I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Renata Akan Menikah.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


"Aya, apakah Alvian sudah mendarat?" tanya Nyonya Lili begitu melihat menantunya sudah terlihat cantik karena beliau tahu bahwa Alvian mau memberikan kejutan untuk menantu dan cucunya. Namun, beliau juga tidak tahu kejutan apa yang mau diberikan.


"Sudah, Ma. Paling sebentar lagi sampai," Aya langsung duduk disisi mertuanya. Dia memang manja seperti itu.


Walaupun sekarang Ayara sudah memiliki Tuan Edward yang sangat menyayangi nya. Namun, rasa sayangnya pada kedua mertuanya tidak ada berkurang sama sekali. Justru semakin bertambah.


"Ma, memangnya Mama tidak tahu Alvin mau mengajak Aya pergi kemana?" tanyanya pada sang mertua.


"Tidak, Nak. Mama juga tidak tahu dia mau mengajak kalian pergi kemana,"


"Iya, ini juga sudah bersiap-siap. Katanya begitu datang akan mengajak kami pergi," ungkap Ayara yang sangat penasaran mau ada kejutan apa.


Soalnya setelah mengirim pesan. Nomor ponsel Alvian sudah tidak aktif. Mungkin pemuda itu sudah berada dalam pesawat. Karena perjalanan kali ini Alvian harus menaiki pesawat selama kurang lebih delapan jam. Maka dari itu Ayara tidak heran kenapa nomor suaminya tidak aktif.


"Mungkin dia mau menebus waktunya yang sudah terlewatkan selama tiga hari ini, Nak. Jadinya mau mengantikan dengan sebuah kejutan," kata Nyonya Lili tersenyum.


Saat mereka masih mengobrol. Tiba-tiba Vania yang lagi bermain degan pengasuhnya berlari mendekati oma dan mamanya.


"Mama... ada Papa. Ayo tepat pelgi cekalang," ajaknya sudah disuruh memanggil sang mama oleh papa tampannya.


"Wah papamu sudah datang, cepat sekali," jawab Ayara berdiri dari tempat duduknya. "Mama, kami pergi dulu, ya," pamit Aya pada ibu mertuanya.


"Iya, pergilah, Nak.Hati-hati dan selamat bersenang-senang," jawab beliau tersenyum menatap kepergian Ayara dan Vania.


Si gadis kecil itu berjalan sambil menarik tangan mamanya. Sebab semenjak mengetahui mamanya lagi hamil. Vania tidak pernah minta digendong lagi. Kecuali pada papa, nenek maupun pada anggota keluarga yang lainnya. Barulah dia minta di gendong.


"Sayang..." Alvian sudah berdiri di luar mobil langsung merentangkan kedua tangannya untuk memeluk sang istri.


Cup, cup. Muaach!


"Aku sangat merindukanmu. Dan juga kedua anak kita," Alvian melepaskan pelukannya dan sekarang kepalanya sedikit menunduk untuk mensejajarkan dengan perut Ayara yang masih rata.


"Hai sayang? Apakah anak Papa tidak nakal selama Papa tinggal pergi? Karena jika Kak Via katanya tidak nakal dan malah menjadi kakak yang hebat sering membantu mama," ucap Alvian yang membuat Ayara maupun Vania sama-sama tertawa.


"Tidak, Pa. Adek juga tidak nakal, karena sudah belajar dari Kak Vania," Ayara ikut menjawab candaan suaminya.


"Haa... haa... Mama yang jawab," tawa dia merasa lucu melihat kedua orang tuanya.


Cup!


"Tentu saja mama yang menjawab, karena adik kecil kita belum lahir dan harus menunggu beberapa bulan lagi. Jadi Via tidak boleh minta gendong sama mama, ya," ucap Alvian menggendong Vania dan mengecup pipi gadis kecil itu dengan gemas.


"Ayo kita berangkat sekarang. Di sana tempatnya sangat bagus. Via sama mama pasti akan betah karena tidak jauh dari rumah ini," ajak pemuda itu menyuruh Ayara masuk ke dalam mobil lebih dulu. Lalu dia menyusul bersama putrinya.


"Tuan Muda, apakah kita mau langsung ke---"


"Iya kita langsung saja ke tempat yang aku sebutkan tadi," sela Alvian tersenyum karena sebetulnya dia hanya akan membawa anak dan istrinya ke sebelah tembok rumah utama.


