku mau pun mama sudah bersalah padamu. Tapi aku ingin meminta satu kesempatan untuk memperbaiki rumah tangga kita. Izinkanlah aku membahagiakanmu." mohon Bara sudah mulai hilang rasa canggung yang tadi sempat menderanya.
Tiga bulan kurang lebih tidak bertemu, apalagi penyebab perpisahan itu karena perbuatannya. Membuat Bara merasa malu juga. Sedangkan Lula hanya merasa seperti orang asing. Perasaan cinta yang dulunya besar, sekarang tidak lagi.
"Perbaiki seperti apa? Kita tidak bisa bersama lagi, Bar. Aku hanyalah wanita mandul yang sampai kapanpun tidak akan pernah bisa memberimu keturunan." Lula berhenti sejenak. Setelah itu bicara lagi.
"Kau butuh istri yang bisa mengandung agar keluarga Anderson memiliki keturunan berikutnya. Jadi carilah gadis lain dan menikahlah. Baik itu dengan Ria mantan kekasih mu atau mau mencari yang baru. Aku ikhlas karena semua ini memang kesalahan diriku yang man---"
"Itu tidak akan pernah, Lula. Aku tidak mau menikah dengan siapapun selain kita tetap bersama. Aku sudah bilang kepadamu jika aku menerima semua kekurangan mu. Tidak perduli kau bisa hamil atau tidak. Aku tetap mencintai dirimu dan ingin bersama sampai akhir hayat kita." potong pemuda itu sebelum dia meringis kesakitan karena tangannya yang terluka mengenai bangku taman.
"Auh! Tanganku sakit sekali." Bara meniup tangannya dan Lula hanya memperhatikan. Tidak berniat untuk membantu atau merasa iba.
"Lula... mana tanganmu, aku mau melihat bekas luka waktu itu." Bara menarik paksa tangan Lula dan mencari-cari bekas luka.
"Tidak ada bekas luka. Bukannya hari itu tanganmu terluka?"
"Hanya luka kecil dan bekasnya juga sudah hilang." jawab wanita itu kembali menarik tangannya untuk memeluk sweater lagi.
"Maaf!" Bara menatap istrinya dengan rasa bersalahnya. "Maafkan aku!" saat Bara mengucapkan kata maaf, Lula hanya diam saja. Semuanya sudah terjadi dan tidak akan pernah bisa mengubah keadaan seperti semula.
"Lula, aku mohon ikutlah pulang bersama ku. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi."
"Lalu bagaimana dengan..." Lula tidak jadi meneruskan ucapannya karena Bara sudah menempelkan telunjuk pada bibir wanita itu.
"Soal Mama, aku tidak akan pernah membiarkan dia mengusik mu lagi. Lagian Papa sudah menceraikan mama juga. Sekarang mama tinggal di rumah orang tuanya." Bara terus menyakinkan istrinya.
"Aku mohon! Ayo kita pulang dan memulai semuanya dari awal lagi." Lula menatap mata Bara untuk mencari kebohongan disana dan ternyata suaminya itu tidak berbohong.
"Apakah aku memang harus memberinya kesempatan kedua? Seperti mana Ayara yang memaafkan Alvian dan Om Edward. Tidak semua yang awalnya baik akan berakhir bahagia kan? Terkadang kita membutuhkan pengorbanan untuk kebahagiaan kecil. Jika kami benar berpisah maka anakku akan hidup terpisah dari ayahnya."
Gumam Lula didalam hatinya. Dia selalu memikirkan hal itu sejak Bara menelepon dan meminta maaf atas perbuatannya.
"Sayang... Aku mohon! Beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku. Atau kau mau membuat surat perjanjian jika sampai aku menyakitimu lagi maka kau---"
"Baiklah! Aku memberimu kesempatan bukan karena mencintaimu, Bar. Tapi..."
"Tapi apa? Mau apapun alasannya aku tetap mencintaimu dan akan menerima kenyataan bahwa kita mungkin ditakdirkan untuk tidak memiliki keturunan. Tidak semua kebahagiaan itu berasal dari anak. Namun, dari betapa tulus cinta yang dimiliki pada pasangan masing-masing." ucap Bara yang membuat Lula membuka sweater nya pelan.
