I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Dialah Yang Istimewa.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


"Waw! Ian, kau kembali membuat para pengemar mu semakin tergila-gila padamu." ucap Kak Mauza begitu melihat kedatangan Alvian yang sudah turun dari panggung.


Mereka ada waktu untuk istirahat kurang lebih satu jam, karena acara tersebut akan berakhir sekitar pukul setengah sepuluh malam.


Jika tidak menjadi sebagai penutup acaranya nanti. Maka para member sudah bisa pulang. Namun, karena permintaan dari penyelenggara seperti itu. Mau tidak mau mereka harus menunggu lagi.


"Apa yang Kakak katakan," jawab Alvian hanya tersenyum kecil karena dia tidak berpikiran seperti itu. "Huh! Lelah sekali," seru pemuda itu setelah diberikan air minum oleh salah seorang Staf.


"Istrirhat lah, waktu kita masih banyak," ucap Sandy langsung baring dengan kipas angin yang diarahkan pada mereka, karena di sana memang tidak ada AC.


Saat ini mereka berada di ruangan belakang panggung. Semuanya berkumpul di sana. Apabila member ALV istirahat, tentu para Staf dan kru dari Agensi mereka juga akan istirahat.


Soalnya acara malam ini bukan hanya untuk artis khusus member ALV saja. Akan tetapi juga teman-teman satu negara mereka. Namun, dari Agensi lainya.


Tour kali ini ada satu konser yang dimana Alvian dan Alice di pertemukan dalam satu panggung. Namun, pada acara terakhir mereka di negara tersebut.


"Ian, perform kalian malam ini sangat keren. Saya lihat kau tampil beda daripada biasanya." ucap Staf Muzaki duduk dihadapan anak-anak asuhnya.


"Tentu saja, Saya juga berpikiran seperti itu Smith. Sepertinya Ian kita lagi jatuh cinta." sahut Manejer Alvian yang memberikan ponsel pemuda itu.


"Haa... ha... apa yang kau katakan. Aku tidak pernah jatuh cinta pada siapapun, karena sudah jatuh cinta sejak dulu." Alvian tersenyum kala membaca pesan singkat dari istrinya.


Sehingga tidak sadar jika dia menjadi pusat perhatian orang-orang si sekitarnya.Termasuk juga Alice yang juga ada dalam ruangan tersebut karena dia lagi berbicara dengan seseorang yang merupakan staf bawahan Staf Muzaki.


Namun, Alice tidak langsung mendekat karena ingin membiarkan Alvian istirahat terlebih dahulu. Hanya saja matanya melihat kearah pemuda yang dia sukai sejak pertama kali bertemu sampai saat ini.


💌 Ayara : "Aku sudah melihatnya, apakah itu ditunjukkan untukku?" bunyi pesan dari Ayara setelah wanita itu melihat suaminya mengungkapkan perasaan cintanya saat konser masih berlangsung.


Tindakan Alvian benar-benar sangat romantis yang mampu membuat siapa saja ingin berada di posisi orang yang dia tunjukkan cintanya.


Bahkan keluarga besar Rafael yang mengetahui hal tersebut saja sampai tersenyum-senyum sendiri karena mereka tahu bahwa tanda hati tersebut ditunjukkan untuk Ayara.


💌 Alvian : "Menurut mu? Apakah aku menunjukkan nya buat gadis lain?" dengan gerakan cepat Alvian langsung membalas pesan dari istrinya.


💌 Alvian : "Sebelum kau menjawab, maka aku akan menjawabnya sendiri." balasnya lagi karena Ayara sedang mengetik, pemuda itu sudah mengirim pesan lagi.


💌 Ayara : "Apa? Ayo katakan! Jangan sampai saat kau pulang tidak boleh masuk ke kamar. Aku tidak akan membuatmu naik kelantai atas, jika perlu kami akan pindah ke rumah mama. Agar di sana aku bisa tidur bersama nenek." balasan pesan dari Ayara tentu saja membuat Alvian semakin tersenyum.


💌 Alvian : "Apakah kau lagi mengancam ku? Agh, ini pemaksaan! Bagaimana mungkin kau berani mengancam seorang member ALV." Alvian terus tersenyum sambil mengetik sesuatu di layar ponselnya.