"Baik, Tuan," jawab Denis yang bertugas membawa mobil. Lalu pemuda itu langsung menjalankan kendaraan tersebut dengan pelan.


"Alvin, kenapa kita malah ke rumah ini?" tanya Aya setelah mobil mereka masuk ke dalam pagar yang menjulang tinggi.


"Wah, lumah nya bagus, Pa, Ma," seru Vania yang duduk diatas paha Alvian.



"Ini rumah siapa? Bagus sekali dan bukannya itu mobil Bara?" Ayara yang belum tahu bahwa rumah tersebut adalah rumah baru mereka, kembali bertanya.


"Ayo kita turun dulu dan lihatlah di dalamnya ada apa," ajak Alvian tidak mau menjawab langsung.


"Baiklah! Mari kita turun dan lihatlah ada kejutan apa di dalam," seru Ayara tetap merasa bahagia mau seperti apapun kejutannya.


Alvian menurunkan Vania dan menuntun tangan putrinya berjalan masuk kedalam rumah tersebut. Di sana ada beberapa mobil mewah yang sedang terparkir termasuk mobil Bara salah satunya.


"Surprise... selamat datang dirumah baru," seru semoga orang yang ada di sana.


"Rumah baru? Alvin, apaka---"


"Iya, ini adalah rumah baru kita sayang. Semoga kau dan Vania menyukainya, karena tempat ini hanya bersebelahan dengan rumah papa," jawab Alvian tersenyum.


"Jadi Papa juga tahu jika kita akan pindah ke sini?" seru Ayara semakin tersenyum lebar karena disana ada Tuan Edward papanya. Lula, Renata. Para member ALV dan keluarga Rafael yang lainya.


Namun, yang tidak ada hanyalah ibu mertua dan papa mertuanya. Sehingga membuat Ayara kembali bertanya.


"Tapi kenapa papa dan mama---"


"Kami disini," seru Nyonya Lili tersenyum lebar. Beliau benar-benar sangat bahagia setelah diberitahu oleh suaminya jika rumah tersebut adalah rumah Alvian yang baru.


"Mama..." Ayara langsung memeluk ibu mertuanya. "Mama uni, rumah kami yang baru," seru gadis itu menangis haru.


Soalnya baru beberapa hari lalu Ayara dan mertuanya berandai-andai bila rumah mewah tersebut adalah rumah Alvian. Karena Nyonya Lili tidak mau tingal berjauhan dengan sang menantu kesayangan.


"Mama juga bahagia sekali, Nak. Papa dan Alvin sengaja merahasiakan hal ini dari kita. Soalnya mau membuat kejutan," kata wanita setengah baya itu melepas pelukannya.


"Ibu pun ternyata sudah ada disini. Pantas saja saat aku menelepon tidak mau mengangkat panggilan dariku," keluhnya pada ibu dari Tuan Abidzar dan memeluk ibu mertuanya itu.


"Haa... ha... kami semua baru tahu sore ini. Abi dan Alvin begitu pandai menyembunyikan rahasia ini. Sehingga kita tidak tahu padahal berada di sebelah rumah kita," jawab wanita paruh baya itu tersenyum. Karena beliau juga sangat bahagia bila sang cucu tinggal bersebelahan seperti saat ini.


"Papa... bagaimana keadaannya?" sekarang Ayara bergantian memeluk Tuan Edward yang lagi duduk bersama Hanan


"Papa baik-baik saja. Apalagi melihatmu selalu sehat seperti ini. Karena kebahagiaan Papa sekarang hanya bila melihatmu tersenyum," jawab Tuan Edward yang sudah mulai menjalankan perusahaan Wilson.


Demi membuat Ayara bahagia. Beliau semakin bersemangat untuk bangkit kembali. Agar bisa segera mengembalikan uang Tuan Abidzar dan uang Alvin. Supaya putrinya tidak merasa malu karena beliau memiliki hutang pada besannya.


"Setelah acara ini. Sebelum acara ulang tahun Via. Di rumah akan ada acara juga," ucap Tuan Edward seraya menoleh kearah Renata.


"Acara apa, Pa?" tanya Alvian dan Ayara secara bersamaan.


"Renata akan menikah," Tuan Abidzar yang menjawab. Sehingga membuat Alvian dan Ayara saling tatap.


...BERSAMBUNG......