I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Rencana Para Member ALV.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


... HAPPY READING... ...


.


.


Pagi-pagi sekali. Si tampan Alvian sudah membantu Ayara mengurus kedua anaknya. Padahal nanti malam si member ALV tersebut sudah ditunggu kehadirannya oleh ribuan penonton. Namun, saat dirumah Alvian tetaplah seorang suami dan ayah bagi putra-putrinya.


Sungguh berbeda saat dia berada di luar rumah. Semuanya harus dikawal dan dikerjakan oleh staf maupun asisten para member ALV.


Entah mengapa Ayara yang pernah merasakan hanya dibesarkan oleh pembantu. Tidak mau anak-anaknya diasuh oleh Babysitter. Walaupun ada, mereka hanya membantu ala kadarnya. Selebihnya Alvian dan Ayara menanganinya sendiri.


"Alvin, apakah hanya itu saja yang mau kau bawa?" tanya Aya melihat suaminya sudah menutup tas gendong belakang.


"Ya, pakaian dan keperluan yang lain sudah disiapkan oleh Kak Mauza. Jadi aku hanya membawa perlengkapan ku yang tidak mereka sediakan." jawab pemuda itu yang terlihat begitu tampan. Padahal hanya memakai pakaian biasa yang harganya jangan ditanyakan lagi. Sangat mahal karena para member ALV memiliki salah satu brand ternama yang biasa dipromosikan.


"Kau hati-hati ya, jangan pernah berniat untuk menduakan aku." pesan Ayara seperti biasanya.


"Tentu saja, sayang. Mana mungkin aku berani berbuat macam-macam, karena kau adalah ratu di hatiku." Alvian tergelak karena setiap dipuji pipi istrinya menjadi merona.


Cup!


"Kau pemenangnya, Aya. Jauh sebelum mereka mengenalku, namamu sudah bersemayam disini." lanjutnya yang memberikan kecupan bibir dan menuntun tangan Ayara untuk merasakan detak jantungnya.


"Huem!" Ayara hanya mampu tersenyum bahagia. "Terima kasih karena sudah menjadikan aku penghuni hatimu, Alvin. Tidak aku sangka pertemuan kita saat pulang sekolah bisa sampai ke titik ini."


"Karena aku sudah jatuh cinta pada saat itu juga." Alvian tergelak dan menarik Aya masuk kedalam pelukannya. "Jaga dirimu baik-baik dan titip kedua anakku sampai aku kembali." ucapnya sudah merengangkan pelukan mereka.


"Aku mau berangkat sekarang ya, karena sudah ditunggu oleh yang lainnya." pamit Alvian yang setiap mau pergi pasti acara perpisahan sampai puluhan menit. "Aku pasti susah tidur karena merindukan kau dan anak-anak." sambil memakai sepatunya Alvian masih berbicara tentang isi hatinya.


"Ya, kau hati-hati. Aku juga pasti sangat merindukan dirimu." Aya memberikan tas ransel pada suaminya. "Aku mencintaimu!" ungkap ibu muda tersebut yang sama beratnya untuk berpisah walaupun hanya dua hari.


"Tentu! Aku pun sangat mencintaimu." Alvian yang sudah siap mengecup lama kening dan berlanjut pada kedua pipi dan bibir ranum dan sang istri.


"Aku pergi tidak lama menghabiskan kita bersama kalian, sayang."


Gumam Alvian di dalam hatinya. Dari kamar mereka yang berada dilantai atas. Pemuda tersebut terus mengenggam lembut tangan Ayara sampai tiba di lantai bawah. Tepatnya ruang keluarga yang ternyata sudah ada Bara dan Lula juga.


"Lula, kau sudah datang. Syukurlah!" Aya tersenyum menyambut kedatangan sahabatnya.


"Iya, aku takut menangis bila tinggal dirumah sendirian." jawab Lula tersenyum. "Alvin, titip Bara ya," pesannya yang membuat Alvian tergelak mendengarnya.


"Tentu saja, jika dia berani macam-macam maka siapa yang akan menjaga ketiga keponakan ku."


"Sayang, kau tidak perlu khawatir karena aku tidak mungkin berani melakukannya. Kau adalah segalanya bagiku." timpal Bara dengan wajah khawatir bila istrinya memiliki beban pikiran. Pemuda itu tidak mau calon bayinya sampai kenapa-kenapa.


