I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Tidak Mampu Membuatnya Bahagia.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


"Ayo duduklah, Nak," ucap Nyonya Lili karena melihat menantunya hanya diam saja.


"Iya, Ma. Tapi Via kemana?" tanya Aya karena tidak ada putrinya disana. Tidak ada niatan gadis tersebut untuk menyapa Tuan Edward sebagai ayah maupun kepada keluarga Wilson yang lainya.


"Via lagi bermain bersama Om Deri nya. Biarkan saja dia bermain, karena Via tidak boleh mendengarkan ini semua," imbuh wanita setengah baya yang selalu terlihat sangat cantik itu. Dia sudah menarik pelan tangan Aya dan diajak duduk diantara dia dan Tuan Abidzar suaminya.


Begitu pula dengan Alvian. Pemuda itu duduk disebelah papanya. Jadi dia dan Aya duduk diapit oleh kedua orang tuanya.


"Ayara, jadi seperti ini kelakuanmu setelah memiliki suami? Kau melupakan keluargamu sendiri karena merasa sudah menjadi kaya?" ucap ibu dari Tuan Edward dengan sengitnya.


Sehingga membuat Ayara tersenyum saat mendengarnya. Sungguh menggelikan sekali. Sekarang mereka bersikap seolah-olah Ayara adalah gadis yang durhaka pada keluarga besar Wilson. Padahal sejak Aya ditinggal pergi oleh sang mama untuk selama-lamanya.


Tidak ada satupun keluarga sang ayah yang mengakui dia berdarah Wilson. Hanya Tuan Edward saja yang masih menganggapnya anak, karena mungkin beliau bingung harus membuang Aya kecil kemana. Bila bukan dibesarkan oleh pembantunya.


"Saya tidak memiliki keluarga lagi, Nyonya Wilson," jawab Aya degan tegas. Gadis itu bukan memangil nenek lagi. Akan tetapi Nyonya Wilson. Seperti permintaan wanita itu sejak dulu yang selalu menyuruh Ayara memangil nyonya, bukan nenek.


Jadi hari ini Ayara hanya tinggal mengikuti perkataan wanita tua yang tidak pernah tahu diri juga sampai sekarang.


"Ayara!" bentak wanita tua itu degan berapi-api. Sungguh dia tidak merasa malu dan segan pada Tuan Abidzar maupun Alvian yang masih diam saja sambil mendengarkan.


"Iya, nama Saya adalah Ayara Febriani Jasmeen. Tidak ada nama Wilson di nama belakang Saya. Lalu atas dasar apa kita memiliki hubungan," Aya yang mengigat bahwa ternyata selama ini hanya diakui anak dari seorang tukang kebun. Akhirnya kembali menatap nenek, ayah, ibu tirinya, dan juga satu orang adik Tuan Edward. Dengan tatapan tak menentu.


Sakit hati telah dikucilkan oleh keluarganya sendiri. Terluka karena sang ayah tidak mengakui dia sebagai anak kandung. Rasa pedih dan segalanya telah menjadi satu.


Meskipun Aya tidak dinikahi oleh Alvian. Gadis itu tetap akan menantang keluarga Wilson. Ayara sudah melupakan status di antara mereka dari semenjak meninggalkan kediaman Wilson. Yaitu dalam keadaan sakit dan mengandung Vania.


"Ayara, Papa minta maaf karena hari itu sudah---"


"Anda tidak bersalah, Tuan. Saya sangat bahagia dan berterima kasih karena kalian mengusir Saya," sela gadis itu sebelum Tuan Edward menyelesaikan ucapannya.


"Terima kasih karena Anda sudah membiarkan Saya tingal di kediaman mewah kalian. Saya minta maaf karena telah merepotkan Anda. Sekarang diantara kita tidak pernah ada hubungan apa-apa lagi. Apa yang membuat kali---"


"Ayara, sayang apa begini balasan mu pada kami semua? Gara-gara sudah menjadi menantu dari keluarga Rafael. Kau tidak mengakui nenek dan papa mu lagi? Jika padaku wajar kau tidak suka, karena aku hanya sebagai ibu tiri," Rose ibu tiri Ayara yang sudah biasa bersandiwara mulai menangis.


Seakan-akan dia sangat menyayangi Ayara saja. padahal tujuan dia dan ibu mertuanya ingin membawa Ayara pulang adalah. Agar bisa merebut Alvian untuk Arianti yang saat ini sedang kacau karena tidak terima Ayara menikah dengan pemuda yang dia idolakan.


