I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Bersiap-siap Mau Liburan.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


Sudah hampir satu jam lebih. Namun, Alvian si tampan member ALV. Belum juga selesai melakukan hubungan bersama Ayara. Gadis yang menjadi tempat pelabuhan hatinya sejak awal sampai sekarang.


Rasanya dia tidak pernah merasa puas bisa melakukan percintaan bersama sang istri yang sudah beberapa kali mendapatkan pelepasan, begitu pula dengan dirinya.


Namun, si tampan Alvian belum juga selesai dan terus memaju mundurkan pinggulnya seirama dengan ******* sang istri yang masih berada di atas meja dalam kamar mandi mewahnya.


Aaah!


Aaaah!


Pasangan suami-istri itu terus mendesah nikmat di sela kata-kata cinta yang diucapkan oleh Alvian. Ya, pemuda itu terus melafalkan kata-kata cinta pada sang istri.


"Alvin, aku---" Ayara tidak melanjutkan lagi ucapannya karena Alvian sudah kembali menyatukan bibir mereka.


Cup!


"Aku mencintaimu!" bisik Alvian setelah melepaskan pangutan bibir mereka dan dia yang sudah tahu akan sampai pada puncak nirwana kenikmatan dunia. Langsung mempercepat gerakan pada tubuh bagian bawahnya.Diiringi suara-suara merdu Ayara yang terus melenguh nikmat.


Sejak mereka masih pacaran, Alvian memang sudah tangguh dalam menunggang kuda seperti saat ini, karena mereka berdua sudah biasa melakukan.


Namun, karena saling mencinta. Jadi rasanya tetaplah sama dan tidak ada perbedaan antara penganti baru atau lama.


"Aaah! Al, aku mau... Aaaaghkkk!" tubuh Ayara langsung terkulai lemas bersamaan dengan lahar panas mereka yang telah menjadi satu.


Bukan hanya Ayara yang terkulai lemas, tapi juga Alvian. Tubuh pemuda itu seakan terkena setrum dari listrik setelah mendapatkan pelepasan yang ke tiga kalinya.


"Aku mencintaimu," Alvian kembali berbisik dengan posisi yang sama. Yaitu si Lele tunggal masih berada dalam sarangnya.


"Alvin, aku sangat lelah! Ayo kita mandi dan tidur setelahnya." ucap Ayara masih degan nafas terengah-engah karena sensasi dari penyatuan mereka masih terasa.


"Kenapa? Apakah kau takut bila aku masih melanjutkan untuk mencicil membuat adik untuk Via?" tanya Alvian tersenyum tampan yang mampu membuat siapa saja menjadi tergila-gila padanya.


"Bukan seperti itu, tapi aku sudah duduk disini berapa lama. Kakiku mulai terasa keram kau angkat terus." seloroh Ayara yang tidak malu-malu lagi saat berkata hal yang sangat intim sekalipun.


Sebab mereka bukanlah pengantin baru. Akan tetapi dari hasil percintaan yang dilakukan saat masih sekolah menengah atas. Sekarang anak mereka pun sudah masuk sekolah taman kanak-kanak.


Cup!


"Maaf, aku tidak tahu," Alvian langsung menarik si Lele tunggal yang sudah kenyang setelah berpuasa selama hampir satu Minggu.


"Aaaagh! Aku selalu menikmatinya, sayang." ucap pemuda itu kembali mengerang saat sudah melepas penyatuan tubuh mereka.


Namun, tidak dihiraukan lagi oleh Ayara yang matanya malah terasa mengantuk mau tidur.


"Ayo kita mandi, kau tidak bisa tidur dalam keadaan seperti ini," ucapnya lagi membantu Ayara turun dari atas meja keramik tempat menaruh ponsel, ataupun barang lainya yang sering di bawa masuk kedalam kamar mandi.


Ayara yang lelah hanya menurut saja, mereka berdua mandi dibawah guyuran air shower dengan Alvian membantu memberi sabun pada tubuhnya dan juga memberikan shampoo.


Setelah hampir lima belas menit kemudian mereka berdua sudah keluar mengunakan handuk melilit pada tubuh masing-masing. Lalu mereka sama-sama memakai pakaian di ruang ganti.