"Aku mau memberimu kesempatan karena anakku membutuhkan ayahnya."ucap Lula yang membuat Bara terkejut dibuatnya.
"A--apa?" Bara tergagap dengan jantung berdebar-debar seperti orang baru merasakan jatuh cinta. Dia sudah mendengar dan melihat jika perut Lula menonjol ke depan. Namun, takut kecewa jika Lula lagi mengerjainya.
"Aku lagi hamil, Bar. Saat aku dibawa ke rumah sakit oleh Alvin dan Aya. Ternyata pada saat itu aku---"
"Sayang!" Bara langsung memeluk Lula dan mengecup kepala istrinya berulangkali. "Aku tidak bermimpi kan?" Bara melepaskan pelukannya dan kepalanya turun kebawah mendekati perut Lula untuk memastikan sendiri.
"Memangnya aku lagi busung lapar? Perutku besar karena calon anakmu." kata Lula karena tingkah Bara membuatnya geli.
"Jadi kalian sengaja mengerjai ku dan mengirim surat dari rumah sakit bahwa kau mandul? Kenapa aku bisa tertipu lagi." seru Bara yang sudah memeluk tubuh Lula lagi.
"Ck, aku butuh kepastian untuk kembali bersama mu, Bar. Setelah perlakukan mu hari itu, kau pikir aku akan luluh begitu saja," decak wanita itu membuat Bara merenggangkan pelukannya.
"Maafkan aku, Sayang. Aku hanya tidak bisa menahan emosiku karena merasa kecewa padamu tanpa mencari tahu kebenarannya." ucap pemuda itu berdiri dari bangku.
"Ayo kita pulang! Ini sudah malam tidak baik untuk ibu hamil." ajak Bara tersenyum lebar dan sudah melupakan luka pada tangan kirinya.
"Kita akan pulang ke mana?"
"Bar, apa yang kau lakukan? Turunkan aku! Nanti aku---"
"Kau tidak boleh kelelahan karena itu biar aku gendong saja." Bara membawa istrinya kearah pengawal Tuan Abidzar dan berkata. "Aku akan membawa mobilnya sendiri. Kau ikuti yang lainnya dari belakang." dengan sigap si pengawal yang menolong Bara tadi siang membukakan pintu mobil. Mereka memang menyusul ke taman untuk menjaga Lula maupun Bara.
Begitulah cara Tuan Abidzar melindungi orang-orang yang beliau sayangi. Lula seperti mana putrinya sendiri. Jadi sudah pasti tidak akan membiarkan wanita itu berada dalam bahaya.
"Bara, aku tadi berangkat bersama pengawal yang---"
"Tidak apa-apa! Diam ya, aku tidak percaya bila mereka yang membawa mobilnya. Takut kau dan calon anak kita kenapa-kenapa." Lula yang malas berdebat akhirnya diam tidak protes yang penting mereka pulang. Dengan pelan Bara mulai menjalankan kendaraan mewahnya. Namun, sampai hampir sepuluh menit kemudian mobil tersebut tetap pelan.
"Bara, apakah tangan mu sakit? Jika begitu berhentilah! Biarkan pengawal yang membawa mobilnya." tanya Lula karena biasanya Bara selalu membawa mobil seperti seorang pembalap.
"Tanganku sudah sembuh. Aku sengaja membawa mobilnya pelan karena takut perutmu sakit." jawaban Bara membuat mata Lula membola seperti mau keluar dari tempatnya.
"Bar, tadi juga pengawal membawa mobilnya kencang dan tidak terjadi apa-apa padaku."
"Nah kan, untung saja aku membawa mobilnya sendiri. Kau diam saja, sayang. Aku bisa membawa mobilnya lebih pelan dari ini." benar saja mobil tersebut bukannya semakin kencang justru semakin pelan.
"Astaga! Dia Aldebaran suamiku atau Jin yang menyerupai dirinya?"
Lula membatin dan menahan rasa kesal karena Bara seperti orang bodoh.
