I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Dua Boneka Besar.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


Setelah sarapan bersama tadi pagi. Alvian pergi jalan-jalan bersama putrinya. Dan disinilah mereka saat ini. Alvian membawa Vania jalan-jalan di Mall terbesar di kota B.


Sedangkan Bara tinggal di rumah bersama Lula dan Ayara, karena hari ini Toko bunga tempat Aya bekerja di tutup selama dua hari.


Tadi Ayara dan Lula juga sudah menemui Kak Regina untuk menjelaskan semuanya. Agar Kak Regina mengerti, kenapa Aya sampai tidak bekerja. Mereka berdua juga datang bersama Bara, agar sang bos lebih mengerti lagi.


Sekarang Kak Regina juga sudah mengetahui siapa Ayara dan Vania sebenernya. Akan tetapi dia tidak akan memberitahu siapapun. Justru dia sangat senang karena bisa mengenal Aya dan bisa berkesempatan untuk bisa memeluk putri dari idol kesayangan mereka.


"Sayang, sekarang Via mau apa lagi?" tanya Alvian yang tetap memakai masker penutup wajahnya. Agar tidak menjadi buronan para fansnya.


"Via mau boteka becal, Pa," jawab Vania karena sejak tadi mereka begitu banyak membeli berbagai jenis permainan untuk anak perempuan. Baju buat Vania dan untuk Ayara pun juga dibelikan oleh Alvian


Jika untuk Lula, Alvian memberikan uang kes, karena dia mana tahu bisa membeli barang untuk orang lain. Berbeda jika buat Ayara, saat mereka berpacaran. Alvian sudah biasa membeli berbagai macam hadiah untuk kekasihnya.


Tidak! Tidak hanya itu saja. Alvian, si artis papan atas itu juga membalikkan susu beserta belanjaan dan juga bahan untuk dimasak.


Semuanya sudah dia beli dengan lengkap. Termasuk makanan apa saja yang disukai oleh Ayara. Untuk membawa belanjaannya saja, pemuda itu sampai menyewa jasa karyawan yang khusus buat mengantar barang belanjaan ke mobilnya.


Sudah hampir tiga jam, dia dan putrinya terus mengelilingi Mall tersebut. Soalnya ini adalah kali pertamanya, mereka belanja bersama.


Padahal sebelum mereka berangkat. Aya sudah berpesan agar Alvian cukup membelikan untuk keperluan Vania saja, karena Ayara tidak mau memiliki hutang budi pada mantan kekasihnya.


Akan tetapi Alvian tetaplah Alvian Fatir Rafaela. Seberapa terkenal pun, dia tetaplah sosok laki-laki yang sangat perhatian pada pasangannya.


"Mau bonek besar?" ulang Alvian karena takut salah arti perkataan putrinya.


"Iya, sepelti puna anak Tante dinet," jawab Vania mengangguk membenarkan.


"Oke, kalau begitu ayo kita beli boneka yang Via mau," karena tidak mau putrinya kelelahan. Alvian mengedong gadis kecilnya menuju lantai empat gedung tersebut, karena disana tempat jual boneka berada.


Cup!


"Nanti sore Papa mau pulang dulu ya, Papa mau bernyanyi seperti biasanya," ucap pemuda itu memberikan ciuman di pipi putrinya. Saat ini ayah dan anak itu lagi menaiki tangga eskalator menuju lantai atas.


"Lama apa cebental?" tanya si kecil karena dia sudah mulai betah berada bersama sang ayah.


"Eum... mungkin sekitar lima atau enam hari lagi. Baru Papa bisa ke sini lagi. Tapi nanti Via bisa menelpon Papa dengan ponsel yang kita beli tadi," jelasnya karena Vania adalah anak yang sangat pintar. Jadi tidak susah untuk menjelaskan.


"Butan patek punya Tante Lula?"


"Bukan, kan tadi kita sudah membeli ponsel buat Via sama mama. Nanti Via bisa belajar, agar bila ingin sesuatu. Tinggal telepon Papa saja. Oke!" tersenyum karena sang putri mendengarkan dia bicara dengan sangat serius.


Padahal entah ada yang dia mengerti, atau tidak. Akan tetapi tetap saja Alvian sangat gemas pada anaknya.