"Ayo duduklah! Biar aku keringkan rambutmu." titah Alvian sudah mengambil alat pengering rambut.


"Tapi---"


Cup!


"Tidak ada tapi-tapian, jika kau tidur dengan rambut belum kering. Maka pasti saat bangun besok pagi akan sakit kepala." sela Alvin mengecup sekilas bibir ranum istrinya yang masih terlihat membengkak karena ulahnya.


"Huem, baiklah!" Ayara pun membiarkan saja Alvian mengeringkan rambutnya. Kapan lagi coba bisa dilayani oleh seorang member ALV.


Meskipun di luar sana Alvian di beritakan bersama Alice. Nyatanya pemuda tampan itu hanya milik Ayara seorang. Hanya Aya lah pemilik segalanya. Dari hati, raga maupun uangnya.


"Kenapa aku merasa lucu melihat dia mengeringkan rambutku?" gumam Ayara didalam hatinya.


Namun, senyum wanita muda itu tidak bisa dia sembunyikan. Sangat terlihat jika dia lagi bergumam.


"Jika ingin tertawa, maka tertawa saja. Tidak perlu ditahan seperti ini." ucap Alvian ikut tersenyum kecil sambil fokus matanya pada alat pengering rambut.


"Haa... ha... apakah kau bisa menebak aku lagi berbicara apa, di dalam hatiku?" tanya Aya yang tidak bisa berbohong. Apalagi Alvian sudah bisa menebaknya.


"Pasti di dalam hatimu lagi mengagumi ketampanan ku," tebak Alvian yang membuat Ayara semakin tersenyum lebar.


"Lalu, apalagi?" ujar si ibu muda yang memperhatikan suaminya dari kaca dihadapan mereka berdua.


"Lalu pasti kau lagi berpikir, jika aku hanyalah Alvin milikmu, bukan milik siapa pun selain dirimu."


"Haa... ha... Alvin, kau narsis sekali. Aku tidak bergumam tentang itu." tawa Ayara yang membuat Alvian menarik gemas kedua pipinya.


"Jika tidak sedang memuji ketampanan ku, kau lagi bergumam apa, huem!" ucapnya kembali lagi mengering rambut sang istri.


"Aku hanya lagi memikirkan jika aku adalah artis terkenal dan kau adalah make over ku. Kira-kira siapa yang akan jatuh cinta, ya?" Ayara ikut menatap mata suaminya melalui kaca.


Soalnya mendengarkan perkataan Aya. Ayah satu anak itu langsung menatap kearah kaca. Tepatnya menatap muka istrinya dan diapun menjawab.


"Maka aku tidak akan pernah membiarkan kau dekat dengan siapapun. Termasuk degan para Staf sekalipun."


"Apa! Iih kau licik sekali! Kan aku yang menjadi artisnya, jadi kau tidak bisa melewati batasan mu." ujar Ayara tidak setuju dengan jawaban suaminya.


"Meskipun kau yang akan menjadi ratunya, aku tidak perduli. Itu semua karena Ayara... hanyalah milikku." jawab Alvian telah selesai mengeringkan rambut istrinya.


Cup!


Alvian kembali mengecup kening istrinya yang masih duduk didalam ruang ganti. "Ayo kita tidur. Apabila besok si kecil tidak demam lagi malam ini. Maka kita akan ikut liburan." ajaknya sudah mengangkat tubuh Ayara untuk pindah ke kamar tidur yang sudah ditempati oleh princess Vania.


Sehingga refleks Ayara pun mengalungkan kedua tangannya pada leher suaminya.


"Alvin," panggil Aya saat mereka sudah tidur di samping Vania. Malam ini Alvian yang berada di tengah-tengah ke-dua wanita yang dia cintai.


"Apa sayang? Apakah kau masih mau?" jawab Alvian yang sudah mulai terasa mengantuk.


"Eum... Bagaimana bila berita tentang kau dan Alice semakin tersebar. Yaitu bahwa kalian akan segera menikah?" pertanyaan Ayara langsung membuat rasa kantuk Alvian hilang dalam seketika.


Cup!


"Tunggu aku menelepon Alice sekarang juga. Maafkan aku, aku melupakan masalah ini." Alvian mengecup lagi pipi istrinya sebelum duduk dan turun dari atas ranjang buat mengambil ponselnya.


