I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Masih Menunggu.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


Praaank!


Duarr!


Suara ledakan dari mobil box yang hampir menabrak Bara. Namun, nasib baik masih berpihak padanya karena anak buah Tuan Abidzar menyelamatkan pemuda itu.


"Tuan Bara, Anda baik-baik saja?" serunya memeluk tubuh Bara sampai mereka berdua terbaring diatas emperan ruko. Untungnya lagi selain Bara memakai masker penutup wajah, di sekitar tempat tersebut hanya ada pemilik toko dan beberapa pengendara yang melihat kejadian naas tersebut.


"Aku baik-baik saja, terima kasih!" jawab Bara menahan perih pada telapak tangan kirinya yang gores karena dia tidak sengaja kena benturan semen.


"Tapi---"


"Tidak apa-apa ini hanya luka kecil." katanya seraya menatap pada bapak pemilik toko bunga. "Apakah bapak memiliki perban untuk luka. Jika punya Saya mau membelinya." Bara yang takut waktunya terbuang sia-sia memilih untuk mengobati seadanya.


"Ada Tuan, Anda tidak perlu membelinya karena kebetulan bapak mempunyai yang sisa." jawab si pemilik toko seraya menuntun Bara untuk masuk kedalam.


"Kau tolong bantu orang-orang diluar dan bawa mobilku pergi menjauh dari sini. Aku akan menaik taksi." titah Bara karena tidak mau kehadirannya menjadi sorotan. Sekarang dia mau bertemu Lula jadi tidak mau menangapi para fans maupun wartawan.


"Baik, Tuan. Tapi---"


"Aku baik-baik saja karena hanya mau menemui Lula. Katakan pada Om Abidzar bahwa aku tidak mungkin berbuat macam-macam."


"Huem... baiklah! Saya pergi dulu." pengawal tersebut langsung menuruti permintaan Bara karena dia juga memikirkan hal yang sama.


Setelah tangannya diperban, Bara pun membeli satu buket bunga mawar berwarna putih. Namun, dia membayarnya dengan harga lima kali lipat dari biasanya.


Begitu selesai urusannya, Bara pun pergi mengunakan taksi dengan bantuan bapak pemilik toko. Dia melewati pintu belakang agar tidak ada yang curiga, karena tangannya di perban.


Selama didalam taksi perasannya gelisah seperti mana baru mau bertemu pacar untuk pertama kalinya. Padahal hanya ingin berjumpa dengan istri yang pergi meninggalkan dia hampir tiga bulan lamanya.


"Lula... aku sangat merindukanmu."


Ucapnya tersenyum bahagia. Rasa bahagia bercampur sedih itulah yang Bara rasakan. Karena mengenang perbuatannya pada Lula.


"Jam lima lewat sebelas." dia melirik jam tangannya. Tidak menyerah Bara terus menunggu dan dia juga mengelilingi taman. Takutnya apabila Lula sudah berada di dalam tempat tersebut.


"Sayang, datanglah! Aku menunggumu."


Bara menunduk menatap buket bunga mawar pada tangannya.



Akan tetapi semua itu tidak benar. Lelah dia berjalan tidak menemukan istrinya dan balik lagi menunggu di depan pintu masuk taman. Hingga jam setengah tujuh malam nyatanya Lula tidak ada juga.


Hatinya yang bahagia mulai merasa kecewa. Namun, tidak bisa berbuat apa-apa. Nomor ponsel Lula juga tidak bisa dihubungi.


"Lula, apakah kau tadi hanya bercanda?" tanyanya pada diri sendiri. "Sudah beberapa jam aku disini tapi kenapa kau tidak datang juga?" tidak mau menyerah Bara tetap menunggu kedatangan Lula yang lupa pada janjinya. Saat jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam wanita itu baru ingat dan meminta bodyguard mengantarnya ke taman yang kebetulan tidak terlalu jauh dari rumah tersebut.


"Nona, sepertinya Tuan Bara tidak datang, di sekitar sini tidak nampak ada mobil miliknya." ucap Bodyguard tersebut ketika mobil mereka melewati parkiran mobil.


"Sepertinya iya, kita lurus saja. Mana tahu dia tidak mengunakan mobil pribadi dan... masih ada di sini." jawab Lula ragu pada perkataannya sendiri.


Sang bodyguard menuruti perintah Lula. Mereka mengelilingi taman bagian depan dan pada saat hampir melewati gerbang, nampak lah Bara yang duduk menatap kecewa pada bunga mawar putih di pangkuannya.


"Dia masih menungguku." gumam wanita itu dengan perasaan tidak menentu. "Biarkan aku turun sendiri, kau tunggu saja di mobil!"


"Tapi Nona, bagaimana bila---"


"Tidak apa-apa. Bara tidak mungkin menyakitiku lagi." sela wanita tersebut. Membuat bodyguard membiarkan dia turun sendirian.


"Bara..." ucap Lula dengan suara tercekat didalam tenggorokan.


"Lula!" Bara langsung berdiri karena merasa ada yang menatap padanya. "Akhirnya kau datang juga." lirih Bara berjalan mendekati Lula. Namun, dia tidak berani mau langsung memeluk sang istri untuk meluapkan rasa rindunya.


"Aku kira kau tidak akan datang." jawab Lula mendekap erat switer yang dia pakai. Agar Bara tidak mengetahui jika perutnya mulai membesar. Karena sekarang kehamilan Lula sudah masuk ke tiga bulan juga.


"Mana mungkin aku tidak datang. Aku datang sejak pukul setengah empat." Bara diam ditempatnya berdiri sekitar dua meter dari Lula.


"Kau terlihat lebih gemuk setelah tinggal bersama keluarga Rafael." pujinya lagi dan diangguki oleh wanita itu.


"Ya, karena aku tidak pernah hidup tertekan seperti bersama mu." perkataan Lula membuat Bara diam. Sebab apa yang diucapkan adalah benar.


...BERSAMBUNG......