
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
Dua hari kemudian.
Keadaan Tuan Edward sudah membaik. Hanya saja beliau belum diperbolehkan pulang. Selama dua hari itu pula Renata dan Lula yang menemani beliau.
Apa yang dilakukan oleh Lula dan Renata adalah untuk membalas kebaikan Ayara. Mereka benar-benar tidak tahu bagaimana caranya membalas kebaikan yang dilakukan oleh Tuan Abidzar dan Alvian.
Sedangkan Ayara sendiri setelah kejadian hari itu belum ada datang ke rumah sakit lagi. Memang bagi orang lain tidak sulit untuk memberi Tuan Edward maaf. Namun, bagi Aya yang terlanjur dilukai tentu tidak semudah membalikan telapak tangan untuk membuka pintu hatinya supaya bisa memaafkan sang ayah.
Bukan hanya itu saja sampai sekarang Tuan Edward pun belum mengetahui jika Marlin wanita yang dianggap sebagai ibu kandungnya selama ini. Sudah mendekam di dalam penjara bersama adik wanita itu dan juga Rose mantan istri beliau.
Sebab Tuan Abidzar sendiri yang akan memberitahu beliau hari ini. Beserta dengan bukti-bukti lengkap yang sudah didapatkan termasuk bukti atas perencanaan membunuh Jasmeen, mama Ayara.
📱 Alvian : "Iya, Pa?" ucap Alvian begitu mengangkat panggilan telepon dari papanya.
📱 Tuan Abidzar : "Papa saat ini sudah dalam perjalanan menuju ke rumah Tuan Edward. Apakah kau dan Aya jadi menyusul ke sana?"
📱 Alvian : "Tentu saja jadi, ini Alvin lagi menunggu Aya menemui Via di kamar mama," pemuda itu menjawab cepat.
📱 Tuan Abidzar : "Oh, syukurlah! Yasudah, kalian hati-hati. Papa hanya takut keadaan Tuan Edward akan drob setelah mengetahui kebenaran tentang keluarganya,"
📱 Alvian : "Iya, Pa. Maka dari itu Alvin mengajak Ayara menyusul kalian,"
📱 Tuan Abidzar : "Baiklah, ini Papa sudah sampai di rumahnya," setelah itu beliau langsung memutuskan sambungan telepon mereka.
"Apakah Lula dan Renata ikut pulang ke sini?"
"Iya, Tuan. Mereka ada di sini tidak jadi kembali ke Apartemen," jawab pengawal yang membuka pintu mobil buat Tuan Abidzar.
"Syukurlah, kalian carikan pengawal yang bisa menjaga keamanan tempat ini," titah beliau seraya berjalan masuk ke dalam rumah tersebut.
"Selamat sore," ucapnya begitu tiba di ruang keluarga. Karena mereka lagi berkumpul di sana.
"Selamat Sore juga," jawab semuanya serempak. Termasuk Tuan Edward.
"Tidak apa-apa. Saya datang karena ingin menyerahkan ini kepadamu. Buka dan bacalah dengan teliti. Apabila kurang jelas maka putar saja rekaman suara itu," Tuan Abidzar menyerahkan amplop besar pada tangan Tuan Edward.
"Amplop apa ini, kenapa sepertinya berat sekali?"
"Baca saja, nanti Anda akan tahu sendiri," jawab Tuan Abidzar karena dia sendiri bingung untuk menjelaskan pada besannya. Entah dari mana mulainya karena menurut beliau masalah tersebut sangat rumit.
"Baiklah! Ayo silahkan duduk. Bukannya rumah ini ada milik, Anda. Mak---"
"Ini bukan milik Saya, melainkan punya Ayara," sela Tuan Abidzar karena dia memang tidak pernah menginginkan rumah tersebut.
Tuan Edward yang mendengarnya hanya mengangguk kecil disertai senyuman. Sebab beliau sangat bersyukur pada Tuhan karena rumah tersebut dibeli oleh putrinya sendiri. Pada dasarnya memang milik Tuan Edward dan Jasmeen.
"A--apa maksudnya? Dari mana Anda mendapatkan semua ini?" tanya Tuan Edward terbata-bata.
Setelah membaca semua bukti-bukti hubungan beliau dan Marlin yang tidak ada ikatan darah sama sekali. Tidak tanggung-tanggung memang. Tuan Abidzar mengumpulkan bukti tanpa ada yang terlewatkan.
"Dari Tim penyidik, semua ini adalah nyata. Marlin dan Rose mereka bekerja sama untuk melenyapkan kedua orang tuamu dan juga sahabatku," saat menyebutkan kata sababatku. Terdengar suara Tuan Abidzar begitu sendu.
"Sahabat?" ulang Tuan Edward menatap lekat besannya.
"Iya, Jasmeen adalah sahabat baikku. Kami putus kontak yang terakhir adalah saat dia mengatakan mau menikah dan aku benar-benar tidak menyangka bahwa dia di perlakukan begitu buruk. Untungnya kau bukanlah putra Marlin. Karena apabila kau adalah anak kandungnya, aku tidak akan pernah melepaskan mu," ungkap Tuan Abidzar yang sudah tidak memakai bahasa formal lagi.
"Aku bodoh begitu takut pada ibuku. Aku tidak bisa memilih Jasmeen karena---'
"Kau menganggap Marlin adalah ibu kandung mu. Kau tidak mau kehilangan orang tua lagi karena masih trauma kehilangan Tuan Wilson?" sela Tuan Abidzar degan tebakan yang benar.
"Iya, jadi ini sebabnya mereka tidak ada yang datang menjenguk ku kerumah sakit. Saat ayahku mengalami kecelakaan, aku baru kelas tujuh dan semenjak itu aku hanya memiliki Marlin dan kedua adikku yang ternyata mereka bukan keluargaku," Tuan Edward berhenti sesaat.
"Bagaimana mungkin bi--bisa seperti ini. Aku benar-benar menyayangi mereka. Jadi Tante Arumi adalah ibu kandung ku yang sebenarnya dan Marlin wanita yang melenyapkannya. Brengsek! Kenapa bisa seperti ini," laki-laki setengah baya itu menangis seperti mana anak kecil.
Sekarang hidupnya benar-benar sudah hancur berkeping-keping. Tidak tersisa sama sekali. Sudah kehilangan keluarga kandung, istri yang dia cintai dan anak kandungnya juga.
"Iya, inilah kenyataannya. Saat kau masih kecil ibu mu meninggal oleh Marlin. Lalu setelah kau menikah dan memiliki seorang putri, Rose dan Marlin bekerjasama untuk melenyapkan Jasmeen," jawab Tuan Abidzar yang merasa lega karena masalah keluarga menantu kesayangan nya sudah hampir selesai.
"Aku kehilangan putriku karena mereka semua. Aku sudah kehilangan Jasmeen dan Ayara karena kebodohan ku yang percaya pada---"
"Tapi... Anda masih memiliki Saya,"
... BERSAMBUNG... ...