"Al, kau mau apa?" tanya Ayara ikut di duduk. Sehingga Alvian pun kembali duduk dipinggir tempat tidur. Agar bisa merangkul tubuh sang istri, supaya bisa ikut mendengarkan percakapan dia dan Alice.


"Mau menelepon Ais, aku tidak ingin masalah ini semakin menyebar tidak jelas." jawab Alvian yang tidak bisa ditentang lagi.


Sehingga Ayara pun hanya diam mendengarkan saja apa yang hendak dilakukan oleh suaminya. Atau apa yang akan Alvian katakan kepada Alice.


Ttttddd!


Tttddd!


Setelah dua kali bergetar. Panggilan telpon dari Alvian pun langsung diangkat oleh Alice dengan hati berbunga-bunga karena mengira Alvian menelepon bukan untuk membicarakan hal yang mungkin akan membuatnya tersinggung.


📱 Alice : "Halo, Al! Ada apa?" tanya gadis itu ramah seperti biasanya.


📱 Alvian : Ais, tadi sore apakah kau menghadiri acara di stasiun televisi? Apa yang kau katakan? Sehingga rumor tentang kita yang akan menikah bisa menjadi baner di berita terbaru hari ini?" Alvian langsung saja membahas masalah mereka pada inti pokok permasalahan.


Tida ada berbasa-basi lagi karena bila tidak seperti itu. Maka Ayara akan salah paham pada hubungan mereka berdua yang tidak lebih daripada temannya sendiri. Begitulah menurut pemikiran Alvian yang menganggap Alice sebagai teman sesama artis papan atas saja.


Berbeda dengan gadis itu sendiri yang mengira bahwa Alvian tidak memiliki kekasih selama ini karena menyukai dirinya.


📱 Alice : "Al, aku tidak berbicara apa-apa. Hanya saja aku mengatakan bahwa semuanya akan mereka ketahui sendiri bila sudah waktunya. Setelah itu aku tidak bicara apapun lagi." elak Alice dengan nada gugupnya karena takut bila Alvian sudah mengetahui tentang pengakuan nya tadi sore saat di wawancarai.


Sialnya Alvian memang sudah mengetahuinya malam ini. Bahwa Alice membeberkan jika mereka berdua memiliki hubungan khusus.


📱 Alice : "Al, aku tidak tahu apa maksudmu! Aku... hanya menyebutkan jika kita ada hubungan khusus. Tapi itu semua hubungan kita yang merupakan sudah berhubungan baik, meskipun bukan kenal dari pekerjaan saja. Namun, karena orang tua kita bersahabat." jelas wanita itu berusaha menyakinkan Alvian agar tidak salah paham.


📱 Alvian : "Baguslah! Aku harap kau tidak membuat hubungan kita menjadi renggang hanya karena dirimu yang salah memberi klarifikasi pada media." ujar Alvian degan menghela nafas dalam-dalam.


Cup!


Kali ini Ayara yang mengecup bibir suaminya, karena dia tahu bahwa Alvian sedang marah pada Alice.


Sehingga tindakannya tentu langsung membuat Alvian tersenyum dan balas mengecup bibir Ayara yang tersenyum kecil tanpa suara.


📱 Alice : Baiklah! Aku minta maaf, apabila klarifikasi ku tadi sore membuatmu tidak nyaman." jawab Alice sembari menahan rasa sesak dihatinya.


Kecewa! Iya, dia kecewa karena kesalahannya sendiri yang berharap pada sesuatu yang sudah jelas bahwa Alvian menyebutkan sangat mencintai kekasihnya dan rela mati demi gadis itu.


Namun, dia malah dengan terang-terangan menjawab di depan publik bahwa diantara mereka memiliki hubungan khusus.


📱 Alvian : "Huem, ya sudahlah! Aku maafkan, tapi tolong jangan mengklarifikasi tentang hal yang akan menimbulkan skandal untuk kita berdua." setelah berkata seperti itu Alvian langsung memutuskan sambungan telepon mereka.


"Sudah kau matikan begitu saja?" tanya Aya mendongak keatas, agar bisa menatap muka suaminya. Soalnya posisi Ayara masih berada dalam pelukan Alvian.