Hanya membaca pesan dari Ayara saja. Dia sudah merasakan segala lelahnya hilang dalam waktu seketika, karena ngedance saat konser berlangsung.


💌 Ayara : "Siapa yang bilang aku mengancam member ALV yang terkenal tampan? Aku hanya lagi mengancam Alvin suamiku." balas Ayara yang sama saja lagi tersenyum-senyum sendiri di dalam kamar mewah mereka.


Sedangkan Lula tidur di lantai atas juga. Tapi ada kamarnya sendiri. Ayara sudah menyiapkan satu kamar khusus untuk sangat sahabat. Begitu pula dengan pakaian dan kebutuhan lainnya.


Tadi sebelum Lula datang. Denis yang bertugas menjaganya sudah membawa barang-barang untuk Lula. Atas perintah Alvian.


Pemuda itu sangat tahu seperti apa istrinya. Pasti tidak akan mungkin bicara jika ingin memberikan sahabatanya pakaian atau barang-barang lainnya. Jadinya Alvian yang mengerti sudah menyuruh bodyguard nya melakukan pekerjaan tersebut.


💌 Alvian : "Oh... berarti aku salah! Baiklah, karena kau lagi mengancam Alvin suamimu. Maka aku akan menjawabnya." tersenyum sambil mengigit bibir bawahnya.


Tidak tahu begitu banyak pasang mata yang melihat kearahnya. Hanya Hanan, dan Naufal saja yang cuek karena tahu siapa yang membuat Alvian bisa tersenyum-senyum sendiri.


💌 Ayara : "Kalau begitu ayo cepat katakan." Ayara kembali duduk dari porsinya yang tadi lagi berbaring di atas tempat tidur. Padahal baru malam ini mereka berpisah. Namun, rasanya mereka sudah saling merindukan.


💌 Alvian : "Jawabanya, aku... mencintaimu, Aya! Aku sangat mencintaimu sejak dulu sampai sekarang." mata Alvian yang seperti memakai lensa menatap pada ponsel dengan lekatnya.


💌 Ayara : "Alvin..." satu pesan yang seperti panggilan saja bila orang tersebut sedang ada dihadapannya.


💌 Alvian : "Huem, ada apa sayang? Apakah kau juga ingin mengatakan bahwa dirimu juga mencintaiku?" tanya Alvian penasaran.


Dia mengira bahwa Aya juga akan mengatakan bahwa sangat mencintainya.


💌 Ayara : "Jantungku..." Ayara tergelak saat mengetik pesan tersebut.


💌 Alvian : "Iya, apakah jantungmu sakit? Kenapa bisa sakit? Sejak kapan? Tunggu aku menelepon Denis, agar dia memangil dokter keluarga kita." Alvian yang tadinya lagi bersandar pada Bahu Bara.


Langsung saja duduk secara tiba-tiba. Wajahnya yang tadi tersenyum, tiba-tiba berubah menjadi khawatir.


💌 Ayara : "Eh, bukan-bukan! Jantung ku sakit karena mendengar ungkapan kata-kata cinta mu." Aya semakin tertawa setelah membaca pesan dari suaminya.


💌 Alvian : "Ayara... jadi kau hanya ingin mengerjaiku. Aaah, awas kau, ya." sekarang bergantian Alvian yang mengancam sang istri.


Bila Ayara ada dihadapannya, maka jangan harap Alvian akan melepaskan gadis itu. Akan dia buat Ayara merintih nikmat dibawah kungkungan tubuh Atletisnya.


"Avian, apakah kau memiliki pacar?" tanya Kak Mauza yang sejak tadi ikut memperhatikan sambil mengeluarkan aksesoris yang akan dipakai para member.


"Kenapa?" bukannya menjawab. Namun, si tampan Alvian kembali bertanya.


"Tidak ada, hanya saja kau sejak tadi tersenyum sendiri seperti orang lagi---"


"Alvian, ini minumlah!" kedatangan Alice yang berpura-pura memberikan sebotol air mineral membuat ucapan Kak Mauza terhenti.


"Oh, Ais! Terima kasih," Alvian langsung menerima air pemberian gadis itu karena takut dia tersinggung.


Padahal Alvian sudah minum air yang diberikan oleh Staf dan dia taruh di atas meja dihadapannya.


