
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
Pukul setengah delapan malam.
Di meja makan keluarga Anderson Gretchen atau rumah orang tua Bara lagi berkumpul menikmati makan malam bersama. Tidak ada anggota keluarga lain, selain mereka berempat.
Selama makan mereka mengobrol tentang Bara yang akan kembali konser dan juga kerumah ibu mertuanya di kota sebelah. Sedangkan Lula lebih banyak diam karena takut salah bicara.
Mereka semua memakluminya karena sudah pasti Lula merasa cangung belum terbiasa. Begitu selesai sang member ALV pun mengikuti ayahnya keruang keluarga. Lula dan Nyonya Marry membereskan meja makan.
Namun, begitu selesai mencuci piring. Nyonya Merry menyuruh para pelayan pergi dan mengajak Lula duduk kembali ke kursi meja makan.
"Lula... kau pasti tahu kan kenapa Saya mengajakmu duduk?" tanya wanita setengah baya dengan mengunakan bahasa formal.
"Ya, mungkin mau membicarakan tentang hubungan kami." jawab Lula dengan helaan nafas panjang. Ternyata tebakannya benar, gadis itu memang merasa curiga bahwa ibu mertuanya tidak merestui pernikahan dia dan Bara.
"Ternyata kau sudah menyadarinya. Baiklah, karena kau sudah tahu Saya akan langsung berbicara saja tidak berbasa-basi lagi." Nyonya Marry tersenyum tipis.
"Lula, kau tahu kan jarak perbedaan kau dan Aldebaran seperti apa? Jadi Saya mohon dengan sangat, jangan pernah kalian melakukan hubungan suami-isteri. Sehingga membuat kau hamil dan melahirkan keturunan Anderson."
Deg!
Jantung Lula langsung berdegup kencang. Seakan-akan tidak percaya bahwa ibu mertuanya berbicara seperti itu.
"Tapi kami sudah sah secara hukum agama maupun negara." jawab Lula menentang permintaan Nyonya Marry.
"Ya, kau memang benar. Tapi Saya tidak pernah merestui hubungan kalian berdua. Apalagi jika sampai memiliki anak, baru membicarakan saja Saya sudah merasa jijik."
Tes!
Tes!
"Jika begitu kenapa Mama tidak mengatakannya pada Bara? Kenapa harus berpura-pura menerima pernikahan kami?" Lula akhirnya meneteskan air matanya. Belum apa-apa ternyata Nyonya Marry sudah mengungkapkan ketidak sukanya.
"Mana mungkin Saya bisa menolak saat yang berbicara adalah Abidzar. Jadi kau sendiri yang harus menjaga jarak dari anak Saya." jawab beliau tidak memiliki rasa kasihan pada Lula. Padahal beliau hanya memiliki satu orang anak laki-laki.
"Tapi itu tidak mungkin, Ma. Bara sendiri yang mengatakan ingin kami segera memiliki anak. Lalu bagaimana aku bisa melakukannya."
"Itu urusanmu, Lula. Anak Saya hanya terobsesi ingin merasakan berumahtangga seperti Alvian. Lagian dia juga tidak mencintaimu karena Aldebaran hanya mencintai Ria. Mereka berdua adalah pasangan yang serasi. Sedangkan kau... hanya lulusan sekolah menengah atas, kan?" lagi-lagi Nyonya Marry menjawab dengan penuh hinaan.
"Jika kau bersedia meninggalkan Bara, maka Saya akan memberikan harta lebih banyak daripada yang kau dapat dari Abidzar." lanjutnya lagi.
"Kau hanyalah sebutir debu bagi seorang member ALV. Kau tahu sendiri kan begitu banyaknya putri-putri kolongmerat yang bersedia menjadi istri kelima member ALV. Jadi mana mungkin kau yang hanya penjual bunga bersanding dengan Bara."
"Tapi kami saling mencintai dan Bara mau menerimaku apa adanya. Dia sendiri yang mengajak aku menikah." walaupun terisak tapi Lula tetap menjawabnya. Wanita itu adalah gadis yang tangguh. Namun, karena perkataan Nyonya Marry begitu menyakitkan membuat Lula menangis.
