I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Washington DC.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


Sudah hampir dua jam Alvian dan kedua sahabatnya berada dalam pesawat. Namun, pemuda itu tidak tidur seperti para sahabatnya melainkan hanya menatap layar ponsel untuk melihat foto istri beserta anaknya.


"Aya, bersabarlah! Setelah papa selesai mengurus nama belakang kau dan Via. Aku akan mengumumkan pernikahan kita di depan publik." gumamnya yang duduk bersebelahan dengan Bara.


Akan tetapi pemuda tersebut baru saja bangun sekitar lima menit lalu. Namun dia tidak bicara apa-apa karena lagi larut dengan masalahnya sendiri.


"Bara, kau kenapa? Apakah lagi ada masalah?" Alvian yang tidak tahan akhirnya bertanya juga. Sehingga membuat Bara menoleh kepadanya.


"Al, sebenarnya ada yang mau aku ceritakan padamu. Tapi... tolong jangan beritahu anak-anak terlebih dahulu. Soalnya aku tidak ingin masalahnya menjadi besar." jawab Bara dengan helan nafas berat.


Jadi tanpa dia bercerita pun tentu Alvian sudah tahu bahwa Bara memiliki masalah juga.


"Huem, baiklah! tapi sekarang ayo ceritakan kepadaku. Sebetulnya kau sedang memiliki masalah apa? Kenapa terlihat tidak semangat sekali." tanya Alvian yang berjanji tidak akan menceritakan kepada siapapun tentang masalah Bara.


"Kedua orang tuaku mereka terus mendesak agar aku segera membawa calon menantunya ke rumah. Bila tidak bisa membawa seorang gadis yang bisa aku nikahi kapanpun itu. Dalam waktu kurun kurang lebih tiga bulan. Maka aku akan dijodohkan dengan anak dari teman mama."


Tidak berbeda jauh dari Alvian, ternyata kehidupan Bara yang merupakan member ALV juga tak seindah seperti yang diketahui oleh para fans mereka.


Meskipun merupakan aset negara, tetap saja mereka adalah manusia biasa yang juga memiliki lika-liku kehidupan. Sama seperti manusia pada umumnya. Perbedaannya hanyalah mereka disanjung kemanapun kaki melangkah. Memiliki uang yang lebih dari kata kaya raya dan juga ketampanan luar biasa.


Sudahlah keturunan dari orang-orang kaya. Para member ALV pun tengah dinobatkan sebagai artis papan atas yang mendapatkan bayaran lima kali lipat lebih mahal dari artis biasa.


"Apa! Kau tidak berbohong, kan? Kenapa om dan tante bisa berpikiran ingin menjodohkan mu?" seru Alvian menatap lekat pada sahabatnya.


Pikirannya mana tahu saja Bara sedang berbohong, walaupun sangatlah tidak mungkin, karena dari suara Bara saja sudah tahu bahwa pemuda tersebut lagi serius.


"Iya, aku serius dan tidak lagi bercanda. Penyebabnya tentu saja dirimu karena aku memberitahu kedua orang tuaku. Bahwa kau sudah memiliki seorang putri yang sekarang umurnya sudah hampir tiga tahun." seru jujur Bara.


"Lalu seperti apa tanggapan kedua orang tuamu mengetahui hal tersebut? Apakah mereka memakiku karena sudah menghamili anak gadis orang sebelum aku nikahi?"


"Awalnya mereka marah dan berjanji akan menghukum mu. Apabila kau datang ke rumah. Akan tetapi setelah melihat wajah cantik Aya dan wajah lucu Via. Mama tiba-tiba saja langsung marah padaku karena tidak menghamili anak gadis orang juga. Sehingga bisa memiliki anak sepertimu." saat bercerita mamanya yang marah karena tidak menghamili seorang wanita. Bara pun ikut tersenyum merasa keinginan mamanya itu benar-benar konyol.