"Ya Tuhan! Aku hanya ingin terus melihat putriku bahagia seperti ini. Semoga saja Aya mau memberiku kesempatan kedua kalinya. Aku hanya ingin memberikan dia dan anakku kebahagiaan. Apa gunanya aku memiliki harta berlimpah. Jika wanita yang aku cintai hidup sengsara."


Gumam Alvian di dalam hatinya. Sambil ia dekap erat Vania yang juga memeluk lehernya, karena takut jatuh dari ketinggian. Meskipun itu semua sangatlah tidak mungkin.



"Ayo Via pilih sendiri mau yang mana," ucap Alvian menurunkan sang putri agar bisa memilih mana pun yang dia mau.


Jangankan sekedar boneka besar. Mall tersebut saja bisa dia beli. Asalkan itu semua bisa membahagiakan Vania dan Ayara. Begitulah besarnya rasa cinta dan sayang yang pemuda itu miliki.


"Via mau ya becal, pa." jawab si kecil melihat-lihat mana tahu ada yang dia inginkan.


"Iya, nanti kita beli yang besar juga. Tapi jika Via mau yang ini. Maka tunjuk saja biar kita beli juga," titah Alvian yang langsung di tolak oleh Vania.


"Tatu saja, tidak boleh banak-banak." jawab Vania yang sudah biasa hidup seadanya.


Cup, cup!


Alvian berjongkok dihadapan Vania. Lalu dia cium putrinya karena penolakan anaknya. Justru membuat Alvian merasa bersalah. Semua itu karena Vania sudah biasa hidup susah, jadi dia tidak mau membeli barang apapun.


"Maafkan Papa, Nak. Papa tahu, kau sebetulnya hanya mencoba menahan diri karena selama ini ingin membeli sesuatu kalian harus mengumpulkan uang dari sisa gaji mamamu," gumamnya lagi yang sudah kembali lagi mengendong Vania. Namun, dia memanggil salah satu karyawan.


"Baik Tuan! Jika Anda mencari boneka Beruang ada disebelah sana." tunjuk wanita itu kearah kanan dari tempat mereka saat ini.


"Oke, terima kasih. Kami kesana dulu. Tapi tolong pesanannya jangan lupa." pamit Alvian membawa Vania berjalan di tengah-tengah rak boneka. Dari berbagai jenis, karena di sana harganya saja sangat fantastik.



"Papa itu boteka nya," tunjuk Vania degan girang. Sehingga Alvian semakin memeluk erat karena takut putrinya terjatuh.


"Vania mau yang warna apa?" tanya pemuda itu ikut tersenyum karena bisa membelikan apa yang diinginkan oleh anaknya.


"Mau ini tama..." Vania tidak jadi melanjutkan lagi ucapnya. Mungkin karena dia takut papanya tidak memiliki uang.


"Sama yang mana, sayang. Ayo tunjuk saja. Via jangan takut, Papa banyak uang buat membeli bonekanya,"


"Tapi mama tanti malah, uang nya buat beli susu duga," jawab Via yang sudah tahu jika membeli boneka tersebut harus memiliki uang yang banyak.


"Tidak! Mama tidak akan marah, karena Papa yang membeli bonekanya. Nanti Papa juga yang akan menjelaskan pada mama. Jadi kita beli semua yang Via suka ya," bujuk pemuda itu karena dia mengerti kenapa Ayara melarang putri mereka.


"Ayo sayang, Via mau yang mana. Biar kita beli semuanya," degan sabar Alvian membujuk putrinya, karena dia tidak mau Vania memendam sesuatu yang diinginkan.


Soalnya Alvian juga terlahir dari keluarga kaya raya. Begitu pula dengan Ayara, hanya saja nasibnya yang berbeda. Sejak kecil Alvian selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Jadi mana mungkin dia membiarkan Vania hidup susah lagi.


"Eum... Via mau ini tama ini," setelah berkata seperti itu si cantik langsung bersembunyi di ceruk leher sang ayah yang tersenyum lebar.


"Baiklah! Kalau begitu kita beli yang warna pink sama putih ya," jawab Alvian yang dianguki oleh Vania.


"Kak, yang ini juga, ya. Warna pink sama putih. Kami akan menunggu di kasir," ucap Alvian pada wanita yang tadi juga menolongnya.


