I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Menemui Dokter Erina.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


"Al, apakah kita akan masuk buat mencari tahu?" tanya Aldebaran begitu mereka tiba di rumah sakit terbesar yang ada di daerah sana.


"Ya, iyalah, Bara! Jika diam didalam mobil siapa yang akan memberitahu kita," seru Alvian merasa gemas pada pertanyaan sahabatnya itu.


"Huem, ayo biar aku temani. Tapi kita tidak akan ketahuan kan? Takut aku nanti malah diserbu oleh tante-tante. Jika gadis sih aku tidak masalah." ucap bara memakai masker dan topi nya. Sedangkan Alvian sudah memakainya sejak tadi.


"Tidak akan ada yang tahu. Pakai saja kacamata biar lebih tidak terlihat," jawab pemuda itu lebih dulu, karena dia sudah tidak sabar buat mendapatkan bukti bahwa Vania memanglah putrinya.


"Hei... tunggu aku!" Bara berlari kecil mengikuti sahabatnya setelah memarkirkan mobilnya.


"Kita kemana dulu?" Bara kembali bertanya, begitu mereka sudah melangkah masuk kerumah sakit tersebut.


"Selamat siang, adanya bisa Saya bantu Tuan?" sambut bagian resepsionis degan sopan. Walaupun mereka tidak tahu siapa orang dibalik masker tersebut.


"Eum... Saya mau melihat data pasien tiga tahun lalu," jawab Alvian dengan perasaan berdebar-debar.


"Tiga tahun lalu?" ulang resepsionis tersebut.


"Iya, data pasien tiga tahun lalu. Tolong cek ulang. Saya akan membayar berapapun,"


"Maaf Tuan, ini bukan masalah uang. Tapi Anda ingin mencari data siapa? Mohon maaf, kami tidak bisa memberikan sembarangan data pasien. Meskipun sudah bertahun-tahun lalu," tanya si wanita tersebut karena memang seperti itulah peraturan di rumah sakit itu.


"Saya ingin melihat data... Ayara Febriani Jasmeen. Dia adik Saya yang pergi dari rumah, tapi dia pergi dalan keadaan mengandung," tutur Alvian yang terpaksa mengakui sebagai adiknya.


Soalnya bila dia mengatakan suami Ayara. Sudah pasti mereka akan meminta bukti akta pernikahan.


"Oh, baiklah! Kalau sudah dijelaskan pasiennya hamil. Maka tidak susah untuk mencari datanya. Silahkan tunggu di sana. Nanti bila sudah selesai kami akan memangil Anda." kata wanita itu mulai mengecek melalui komputer.


"Al, ayo duduk dulu. Jangan berdiri seperti ini. Nanti kita malah dikira patung tampan," ajak Bara yang membuat para suster tersenyum kearah mereka berdua.


Tidak bisa dibohongi, meskipun mereka memakai masker dan topi. Tetap saja terlihat sangat tampan.


"Iya, baiklah!" Alvian mengangguk setuju. Mereka berdua menunggu di kursi tunggu yang tidak jauh dari sana.


"Al, jika tidak ada datanya, bagaimana? Mana tahu dia mengunakan data suaminya," tanya Bara melihat kegelisahan Alvian.


"Semoga saja ada, soalnya di daerah sini hanya ada rumah sakit ini, kan. Meskipun dia memakai nama orang lain, pasti akan ketahuan dari hasil komputer. Tidak mungkin nama pasiennya tidak tercantum," jawab pemuda itu yang tangannya terasa berkeringat dingin.


Saat menghadapi lautan manusia dan ketika pertama kali mereka debut saja. Alvian tidak merasakan hal tersebut. Ada rasa takut, senang dan penyesalan. Semuanya sudah menjadi satu.


Setelah menunggu hampir tiga puluh menit. Mereka sudah dipanggil oleh wanita yang memeriksa datanya.


"Nona Ayara Febriani Jasmeen," panggilnya karena nama Alvian dan Bara, dia tidak tahu.


"Al, ayo!" Bara berdiri penuh semangat. Dia bahkan menarik tangan sahabatnya itu. Seakan-akan Vania adalah putrinya.


"Bagaimana, Sus? Apakah ada nama pasien yang bernama Ayara?" tanya Alvian tidak sabar.


"Ada, di sini dia masuk ke rumah sakit pada malam hari pukul delapan malam. Pada tanggal tujuh belas, bulan tiga dan tahunya dua ribu delapan." jelas wanita tersebut dengan sangat detail.


"A--apa! Be--benarkah! Tolong berikan Saya data dia dan anaknya," seru Alvian tergagap. Jika tidak malu mungkin Alfian sudah menangis.


"Benar Tuan! Tapi sekali lagi mohon maaf, jika data pasien yang seperti itu. Bukanlah urusan kami. Anda silakan temui saja dokter yang menolong Nona Ayara di saat itu."


"Iya, tidak apa-apa! Tapi tolong bantu Saya untuk bisa menemui dokternya," seru Alvian. Sampai pergelangan tangannya digenggam oleh Bara. Sebagai kode agar sahabatnya itu bisa sabar dan tenang.


"Baiklah! Tunggu sebentar, ya," imbuh wanita itu berbicara pada satu rekannya, karena mereka berjumlah tiga orang.


"Jes, Jessie!" panggil wanita itu pada temannya yang terlihat tidak terlalu sibuk.


"Huem, iya ada apa?" jawab Jessie mendekat.


"Tolong aku ya, tolong antarkan kedua tuan ini ke ruangan Dokter Erina. Lagian kan kau adalah asistennya,"


"Dokter Erlina, eum... baiklah!" Jessie keluar dari ruangan meja tempat mereka berjaga untuk menyambut tamu rumah sakit.