"Haaa... ha... itu karena dia lagi galau setelah hubungannya dan Ria kandas. Pokoknya Saya tidak mau tahu, kau harus meminum obat ini agar tidak hamil." tawa sumbang Nyonya Marry seraya menyerahkan dua keping obat pencegah kehamilan.
"Tapi---"
"Jika kau sampai hamil, maka jangan salahkan bila Saya melakukan sesuatu pada kau, keluargamu atau bahkan bayi yang merupakan darah keturunan Anderson Gretchen." sela Nyonya Marry tersenyum puas.
Sebab beliau tahu jika Lula akan menuruti permintaannya. Tanpa dia ketahui bahwa hari ini putranya sudah berulangkali menyirami rahim Lula dan berharap sang istri segera hamil.
"Ayo kita ke depan. Jangan sampai Aldebaran mengetahui semua ini karena Saya akan menghancurkan hidupmu." ancamnya yang sudah pergi meninggalkan Lula.
High!
High!
"Ya Tuhan... kenapa bisa seperti ini? Bagaimana mungkin ada seorang ibu yang tega melakukan hal kejam pada rumah tangga putranya." Lula semakin terisak sedih.
Meskipun dengan tangan bergetar wanita itu pun mengambil obat pencegah kehamilan yang ditaruh di atas meja lalu dimasukkan ke dalam saku celananya.
Setelah merasa lebih baik. Lula pun pergi ke wastafel dan membasuh mukanya. Dia tidak mau Bara mengetahui apa yang ibu mertuanya katakan.
"Lula, kau menangis?" tebak Bara karena walaupun Lula sudah membasuh muka tetap saja sembab dimatanya masih terlihat.
"Aku---"
"Mama benar kan, sayang?" ucap beliau lagi.
"Ya, Mama benar, Bar. Aku baru saja menerima telepon dari ibu. Dia menanyakan bagaimana kabarku." dusta Lula yang tidak ada jawaban lain, selain berbohong.
"Oh, maafkan aku. Besok kita akan berangkat ke kota B. Tapi masih seperti semula kita hanya bisa kesana selama dua hari. Soalnya aku ada latihan untuk album solo ke delapan." Bara pun percaya begitu saja karena sejak awal datang ibunya selalu berbicara manis.
Sedikitpun riak tidak sukanya pada sang menantu tidak terlihat. Beliau malah memanggil Lula degan sebutan sayang.
"Huem, iya tidak apa-apa." Lula tersenyum kecil dibalik rasa sakit yang dirasakan. Namun, dia harus tetap tegar demi pernikahannya.
"Albar, bawalah Lula ke kamar, mungkin dia lelah mau istirahat juga." titah Tuan Anderson Gretchen yang tidak percaya pada perkataan istrinya.
"Iya, Pa. Kalau begitu kami kekamar untuk istirahat." Bara pun berpamitan pada kedua orang tuanya. Jadi tinggal Nyonya Marry dan Tuan Anderson saja yang masih duduk bersantai.
"Apa yang mama katakan padanya sehingga membuat menantu kita menangis?" tanya Tuan Anderson pada istrinya.
"Apalagi selain memperingati agar dia tidak mengandung keturunan Anderson."
"Ma, apakah Mama sudah tidak memiliki hati sehingga berkata seperti itu? Mau bagaimanapun Lula sudah menjadi menantu kita dan sudah seharusnya dia hamil, bila Albar menyentuhnya."
"Tapi Mama tidak mau memiliki menantu dan cucu dari orang miskin itu, Pa. Ingatlah jika sampai orang-orang tahu kita memiliki menantu sepertinya. Semua tidak akan baik-baik saja." jawab Nyonya Marry menggebu-gebu.
"Belum lagi bila keluarga besar ku tahu. Apa yang harus kita katakan."
"Pernikahan itu Albar yang menjalani bersama istrinya. Kenapa kita harus malu, karena Lula bukan hanya cantik tapi juga gadis baik-baik."
"Haaa... ha... gadis baik-baik tidak akan mau menikah bersama laki-laki yang jelas derajatnya berbeda. Sudah pasti Lula hanya mau menikmati harta anak kita."