"Aku benar-benar bahagia akhirnya Lula dan Bara bisa memiliki anak. Semoga kau bahagia selalu sahabatku. Karena dirimu sudah aku anggap seperti ini mana saudara sendiri."


Ayara membatin saat melihat sendiri perhatian Bara untuk sahabatnya. Dia juga ingin Lula bahagia karena wanita itu sangat banyak menolong dia dan Vania.


Hubungan dua orang asing yang memiliki ikatan seperti mana saudaranya sendiri. Itulah yang membuat Ayara dan Lula saling terikat satu sama lainnya.


"Aya, tolong titip Lula ya," ucap Bara karena dia dan Alvian sudah mau berangkat. Mereka akan mengunakan mobil yang sama sampai ke bandara. Meskipun acaranya malam hari. Tapi mereka akan melakukan jumpa fans dan gladi resik terlebih dahulu.


Tentu saja, jangan khawatirkan tentang Lula dan calon keponakan ku." jawab Ara yang pinggang nya dirangkul mesra oleh Alvian.


"Vin, apakah kau tidak menemui Tante dan kedua anakmu?" Bara yang bertanya. Dia sudah tahu jika saat ini Nyonya Lili lagi menemani si cantik Vania dan Baby Arka di ruangan khusus bermain anak-anak.


"Tidak! Ayo kita langsung pergi saja. Aku sudah berpamitan pada mama dan Via. Jika melihatku sudah siap mau pergi, maka jagoan kecilku akan menagis." mendengar jawaban Alvian. Mereka berempat pun berjalan keluar dari rumah tersebut.


Ayara mengantar suaminya dan Lula mengantar kepergian Bara. Dua orang pemuda tampan yang telah memiliki istri dan anak.


"Iya, aku sekarang juga sangat bahagia, Aya. Apalagi hampir setiap ada kesempatan Bara mengatakan bahwa dia mencintaiku." Lula tersenyum memandang mobil Bara dan Alvian yang semakin menjauh dari tempat mereka berdiri saat ini.


"Kau tahu Aya, biasanya Bara hanya mengatakan bahwa dia menyanyangi ku. Tapi malam sebelum kami berbaik dan sebelum tahu aku sedang mengandung anaknya. Dia mengatakan sangat mencintaiku. Rasanya dunia ini milik kami berdua." wajah Lula berseri-seri saat menceritakan tentang Bara.


"Syukurlah! Aku mau kita sama-sama bahagia, Lula. Kau ingatkan seperti apa perjuangan kita saat menjadi penjual bunga di toko Bibi Amarta." sambil kembali masuk kedalam rumah. Dua wanita muda itu bernostalgia dengan masa lalunya.


"Haa... ha... rasanya kehidupan kita dulu bahagia juga, Aya. Kita harus berbagi makanan, apalagi bila Via sakit dan kau tidak bisa memasak." tawa Lula dan diikuti oleh Ayara.


"Tentu saja bahagia. Jujur ya... eum satu-satunya yang membuat aku tersiksa adalah ketika mendengar tentang Alvin. Dia selalu diberitakan bersama Alice. Artis papan atas yang sama terkenalnya dengan member ALV." Aya menjeda ucapnya sebentar.


"Bagaimana mungkin dia hidup bahagia sedangkan aku harus diusir dari rumah dalam keadaan hamil anaknya. Setelah Via lahir, anakku malah ikut-ikutan dirimu menonton papanya konser diberbagai tempat. Walaupun hanya lewat ponsel, tetap saja aku ingin marah. Hatiku terluka bila ada yang menyebut nama Alvin, karena dia adalah milikku." ungkap Ayara menyugikkan senyum kecilnya.


"Tapi sekarang dia memang menjadi milikmu, sayang dan sejak awal pun sudah seperti itu. Mama belum pernah diperkenalkan pada gadis manapun. Hanya Alice saja karena Noah Norin dulunya salah satu rekan kerja Papa Abi." sambung Nyonya Lili yang ikut berkumpul dengan Ayara dan Lula.


"Mama!"


"Tante!" ucap kedua wanita muda itu.


"Ma, Via sama Arka mana?" tanya Ayara karena ibu mertuanya hanya datang sendirian.


"Mereka sama Om Dery nya." wanita setengah baya yang masih tetap terlihat cantik itu ikut mengobrol dengan Aya dan Lula.


