I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Ingin Bertukar Posisi ( Ayara )



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


Setelah kepulangan Dokter Jessie. Nyonya Lili, dan Alvian sudah membawa Ayara keluar dari kamar tamu. Sudah seperti anak kecil Aya tidak boleh berjalan terlalu cepat oleh ibu mertua dan suaminya.


Padahal saat hamil Vania. Ayara harus bekerja agar bisa bertahan hidup. Itupun gajian hanya sekitar sepuluh dolar dalam satu Minggu nya dan ternyata Aya berhasil melewati itu semua hampir selama empat tahun.


Jadi ketika diperlakukan seperti sekarang Ayara merasa terlalu berlebih-lebihan. Namun, dia tidak bisa menolaknya karena tahu apa yang Alvian maupun mertuanya lakukan karena terlalu menyayangi nya.


"Sayang, selamat ya, Nenek sangat bahagia sekali akhirnya kau hamil lagi," ucap nenek Alvian memeluk cucu menantunya penuh kasih sayang yang tulus.


"Nenek, terima kasih. Aya juga sangat bahagia bisa mengandung cicit nenek lagi," jawab Ayara balas memeluk nenek dari suaminya.


"Kau tidak boleh kelelahan, ya. Bila ingin apa-apa bilang pada Alvin atau katakan pada kami semua," pesan beliau setelah melepas pelukannya dan Ayara.


"Iya, Nek. Bila ingin sesuatu Aya akan bilang pada kalian semua," jawab gadis itu tersenyum bahagia.


"Kakak ipar, selamat ya, akhirnya aku punya keponakan lagi. Aku berharap anak kalian kembar. Agar yang satunya bisa untukku saja," ucap Deri ikut memberikan selamat pada Ayara.


"Hey... kau pikir aku tidak bisa memberi anakku makan? Jangan kan kembar dua, kembar sepuluh pun aku sanggup. Enak saja mau minta satu," seru Alvian membuat Deri tersenyum lebar.


"Alvin, tadi Aya mau makan di Restoran yang kita datangi Minggu lalu. Pergilah bawa dia makan disana. Via biar Mama yang menjaganya. Tidak baik wanita hamil menahan keinginannya," ucap Nyonya Lili tidak melupakan bahwa sang menantu mau makan di luar.


"Tapi Ma, ini sudah malam. Alvin tidak mau Ayara kenapa-kenapa. Bukannya kata orang-orang papa ada yang mau menyakiti keluarga kita. Alvin---"


"Pergilah! Anak buah Papa akan menjaga kalian. Saat ini mereka sudah siap mengantarkan kemanapun yang kalian inginkan," sela Tuan Abidzar yang baru saja masuk setelah mengantarkan Dokter Jessie ke depan.


"Tapi---"


"Tidak ada tapi-tapian. Sudah cukup saat hamil Vania, Aya harus berjuang sendirian. Sekarang giliran mu memenuhi apa yang putri Papa mau," Tuan Abidzar kembali memotong ucapan anaknya.


"Buat apa kau memiliki banyak uang, apabila keluargamu tidak bisa bahagia. Mulai besok pagi tambah penjagaan. Cari bodyguard baru yang bisa dipercaya untuk melindungi anak dan istrimu," lanjut beliau lagi.


"Baik, Pa. Besok Alvin akan menyuruh Denis mencari rekannya yang bisa bekerja untuk menjaga Ayara dan Vania," jawab Alvian mengangguk patuh.


"Bagus! Apabila pekerjaan mu tidak bisa membuat kau bebas hidup bersama keluargamu. Maka tinggalkan saja. Papa tidak mau saat ingin keluar rumah saja harus memakai masker penutup wajah. Seperti buronan saja," kata beliau membuat semua menatap padanya.


"Maksudnya, Pa?" tanya Nyonya Lili tidak paham.


"Maksudnya, Papa tidak mau disaat Aya ingin ini dan itu. Tapi Alvin tidak bisa memenuhinya karena takut dikejar fans ALV. Tidak bisa bebas membahagiakan Aya. Papa tidak mau hal seperti itu sampai terjadi," keluh lelaki setengah baya itu yang langsung membuat Ayara berjalan mendekati beliau dan memeluknya sambil menagis.