"Ma, sudah cukup! Jangan sampai Bara mengetahui hal ini. Dia akan kecewa pada Mama. Dan... Papa peringatkan jangan pernah ikut campur rumah tangga anak kita. Albar sudah besar, dia berhak memilih jalan hidupnya sendiri." bentak Tuan Anderson karena beliau tidak suka dengan perlakuan istrinya.
"Kita lihat saja seberapa lama Lula kuat bertahan." jawab Nyonya Marry langsung meninggalkan suaminya. Sebetulnya ini bukanlah pertengkaran mereka yang pertama kali. Tapi untuk kesekian kalinya setelah tahu Bara mau menikahi Lula.
Sementara itu didalam kamar Bara baru saja selesai menerima telepon dari Alvian. Lula hanya diam sambil berpikir apa yang harus dia lakukan untuk kedepannya.
"Bar, ada apa?" tanya Lula setelah Bara duduk bersamanya.
"Tuan Noah Norin dan Alice akhirnya masuk penjara. Bukan hanya mereka tapi juga saudara tiri Aya. Arianti tertangkap karena ketahuan mencuri di Mall plaza."
"Apa? Syukurlah! Aku bahagia sekali mendegarnya." seru wanita itu yang sangat khawatir pada keluarga sahabatanya.
"Ya, aku juga bahagia. Akhirnya kita bisa menjalani kehidupan ini dengan tenang. Tidak harus seperti buronan. Tapi... jujur aku sangat bahagia karena kejadian ini yang membuatku terkurung di Apartemen mu."
"Kenapa malah bahagia? Aneh sekali."
"Karena kejadian itu, akhirnya membuat kita bisa menikah. Selama ini kita hanya berusahabat. Namum, dalam waktu singkat bisa memutuskan untuk menikah." jawaban Bara membuat Lula terdiam.
"Ya, aku dan Bara bisa menikah karena kejadian itu. Apakah... aku hanya menjadi pelariannya karena putus dengan Ria? Apakah perkataan ibu mertuaku benar?"
Cup!
Bara mengecup bibir ranum istrinya. "Kau kenapa malah terdiam? Apakah ada hal yang kau sembunyikan?"
"Aku... Aku hanya tidak menyangka kita bisa menikah. Kau benar karena kejadian itu aku bisa memiliki idola ku." elak wanita itu yang tidak mungkin berkata jujur.
"Apakah kau sangat mencintai Aldebaran?"
"Hei, apa yang kau katakan. Tentu saja aku sangat mencintainya. Kau tahu karena mengidolakan Bara, membuatku tidak pernah menerima cinta dari yang lain." Lula yang ceria bisa tersenyum kala mengigat betapa dia mengidolakan suaminya.
"Ya, aku percaya karena kata Aya kau selalu mengajak Via menontonku saat konser atau lagi bersama member ALV." Bara juga ikut tersenyum dan merangkul tubuh Lula untuk dipeluk dari arah samping.
"Itu benar! Jujur saat tahu bahwa Aya pernah memiliki hubungan bersama Alvian, aku merasa iri karena ingin bisa berada di posisinya. Namun, ternyata Tuhan mengabulkan permohonan ku agar bisa memilikimu. Ya... walaupun tidak tahu untuk selamanya atau tidak," ungkap Lula yang kali ini tersenyum getir.
Menahan air matanya agar tidak menangis. Rasanya dia tidak sanggup bila hal itu terjadi. Lula benar-benar mencintai Bara sejak member ALV debut sampai saat ini. Jadi sudah pasti rasanya begitu sakit. Setelah menikah malah ada tembok pembatas antara hubungan mereka berdua.
"Tapi sekarang kita sudah saling memiliki, Lula. Aku memilihmu karena aku tahu kau adalah gadis yang sangat baik dan... wanita yang pantas menjadi ibu dari anak-anakku." dengan satu gerakan. Bara sudah menarik Lula kedalam pelukannya.
Dia kecup keningnya berulangkali. Bara sangat nyaman bersama Lula. Namun, dia tidak pernah mengatakan bahwa mencintainya.
Lula pun juga tidak mau serakah. Cukup Bara setia bersamanya, dia sudah bahagia.
... BERSAMBUNG......