
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
"Ma, Pa. Tolong maafkan Aya, karena sudah---"
"Apa yang kau bicarakan, Nak. Kau tidak bersalah sama sekali," sela Nyonya Lili langsung memeluk Ayara dengan penuh kasih sayang seorang ibu pada putrinya.
Beliau sangat mengerti seperti apa yang sedang dirasakan menantunya. Jangankan Aya yang mengalami hal tersebut sejak dia kecil. Beliau saja ikut merasakan sakitnya.
Ralat! Bukan hanya Nyonya Lili saja, tapi seluruh keluarga Rafael. Mereka ikut merasakan sakit yang Aya rasakan. Kalau Alvian tolong jangan tanyakan. Tentu saja apa yang dia rasakan sama seperti yang istrinya rasakan.
"Sekarang apabila mereka berani melakukan sesuatu. Maka Papa berjanji padamu, Nak. Akan membuat mereka membayar mahal semuanya. Papa bisa menghancurkan perusahaan Wilson dalam waktu satu jam. Percayalah! Kau tidak sendirian," ucap Tuan Abidzar yang sekarang bergantian memeluk Ayara.
"Papa, te--terima kasih! Semuanya tidak akan seperti ini bila Papa tidak merestui hubungan kami. Aya kira hari itu Papa datang untuk mengancam agar Aya menjauhi Alvin," ungkap Ayara yang membuat Tuan Abidzar tertawa mendengarnya.
"Haa... ha... tentu saja Papa tidak akan melakukan itu, Nak. Papa sangat bahagia sekali saat mendengar laporan dari orang suruhan Papa yang mengatakan bahwa Alvin telah memiliki seorang putri. Makanya Papa rela jauh-jauh ke kota B untuk mastikan sendiri," tawa Tuan Abidzar setelah melepaskan pelukan mereka.
"Sekarang pernikahan kalian telah diumumkan. Kau dan Alvin bebas mau pergi kemanapun. Jadi nikmatilah masa muda mu yang telah tersita karena harus membesarkan Via seorang diri," lanjut beliau lagi.
"Iya, Nak. Mama lupa mau mengatakan itu juga. Kau pergilah ikut bersama Alvin karena Via Mama yang akan mengurusnya," sambung Nyonya Lili tersenyum yang sudah tahu bahwa putranya akan kembali beraktivitas seperti biasanya karena kejujuran Ayara yang memilik sifat rendah hati telah membantu menyelamatkan karier suaminya.
"Tapi Via sekolah, Ma. Bagaimana bila---"
"Untuk sementara Via akan libur. Setidaknya selama satu bulan. Jika pun dia masuk sekolah lagi. Papa akan mendaftarkan Via di sekolah yang ada di pusat ibukota. Tempatnya dekat dengan perusahaan Evander. Agar setelah pulang sekolah Papa yang akan menjemput nya." jelas Nyonya Lili yang membuat Alvian langsung mengenggam tangan Ayara dan berkata.
"Sayang, aku sangat yakin bahwa Papa ingin Via menjadi seorang pengusaha. Jadi biarkan saja," ucap Alvian membuat kedua orang tuanya tersenyum.
"Sudah cukup kau yang menjadi artis. Cucu Papa akan menjadi Presdir di Evander bersama Om Deri nya," Tuan Abidzar yang menjawab karena dia memang akan menjadikan sang cucu sebagai pengusaha seperti beliau.
"Ya-ya, terserah Papa saja. Tapi kami berdua akan menitipkan Via karena besok sore kami akan pergi ke kota XX," Alvian yang ingin berduaan dengan sang istri tentu degan senang hati meninggalkan buah hatinya pada sang mama.
"Tapi---"
Cup!
"Tidak ada tapi-tapian. Kau akan ikut bersamaku," sela si tampan sudah mengecup bibir Ayara dihadapan kedua orang tuanya.
"Alvin!" tegur Aya karena malu pada kedua mertuanya yang malah tersenyum dan mengelengkan kepala mereka.
"Kau ini," ujar Tuan Abidzar yang tidak tahu kenapa bisa memiliki putra seperti Alvian. Pemuda itu pendiam hanya pada orang lain. Namun, jika bersama gadis yang di cintai selalu bersikap romantis.
"Agh! Papa seperti tidak pernah muda saja," jawab Alvian tersenyum. "Pa, Ma, kami mau melihat Via dulu. Terima kasih, Pa." ucapnya tulus pada sang ayah.
"Iya, pergilah! Mama juga mau mandi. Via ada dilantai atas juga," jawab Nyonya Lili sambil melihat jam pada pergelangan tangannya. Lalu karena hari memang sudah petang. Mereka semua meninggalkan ruang tamu.
"Kau dengar sendiri kan, jika mama menyuruh kita menikmati masa muda. Selagi kau belum hamil lagi," ucap Alvian sambil mengandeng tangan Ayara.
"Kata siapa aku akan---"
"Kataku, karena Via sudah dilabel oleh Tuan Abidzar dan Nyonya Lili istrinya. Jadi kita harus membuat anak lagi---"
"Hey... berani sekali kau menyebut namaku," teriak Tuan Abidzar yang kebetulan mendengar ucapan putranya dari bawah tangga. Sehingga membuat Alvian tertawa sambil menarik tangan Ayara untuk berlari menaiki tangga.
"Haaa... ha... Pa, terima kasih! Meskipun Alvin tahu jika Papa mau balas dendam pada Alvin gara-gara tidak mau menjadi pengusaha. Jadinya Via yang Papa Sandra," teriak pemuda itu tetap sambil berlari.