"Iya, memangnya apa lagi yang harus aku katakan? Apakah aku harus berkata jika saat ini aku lagi bersama dengan istriku di atas tempat tidur." jawab Alvian tersenyum.


"Agh, kau bicara apa! Ayo kita tidur, aku sangat mengantuk." ajak Ayara kembali baring seperti tadi dan diikuti oleh Alvian


Cup!


"Tidurlah! Jangan pernah berpikiran macam-macam tentangku dan wanita manapun." ucap Alvian mengecup kening istrinya dan mulai ikut memejamkan mata. Sambil memeluk putri dan istrinya kiri dan kanan, karena kedua wanita itu tidur berbantal pada lengan kokohnya.


Mungkin karena terlalu lelah dan mengantuk. Sehingga membuat Alvian sudah tertidur dalam waktu hitungan menit saja


*


*


Pagi harinya.


Alvian sudah bangun bersama si cantik Vania. Ayah dan anak itu sudah mandi dan bersiap-siap mau berangkat liburan bersama para member ALV yang lainya.


Sedangkan Ayara masih tidur dibawa selimut dengan sangat nyaman. Alvian sengaja membiarkan agar saat Ayara bangun hanya tinggal mandi, sarapan dan bersiap-siap untuk berangkat liburan.


Ceklek!


Suara pintu yang dibuka oleh Alvian pelan.


"Maaf, Tuan! Saya hanya ingin mengantarkan sarapan." ucap asisten rumah tangga yang berjumlah dua orang.


Mereka berdua membawa sarapan pagi dan juga susu beserta jus kesukaan Alvian dan Ayara. Kebetulan sekali ternyata mereka berdua memiliki kesukaan yang sama-sama menyukai jus Alpukat.


Setiap pagi Alvian memang sudah terbiasa seperti itu. Soalnya para pelayan yang ada dirumahnya, adalah pelayan dari rumah utama. Jadi sudah tahu apa yang disukai oleh tuan mudanya.


"Oh, iya! Terima kasih, Bibi. Tolong taruh di atas meja. Nanti setelah istri Saya bangun, kami akan memakannya." jawab Alvian membuka pintu kamar agar kedua pelayan itu masuk.


"Papa, mama belum banun," ucap Vania yang terlihat sangat cantik karena sudah mandi bersama papanya.


"Iya, sayang. Sekarang Via sudah boleh membangunkan mama mu, karena kita akan berangkat satu jam lagi." kata Alvian yang menutup kembali pintu kamar setelah para pelayan keluar dari sana.


"Via banun mama, ya," setelah berkata seperti itu Vania langsung berlari kearah ranjang. Lalu degan bersusah payah diapun berhasil naik ke tempat tidur dan mulai membangunkan mamanya.


"Sayang hati-hati..." seru Alvian berlari kearah ranjang takut sang putri terjatuh. Sedangkan yang dikhawatirkan malah tertawa bahagia yang membuat Ayara membuka matanya pelan.


"Ayo ucapkan selamat pagi pada mama," ucap Alvian sudah duduk di sisi ranjang.


"Pagi istriku," sapanya pada sang istri yang membuat Ayara tersenyum.


"Pagi istliku duga," sekarang Via yang mengucapakan kata selamat pagi untuk mamanya.


Namun, si kecil malah mengikuti perkataan sang ayah. Sehingga Ayara langsung duduk dan menggelitik sang putri yang sangat menggemaskan.


"Haa...haaa... Mama, Via tudah mandi," ucap si cantik disela tawanya.


"Oh, benarkah suami kecilku sudah mandi." sekarang Ayara balas menggoda putrinya yang membuat Vania semakin tertawa.


"Sayang, cepatlah mandi. Setelah sarapan kita akan berangkat liburan."


"Apa! Secepat ini? Tapi aku harus menelepon Lula. Aku lu---"


"Aku sudah meneleponnya dan Bara yang akan menjemput Lula. Kita berangkat tiga mobil. Ini tinggal menunggu dirimu mandi dan setelah itu kita sarapan terlebih dahulu, sebelum berangkat." sela Alvian kerena dia tadi sudah bagun dari jam setengah enam.