"Nyonya Rose, maaf! Saya bukan ingin melupakan kebaikan kalian. Namun, Saya memang bukan bagian keluarga Wilson. Saya punya buktinya," ucap Ayara menoleh kearah suaminya.


"Sebentar, biar aku suruh Denis mengantarkan berkasnya ke sini," Alvian yang mengerti langsung menelepon Denis. Si bodyguard nya yang saat ini berada di rumah khusus, bagi para penjaga keluarga Rafael.


📱 Alvian : "Denis, cepat antarkan berkas Nona kedalam," ucap Alvian memberikan perintah dan langsung memutuskan sambungan telepon nya secara sepihak.


"Tuan, Edward. Mohon maaf, Aya memang kalian yang membesarkannya. Namun, dia bukan putri Anda. Jadi kalian tidak ada hak untuk membawanya pergi dari sini," kali ini Alvian yang berbicara.


Sebab ketika mendengar Ayara berbicara bahwa memiliki bukti. Tuan Edward dan semuanya terdiam tidak berani berbicara lagi.


"Permisi," tidak sampai dua menit. Denis sudah datang dengan dokumen di tangannya dan langsung diserahkan pada Alvian.


"Iya, terima kasih dan kau pergilah istirahat." jawab Alvian pada bodyguard pribadinya dan dia mengeluarkan akte kelahiran Ayara.


"Di sini Ayara Febriani Jasmeen adalah anak dari Jasmeen Amarta dan suaminya bernama Rusdi Bahalwan. Ayara adalah anak kandung mereka berdua," Alvian membaca data tersebut. Lalu dia serahkan pada Tuan Edward.


Agar pria itu tahu dan melihat sendiri bahwa semua data tersebut asli tidak ada yang direkayasa.


"Aya, ini... tidak benar, Nak. Kau adalah putriku dan data ini semua tidak ada yang benar. Jasmeen adalah istri pertama ku dan kau adalah putri kami berdua," tangan Tuan Edward bergetar setelah membaca akte kelahiran putri yang telah dia sia-siakan.


Braaak!


"Siapa Anda berani sekali ingin membawa putri Rafael pergi dari sini? Ayara bukan anak Edward dan... apa tadi? Anda bilang berapa banyak mengeluarkan biaya untuk membesarkannya?" tanpa disangka-sangka. Tuan Abidzar yang sejak tadi terlihat sangat tenang langsung marah. Setelah mendengar perkataan ibu dari Tuan Edward.


"Haaa... ha... Setelah enam bulan Jasmeen dan Edward menikah. Bukannya dia sudah menampakkan saham sebesar empat puluh persen? Lalu dimana saham itu sekarang?" tawa sumbang Tuan Abidzar yang sudah sejak tadi menahan kesal.


"Saya adalah seorang pengusaha dan dari peningkatan perusahaan Wilson selama ini. Bila ditotalkan Ayara setidaknya harus mendapatkan Delapan puluh ribu dolar setiap bulannya. Apakah kalian telah membagi hasil itu? Atau kalian telah merampas harta gadis yatim yang ditinggal mati oleh ibunya ini?" tanya Tuan Abidzar menunjuk pada Tuan Edward degan tangan kirinya.


"Jasmeen memilihmu karena mengira kau adalah laki-laki sejati, Edward. Tahu-tahunya dia hanya menikah dengan seorang pecundang. Kau bodoh tidak berani menantang wanita seperti ibu mu. Bukan seperti itu caranya bila kau memang mencintai Jasmeen," cibir Tuan Abidzar.


"Siapa Anda sebenarnya? Apakah Anda mengenal Jasmeen? Dan dari mana Anda tahu jika dia memiliki saham empat puluh persen di perusahaan Wilson?" Tuan Edward meluruskan cara duduknya dan menatap besannya penuh tuntutan pertanyaan.


"Saya adalah saudaranya. Saya tahu Jasmeen memiliki saham bukan dari Aya. Apakah kau tidak tahu siapa orang yang telah mempunyai saham lima puluh enam persen di perusahaan Wilson?"


"A--apakah Tuan Remon adalah anak buah Anda?" tebak adik laki-laki Tuan Edward.


