I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Mampu Bertahan.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


"Ma, Aya mau pergi. Nanti apabila punya uang buat ongkos dijalan. Maka kami berdua akan berkunjung lagi." ucap Aya mencium batu nisan bagian kepala sang ibu. Sudah hampir satu jam lebih dia bersama putri kecilnya berada di sana.


Sekarang selain hari maju sore. Vania juga mulai rewel. Lagian dia juga harus mencari hotel murah untuk tempat menginap malam ini. Jika hanya dirinya sendiri, maka malam ini juga Aya akan kembali ke kota B. Namun, ada si gadis kecil yang pastinya sudah kelelahan.


Sejak pagi putrinya ikut merasakan lelahnya perjalanan dan juga diam di makam oma nya.


Eeaa... eeea!


Vania yang sudah tidak betah kembali lagi merengek. "Iya, iya!" kau tidak sabar sekali," ucap Ayara sambil berdiri.


"Ayo berpamitan sama Oma," lanjutnya lagi seraya melambaikan tangan dia dan putranya yang disatukan menjadi satu.


"Ma, selamat tinggal," gumam Ayara sambil menyeka air matanya sendiri.


"Apa sudah selesai, Nona?" tanya bapak penjaga makam. Dia tidak heran lagi bila ada pengunjung makam yang lama seperti Ayara.


"Sudah, Pak. Terima kasih sudah bersedia di titipkan tas bayi Saya," ucap Ayara tersenyum sambil menerima tas dari bapak-bapak tersebut.


Sama-sama Nona, putri Anda sangat menggemaskan. Apakah tadi berkunjung ke makam..."


"Kemakam ibu Saya, Pak," sela ibu muda itu mengerti jika si bapak penjaga makam takut salah menyebut siapa yang mereka kunjungi.


Setelah berbincang sebentar. Ayara pun meninggalkan kompleks pemakaman Grammar. Lalu dia langsung menunggu di halte bus. Soalnya dia akan pergi agak jauh dari pusat ibu kota. Agar bisa mendapatkan hotel bagi orang-orang tidak mampu sepertinya.


Saat kakinya melangkah menaiki Bus. Mobil Tuan Edward pun melintas di samping mereka. Namun, ayah dan anak itu tidak saling melihat.


*


Sementara itu juga di kediaman keluarga Wilson. Tepatnya di depan pagar rumah megah itu.


"Selamat sore, Pak," ucap Alvian yang berniat menemui Ayara. Setelah hampir satu tahun melupakan gadis yang ia putus secara sepihak. Sore ini dia datang sebagai seorang sahabat. Soalnya Alvian ingin mengetahui keadaan gadis itu.


"Iya, ada yang bisa Saya bantu?" tanya Pak Satpam mendekati pintu pagar yang masih tertutup.


"Eum... A--apakah Ayara nya ada?" tanya Alvian yang tidak membuka topi dan masker yang ia pakai. Makanya dia bisa pergi sendiri karena hari ini Valentine. Alvian kembali ke rumah orang tuanya. Jadi ada waktu untuk menemui Ayara.


"Nona Ayara.... eum, dia tidak ada. Sudah hampir satu tahun dia tidak pernah kembali ke sini lagi," jawab jujur penjaga keamanan itu. Dia adalah orang yang sama tempat Ayara menitipkan pesan sebelum meninggalkan rumah tersebut.


"A--apa! Apa sudah terjadi sesuatu padanya?" jantung Alvian berdegup kencang mendengar hal tersebut. Padaha Pak Satpam belum menyelesaikan ucapannya.


"Tidak terjadi apa-apa. Nona Aya pergi ke luar negri untuk... melanjutkan sekolahnya," sesuai permintaan terakhir Ayara. Itulah yang di katakan oleh si Satpam tersebut.


"Apakah Valentin ini dia tidak akan pulang?"


"Sepertinya tidak, karena Saya tidak mendengar dari orang-orang yang ada di rumah ini, jika dia akan pulang," dusta Pak Satpam meneruskan kebohongannya.


"Oh, yasudah! Kalau begitu Saya permisi. Terima kasih," dengan perasaan tidak menentu Alvian pergi meninggalkan kediaman mantan kekasihnya.