"Haa... ha... Tante ada-ada saja. Lagian mana mungkin juga anaknya bisa perkasa seperti aku." Alvian tertawa. Sehingga membuat ke tiga member ALV yang lain pun ikut terbangun.


"Hei... kalian berdua sedang membahas apa? Kenapa tertawa? Dan sepertinya asik sekali." tanya Hanan setelah selesai menguap panjang.


"Agh, bukan apa-apa. Aku tertawa karena kita akhirnya sudah sampai juga. Soalnya aku sudah tidak sabar untuk menelepon Aya dan Via." elak Alvian karena kebetulan sekali pesawat yang membawa mereka sudah mendarat dengan sempurna. Tanpa ada halangan suatu apapun.


"Huem, nanti ketika kita tiba di hotel. Kau bisa menelpon mereka sepuas hatimu, karena jadwal kita hanya nanti malam saja. Itupun cuma sebentar. Paling lama kurang lebih satu jam. Begitu kudengar saat Kak mauza berbicara dengan rekan nya tadi." imbuh Naufal yang juga baru bangun.


"Iya, nanti setelah kita sampai, maka aku akan menelepon istri dan anakku." Alvian tersenyum kecil dan karena mereka sudah mau turun dari pesawat. Dia dan Bara pun tidak melanjutkan lagi masalah yang sedang dibahas tadi.


Setelah para Staf dan Bodyguard mengamankan lokasinya di bawah sana. Para member itu pun turun satu persatu begitupun artis lainnya.


Ternyata ratusan para penggemar ALV dan wartawan dari berbagai kalangan televisi, sudah menunggu di dalam bandara. Sehingga menghambat jalan mereka untuk tiba ke mobil yang sudah menunggu di luar.


Dari para pemerintah setempat, sudah menyiapkan puluhan orang Bodyguard terpilih untuk menyambut kedatangan staf Muzaki beserta artisnya.


"Aaaa... coba lihatlah, itu kelima malaikat tampan kita." jerit histeris para wanita yang mencintai Alvian beserta sahabatnya.


"Wah kau benar, aku ingin sekali bisa menyapa mereka dan minta tanda tangan. sayangnya untuk bertemu fans seperti biasa tidak ada lagi. Sebab hanya dijatah untuk seratus lima puluh bertemu para member ALV." sahut gadis yang sudah ikut menunggu bersama para wartawan di bandara. Hanya untuk bisa bertemu para idola dengan jarak dekat


Para wartawan mulai melakukan live streaming dan juga memotret silih berganti tanpa henti. Sehingga para Artis-artis tersebut menyapa walaupun hanya melalui lambaian tangan.


Hal serupa juga dilakukan oleh Alvian yang berjalan di belakang bersama Kak Mauza dan bodyguard nya. Sedangkan yang lain ada di depan, yang berjarak beberapa meter darinya.


Artis yang berjalan lebih dulu keluar dari bandara adalah Alice dan yang lainya. Tujuan Staf Muzaki mengatur seperti itu. Tentu saja demi mengalihkan perhatian para wartawan dan fans ALV. Agar tidak menjadi kendala mereka sampai ke mobil.



"Alvian kembali melambaikan tangannya, ketika melewati para fans ALV yang memegang poster dirinya. Namun, hanya sekedar lambaian tangan saja dan hal tersebut disaksikan oleh istrinya yang sedang menonton siaran televisi dalam kamar mereka. Hanya untuk mencari tahu tentang berita sang suami.


Selama artis member ALV menjadi terkenal. Baru hari inilah pertama kalinya Aya menonton Alvian dari televisi.


"Alvin sangat tampan dan masih memakai baju yang saat pergi dari rumah tadi. Aku kira setelah Alvin tiba di agensinya, akan berganti pakaian dan dia memakai baju seperti itu hanya untuk menyenangkan hatiku, melepas kepergiannya. Agar aku tidak cemburu bila melihat dia tampil sempurna."