Lalu karena sudah ada Alice dan yang lainnya. Alvian tidak membalas pesan Ayara lagi, karena tidak ingin orang-orang mengetahui bahwa dia telah memiliki istri. Sebelum waktunya dia mengumumkan tentang keluarga kecilnya.


Sesekali Alvian menjawab pertanyaan Alice seperti biasanya, karena disana mereka tidak berdua saja. Namun, ada member lainya. Sampai kurang lebih dua puluh menit kemudian. Alvian dan teman-temannya pun sudah harus berganti pakaian untuk penampilan yang kedua.


"Sekarang kalian ganti pakaian yang sudah Kakak siapkan," ucap Kak Mauza sebagai Staf penanggung jawab atas penampilan dari pakaian member ALV.


"Eum... aku duluan, Kak," ucap Alvian berdiri dari tempat duduknya karena ingin menghindari Alice.


Pemuda itu bukan orang bodoh yang tidak mengetahui bahwa Alice yang merupakan salah satu penyanyi wanita yang terkenal di negara mereka maupun negara tetangga. Memiliki perasaan lebih, dari sekedar teman padanya.


Namun, Alvian hanya menganggap wanita itu sebagai teman saja tidak lebih. Jangankan sekarang. Dia sudah kembali mendapatkan Ayara beserta putrinya. Dulu saja di saat posisinya lagi patah hati karena masih memiliki perasaan terhadap gadis yang sudah dia putuskan secara sepihak.


Tetap saja tidak memiliki perasaan apapun pada Alice. Bukan karena wanita itu tidak cantik maupun menarik. Hanya saja di hati Alvian sudah ada ratu yang menempatinya. Yaitu satu nama. Ayara Febriani Jasmeen.


"Iya, pergilah! Kau pakai jas yang sudah Kakak siapkan." jawab wanita itu juga berdiri dari tempat duduknya.


Bukan hanya member ALV saja yang harus kembali bersiap-siap. Namun, juga para staf dan kru rombongan tersebut.


Tidak sampai sepuluh menit, Alvian sudah keluar menggunakan baju lain lagi. Tidak sama seperti tadi. Salah satu penanggung jawab yang mengundang mereka konser di sana adalah perusahaan collection.


Jadi sekalian para member ALV mempromosikan barang mereka agar bisa terjual mahal. Biasanya barang apapun itu apabila telah dipakai oleh kelima pemuda tampan tersebut. Maka harganya pun bisa menjadi sepuluh kali lipat daripada harga biasa. Itulah kelebihannya.


"Alice, ada apa?" serunya yang kaget saat keluar dari ruang salin. Ada Alice di depan pintu. Saking kagetnya Alvian sampai menyebut nama lengkap gadis itu.


"Tidak ada, aku hanya ingin berbicara sebentar padamu." jawab Alice tersenyum kecil.


"Mari duduk di sana, selagi ada waktu sebentar lagi." ajak pemuda itu sambil melirik jam tangannya. Sehingga Alice yang sudah tidak bisa menahan ingin menanyakan tentang kehidupan pribadi Alvian pun mengangguk setuju.


"Ada apa?" berpura-pura bertanya meskipun di dalam hatinya sudah tahu jika mungkin saja gadis itu ingin tahu tentang simbol I love you yang ia tunjukan pada kamera tadi.


"Ian, apakah kau sudah memiliki kekasih?" tidak berbasa-basi lagi. Ternyata Alice memang mengatakan langsung tujuannya ingin berbicara dengan Alvian.


"Huem, iya. Kenapa?" Alvian menjawab singkat.


"Apakah kau sangat mencintainya?" entah pertanyaan konyol seperti apa yang ditanyakan oleh Alice. Tentu saja Alvian mencintai kekasihnya.


Sebelum menjawab pemuda itu tersenyum kecil dan menatap lurus ke depan.



"Sangat, aku sangat mencintainya lebih daripada diriku sendiri, karena aku rela mati. Asalkan dia baik-baik saja." jawaban Alvian membuat wanita itu langsung mengepalkan tangannya erat.


Untuk menahan agar tidak menangis di hadapan Alvian. Soalnya Alice takut salah mengambil langkah, sehingga pemuda yang dia cintai menjauhinya.


"Kau rela mengorbankan nyawa demi gadis itu? Sungguh beruntung sekali yang menjadi dirinya." ikut tersenyum kecil disela tarik nafasnya yang berat.


