
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
Di kediaman mewah keluarga Rafael.
Semua penghuninya sudah bagun pagi-pagi sekali, karena hari ini adalah hari bersejarah untuk putra sulung Tuan Abidzar, yang merupakan anak sulung juga dari Almarhum Tuan Rafael Evander.
Meskipun pernikahan tersebut hanya akan dihadiri oleh keluarga inti dan juga keempat sahabat Alvian saja. Namun, pestanya sangatlah mewah.
Sebetulnya ini hanyalah pesta pernikahan saja, karena tadi malam. Alvian dan Ayara sudah saling mengucapkan janji suci pernikahan pada tempat ibadah yang berada di kawasan rumah megah milik keluarga Rafael.
Akan tetapi Alvian dan Ayara belum dipertemukan sejak mereka resmi menjadi pasangan sesungguhnya. Sedangkan Vania tidur bersama sang nenek.
Kehadiran Vania dan Ayara, bagaikan mendapatkan keberkahan besar bagi keluarga Rafael. Mereka semua menyambut hangat gadis yang sudah dibuang oleh keluarganya itu.
Sekarang Ayara tidak sendirian lagi. Selain ada suami yang masih mencintainya sejak dulu. Juga ada keluarga besar Rafael yang lainya.
"Kak, kau terlihat tampan sekali," ucap Deri memuji kakaknya.
"Ck, kau ini," decak Alvian tersenyum karena adiknya itu hanya menggoda saja. Mereka memiliki wajah yang nyaris sama. Lalu mana mungkin dia lebih tampan.
"Haa... ha... Kakak tidak percaya padaku, aku ini lagi serius. Nanti setelah kakak ipar keluar, dia pasti akan kembali jatuh cinta," tawa pemuda itu terus menggoda kakaknya.
"Dia sudah lama jatuh cinta pada kakakmu ini. Hanya saja, mungkin cinta itu belum kembali sepenuhnya karena dia masih kecewa." Alvian menghembuskan nafas panjang.
"Jangan bersedih, kakak ipar pasti bisa melupakan kisah masa lalu kalian. Asalkan Kakak tidak menyakitinya lagi." Deri menepuk bahu sang kakak. Agar kembali bersemangat untuk memperjuangkan cintanya.
"Huem! Kau benar, setelah ini tinggal Kakak membahagiakan mereka. Rencananya Kakak akan menempati rumah yang dibeli oleh papa. Bukan tinggal di Apartemen, soalnya di sana begitu banyak paparazi mencari berita setiap harinya." papar Alvian pada sang adik.
Hubungan mereka memang sangat dekat. Tidak pernah bertengkar dan yang ada saling menyayangi satu sama lainnya.
"Uang kakak banyak, kenapa tidak bermodal sama sekali. Malah mau menempati rumah pemberian papa," cibir Deri merasa heran, karena selama ini kakaknya itu malah menolak pemberian orang tua mereka karena sudah memiliki penghasilan sendiri.
"Mau sampai kapan kalian mengobrol seperti ini. Ayo cepat keluar, acara akan segera di mulai." kedatangan Nyonya Lili membuat adik dan kakak itu berhenti bicara.
"Wah, Mama sangat cantik." puji keduanya melihat ibu mereka sudah memakai pakaian yang sama dengan keluarga besar Rafael yang lainya.
"Agh... Mama bahagia sekali, dipuji oleh kedua pemuda tampan. Tapi sayangnya cinta Mama sudah ada yang memiliki. Yait---"
"Yaitu Papa, jadi jangan pernah macam-macam degan istriku." sela Tuan Abidzar yang tumben sekali masuk kedalam kamar puteranya.
Mungkin terakhir kalinya beliau masuk ke sana adalah saat Alvian belum mengungkapkan bahwa cita-citanya ingin menjadi penyanyi.
"Ya, ya, ya! Kami kalah jika saingannya Papa," jawab keduanya tersenyum.
"Pa, tumben sekali ke kamar Alvin, ada apa?" Nyonya Lili yang bertanya.
"Papa hanya mau mengatakan pada Avin, jika Papa akan menemani Aya, jadi yang menemaninya nanti, biar Deri saja. Kasihan Aya, dia tidak memiliki keluarga."
"Bukan tidak ada, tapi keluarganya memang sudah jahat padanya sejak dulu," imbuh Alvian dengan helaan napas berat. Pemuda itu sudah tahu sejak dulu jika Ayara selalu diperlakukan buruk oleh keluarganya sendiri.
Maka dari itu dia selalu berusaha membuat Aya merasa bahagia bersamanya. Namun, entah memang takdir yang lagi mempermainkan mereka atau karena keegoisan Alvian yang ingin mengejar cita-citanya.
Sehingga tega menyakiti hati gadis yang sangat dia cintai. Akan tetapi setelah meninggalkan Aya. Dia ikut menderita hatinya.
"Biarlah! Untuk perbuatannya, Papa memiliki cara. Agar membuat perusahaan Wilson goyang. Walaupun hanya sedikit saja, setidaknya Papa bisa memberikan mereka pelajaran." jawab Tuan Abidzar karena dia sangat geram pada keluarga besar Wilson.
"Apa maksud Papa mau balas dendam pada Edward?" tanya Nyonya Lili menyentuh pundak suaminya.
"Tidak juga, Papa hanya ingin membuatnya menyesal sudah menyakiti putri dari sahabatku," jawab Tuan Abidzar yang membuat istri dan kedua anaknya menatap pada beliau semua.
"Sahabat? Apakah Papa mengenal orang tua Aya?" sekarang Alvian dan mamanya yang bertanya serempak.
"Huem!" dehem beliau seraya memasukkan satu tangan pada saku celananya sendiri. "Papa juga baru mengetahuinya tadi malam. Saat membaca nama lengkap ibunya. Ternyata Aya putri dari Jasmeen sahabatku saat masih sekolah menengah atas." jawab beliau menghela nafas dalam-dalam.
...BERSAMBUNG......