I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Dugaan Para Sahabat.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


Ceklek!


Suara pintu kamar hotel yang dibuka oleh Alvian. Dia pulang menaiki Taksi, makanya cepat sampai. Langkah pemuda itu terlihat sangat lesu. Dia seakan-akan tidak memiliki tenaga lagi untuk berjalan.


"Al, kau sudah kembali? Apa yang terjadi?" tanya Naufal mendekati Alvian yang langsung merebahkan tubuhnya pada sofa.


"Huh! Aku baik-baik saja. Cuma... Aya sudah menikah dan telah memiliki seorang putri." keluh Alvian Seraya memijat pelipisnya yang terasa pusing.


"Baguslah! Dia berhak bahagia, Al. Jadi jangan mengaggu dirinya lagi. Jujur setiap mengingat nama Aya, diriku selalu merasa bersalah padanya," ungkap Naufal jujur karena selama ini memang dia tidak pernah menceritakan hal tersebut pada keempat temannya.


"Huem, kau benar. Tapi putrinya begitu mirip dengan wajahku. Aku sudah bert---"


"Bagaimana bisa? Kenapa bisa mirip denganmu?" seru Bara yang baru datang dari balkon bersama ke-tiga sahabatanya yang lain. Lalu mereka duduk berdekatan. Untuk mendengarkan cerita tentang Ayara.


"Iya, kalian pasti tidak akan percaya. Tapi ini nyata, ada gadis kecil yang versi diriku." Alvian merogoh saku Hoodie nya untuk memperlihatkan foto Vania yang lagi menemani ibunya membayar belanjaan di kasir supermarket.


Meskipun dari jarak beberapa meter, tetap saja wajah Vania terlihat sangat jelas bahwa dirinya mirip dengan muka Alvian.


"Ini, coba kalian lihat. Apakah pandangan mataku saja yang salah?" tanya pemuda itu memberikan ponselnya pada Hanan. Lalu mereka berempat melihatnya secara bergantian.


"Astaga! Al, ini putrimu, wajah kalian sangat mirip," seru Hanan memberikan ponsel tersebut kepada Naufal.


"Iya, ini sulit dipercaya," kata Naufal menatap lekat layar ponsel tersebut. "Al, apakah Ayara hamil saat kalian putus?" pertanyaan dari sahabatnya membuat tubuh Alvian menegang seketika.


Soalnya dia tidak tahu gadis itu hamil atau tidaknya. Namun, sebelum hubungan mereka berakhir. Sudah tiga bulan kurang lebih Alvian selalu membawa Ayara ke apartemennya untuk menyalurkan hasratnya terhadap gadis yang dia cintai.


"Aku tidak yakin ini anak mantan suaminya. Mungkinkah Aya berbohong pada Alvian tentang gadis kecil ini?" tanya Sandy pada teman-temannya.


"Al, kau kenapa lagi? Kenapa tidak menjawab pertanyaan kami?" Hanan menimpuk kepalanya mengunakan bantal sofa.


"Aku... tidak tahu," seru Alvian menarik rambutnya kasar. "Aku tidak menanyakan dia hamil atau tidak," lanjutnya lagi. Pikirannya langsung kacau tidak karuan hanya dalam waktu seketika.


"Tapi saat aku tanya tadi, katanya karena terlalu membenci diriku. Makanya wajah Vania begitu mirip denganku," papar Alvian yang sedang introgasi oleh keempat sahabatnya.


"Hei... apa kau bodoh! Wajah kalian bagai pinang dibelah dua, Al. Jika pun ucapannya benar, wajah kalian tidak mungkin sampai semirip ini," sentak Hanan menjadi kesal pada jawaban sahabatnya.


Soalnya sejak awal dia sudah memperingati Alvian agar tidak melakukan hal lebih daripada ciuman terhadap Ayara. Bukan, bukan hanya pada Alvian saja. Tapi ketiga sahabatnya yang lain.


Namun, begitu dia berkunjung ke Apartemen Alvian. Dikagetkan dengan adanya Aya di sana. Leher gadis itu seperti habis terkena hisapan drakula. Belum lagi Alvian terlihat gugup.


Akan tetapi karena melihat keseriusan Alvian terhadap Aya. membuat Hanan diam dan tidak mempersalahkan lal tersebut. Sampai pada suatu, Alvian pun berkata jujur kepada keempat sahabatnya. b'ahwa dia dan Aya sudah melakukan hubungan suami istri.


Saat itu Hanan sampai tidak menegur Alvian selama tiga hari, karena rasa kecewanya. Dia takut hubungan di antara keduanya putus di tengah jalan. Makanya di saat penandatanganan kontrak mereka. Hanan berulang kali memperingati Alvian agar memikirkan ulang keputusan tersebut.


"Hanan, jangan seperti ini, kita bicarakan baik-baik. Al juga tidak mungkin meninggalkan Aya, apabila tahu Ayara sedang mengandung anak mereka," ucap Bara menarik tangan Hanan agar pindah tempat duduk disebelahnya.


"Al, coba kau ingat-ingat lagi, apakah kau membuang benih mu saat kalian melakukannya. Atau kau mengunakan pengaman?" sekarang yang bertanya adalah Naufal.


"Nah, betul yang dikatakan oleh Naufal. Jika kau pernah menabur bibit mu di lahannya. Maka ini wajib kau selidiki." Sandy bertepuk tangan membenarkan.


"Aku, aku memang tidak pernah memakai pengaman," jawab Alvian semakin menunduk sambil memijat pelipisnya.