"Tidak! Justru akulah yang beruntung bisa memilikinya. Dia adalah wanita yang sangat baik dan sudah mengerti seperti apa sifatku sejak dulu."


"Wah, kalau begitu gadis itu sangat istimewa. Aku jadi penasaran ingin berkenalan dengan kekasih sahabatku." dusta Alice yang masih tetap tersenyum kecil.


Meskipun di dalam hatinya menahan sesak karena harus mendengar kenyataan pahit tersebut. Yaitu di mana Alvian mengakui bahwa sudah memiliki kekasih dan sangat mencintai gadis itu. Bahkan rela mengorbankan nyawanya hanya untuk seorang wanita.


"Tidak lama lagi, bila sudah saatnya maka aku akan tunjukkan pada publik bahwa diriku sudah menjadi milik gadis yang aku cintai."


"Selamat kalau begitu, karena kau akhirnya tidak menjomblo lagi. Pantas saja kau takut ada rumor tentang kita." ujar wanita itu lagi.


"Terima kasih," Alvian diam sejenak sebelum kembali melanjutkan ucapannya. "Salah satunya iya, karena mulai sekarang aku ingin menjaga perasaannya dari rumor yang beredar."


"Baguslah! Itu lebih baik, Al. Kau memang harus menjaga perasaannya."


"Sekarang aku juga lagi berusaha untuk menjadi layak bisa bersanding dengannya. Makanya aku ingin menjaga jarak denganmu. Dia memang tidak melarang aku dekat dengan siapapun. Tapi aku sangat mengenalnya, didalam hatinya pasti terluka karena berita-berita itu." setelah berbicara demikian Alvian pun berdiri dari tempat duduknya.


"Maaf, ya. Aku tinggal dulu untuk bersiap-siap." ucapnya berpamitan dan sudah tidak dijawab lagi oleh Alice karena dia langsung menetapkan air matanya setelah kepergian Alvian.


"Tidak akan aku biarkan kau menjadi milik gadis manapun Alvian, karena mau sampai kapanpun kau adalah milikku, tetap milikku."


Gumam wanita itu sebelum meninggalkan lokasi tersebut karena dia mau langsung pulang ke hotel tempat mereka menginap. Bersama Bodyguard dan manajer yang ikut bersamanya.


Sementara itu, di tempat bersiap-siap para member.


"Ian, apakah kau dan Alice ada masalah?" tanya Kak mauza saat dia menyisir rambut Alvian.


"Tidak, Kak. Apakah dia mengatakan bahwa kami memiliki masalah?" pemuda itu balik bertanya.


"Tidak juga, hanya saja tumben sekali dia datang ke sini untuk melihat kalian manggung. Bukankah di saat konser-konser sebelumnya, walaupun kita menginap di hotel yang sama. Akan tetapi dia tidak pernah datang seperti malam ini." ucap Kak Mauza.


Salah satu wanita beruntung karena pekerjaannya dia bisa menyentuh kepala para member ALV. Maupun muka kelima muka pemuda tampan itu.


Untung saja kak mauza telah memiliki dua orang anak dan juga umurnya sudah tiga puluh tahun lebih. Jadi tidak akan jatuh cinta pada brondong seperti member ALV.


Maka dari itu Alvian dan keempat sahabatnya. Memanggil wanita itu dengan sebutan kakak. Karena apabila mereka salah, maka Kak Mauza secara terang-terangan menegur mereka.


Tidak memandang bahwa itu adalah artis terkenal. Intinya Kak Mauza adalah orang yang konsisten apabila menyangkut masalah pekerjaan dan performnya member ALV saat tampil.


"itu karena dia lagi ingin dekat-dekat dengan Alvian, Kak. Tapi sayangnya vokalis inti kita ini, sedang kembali merasakan jatuh cinta. Anggap saja saat ini Alvian lagi puber kedua, di saat umurnya baru menginjak dua puluh tiga tahun." timpal Sandy yang sudah keluar dari ruang ganti.


"Wah, benarkah? Sepertinya kalian sudah memiliki begitu banyak rahasia di belakang kakak, ya."


"Nanti juga Kakak akan tahu sendiri, do'akan saja agar semuanya berjalan dengan lancar. Maka aku akan memperkenalkan dia pada kalian semua." jawab Alvian tersenyum kecil.


...BERSAMBUNG......