I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Hidup Masing-masing.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


Setelah tidak bisa bertanya baik-baik pada Alvian, karena tahu sahabatnya kecewa gara-gara dia menampar sang istri. Aldebaran pun kembali ke rumah dia dan Lula, bukan rumah orang tuanya lagi. Seperti beberapa waktu terakhir.


"Jika tidak ada di rumah Alvian, Lula kemana ya?"


Tanyanya di dalam hatinya. Sungguh hanya kediaman keluarga Rafael lah tujuan Bara. Begitu sudah tiba didalam kamarnya bersama sang istri. Bara menatap foto Lula dan dirinya.


Foto tersebut diambil ketika mereka baru selesai menikah. Jadi Lula masih memiliki muka chubby dan terlihat begitu bahagia. Tidak seperti sekarang yang bertubuh kurus dan jarang tersenyum.


Padahal Bara tahu sendiri bahwa sang istri adalah gadis yang ceria dan humoris pada orang-orang terdekatnya.


"Lula, kau pergi kemana?" ucapnya penuh sesal. "Maaf, mungkin aku salah sudah menampar mu." ucapnya yang malam ini merasakan juga sakitnya karena dipukul oleh Alvian.


Bara berdiri untuk mengambil kotak obat-obatan. Dia mengobati lukanya sendiri. Namun, dia malah teringat perkataan sang istri.


"Untuk apa kau menyiapkan kotak obat-obatan?"


Tanya Bara ketika melihat Lula membawa kotak obat-obatan tersebut.


"Buat berjaga-jaga saja. Mana tahu kan diantara kita ada yang terluka."


Jawab wanita itu tersenyum manis. Membuat Bara merasa nyeri kala membayakan wajah Lula yang memar setelah dia menamparnya hari itu. Bahkan Bara tahu tangan istrinya terluka kerena pecahan kaca.


"Lula, apakah tanganmu terluka parah?"


Bara bergumam saat dia menemukan cincin pernikahan mereka di dalam kotak obat tersebut. Benda mahal itu masih terdapat darah kering. Sehingga Bara bisa menebak sang istri melepaskannya karena mau mengobati luka pada wanita itu. Jika tidak mana mungkin Lula melepaskan cincin pernikahan mereka.


"Ya Tuhan... pasti tangan Lula terluka begitu parah? Seharusnya aku pulang tidak lari dari masalah."


Rasa menyesal semakin pemuda itu rasakan. Dia menatap penuh rasa bersalah. Di dalam pikiran Bara saat ini hanya ingin Lula kembali dan menyelesaikan permasalah diantara mereka berdua.


Hampir setengah jam lamanya Bara duduk diatas sofa setelah mengobati luka diwajahnya. Lalu pemuda tersebut pindah keatas ranjang tempat tidur. Masih tercium parfum yang biasa Lula pakai. Membuat Bara rasanya mau berteriak memanggil nama Lula.


"Hah! Ponselnya tadi online setengah jam yang lalu." Bara langsung menghubungi nomor istrinya. Namun, ternyata sudah tidak aktif lagi.


Ttuuuuut!


Ttuuuuut!


Berulangkali dia mencobanya tetap tidak bisa tersambung. Bara pun tidak kehabisan akal. Dia melacak GPS ponsel istrinya. Namun, tidak menemukan titik keberadaan Lula saat ini.


"Lula, kau ada dimana? Tolong balas pesanku."


Tanya Bara mengirimkan pesan singkat.


"Maaf, hari itu aku hanya emosi karena kau tega melakukan semuanya. Padahal kau tahu aku sangat berharap kita memiliki anak."


Pemuda itu kembali mengirimkan pesan. Walau Lula belum membalasnya.


"Katakan, sekarang kau ada di mana? Apakah kembali ke rumah orang tuamu? Katakan saja, aku akan menjemputmu sekarang juga. Soal itu... aku khilaf dan benar-benar minta maaf. Aku tidak bisa berpikir jernih sehingga mendorong mu sampai terluka."


Berbagai bunyi pesan yang dikirimkan oleh Bara. Pria itu tidak menyerah karena tidak tahu arah mau mencari Lula ke mana.


Apalagi dia tahu jika bukan ke kediaman keluarga Rafael. Maka Lula pergi ke rumah Tuan Edward. Yaitu papanya Ayara. Selainnya Lula tidak pernah pergi, bila tidak bersamanya.


"Lula... sayang, kembalilah! Aku minta maaf sudah memukul wajah mu. Aku minta maaf tidak pulang selama beberapa hari."


Bara akhirnya menyematkan kata sayang. Akan tetapi tentunya tidak akan membuat hati Lula luluh begitu saja.


Lelah menunggu sampai jam setengah tiga pagi, tapi nomor Lula tetap tidak aktif. Membuat pria itu tertidur sambil memeluk ponselnya. Akan tetapi tepat jam enam Bara terbangun karena suara ponselnya.


"Ria!" gumamnya langsung merijek panggilan tersebut. Dia tidak menerimanya dan membalas pesan dari sang mantan kekasih.


"Ya Tuhan! Aku seharusnya tidak mengabaikan Lula saat dia menyuruhku pulang. Padahal Lula sudah berkata jika dirinya sakit." rasa kantuk Bara hilang begitu saja. Dia kembali mengecek nomor ponsel istrinya dan mengirimkan pesan lagi.


"Lula, balas lah pesanku. Aku minta maaf. Tolong jangan seperti ini."


