I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Menyewa Rumah. ( Aya )



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


Satu bulan kemudian.


Ayara sudah mulai bisa melakukan beberapa pekerjaan. Sekarang dia bertugas membantu Lula sahabatnya merangkai bunga sesuai permintaan para pelanggan mereka.


Untuk saat ini dia juga masih menumpang di rumah sewa Lula. Gadis yang sudah menjadi sahabat baiknya. Semenjak dia bekerja di Toko bunga milik Bibi Atika, suami wanita paruh baya itu tidak pernah datang ke Toko lagi.


Sekarang Ayara hanya ingin mengumpulkan uang walaupun hanya sedikit demi sedikit. Dia ingin menyewa rumah yang tidak jauh dari tempat dia bekerja juga. Namun, berbeda arah dari rumah Lula. Uang sewa rumah tersebut tiga puluh dua Dolar dalam satu bulannya.


Akan tetapi pasilitas di dalam rumah tersebut sudah lengkap dan tingal menempati saja. Rumahnya juga dibersihkan setiap hari, sebab pemilik rumah itu masih tinggal di wilayah itu.


Bukan Ayara tidak mau tinggal serumah dengan Lula. Hanya saja dia merasa tidak enak pada ibu dan ayah Lula yang terkadang datang ke sana untuk menjenguk putri mereka. Gara-gara Aya tinggal disana, mereka tidak pernah menginap lagi. Hal itulah yang membuat Ayara semakin tidak enak.


Rencananya setelah gajian hari ini Aya akan pindah ke rumah barunya. Lagian wanita hamil sering lapar dan ingin makan saat malam hari. Bila Aya masih tinggal di tempat Lula. Gadis itu sering menahan lapar karena malu untuk makan disaat Lula lagi tidur.


Meskipun mereka membeli bahan makanannya dibagi dua. Ayara adalah orang yang banyak merasa tidak enaknya. Makanya dia menjadi tidak betah tinggal serumah dengan orang lain. Meskipun Lula sangat baik dan tidak pernah mempermasalahkan dia mau makan berapa kali dalam satu malam.


Sebab jika disiang hari mereka berdua makan di Toko Bibi Atika. Bos mereka itu selalu membawa banyak makanan yang cukup untuk mereka bertiga. Apalagi semenjak Aya bekerja disana, Toko Bibi Atika menjadi semakin ramai pengunjung yang membeli bunga-bunga segar.


Makanya Lula selalu menyebut bahwa Ayara adalah pembawa rezeki bagi Toko mereka. Tidak hanya Lula yang berkata seperti itu, tapi juga Bibi Atika sendiri.


"Ara, Lula kemarilah!" panggil Bibi Atika. Atas permintaan Lula, wanita paruh baya itu juga memangil Aya dengan sebutan Ara. Kayanya agar Aya bisa melupakan masa lalunya yang begitu menyakinkan.


"Iya, Bibi, tunggu sebentar! Kami lagi membereskan bunga pesanan Bibi Erin," sahut kedua gadis itu yang bekerjasama agar cepat selesai.


"Ada apa Bibi memangil kita, tumben sekali," tanya Aya sambil merangkai bunga Lili yang sudah dipesan.


"Aku rasa mau memberikan upah kita," jawab Lula dengan semagat empat limanya. Rencananya setelah menerima gaji hari ini, dia akan pulang ke rumah orang tuanya.


"Tapikan biasanya sore, sekalian saat kita mau pulang," semenjak bekerja di sana Ayara memang sudah tiga kali menerima gaji. Sebab mereka memang gajiannya setia akhir pekan. Meskipun tidak banyak, tapi saat gajian keduanya Aya bisa memeriksa kandungannya di rumah sakit yang ada di kota itu.


Ya, gadis itu sudah pernah memeriksa dia hamil atau tidak dan ternyata dia memang tengah mengandung delapan Minggu, pada waktu itu. Berarti sekarang sudah masuk Minggu ke dua belas.


Soalnya perut kecil Aya juga sudah mulai membuncit. Jadi bila dia memakai baju kaos milik Lula. Maka orang-orang yang melihatnya akan langsung tahu bahwa dia lagi hamil.