Ucap Ayara tersenyum sendiri karena Vania lagi bermain bersama pengasuhnya di kamar sebelah.


Sebetulnya apabila mertuanya ada di rumah, Aya bersama Vania putrinya. Akan pergi ke rumah utama dan menginap di sana. Supaya orang tua Alvian bisa menghabiskan waktu lebih banyak lagi bersama Vania.


Namun, karena mereka tidak ada dan akan kembali nanti malam. Jadinya Aya berniat besok pagi-pagi sekali baru berangkat ke rumah utama. Sekalian pergi ke sekolahan tempat Vania akan belajar untuk mendaftarkan sang putri.


"Tapi... gadis yang bernama Alice sangat cantik dan modis. Kalah jauh apabila dibandingkan dengan diriku. Jika sampai para fans ALV mengetahui bahwa Alvian telah menikah dan istrinya adalah aku. Entah akan seperti apa jadinya." Aya yang tidak memiliki kegiatan. Akhirnya terus saja menonton di dalam kamar mewah mereka


Sampai ponsel miliknya berdering dan ternyata setelah dilihat yang menelponnya adalah Lula sang sahabat dari ibu kota B.


📱 Lula : "Halo selamat siang nyonya mudah Alvin? Apakah aku sudah mengganggu dirimu?" sapa Lula begitu Ayara mengangkat sambungan telepon darinya.


📱 Ayara : "Agh, Lula, apa yang kau katakan. Kau membuatku malu saja." keluh Ayara yang tetap tidak memiliki sifat sombong. Meskipun sudah menjadi istri dari seorang member ALV yang terkenal dan menjadi menantu kesayangan dari keluarga Rafael.


Namun, Ayara tetaplah Aya yang memiliki sifat ramah, baik dan tidak sombong dan serakah pada harta. Hal itulah yang membuat Tuan Abidzar dan Nyonya Lili semakin menyayangi menantunya itu.


📱 Lula : "Aya, Vania kemana? tumben sekali dia tidak ada bersamamu?" tanya Lula yang sudah bersiap-siap mau berangkat ke ibu kota S. Bersama anak buah Tuan Abidzar, karena dia akan diberikan pekerjaan di perusahaan Evander.


Sebagai bentuk rasa terima kasih beliau, karena selama ini Lula sudah baik kepada Ayara dan Vania. Sebetulnya jika Lula mau, Tuan Abidzar dan Alvian mau memberikan sebuah tempat tinggal dan restoran mewah untuk gadis itu. Namun, Lula menolaknya karena merasa tidak pantas untuk menerimanya.


Akhirnya Tuan Abidzar yang sudah mencari tahu tentang kehidupan Lula. Akhirnya mencari cara untuk bisa menolong kehidupan gadis itu bersama keluarganya.


Sehingga cara satu-satunya iyalah menawar gadis itu pekerjaan. Lalu sebelum berangkatnya Lula ke kota S. Tuan Abidzar telah membuat surat kontrak kerja dan langsung memberikan sebuah rumah mewah untuk orang tua Lula.


Dengan Alasan itu adalah kebijakan dari perusahaan yang memberikan bonus rumah pada setiap karyawannya.


Padahal Lula hanyalah lulusan sekolah menengah atas dan belum tahu dia di ibukota S, akan bekerja sebagai apa. Namun, satu hal yang diyakini oleh gadis itu ialah. Bahwa Tuan Abidzar tidak mungkin berniat buruk pada dirinya.


📱 Ayara : "Dia ada di kamarnya sendiri dan lagi bermain bersama pengasuhnya yang baru saja datang dua hari lalu. Oh, ya, Lula! Eum... Aku sangat merindukanmu, Tante dan Kak Regina." ungkap si ibu muda karena dia memang belum mengetahui, bahwa sang sahabat akan menyusulnya ke kota S dan akan tinggal di sana.