Baru saja pesan terkirim. Namun, langsung dibaca oleh Lula. Membuat Bara mau menelepon langsung. Namun, dia urungkan karena terlihat jika Lula sedang mengetik untuk membalas pesannya.


Tiing!


"Aku sudah pergi dari rumah mu. Kuncinya aku titipkan pada penjaga keamanan. Aku juga tidak membawa barang apapun. Kau cek saja CCTV bila tidak percaya padaku."


Balas Lula menahan rasa sesak dihatinya. Sakit! Tentu saja hatinya terluka. Sang suami yang dicintai tidak percaya pada ucapannya. Harapan ingin membina rumah tangga yang bahagia kini pupus lah sudah.


"Kau ada dimana? Biar aku jemput sekarang. Mari kita berbicara dengan kepala dingin. Aku minta maaf atas perlakukan ku hari itu."


Dengan gelisah Bara menunggu balasan pesan dari istrinya.


"Tidak usah, terima kasih! Aku lagi berusaha melupakannya."


Wanita itu kembali membalas pesan tersebut. Saat Bara masih mengetik pesan. Satu pesan dari Lula kembali masuk.


"Seujung kuku, seujung rambut aku tidak pernah menyangka kau akan melakukan ini padaku, Bar. Aku memang tidak bisa memberimu keturunan. Namun, bukan berarti kau tidak percaya padaku. Untuk apa aku kembali jika sudah tidak dibutuhkan lagi. Mari kita jalani hidup sendiri-sendiri."


Bunyi balasan pesan dari Lula yang mengabarkan kekecewaan hatinya. Wanita itu memang tidak menganti nomor ponsel karena tidak ada gunanya lari dari masalah. Walaupun sekarang dia menghindar, tapi bukan berarti Lula akan hilang seperti ditelan oleh bumi.


"Sejak awal kita menikah, ibumu tidak merestui hubungan kita. Namun, aku tidak mengeluh padamu dan tetap bertahan, karena apa? Karena aku percaya akan dirimu yang bisa melindungi ku. Namun, setelah kejadian ini, kepercayaan diriku sudah hilang. Cincin pernikahan ada di dalam kotak obat-obatan yang ada di kamar mu. Dulu kau yang memberinya dan sekarang aku kembalikan lagi. Hiduplah sesuai keinginan orang tua mu, Bar. Hubungan tanpa ada rasa cinta dan kepercayaan tidak akan pernah bahagia."


Ttttddd!


Tttddd!


Bara langsung menelepon Lula, akan tetapi tidak diangkat-angkat. Membuat pemuda itu prustasi dibuatnya.


"Lula... aku mohon, angkatlah!" ujarnya. "Aku harus melihat CCTV di rumah mama." Bara turun dari ranjang dan menyambar kunci mobilnya untuk pulang ke rumah orang tuanya. Namun, tangannya masih terus menekan nomor telepon istrinya.


"Jika Lula tidak melakukannya, apa mungkin mama..." pemuda itu hanya menjalankan kendaraan mewahnya semakin kencang. Bara membutuhkan bukti agar tahu siapa yang salah dan tidak.


"Bodoh! Seharusnya aku tidak boleh percaya begitu saja. Kenapa aku tidak ingat untuk mengecek CCTV di rumah." sesalnya yang baru sadar setelah membaca pesan sang istri.


Ttttddd!


"Ada apa lagi sih!" Bara kesal karena Ria kembali meneleponnya lagi.


πŸ“± Bara : "Ada apa, Ri?"


πŸ“± Ria : "Bara, tolong datanglah ke rumah ku. Papaku... papaku mengalami serangan jantung karena perusahaan kami mengalami bangkrut."


πŸ“±Bara :"A--apa? Kau jangan bercanda, Ria!" seru Bara sampai menginjak rem mobilnya mendadak.


πŸ“± Bara : "Aku tidak bercanda, entah apa yang terjadi sehingga perusahaan papanya Alvian yang memegang saham tertinggi saat ini." jawaban Ria membuat Bara terhenyak. Dia yakin bahwa ini adalah pembalasan atas perbuatannya pada Lula.


Sebab Tuan Abidzar pernah berpesan padanya, siapapun yang berani menyakiti Lula. Maka akan berurusan dengan beliau.


πŸ“± Ria : "Bar, kau kenapa diam? Aku mohon datanglah ke rumahku."


πŸ“± Bara : "Baiklah! Aku ke sana sekarang." jawab Bara menutup sambungan telepon dan memutar arah stir mobil menuju rumah Ria.


"Ini semua pasti ulahnya Om Abi. Ternyata dia langsung bertindak dalam waktu sesingkat ini."


Bara memijit pelipisnya sendiri. Merasa jika masalahnya dan Lula tidak segampang yang dipikirkan. Apalagi sekarang Tuan Abidzar sudah turun tangan.


"Setelah dari rumah Ria, baru aku pulang ke rumah mama dan mencari tahu semuanya. Aku tidak bisa diam saja, karena aku tidak ingin Lula pergi meninggalkan aku."


Bara bergumam dan bertekad ingin menyelesaikan masalah rumah tangganya. Namun, sayangnya dia masih mengesampingkan Lula daripada urusan keluarga Ria.


Sedangkan Tuan Abidzar yang tahu hal itu hanya tersenyum kecil. Beliau sudah menempatkan anak buahnya untuk mengikuti kemanapun Bara pergi. Setelah tahu jika permasalahan yang terjadi adalah campur tangan dari papanya Ria bersama Nyonya Marry. Membuat beliau langsung bertindak dan membuat saham mereka turun drastis.


... BERSAMBUNG... ...