"Aya, apakah kau tidak kembali karena membenci diriku?" ucap pemuda itu menjalankan mobilnya menuju ke kompleks pemakaman ibu Ayara. Soalnya ketika dia dan Aya masih berpacaran. Alvian sering datang ke sana untuk menemani sang kekasih.


"Pak, apakah ada gadis yang datang ke makam istri Saya?" tanya Tuan Edward pada bapak penjaga makam. Soalnya dia terkejut melihat ada satu tangkai bunga Lili di atas makam sang istri.


"Entahlah, Tuan. ada begitu banyak pengunjung yang datang ke mari," jawab si bapak tersebut.


"Tapi sepertinya masih baru, bunganya juga masih segar," kata Tuan Edward penasaran. Dia berharap itu benar Ayara. Putri yang sudah dia usir dan sudah dua bulan ini dia mencarinya. Namun, tidak mendapatkan petunjuk apapun.


"Yang terakhir kali datang hanya dua orang wanita tua, empat laki-laki seumuran dengan Anda dan ibu-ibu muda bersama putrinya," kata si bapak melihat pada buku catatan miliknya.


Deg!


"Apakah ibu-ibu muda itu Ayara? Saat aku mengusirnya dia sedang hamil. Jadi besar kemungkinan itu benar putri dan cucuku. Berarti Ayara ada di kota ini. Tapi kenapa orang-orang ku tidak bisa menemukan mereka?" gumam Tuan Edward termangu mendengar kata ibu-ibu muda bersama anaknya.


"Permisi Pak, Saya mau membeli bunga Lili," ucap Alvian sudah menunggu dari tadi. Namun, Tuan Edward tak kunjung selesai bertanya.


"Ambil saja, Nak. Kebetulan hanya tersisa satu lagi," jawab penjaga makam menyerahkan bunga Lili pada Alvian.


"Kembaliannya ambil saja buat bapak," kata Alvian lebih dulu. Dia tidak memiliki banyak waktu. Makanya dia terburu-buru.


Walaupun tidak bisa bertemu Ayara yang katanya tengah menuntut ilmu di luar negeri. Setidaknya dia bisa mewakili mantan kekasihnya berkunjung ke makam ibunya.


Meskipun di hati kecil Alvian merasa heran dan tidak percaya. Bahwa Ayara tidak kembali di saat hari Valentine. Padahal biasanya gadis itu sangat rajin mengunjungi makam ibunya.


"Selamat sore Tante," ucap Alvian meletakan bunga yang ia bawa. Namun, ketika dia akan duduk. Matanya melihat sepatu kecil yang ada di samping makam. Namun, hanya sebelah kanan.


"Punya siapa? Lucu sekali," dia tersenyum sambil mengambilnya. Ia putar-putar untuk meneliti sepatu tersebut.


"Sepertinya milik anak perempuan. Siapa yang datang ke makam membawa bayi? Apakah ibu tiri Aya memiliki bayi lagi?" tanya nya berbicara sendiri. Lalu karena menyukai sepatu tersebut. Alvian memasukan kedalam saku Hoodie yang ia pakai.


Sebelum pergi, tidak lupa dia berdo'a dan meminta maaf karena sudah menyakiti Ayara. Gadis yang pernah menemani hari-harinya selama kurang lebih dua tahun.


Gadis itu jugalah yang membuat group boyband mereka bisa seperti sekarang. Ayara selalu menyemangati agar Alvian dan keempat sahabatnya terus berjuang. Namun, ketikan sudah berhasil. Ia di campakkan begitu saja.


Akan tetapi Ayara sudah mengikhlaskan semuanya. Meskipun hatinya selalu terasa di iris sembilu bila mendengar dan secara tidak langsung melihat para member ALV di televisi. Terutama pada Alvian, akan tetapi dia berhasil berjuang sampai sejauh ini.


Ayara mampu berdiri di tengah-tengah badai besar yang menerpanya. Apalagi sekarang dia tidak sendiri lagi, tapi ada Vania si buah hatinya.


...BERSAMBUNG......