"Anak itu, siapa yang dia ikuti bisa---"
"Jangan tanyakan padaku. Papa pikir saja sendiri. Alvin itu mengikuti siapa," sela Nyonya Lili sambil kembali meneruskan melangkah kekamar mereka sendiri.
"Tapi aku tidak genit seperti Alvin, Sayang. Dia itu tidak tahu tempat mau bermesraan dengan istrinya. Pantas saja saat sekolah menengah atas sudah menghamili seorang gadis," keluh Tuan Abidzar sambil mengikuti istrinya dari belakang.
"Tapi karena itu akhirnya kita bisa memiliki putri dan cucu," imbuh wanita setengah baya itu tersenyum karena adanya Ayara dan Vania. Hubungan Alvian dan papanya menjadi kembali seperti dulu lagi.
Sementara itu. Dilantai atas pasangan suami-istri itu langsung mengarah ke kamar Deri. Untuk mencari si cantik Vania.
"Via mau jadi dokter tantik, Papa sama mama dah puyang," jawab Vania langsung berlari mendekati kedua orang tuanya. Sudah dari pagi mereka tidak bertemu.
Cup!
"Sayang, tadi tidak menangis, kan?" tanya Ayara yang bergantian memeluk dan mencium sang putri bersama suaminya.
"Via ndak tangis, dah besal," jawab Vania yang sudah berada dalam gendongan papanya.
"Tu Kak, Via juga bilang kalau sudah besar. Jadi pergilah bersama member ALV. Agar Kakak tahu jika suami Kakak nakal atau tidak," timpal Deri yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Alvian.
"Iya, jika Via tidak mena---"
"Via ndak tangis. Mama pelgi aja," sela si cantik cepat. Karena dia telah beritahu omanya agar berkata seperti itu dan tidak boleh ikut bersama kedua orang tuanya bila mau memiliki adik bayi. Seperti itulah perkataan oma dan opanya.
"Benarkah? Apakah Via tidak akan menangis bila tidak ketemu Mama sampai beberapa hari?" tanya Aya memastikan.
"Iya, Via mau tama oma, tama Om Deli duga," jawab gadis itu tersenyum kearah sang om yang memberikan tanda bahwa dia sudah melakukan yang terbaik.
"Baiklah! Kalau begitu sekarang kita mandi dulu, ya. Nanti main lagi. Kalau Via tidak menangis, maka besok pagi Mama akan ikut papamu," ajak Ayara yang langsung dianguki oleh Vania karena dia juga sudah lelah bermain sejak tadi.
"Om, Via mandi dulu, ya. Terima kasih sudah mau membantu mama menjaga Via," Ayara memang sengaja memangil Deri dengan sebutan Om. Agar putrinya tidak salah panggil.
"Iya, Kakak tidak usah sungkan. Deri sangat senang bisa menjaga Via. Jadi Kakak pergi saja ikut... suami Kakak," jawab Deri tersenyum menyeringai menatap pada Alvian.
Ayara yang melihat hal itu hanya tersenyum sambil mengambil Alih mengendong putrinya untuk dibawa ke kamar mereka.
"Deri, apa maksudmu berbicara seperti itu pada kakak ipar?" tanya Alvian sambil menjewer telinga adiknya.
Soalnya sejak dua hari ini Deri selalu menggoda kakaknya. Supaya dimarahi oleh Ayara.
"Aaaaagh! Kakak aku hanya bercanda. Lagian Kakak ipar bukan orang yang cemburuan," jawab Deri sambil mengelus telinganya yang dijewer.
"Iya tidak cemburu sekarang. Tapi jika kau terus-terusan berkata seperti itu dia akan marah juga,"
"Aku berbicara seperti itu agar kakak ipar mau pergi bersama Kakak. Jadi berterima kasih kepada ku," bela Deri tidak mau disalahkan.
"Kakak iparmu pasti akan ikut, walupun kau tidak menyuruhnya pergi. Kakak sudah punya cara untuk menyakinkan nya agar mau ikut bersama member ALV," Alvian tersenyum pada adiknya dan setelah itu dia langsung pergi menyusul Ayara dan putrinya.
Ceklek!
Suara pintu kamar yang dibuka oleh Alvian dan langsung ia tutup lagi.
"Sayang, mama kemana?" tanya Alvian karena hanya melihat Vania duduk sendirian di sofa yang ada dikamar mereka.
"Mama di kamal mandi. Via mau mandi tama papa," jawab Via memanyunkan bibirnya karena kesal papanya malah mengobrol bersama sang om.
"Aduh, jadi princess mau mandi sama papa rupanya," ucap Alvian tersenyum karena melihat muka imut putrinya.
"Iya, Via mau mandi tama Papa,"
"Oke-oke! Via mandinya sama Papa. Tapi nanti. Tunggu mama selesai, ya." bujuknya yang dianguki oleh Vania.
Cup, cup, Muaach!
"Selama Papa dan Mama pergi. Via tinggal sama oma dulu. Nanti saat Papa tidak ada pekerjaan. Baru kita pergi liburan menaiki pesawat," ucapnya membujuk agar sangat putri tidak menangis bila mereka tinggal pergi.
"Iya, Via tama Oma," jawab Vania tersenyum mengiyakan.
"Aku sangat bahagia bisa membawa Aya bersamaku. Sudah sejak dulu aku memiliki cita-cita bisa membawanya dan akhirnya terkabulkan juga."
Gumam Alvian didalam hatinya. Dia berniat akan membawa Aya jalan-jalan sambil bekerja dan itu adalah janjinya sebelum menjadi artis terkenal.
... BERSAMBUNG... ...