"Maaf, istri Saya lagi hamil. Jadi tidak bisa kencang." ucap Bara mengeluarkan kepalanya untuk memberitahu mobil pengendara lain yang ikut antri seperti di lampu merah.
Membuat para pengawal Tuan Abidzar mengirimkan video pada beliau. Untuk memberitahukan tingkah konyol Bara. Padahal saat berangkat Lula masih menaiki mobil dengan kecepatan sedang dan masih baik-baik saja.
"Albar! Aku hanya hamil bukannya punya penyakit stroke. Orang lumpuh sekalipun masih bisa menaiki mobil lebih kencang dari ini." protes Lula sampai memangil Bara dengan sebutan Albar. Nama trend di kalangan fans ALV.
"Tapi kau bukan stroke ataupun sakit lainnya, Sayang. Tapi lagi mengandung anakku." Bara tetap membawa mobilnya pelan. perjalanan yang seharusnya ditempuh dengan kurun waktu setengah jam. Ini menjadi tiga jam baru sampai.
Membuat para pengawal saling bergantian membawa mobil dibelakangnya. Lula pun sudah tidur dengan nyenyak karena mobil tersebut sangat pelan. Seperti mana lagi didorong oleh manusia, bukan dikendarai.
"Tuan Muda." sambut penjaga rumah tersebut.
"Buka pintunya, aku tidak bisa turun karena istriku tidur." perintah Bara yang sangat takut Lula terbangun dari tidurnya.
Saat pintu mobilnya terbuka dan juga pintu masuk rumah tersebut. Bara turun dari mobil. Lalu dia mengendong istrinya yang tidur untuk pindah kedalam salah satu rumah pribadinya juga.
Rumah tersebut dibangun serempak dengan rumah milik Alvian. Namun, karena Lula tidak kunjung hamil, dia menunda kepindahan tersebut. Akan tetapi disaat pemuda itu sudah menyerah dan mau menerima Lula walaupun mandul. Ternyata sang istri lagi hamil kurang lebih tiga bulan.
Cup!
"Tidurlah, aku mencintaimu." bisik Bara setelah membaringkan tubuh istrinya di atas tempat tidur. Kebetulan rumah tersebut sudah dipenuhi oleh segala pasilitas dan ada pengurusnya juga.
Bara melirik jam tangannya yang sudah pukul sebelas malam. Jadi dia yang lelah pikiran pun ikut tidur sambil memeluk sang istri. Begitulah sampai pagi harinya. Hingga Lula pun terbangun karena mendengar suara Bara yang muntah-muntah di dalam kamar mandi.
Hooek!
Hooek!
"Bara, kau kenapa?" tanya Lula khawatir. Selama mereka menikah baru kali ini dia melihat Bara seperti itu.
"Tidak apa-apa! Aku sudah biasa seperti ini semenjak kau pergi."
"Sudah biasa? Memangnya kau sakit apa?"
"Aku tidak sakit. Mungkin ini gara-gara aku yang sekarang sering makan atau minuman yang asam-asam." jawab Bara yang terlihat lemas.
"Jadi kau suka makanan yang asam?" Lula tersenyum lebar.
"Huem... iya, padahal dulu aku tidak suka." Bara yang merasakan enakan dituntun oleh Lula untuk kembali ke kamar.
"Bar, aku rasa kau mengalami morning sickness karena hamil simpatik. Aku yang hamil dan kau yang mengidam." tebak Lula karena dia malah tidak pernah merasakan seperti mana ibu-ibu hamil lainya.
"Apa? Benarkah karena kau hamil. Wah! Aku bahagia sekali jika memang itu penyebabnya." seru pemuda itu yang langsung mengelus perut istrinya.
"Anakku, terima kasih karena sudah hadir di sini. Maafkan papi mu ini yang tidak sabar menanti kehadiranmu." Lula hanya tersenyum saat mendengar perkataan suaminya.
"Ternyata benar, tidak semua bahagia harus berawal bahagia. Kita sebagai manusia perlu menjemputnya dengan penuh keikhlasan."
Gumamnya yang hanya bisa tersenyum bahagia.
... BERSAMBUNG... ...