"Baik, Tuan! Kami akan mengurus semuanya." jawab wanita tersebut. Meskipun mereka tidak tahu sia wajah dibalik masker yang dipakai oleh Alvian. Tapi mereka semua tahu bahwa pasti bukan orang biasa-biasa saja.


Soalnya Alvian membayar semua belanjaannya mengunakan kartu black card. Kartu yang jarang dimiliki oleh orang-orang biasa. Jadi perlakuan istimewa langsung diberikan oleh semua pegawai di sana.


"Via mau beli apa lagi? Soalnya jika tidak ada lagi kita akan pulang. Takutnya mama khawatir karena kita belum pulang juga," tanya Alvian setelah membayar semua barang belanjaan mereka.



"Via mau es tlim," jawab Vania tersenyum, karena sekarang Boneka yang dia inginkan sudah ada. Bahkan papanya membeli dua Boneka yang besar dan beberapa lagi Boneka yang kecil.


"Oke! Kalau begitu kita akan membeli eskrim buat mama dan semuanya, ya. Nanti Via bisa memakan eskrim nya di mobil, ataupun tunggu kita sampai dirumah saja," degan hati gembira. Alvian kembali mengedong Vania sambil mencari es krim. Sekaligus kembali turun ke lantai bawah.


Dia tidak merasa lelah sama sekali karena bagitu menikmati perannya sebagai ayah. Rasanya kehadiran Vania benar-benar sebagai obat lukanya yang telah menyesal meninggalkan Ayara.


Ya, Alvian sangat menyesal telah memilih jalan hidupnya sendiri. Dulu dia mengira bisa kembali bersama Ayara setelah kontrak pertama ALV selesai. Namun, semuanya tidak sesuai rencananya.


Justru dia semakin sibuk dengan pekerjaannya. Sehingga begitu ada waktu senggang, baru dia sempatkan untuk menemui mantan kekasihnya. Akan tetapi Ayara sudah tidak ada di kediaman Wilson.


"Pa, mau yang ini tama ini duga," tunjuk Vania begitu melihat eskrim yang dia sukai.


"Baiklah! Jadi Via juga suka rasa stroberi, sama seperti kesukaan Papa," ucap Alvian tersenyum dan diangguki oleh putrinya.


"Ternyata meskipun tidak pernah bertemu denganku sebelumnya. Anakku mempunyai kemiripan dengan ku. Haruskah aku panggil dia duplikat Alvian versi wanita," Alvian bergumam dengan tersenyum bahagia.


Ayah mana yang tidak bahagia karena anak yang tidak pernah dia kenal sebelumnya. Memiliki kesamaan yang sama, dari wajah, makanan kesukaan dan juga cara memanggil dirinya sendiri, karena Alvian juga sama seperti Vania.


Di keluarnya, Alvian juga menyebutkan namanya sendiri Alvin. Sama seperti nama panggilan kesayangan Ayara selama ini. Hanya saja karena tidak ingin Aya merasa memiliki saingan. Alvian tidak menceritakan bahwa di keluarga Rafael. Dia dipanggil Alvin.


Sedangkan sekarang, bergantian putrinya yang menyebut namanya Via. Padahal sudah jelas namanya Vania Amara Jasmeen. Semua itu tentu saja karena Vania mengikuti ayahnya.


Rencananya setelah pulang dari konsernya dan membawa Ayara pulang ke kota S. Untuk menemui keluarganya. Alvian sudah berniat akan menambah nama Rafael di belakang nama anaknya.


Alvian bukanlah Tuan Edward, yang membiarkan nama darah daging nya sendiri tidak memakai nama besar keluarganya.


"Karena semuanya sudah dibeli, sekarang kita pulang ya. Kita akan menikmati es krim nya. Setelah makan siang, karena kata Om Albar, mama mu dan Tante Lula sedang memasak buat makan siang." ucap Alvian membawa putrinya keluar dari Mall tersebut.


Dia dan Vania tidak perlu repot-repot seperti pengunjung lainnya, karena mobil Alvian sudah berada di depan Mall. Begitu pula dengan barang-barang yang dia beli. Semuanya sudah berada di dalam mobil mewahnya.


Dengan uang, apapun bisa mempermudah pekerjaan nya. Jadi meskipun belanjaan banyak dan membawa akan kecil. Semua itu bukanlah masalah besar bagi Alvian.


...BERSAMBUNG......