📱 Lula : "kalau begitu, masaklah yang enak untukku, karena nanti malam aku akan makan malam dan tidur di rumahmu." sahut Lula tersenyum dia pun juga sangat merindukan Ayara dan si cantik Vania.


📱 Ayara : "Maksudmu, apakah kau mau makan malam di kami? Agh, kau jangan membuatku menangis hanya karena merindukanmu."


📱 Lula : "Haa... ha..." Lula tertawa sambil berjalan keluar dari rumah barunya yang diberikan oleh Tuan Abidzar dan akan ditempati oleh keluarganya.


📱 Lula : "Ayara sayang... coba kau lihat siapa ini dia adalah orang suruhan mertuamu. Paman ini akan membawaku ke kota S, menyusul kalian, karena mulai besok pagi aku akan bekerja di perusahaan keluarga suamimu." jelas gadis itu yang memang sudah manggil Ayara bukan Ara lagi.


📱 Ayara : "Lula, kau tidak berbohong, kan? Benarkah kau akan menyusulku ke sini?" seru Ayara yang langsung menyeka air mata bahagianya. Karena bukan hanya Lula yang sudah menganggap dia seperti saudara.


Namun juga Ayara, ibu muda itu sangat menyayangi Lula dan beberapa hari ini selalu menjadi beban pikirannya. Yaitu tentang kehidupan mereka yang sudah sangat jauh berbeda.


Ayara ingin menolong sang sahabat. Tapi apalah daya karena dia sendiri pun tidak memiliki apa-apa melainkan hanya menumpang di kehidupan mewah Alvian dan keluarga Rafael lainnya.


📱 Lula : "Tentu saja tidak! Lagian kapan aku berbohong kepadamu. Nanti setelah tiba di sana, akan aku ceritakan semuanya. Tapi sekarang sudah dulu, ya, karena kami sudah mau berangkat. Doakan agar aku selamat sampai ke tempat tujuan dan jangan lupa memasakkan makanan yang enak untuk menyebut kedatanganku." ucap Lula langsung memutuskan sambungan telepon mereka disertai tawa. Soalnya Lula tahu pasti Ayara masih mau berbicara dengannya.


📱 Ayara : "Halo, halo... Lula kau tidak boleh mematikan teleponnya sebelum menjawab pertanyaa---"


Tuuuut!


Sambungan sudah terputus saat Ayara masih mau bicara.


"Aaa... Lula! Awas kau nanti, ya," Ayara tersenyum lebar karena dia benar-benar tidak menyangka bahwa Lula akan menyusulnya ke ibu kota S.


*


*


Sementara itu, di Amerika serikat. Tepatnya di Washington DC. new York.


Alvian dan rombongan baru saja tiba di hotel tempat mereka menginap selama beberapa hari ke depan. Yaitu adalah hotel Rosewood Washington, D.C.


Tempat tersebut sudah diberi keamanan yang sangat ketat sehingga hanya orang-orang tertentu lah yang bisa datang ke sana, karena untuk sementara waktu ditutup untuk tempat umum seperti biasanya.


Alvian yang lelah setelah melakukan perjalanan jauh memilih untuk masuk ke dalam kamar hotelnya, yang akan ditempati bersama dengan Bara. Sedangkan Hanan, Sandy dan Naufal. Mereka akan tinggal satu kamar yang berada bersebelahan dengan kamar mereka.


"Agh! Rasanya aku sangat lelah," seru Bara langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size. Sedangkan Alvian memilih duduk di atas sofa. Pemuda itu melepas sepatu dan menukarnya dengan sendal hotel. Lalu berlanjut melepaskan masker penutup wajah yang dia pakai.


"Jika kau lelah, maka lebih baik sepatu dan jaket yang kau pakai agar tidak berat di tubuhmu." jawab Alvian yang orangnya memang super bersih.