"Papa... apakah Aya boleh menjadi putrimu saja. Aya mau bertukar posisi degan Alvin," tangis Ayara yang membuat Alvian, Vania dan Deri menjadi tertawa.


"Ha... haa.. Sayang, kau bicara apa?" tawa Alvian merasa lucu atas permintaan istrinya.


Kakak ipar, aku sangat mau jika yang menjadi anak papa adalah kakak. Bukan Kak Alvin," Deri ikut tertawa seraya mengejek Kakak nya.


"Enak saja, Kakak tetap anak papa dan kau menjadi anak Om Danuarta, itu baru cocok," cibir Alvian membuat Nyonya Lili tersenyum seraya mengelengkan kepalanya.


"Tapi Deri mau menjadi anak papa, jadi Kakak saja yang jadi anak Om Danuarta. Biar---"


"Kalian berdua yang akan menjadi anak Om Danuarta. Itupun jika dia mau punya anak laki-laki seperti kalian berdua. Aya adalah putri Papa, jadi kalian berdua..." Tuan Abidzar mengantung ucapannya dan menatap kearah Vania yang duduk di sofa bersama istrinya.


"Jangan apa sayang," tanyanya pada Vania.


"Tidak boleh tembulu, ya kan, Opa?" jawab si cantik balik bertanya.


"Nah benar sekali. Tidak boleh cemburu, karena mama Aya adalah anak perempuan Opa," Tuan Abidzar tersenyum seraya mengelus kepala Ayara yang sudah melepaskan pelukannya karena Aya pun menjadi tersenyum mendengar perdebatan Alvian dan Deri.


"Jangan menangis. Kau hanya boleh menangis karena bahagia. Percayalah Papa tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakitimu dan sampai kapanpun kau adalah anak perempuan Papa,," ucap beliau pada sang menantu.


Sehingga membuat Aya tersenyum lebar. Walaupu dia masih menangis. Bagaimana mungkin Aya tidak menangis bahagia. Kedua mertuanya selalu menggap dia adalah putri mereka sendiri, bukan sebagai menantu.


"Alvin, bawalah Aya pergi mencari makanan yang ia mau. Selagi belum terlalu malam," titah neneknya Alvian pada sang cucu.


"Baik, Nek. Kalau begitu kami pergi sekarang," jawab Alvian sudah menarik tangan Aya agar berdiri disampingnya.


"Alvin, sudah jangan dipaksa. Pergilah kalian berdua saja," kata Nyonya Lili mengelus kepala Vania yang duduk disamping beliau.


Sehingga Alvian dan Ayara pun milih untuk pergi berdua saja, tanpa ada sang putri. Setelah mendengar perkataan papanya jika orang-orang Rafael sudah siap mengantarkan mereka kemanapun. Membuat Alvian tidak takut membawa istrinya pergi makan malam diluar.


"Kita makan dimana?" tanya Alvian saat mobil mewahnya sudah dekat dari Restoran yang Aya katakan tadi. Untuk memastikan pemuda itu bertanya lebih dulu sebelum singgah. Takutnya Ayara berubah pikiran.


"Restoran di depan. Aku juga mau makan es krim," Ayara menjawab disertai senyuman karena sebetulnya sudah dari dua hari lalu dia mau makan di sana. Akan tetapi karena mereka berada di luar kota. Jadi ia tahan sampai mereka kembali.


Sehingga malam ini. Saat muntah-muntah tadi Ayara kembali mengigat makanan di Restoran tersebut.


"Oke, kita masuk sekarang. Tapi makan eskrim nya tidak boleh banyak karena ada baby didalam kandungan mu," ucap Alvian sudah melepas sabuk pengaman pada tubuh istrinya. Karena mereka sudah sampai.


"Iya, Papa yang tampan," jawab Aya membuat Alvian tersenyum dibuatnya.


Tidak banyak bicara, berhubung hari semakin malam. Alvian pun langsung membawa istrinya masuk ke Restoran tersebut. Lalu dia memesan makanan apa saja yang diinginkan oleh sang istri. Tidak lupa pemuda itu juga memesan es krim kesukaan mereka berdua.


Sedangkan para pengawal Tuan Abidzar sudah memberi penjagaan disekitar tempat meja Ayara dan Alvian. Begitu pula Denis si Bodyguard pribadi nya, yang siap pasang badan untuk melindungi bos nya.