"Tidak boleh tiga, cukup dua saja, ya. Mama tidak ada uang. Nanti setelah Mama bekerja dan dapat uang, baru kita beli lima," perkataan Aya tadi yang melarang Vania meminta tiga kaleng minuman kembali terngiang-ngiang bagaikan kaset yang diputar di memori otaknya.


Sakit tak berdarah langsung ia rasakan. Padahal itu semua masih dugaan mereka saja. Belum tentu benar jika putri Aya adalah anaknya juga.


"Jika begitu jawabanmu. Aku yakin seratus persen bahwa gadis kecil ini, memang anak kandungmu, Al," putus Naufal menyimpulkan langsung.


"Tunggu-tunggu! Tadi kau sebut namanya siapa, Al?" tanya Bara yang lupa.


"Vania, aku dengar Aya menyebut namanya Vania. Padahal tadi aku sempat mengajaknya berkenalan. Tapi Vania tidak mau. Sepertinya dia takut padaku. Vania bicaranya juga belum jelas, jadi aku tidak tahu dia bicara apa saja." tutur Alvian tersenyum kecil.


"Nama kau Alvian. Namanya Vania... astaga! dia pasti putrimu, Al. Percayalah!" seru Bara, Sandy dan Naufal. Sedangkan Hanan hanya diam saja.


Pemuda itu lagi berusaha meredamkan emosinya. Agar tidak sampai memukul Alvian.


"Entahlah! Aku juga tidak tahu," jawab Alvian karena pikirannya saat ini benar-benar kacau. Rasa bersalahnya terhadap Ayara belum hilang. Sekarang mendapatkan kenyataan baru, yang berkemungkinan bahwa Vania adalah putrinya.


"Dimana dia tinggal? Apakah kau tahu?" tanya Hanan dengan wajah seriusnya.


"Tidak, tadi aku hanya melihat dia menaiki bus dari halte dekat tempat kami bertemu."


"Alvian, kenapa kau membiarkan dia pergi? Lalu kemana kau akan mencari mereka," seru Bara mengelengkan kepalanya.


"Dia pasti tinggal di kota ini. Namun, di mananya itu yang belum tahu. Aku tidak akan kembali bersama kalian. Sebelum memastikan kebenaran ini," putus Alvian yang memang sudah memikirkan saat melihat kepergian Ayara dan putrinya tadi.


"Baiklah! Kau memang harus melakukannya. Aku akan menemanimu di sini. Lagian jika dilihat dari foto ini, pakaian Aya tidak seperti dulu. Apakah keluarganya bangkrut?" tanya Bara menunjukkan foto Aya dan Vania.


Soalnya tadi mereka semua hanya fokus pada wajah Vania saja. Tidak melihat penampilan mereka seperti apa.


"Tidak! Keluarga Wilson tidak bangkrut. Aku melihat berita sekitar beberapa bulan lalu, jika perusahaan mereka memenangkan penghargaan sebagai perusahaan terbaik tahun ini," jawab Sandy cepat.


"Tunggu!" seru Alvian berlari masuk ke kamarnya. Tidak lama setelah itu dia keluar lagi dan menunjukkan sepatu kecil yang ia bawa kemana-mana.


"Ini, apa kalian ingat aku bercerita menemukan sepatu kecil ini di makan Tante Jasmeen. Berarti ini adalah sepatu milik Vania dan hari itu Aya juga datang ke makam ibunya," Alvian memperlihatkan sepatu kecil tersebut.


"Tapi... sebelum aku mendatangi makam beliau. Aku sudah datang ke rumah keluarga Wilson lebih dulu. Ketika aku menanyakan tentang Ayara. Penjaga keamanan di rumahnya mengatakan jika Aya sedang menimba ilmu di luar negeri," papar Alvian menghubungkan semuanya.


"Mungkinkah penjaga itu berbohong? Atau---"


"Alvian, cepat kau hubungi Denis, suruh dia mendatangi rumah Aya dan menemui penjaga keamanan di sana. Suruh Denis melakukan sesuatu agar dia mau berkata jujur." ucap Hanan yang menduga bahwa penjaga keamanan tersebut berbohong.


"Baikl---"


Tap!


Tap!


"Astaga! Kenapa kalian malah bersantai seperti ibu-ibu kompleks dan tidak ada yang mandi. Ini kita mau menyambut bapak walikota. Jadi harus bersiap-siap dari sekarang," kadatang Mauza membuat mereka semua berhenti membicarakan masalah Ayara.


"Agh, Kak mauza. Kau tidak bisa melihat kami bersantai sedikit saja," keluh Bara dan Sandy.


"Aku hanya menjalankan pekerjaan ku. Ayo cepat kalian mandi sana. Aku akan menunggu di sini," jawab Kak Mauza yang sudah biasa berdebat dengan para member ALV.


"Huh! Baiklah! Ayo kita mandi. Nanti baru kita bahas masalah ini lagi," ajak Hanan berjalan kearah kamarnya lebih dulu. Lalu diikuti oleh yang lainya termasuk Alvian.


"Vania... jika dia benar-benar putriku, pasti sudah melewati hidup yang sulit." gumam Alvian sambil menguyur tubuhnya dibawah shower.


"Berarti selama ini Aya sudah membesarkan anakku sendirian, atau dia sudah menikah dengan orang lain? Bagaimana jika Aya sudah menikah karena tidak mungkin kan dia hamil tanpa suami. Bila pun benar Vania putriku, maka dia tetap harus menikah. Jika tidak pasti akan dihujat oleh masyarakat." pemuda itu kembali bergumam.


Entah keputusan apa yang akan diambilnya. Apabila Vania memang anak kandungnya.


...BERSAMBUNG......