Apabila sudah melakukan perjalanan jauh seperti hari ini. Dia mana mau langsung istirahat di atas tempat tidur. Bila belum mandi dan berganti pakaian yang baru.


Berbeda dengan temannya yang lain, akan memilih langsung tidur dan beristirahat. Apa lagi ketika sudah lelah, mereka tidak perlu memaksakan diri untuk harus mandi terlebih dahulu seperti Alvian.


"Bar!" panggil Alvian melihat sahabatnya yang tidak tidur. Melainkan hanya menatap ponselnya.


"Huem, apa?" Bara menjawab, tapi tidak mengalihkan arahan pandangan matanya dari ponsel. Soalnya dia lagi berusaha untuk menghubungi Ria sang kekasih, yang saat ini juga berada di Amerika untuk meneruskan pendidikannya.


Namun, sudah hampir lima kali Bara menghubungi. Tetap tidak diangkat juga oleh Ria.


"Aaagk!" Bara berteriak dan melempar ponsel keatas tengah-tengah ranjang.


"Apakah Ria tidak mengangkat panggilan telepon darimu lagi?" tebak Alvian yang langsung dijawab oleh Bara.


"Iya, seperti biasanya."


"Sudahlah, Bar! Menurutku daripada kau pusing menjalin hubungan yang tidak jelas seperti itu. Mending kau temui Ria dan tanyakan padanya hendak dibawa ke mana hubungan kalian? Sesibuk apapun kuliahnya, tidak mungkin kan saat malam hari pun tak bisa memberi kabar padamu Walaupun hanya sebuah pesan." ucap Alvian yang terkadang ikut jengkel karena Ria sangat keterlaluan pada sahabatnya.


"Coba kau bandingkan dengan para mantan kekasihmu dulu. Apakah seperti kau dan Ria? Tidak, Bara, ayolah! Jangan menjadi pusing karena orang yang tidak pernah menghargai cintamu." imbuh ayah satu anak itu ingin menyadarkan Bara. Bahwa Ria bukanlah gadis yang baik.


"Iya, kau memang benar! Padahal aku meneleponnya untuk memberitahu bahwa bila dia terus seperti ini. Maka ke-dua orang tuanku akan mencarikan gadis lain untuk menjadi pendamping hidupku." Bara menjawab membenarkan.


"Nah, kalau begitu karena kita sedang berada di sini. Kau temui dia sebelum kita pulang dan jelaskan padanya. Jika dia benar-benar mencintaimu juga, seperti kau mencintainya. Maka pasti Ria akan memberikan jawaban yang masuk diakal, apabila belum bisa di ajak menikah pada tahun ini." ujar Alvian karena tidak mau sahabatnya terus galau hanya karena memiliki hubungan tidak jelas degan kekasihnya.


"Apakah kau mau menemaniku ke Apartemennya? Tapi tunggu acara kita selesai. Biasanya kan ada waktu sehari buat kita jalan-jalan."


"Brengsek! Apa yang kau bicarakan. Tentu saja aku akan menemanimu. Anggap saja sebagai balasan karena kau sudah menemaniku untuk menemukan Aya dan anakku." Alvian memukul kepala Bara mengunakan bantal sofa, karena Aldebaran, atau biasa di sapa Albar oleh fansnya itu. Sudah pindah duduk di atas sofa.


"Ck, jika soal itu aku ikhlas melakukannya karena Via adalah keponakan ku dan sedangkan Aya, juga sahabat baikku." decak Bara yang tidak membalas melempar kepala Alvian juga.


... BERSAMBUNG... ...


.


.


.


...Pemberitahuan. Untuk kisah Alvian dan Ayara akan ada selingan tentang pelabuhan hati Aldebaran, ya. Agar ceritanya tidak monoton. Akan tetapi hubungan Keluarga kecil Alvian tetap akan ada badai ujiannya juga, karena tidak mungkin dalam hubungan rumah tangga. Hanya berjalan lurus saja....