Para pengunjung yang ada disana sibuk mengambil gambar Aya dan Alvian. Akan tetapi mereka mana berani, mendekat untuk mengajak foto bersama atau menyapa sang idola.


"Selamat malam, Nona Ayara, Ian ku yang tampan," ucap Manejer Restoran tersebut yang datang menyapa tamu pentingnya. Bersamaan dengan pelayan menyiapkan pesanan Alvian.


"Iya, malam juga," jawab pasang suami istri itu dengan ramah. Jika pada Alvian para fans memang selalu menyebut Ian. bukan Tuan Muda Rafael.


"Silahkan dinikmati makanan beserta eskrim nya. Apakah sekarang Nona Ayara sedang mengidam?" tebak Manejer tersebut yang merupakan seorang wanita berumur sekitar tiga puluh lima tahunan.


Soalnya mereka sudah mengatahui dari unggahan Alvian tadi siang yang mengatakan bahwa istrinya lagi hamil dan ternyata menjadi kenyataan.


"Iya, benar sekali. Istri Saya sepertinya lagi mengidam mau makan malam di sini," jawab Alvian seraya menatap pada istrinya.



"Benar kata papa, buat apa aku menjadi artis, memiliki karier setinggi langit. Apabila untuk hidup bersama istriku saja tidak bebas." gumam pemuda itu terus menatap pada Ayara yang terlihat sangat cantik dan mengemaskan bila dimatanya.


"Oh, syukurlah. Saya merasa ini adalah keberuntungan Restoran kami karena menjadi tempat pilihan calon pewaris Rafael berikutnya," ucap sang Manejer karena sudah pasti karena kedatangan Alvian dan Ayara malam ini.


Akan membuat Restoran tersebut dipenuhi oleh pengunjung. Terutama ibu-ibu hamil. Sekarang setiap hari selalu ada bayi baru lahir diberi nama Ayara. Agar memiliki keberuntungan dan kecantikan seperti istri sang idola.


"Semoga saja," kata Alvian menarik tisu untuk mengelap bibir Ayara yang terkena eskrim.


"Makan nasi nya. Kan tadi sudah janji makan eskrim nya sedikit dulu," tegur Alvian karena atas permintaan istrinya lah makanya Alvian langsung memesan eskrim.


"Haaa... sedikit saja," tawa Ayara karena dia jadi lupa untuk makan begitu melihat eskrim.


"Ian, Nona Ayara. Kami permisi dulu dan apabila kalian membutuhkan sesuatu panggil saja pelayan disini," pamit Manejer bersama pelayan yang mengantar makanan.


"Oke, terima kasih," Alvian yang menjawab singkat. Namun, matanya tetap memandang pada sang istri.


"Makan malam dulu ya, biar aku yang suapi," sebelum Ayara menjawab iya atau tidak. Alvian sudah mulai memotong daging dari piring miliknya.


"Alvin, ini untukmu, ya," ucap Ayara tersenyum lebar. Dia bertingkah seperti mana anak kecil.



"Iya, tapi makan dulu," jawab Alvian mulai menyuapi Ayara dan gadis itu tidak menolak.


"Dulu saat hamil princes, Aya juga bertingkah seperti ini. Tapi saat itu aku tidak tahu jika dia sedang mengandung hasil percintaan kami. Ya Tuhan... aku benar-benar bahagia akhirnya bisa merasakan seperti apa menjadi seorang ayah saat istrinya mengidam."


Alvian kembali bergumam sambil menyuapi istrinya dan dia sendiri. Sehingga moments tersebut langsung diabadikan oleh pengunjung Restoran.


"Al, sudah aku tidak mau makan lagi," tolak Ayara saat Alvian masih mau menyuapinya.


"Sedikit lagi ya, ini terlalu sedikit. Tidak baik untuk kesehatan mu dan calon anak kita," jawab Alvian membujuk Aya. Hal tersebut pun berhasil karena Ayara mau menurutinya.


"Brengsek! Aku harus mendatangi Restoran ini. Enak saja mereka semakin bahagia, sedangkan aku harus hancur sendirian," maki seseorang setelah melihat berita Alvian dan istrinya makan malam di Restoran mewah.


...BERSAMBUNG......