"Aku harus menyiapkan pakaian buat kita juga---"


"Itu badu tudah tiap. Mama tepat mandi," sekarang si cantik Vania yang memotong ucapan sang mama. Seraya menunjukkan dua buah koper baju yang berukuran sedang.


"Wah! Apakah ini yang menyiapkan semuanya adalah suami kecilku atau..." Ayara sengaja mengatung ucapannya.


"Via tama papa, butan Via cendilian." jawab si cantik cepat, karena yang menyiapkan pakaian adalah dia dan papanya.


"Pa... benarkah kalian berdua yang menyiapkan semuanya?" Ayara menatap kearah suaminya yang sejak tadi hanya tersenyum mendengar candaan anak dan istrinya.


"Iya, kita akan berangkat tidak sampai satu jam lagi. Jadi cepatlah mandi," jawab Alvian yang sekarang sudah memangku putrinya.


"Oke, aku mandi sekarang." seru Ayara tersenyum dan sebelum masuk ke kamar mandi. Wanita muda itu juga mencium suami dan anaknya secara bergantian.


"Cup! Ini ciuman selamat pagi buat suamiku.


"Cup! Kalau ini ciuman selamat pagi untuk Princess ku." ucapnya langsung cepat-cepat masuk kedalam kamar mandi.


"Papa, Mama..." tunjuk Vania pada mamanya yang sudah masuk kedalam kamar mandi


"Iya, biarkan mama mandi dulu, nanti kita sarapan bersama." jawab Alvian yang pagi-pagi sudah terus tersenyum karena istri dan buah hatinya.


Tidak sampai lima belas menit. Ayara sudah selesai membersihkan tubuhnya. Lalu dia langsung berjalan kearah ruang ganti untuk mencari pakaian yang akan dia kenakan.


Sedangkan Alvian mengasuh Vania dan berbalas pesan dengan para sahabatnya yang sudah bersiap-siap. Mereka memang sangat bersemangat bisa liburan.


Soalnya saat seperti itulah mereka bisa hidup bebas seperti orang biasa pada umumnya. Tidak harus memakai masker untuk menyembunyikan identitas sebagai member ALV.


"Mama dah tantik," ucap Vania begitu melihat mamanya.



"Wah, benarkah? Kalau begitu papamu pasti matanya tidak akan bisa berpaling." jawab Ayara menatap kearah Alvian yang juga merata ke arahnya.


"Mana mungkin aku bisa berpaling dari istriku, yang ada justru tambah mencintainya." jawab Alvian sambil menyimpan kembali ponselnya.


"Aku sudah memiliki kebahagiaan yang sangat sempurna. Jadi aku tidak akan pernah menyia-nyiakan apa yang sudah aku miliki." ucap si ayah satu anak itu tersenyum pada istrinya.



"Aya, jika kau seperti ini, bisa-bisa masih dibilang gadis oleh pemuda diluar sana. Pasti tidak akan ada yang percaya bahwa dirimu sudah memiliki seorang putri." ucap Alvian setelah melihat penampilan Ayara.


"Tentu saja, aku kan memang sangat cantik." jawab Ayara tersenyum. "Apa kau tahu saat aku mendaptar Via. Para gurunya mengira bahwa aku adalah kakaknya. Keterlaluan sekali." seru Ayara sembari memperbaiki ikatan rambut putrinya.


"Mungkin karena kau masih muda, jadi mereka mengira kau kakaknya." imbuh Alvian tidak memungkiri hal tersebut.


"Sudah selesai," Ayara memberikan ciuman pada pipi sang putri begitu selesai memperbaiki ikatan rambut Vania yang kurang rapi, karena Alvian yang mengikatnya.


"Sayang, ayo kita sarapan dulu," ajak Alvian mengulurkan tangannya untuk membantu Ayara berdiri dari duduknya.


"Baiklah! Ayo kita sarapan dan berangkat liburan." seru Ayara yang juga sangat ingin bisa menghabiskan waktu bersama suaminya yang kebetulan masih ada waktu libur walaupun hanya beberapa hari saja.


Setelah liburan dua hari. Maka Alvian akan kembali sibuk pada pekerjaannya sebagai penyanyi. Jadi selagi ada waktu, maka mereka akan memanfaatkan waktu tersebut.


...BERSAMBUNG... ...