"Apakah sudah selesai?" tanya beliau karena dia sangat tahu jika Lula dan Ayara adalah pekerja keras. Contohnya saat makan siang, apabila sudah waktunya untuk istirahat. Apabila pekerjaan mereka belum selesai, maka tidak akan mau meskipun sudah telat sampai setengah jam kemudian.


"Sudah Bibi, takutnya Bibi Erin akan mengambilnya sekarang," yang di jawab oleh Aya. Apabila Tuan Edward ataupun Alvian melihat Ayara yang sekarang. Mereka pasti tidak akan percaya bahwa gadis itu adalah Aya yang mereka kenal.


Sekarang selain bisa bekerja merangkai bunga. Aya juga sudah bisa memasak ala kadarnya, meskipun rasanya tidak enak setidaknya untuk membuat kenyang perutnya dia sudah bisa.


Setiap sore, setelah pulang bekerja. Lula selalu dengan sabar mengajarinya cara memasang nasi dan makanan yang gampang-gampang saja. Apalagi saat diawal, garam, gula dan bumbu penyedap lainya Ayara tidak tahu. Sebab selama ini dia memang hanya tahu tinggal makan saja.


"Sekarang ayok duduklah! Bibi mau memberikan upah buat kalian Minggu ini," titah wanita paruh baya itu sambil mengeluarkan dompetnya.


Ayara dan Lula yang disuruh duduk pun langsung saja menurut seperti biasanya.


"Lula, ini gaji buat kalian Minggu sekarang, dan ini buat Ayara," ucap beliau tidak pernah membeda-bedakan gaji keduanya. Sebab yang namanya bekerja, meskipun belum bisa tetap saja lelah.


"Bibi kenapa banyak sekali?" tanya Ayara menghitung uang tersebut. Biasanya hanya dua belas Dolar. Namun, hari ini ada dua puluh Dolar. Lebih dari delapan Dolar dari gaji yang sebelumnya.


"Sisanya adalah bonus buat kalian berdua yang selalu kompak dan sangat rajin," tutur wanita itu dengan senyuman di wajah tuanya.


"Tapi Bibi, gaji kami yang sebelumnya sudah lebih dari cukup. Setiap hari Bibi memberikan kami berdua makan," meskipun butuh uang banyak, tapi Aya tidak mau memaafkan kebaikan Bibi Atika.


"Tidak apa-apa, Nak. Kalian terima saja. Lula mau pulang selama dua hari, sedangkan kau mau membayar sewa rumah mu. Jadi terima uang, hanya ini yang bisa Bibi berikan. Kebetulan sekali pendapatan kita meningkat tujuh puluh persen, makanya Bibi memberikan kalian bonus," papar Bibi Atika panjang kali lebar.


"Tapi Bibi, jika untuk membayar sewa uang Saya masih ada. Dan gaji ini untuk bekal Saya sel---"


"Aya, sudahlah! Kita terima saja. Lagian bukannya kau bilang jika ada uang mau membeli baju yang longgar dan juga daster ibu hamil untuk dirimu ketika dirumah? Nah jadi anggap saja ini rezeki anakmu," jelas Lula yang tidak heran diberikan bonus. Bibi Atika memang orang yang sangat baik, jadi tidak heran lagi.


"Betul kata Lula, Nak. Jika tidak lebih, maka Bibi tidak akan memberikan bonus pada kalian berdua," sambung wanita tersebut.


"Iya, baiklah! Nanti setelah membeli keperluan untuk sehari-hari. Saya mau membeli beberapa lembar baju daster dan kaos," akhirnya Aya menerima uang tersebut.


"Bagus sekali, sekarang kalian berdua pulang saja selagi masih siang. Toko ini biar Bibi yang bereskan sekalian menunggu Bibi Erin menjemput bunga nya," suruh beliau lagi karena rumah orang tua Lula sangat jauh. Sedangkan Aya tentu harus beberes tempat tinggal barunya.


"Benarkah Bibi? Jadi kami boleh pulang sekarang," seru mereka berdua girang.


"Tentu, pergilah pulang sekarang. Selesaikan urusan kalian dan besok kita semuanya akan libur. Soalnya Bibi juga ingin pergi ke rumah anak kedua Bibi," jelas wanita itu tersenyum bahagia.


Di usianya yang sudah lima puluh tahun. Bisa membantu gadis-gadis seperti Lula dan Ayara sudah membuat beliau merasa bahagia.


...BERSAMBUNG......