"Terima kasih, Jes,"


"Iya, sama-sama. Aku juga mau sekalian mengambil jaket ku yang ketinggalan di sana," Jessie tersenyum pada temannya itu.


"Al, kau baik-baik saja, kan?" bisik Bara karena Alvian terlihat sangat gelisah.


"Huem," jawab pemuda itu hanya berdehem dan mengangguk kecil.


"Hei! Kau jangan terlalu gelisah seperti ini. Aku takut kau tiba-tiba pingsan. Lalu samaran kita akan ketahuan," saat berada di dalam lift. Mereka berdua berbicara dengan saling berbisik. Bukan! Bukan mereka berdua, tapi Bara lah yang banyak berbicara, karena Alvian hanya menjawab seperlunya.


Ting!


Pintu lift terbuka lebar, lalu mereka berdua mengikuti wanita bernama Jessie dari belakang.


Tidak lama berjalan, ternyata mereka sudah tiba di depan ruangan dokter bename tag Erina. Yaitu adalah salah satu Dokter Kandungan di rumah sakit tersebut.


Tok!


Tok!


Masuk!" suara sahutan dari dalam. Kebetulan saat ini baru selesai jam makan siang. Jadi Dokter Erina tidak memiliki tamu pasien lainnya.


"Mari Tuan, sepertinya Dokter Erina sedang tidak ada tamu," ajak Jessie pada keduanya dan diangguki saja oleh Bara dan Alvian.


Ceklek!


"Ah, Jessie! Saya kira siapa," seru Dokter Erina yang dikiranya orang lain.


"Maaf Dok, Saya hanya mengantarkan kedua tuan ini. Mereka ingin menemui Anda," kata Jessie tersenyum kecil. Lalu dia menoleh kearah Alvian dan Bara.


"Tuan silahkan duduk, inilah Dokter Erina yang ingin kalian temui." ucapnya mempersilahkan.


Lalu setelah itu Jessie berjalan masuk kedalam tempat istirahat Dokter Erina, karena dia mau mengambil jaketnya yang tertinggal di sana.


Jadi hanya ada tinggal Alvian dan Bara saja yang sudah duduk di dihadapan Dokter Erina.


"Selamat siang, Dok. Sebelumnya kami minta maaf karena sudah menganggu waktunya." ucap Alvian sebelum menyampaikan maksud mereka.


"Selamat siang juga, Tuan-tuan. Tidak apa-apa, karena ini memang pekerjaan Saya." Jawab Dokter Erina tersenyum sambil memperbaiki letak kacamatanya.


"Ada yang bisa Saya bantu? Saya ini dokter kandungan. Anda berdua bukan mau periksa kandungan bukan?" gurau si dokter yang memiliki sifat ramah pada setiap pasiennya


"Ha... haa... Dokter bisa saja, mana mungkin kami yang tampan ini mau memeriksa kandungan." tawa Bara karena jika Alvian hanya tersenyum kecil.


Pemuda itu lagi mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya jauh lebih dalam lagi, tentang Ayara dan putrinya.


"Huem! Dokter, Saya ingin meminta data lengkap tentang pasien bernama Ayara Febriani Jasmeen. Dia pernah melahirkan di sini dan kata suster di bagian resepsionis. Anda yang menolongnya." degan penuh keberaniannya. Alvian akhirnya menyebutkan langsung maksud kedatangan mereka ke sana.


"Nona Ayara, mamanya Vania, kan? Memangnya Anda siapa mereka?" bukannya menjawab Namun, Dokter Erina kembali bertanya.


"Apakah dokter masih mengingatnya?" tanya Alfian menatap dekat dokter tersebut.


Biasanya jika pasien sudah lama seperti Ayara. Para dokter tidak mungkin lagi bisa mengingat nama orang-orang yang pernah mereka tolong.


Sebelum menjawab pertanyaan Alvian. Dokter Erina tersenyum simpul. "Tentu saja tahu Tuan, karena dia dari semenjak hamil sampai saat ini masih sering berkomunikasi dengan Saya."


"Kalau begitu tolong berikan Saya data lengkap dia dan Vania, Dokter. Saya benar-benar sangat membutuhkannya," pinta Alvian setengah memohon.


"Saya akan memberikan semua yang Anda minta. Tapi kami harus tahu dulu, Anda siapanya Nona Ayara? Karena ini adalah data pribadi pasien. Tidak boleh diberi ke sembarangan orang." jesal dokter tersebut.


Terkecuali ke---"


"Saya adalah ayah kandung Vania. Saya mohon, Dok," sela Alvian cepat. Dia sudah tidak sabar untuk mendengarkan penjelasan si dokter, karena Alvian juga tahu seperti apa peraturan rumah sakit maupun fasilitas umum lainnya.


"Apa! Jadi anda suaminya Nona Ayara?" tanya Dokter Erina kaget. Sebab dari sepengetahuannya suami Ayara sudah meninggal dunia.


Sehingga Ayara tidak memiliki data tentang suaminya, untuk mengisi akte kelahiran Vania.


"Saya buk..." Alvian tidak melanjutkan lagi ucapannya karena melihat kedatangan Jessie.


"Tidak apa-apa Tuan, dia adalah asisten setia Saya. Hanya karena saudarinya lagi sakit, jadi hari ini mengantikan posisi kakaknya di bawah." ucap Dokter Erina mulai bisa menebak apa yang terjadi sebenarnya.


"Jes, tolong kunci pintunya dan kau temani Saya di sini," titahnya pada asisten kerjanya.


"Baik, Dok," si perawat itu pun mengunci pintu ruangan tersebut dan ikut duduk di atas sofa karena tidak di perbolehkan buat keluar dari sana.


...BERSAMBUNG......