
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
Dua hari berlalu.
"Pa, kami pulang dulu, ya," pamit Ayara pada Tuan Edward. "Saat Alvin libur, maka kami akan menginap di sini lagi," lanjutnya karena sudah enam hari mereka tidak bisa pergi kemana-mana.
Sekarang masalah sudah hampir selesai dan hanya Noah Norin, yaitu papinya Alice yang belum tertangkap.
Namun, saat ini sedang dalam pengejaran. Soalnya setelah di selidiki orang yang mau melenyapkan Alvian beberapa tahun lalu adalah Noah.
Gara-garanya untuk menyingkirkan perusahaan Evander group dan juga sekaligus menyingkirkan member ALV.
Supaya Alice bisa menjadi artis nomor satu dan perusahaan Noah juga bisa berada di puncak kejayaan. Namun, semuanya gagal karena Tuan Abidzar bukanlah orang bodoh yang tidak akan melindungi putranya.
"Iya, tidak apa-apa. Kau tidak usah pergi bila bukan bersama suami atau mertua mu. Papa takut Noah Norin nekad untuk menyakiti kalian," jawab Tuan Edward melepaskan pelukan mereka.
"Iya," Ayara mengangguk mengerti. "Kak Renata, kami pulang dulu, ya. Titip Papa," ucapnya lagi.
"Tanpa kau pinta, tentu aku akan menjaga orang tua kita," imbuh Renata tersenyum bahagia karena dia juga sangat menyayangi Ayara dan Tuan Edward seperti keluarganya sendiri.
"Huem," Aya pun semakin mengembangkan senyum. "Alvin, ayo kita pulang sekarang," ajaknya pada sang suami yang sejak tadi berdiri di sampingnya sambil mengendong Vania.
"Pa, Kak Renata, kami pulang dulu," kali ini Alvian yang berpamitan. Soalnya malam ini para member ALV yang lainya akan datang ke kediaman mereka.
"Iya, kalian hati-hati," jawab Tuan Edward dsn, Renata serempak. Lalu setelahnya mereka pun langsung pergi.
"Iya, kita akan pulang bersama Denis menggunakan mobil ini. Sedangkan mobilku biarkan di sini," jawab pemuda itu yang hanya mencari aman untuk keluarga kecilnya.
Walaupun begitu banyak Bodyguard yang mengawal mereka. Tetap saja Alvian masih merasa cemas. Karena dia bukan hanya sendiri. Tapi ada istri dan anak-anaknya juga.
"Aku rasa keputusan yang baik," Aya tersenyum sambil masuk kedalam mobil tersebut dan di susul juga oleh Alvian.
"Papa, Via mau bobo," rengek Vania yang kembali rewel seperti beberapa hari belakangan.
"Bobo saja, nanti jika kita sudah sampai. Papa akan langsung membayangkan mu," Alvian yang sangat sabar mulai mengelus kepala putrinya agar bisa tidur dengan nyaman.
"Alvin, jika Vania terus seperti ini bagaimana kau bisa melakukan tour ke kota lain?" tanya ibu muda itu yang bingung harus dengan cara apa menenangkan putrinya.
"Untuk bulan ini kami semua stop tidak ada konser maupun acara-acara yang lainnya. Sampai semuanya kembali aman. Namun, staf Muzaki dan pemerintah kita sudah mengatur agar rekaman kami yang lama di putar ulang pada tempat melakukan live khusus member ALV. Tujuannya agar para fans ALV tidak terlalu kecewa," papar pemuda itu yang sudah diberitahu oleh staf Muzaki, tiga hari lalu.
"Benarkah seperti itu? Baguslah, jujur aku takut saat kau pergi Vania malah rewel seperti ini," seru Ayara tersenyum lebar.
"Tentu saja benar, aku juga berpikiran seperti itu," Alvian juga ikut tersenyum degan tangan terus mengelus kepala sang putri yang mulai tertidur dalam pelukannya.
"Sayang, nanti member ALV akan datang ke rumah kita untuk membahas tentang pernikahan Bara dan Lula," ucap Alvian karena dia memang belum memberitahu istrinya.
"Baguslah jika mau membicarakannya di rumah kita. agar aku ikut mendengarnya juga. Tapi... apakah kau yakin jika Bara tidak mencintai Ria mantan kekasihnya itu?"
"Sepertinya tidak. Aku sangat yakin jika Bara tidak mungkin mempermainkan Lula. Kau tahu sendiri kan seperti apa sifat Bara. Kita sudah lama bersahabat dengannya," jawab pemuda itu yang lebih tahu seperti apa dekatnya Bara dan Lula, karena ketika pergi konser. Mereka berdua sering satu kamar.
"Iya, Bara memang baik dan tidak mungkin mempermainkan Lula. Namun, aku takutnya---"
"Tidak akan, kau jangan banyak pikiran, ya," sela Alvian karena dia tahu bahwa papanya tentu tidak akan membiarkan Bara menikahi Lula, kalau hanya untuk dipermainkan.
... BERSAMBUNG......