Ketiganya saling berbagi cerita bahagia maupun duka. Aya yang hanya memiliki kisah bersama Alvian lebih banyak diam. Dia malu bila harus menceritakan tentang percintaan dia dan Alvian.


"Lula, apakah Nyonya Marry ada mendatangi rumah kalian? Eum... maksud Tante seperti ini, apakah dia sudah tahu bahwa kau lagi mengandung?" Nyonya Lili bertanya ragu-ragu. Soalnya beliau baru tahu jika kedua orang tua Bara sudah berpisah.


"Tidak ada, Tan. Hanya saja dia sudah beberapa kali menelepon Bara untuk meminta maaf."


"Huh!" Aya menghela nafas panjang. "Jika dia tahu kau mengandung tiga anak sekaligus, entah apa yang akan terjadi, Lula. Aku harap kau berhati-hatilah karena hati seseorang kita tidak tahu. Aku harap Tante Marry benar-benar menyesali perbuatannya dan... menyanyangi anak-anak kalian. Walau bagaimanapun si kembar adalah cucu mereka." kata Aya mendo'akan yang terbaik untuk ibu mertua Lula.


"Ya, semoga saja, Nak. Mama juga berharap seperti itu." imbuh Nyonya Lili membenarkan.


Sementara itu di bandara internasional diibukota mereka. Rombong member ALV dan Staf Muzaki beserta kru yang lainnya baru saja tiba.


Ratusan wartawan dari berbagai saluran televisi sudah menunggu di sana. Semua orang belum ada yang bisa mewawancarai Alvian setelah kejadian penculikan Vania. Maka dari itu semuanya menantikan kedatangan pemuda tampan itu.


"Ian!"


"Ian! tolong waktunya sebentar!" teriak mereka saling bergantian. Namun, Alvian tidak bisa didekati karena bagitu banyak bodyguard yang membuat pagar dari tangan. Bentuk penjagaan pada artis mereka.


"Ian! Kami mohon waktunya sebentar saja." pinta seorang reporter administrator Tribunnews. Dia adalah yang paling profesional diantara yang lainnya. "Saya Mohon!" lanjutnya lagi. "Apakah betul Nona Muda Vania menjadi korban penculikan Marpora Emmanuel? Bagiamana keadaannya sekarang?"


"Keadaannya masih trauma pada orang yang belum pernah dia lihat. Untuk selebihnya Minggu depan Saya akan mengadakan jumpa pers di gedung Agensi AX Si." setelah menjawab seadanya Alvian pun masuk untuk melakukan check in sebelum menaiki pesawat khusus yang membawa mereka.


"Al, memangnya kau mau mengadakan jumpa persnya Minggu depan?" tanya Hanan begitu mereka duduk di kursi tunggu.


"Iya, kenapa?" Alvian balik bertanya.


"Kau ini baru juga punya anak dua, tapi sudah lupa. Minggu depan kan kita mau merayakannya atas kelahiran putra Hanan." sahut Sandy yang betah menjadi jomblo. Begitu pula dengan Naufal. Diantara kelima member ALV, hanya mereka berdua yang belum menikah.


"Astaga! Sorry, Nan. Aku benar-benar lupa." Alvian tergelak setelahnya. "Jika begitu aku akan menjawab semua pertanyaan mereka melalui live saja." ucap Alvian lagi.


"Itu jauh lebih baik. Setelah pulang melakukan konser ini, kita memiliki banyak waktu untuk menjelaskan pada fans ALV, bahwa sebagian dari kita sudah menikah." ujar Naufal.


Untuk saat ini itulah yang menjadi permasalahan mereka. Sebab semuanya tahu seperti apa para fans ALV mencintai kelima member tersebut. Walaupun diluar nurul karena kebanyakan ibu-ibu yang sudah menikah juga mengidolakan mereka seperti mana pada pujaan hatinya.


"Bagiamana jika kita membuat live secara serempak untuk memberitahu kebenaran ini? Jika langsung membuat jumpa pers, tidak baik untuk keamanan kita." usul Sandy dan disetujui pula oleh keempat sahabatnya.


Rencananya para member ALV akan membuat live serempak. Agar mempermudah keadaan yang pastinya akan menjadi kekecewaan terbesar bagi fans mereka.


... BERSAMBUNG... ...