"Tentu saja. Kalian pikir Saya akan diam saja setelah apa yang kalian lakukan pada Jasmeen? Haa.. haa.. sekarang keselamatan perusahaan Wilson. Berada pada keputusan kalian semua. Terutama kau, Edward," seru Tuan Abidzar tersenyum penuh kemenangan.


"Apa maksudnya? Apa yang Anda inginkan? Kenapa---"


"Saya ingin kalian menjauhi menantuku. Kau seorang pengusaha hebat Edward. Pasti paham apa yang terjadi bila Saya menarik saham Avander dari perusahaan Wilson. Hanya dalam waktu satu jam," jawab Tuan Abidzar semakin tersenyum penuh kemenangan.


"Edward, apa yang dia bicarakan? Bagaimana perusahaan kita akan hancur hanya ga---"


"Semua ini karena anak tidak tahu diri itu. Aku menyia-nyiakan putriku sendiri dan membesarkan anak tidak tahu diri seperti Rendra. Dia telah menghabiskan banyak uang perusahaan untuk judi," seru Tuan Edward karena perusahaan Wilson memang hampir bangkrut gara-gara anak tirinya.


"Edward, jadi---"


"Jika kalian mau berdebat tentang masalah keluarga Wilson. Maka silahkan selesaikan dirumah kalian sendiri," ucap Tuan Abidzar berdiri dari tempat duduknya dan berjalan kearah jendela rumah megah tersebut.


"Edward, Avander group tidak ingin meminta hasil saham Saya maupun saham milik Jasmeen. Selagi kalian tidak menganggu Ayara. Namun, bila kalian menimbulkan masalah sekecil apapun itu. Saya akan menarik semuanya. Termasuk saham miliki Jasmeen," ancam Tuan Abidzar yang melakukan semuanya karena ingin melindungi kehidupan menantunya.


Biarlah Aya dikenal oleh dunia sebagai anak seorang pembantu. Asalkan tidak berhubungan dengan keluarga Wilson lagi.


"Pa, apa yang Rendra---"


"Kita bicarakan di rumah. Sekarang ayo kita pulang," sela Tuan Edward yang tahu kemana arah pembicaraan Tuan Abidzar.


"Tapi Edward, kita harus membawa---"


"Apakah ibu mau malam ini kita semua tingal di jalanan? Apakah kalian tahu bila ditambah dengan saham Jasmeen, yang empat puluh persen. Maka perusahaan Wilson telah dikuasai oleh Perusahaan Avander group," Tuan Edward kembali menyela ucapan ibunya.


"Tuan Abidzar, Sekarang Saya akan pulang dulu. Namun dalam satu Minggu ini, Saya akan datang lagi dan membahas madala saham kalian," ucap pria setengah baya itu yang tetap terlihat gagah karena beliau memang sangat tampan.


Makannya Jasmeen Almarhumah mama Ayara menyukainya. Hanya saja Tuan Edward selalu dikendalikan oleh ibunya dan tidak memiliki pendirian sama sekali.


"Edward, apa---"


"Ibu, tolong jangan uji kesabaran ku lagi. Sudah cukup kekacauan yang kalian buat. Lagian aku datang ke sini hanya ingin memastikan putriku hidup bahagia atau tidak," lelaki itu membentak ibunya yang selalu mengaturnya.


"Aku sudah berdosa pada Jasmeen dan berdosa pada putriku sendiri. Jadi aku tidak akan pernah membuat Aya menderita lagi. Aku tidak bisa membahagiakan dia. Maka biarkan Tuan Abidzar dan... Alvian yang membahagiakan Aya," lanjut beliau lagi yang sudah lama menyesali perbuatannya.


"Aya, tolong maafkan Papa, Nak. Apa yang kau lakukan sekarang sudah benar. Papa sangat menyesal karena terlalu lemah tidak bisa tegas sebagai seorang suami maupun ayah," setelah berkata demikian Tuan Edward langsung keluar dari rumah mewah tersebut. Diikuti juga oleh ibu, istri dan adik beliau.


"Pa, apakah Papa telah memiliki saham di perusahaan Wilson?": tanya Nyonya Lili pada suaminya.


"Iya, jika kita tidak memiliki senjata untuk melawan mereka. Maka Ibu dari Edward maupun istrinya akan terus mencari kesempatan buat menyakiti Aya," jawab Tuan Abidzar yang tersenyum puas melihat keluarga Wilson bergantung hidup padanya.


... BERSAMBUNG... ...