
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
Selam perjalanan menuju ke tempat yang akan mereka datangi. Ayara terus memeluk tubuh kecil putrinya yang sesekali ia cium penuh kasih sayang.
Begitu dia menaiki mobil bus untuk sampai ke arah tujuan. Seluruh siaran televisi yang ada di dalamnya selalu menyiarkan tentang Grup Boyband ALV yang saat ini berada di kota mereka.
Suara emas Alvian dan keempat sahabatnya pun terdengar nyaring di telinga Ayara. Tanpa melihat langsung sosok pemilik suara itu saja. Ayara sudah tahu, karena dulunya saat mereka latihan. Aya lah yang selalu setia menemani.
Namun, dia seakan bermata buta dan bertelinga tuli untuk berpura-pura tidak kenal dengan mereka semua.
"Taman Danau Soraya, adakah yang mau turun?" teriak si kernet bus memperingati para penumpangnya, begitu mereka akan berhenti di halte bus tersebut.
"Sayang, kita sudah sampai! Ayo turun, Nak," ajak Aya sambil menuntun tangan putrinya yang ingin berjalan sendiri.
"Hei gadis kecil, kau pintar sekali. di usiamu yang masih kecil sudah tidak ingin digendong," ucap si kernet seraya memberikan Vania satu tangkai permen lolipop dari saku jaket yang ia pakai.
"Vania, ayo bilang apa, sayang," Ayara mengajari sang putri seperti biasanya.
"Telima tasih, paman," ucap si kecil yang sangat pintar.
"Sama-sama, Vania yang cantik. Selamat bersenang-senang," jawab si kernet yang sejak dari awal Ayara dan Vania naik. Ingin menyapanya, karena gemas melihat Vania yang berusaha untuk menaiki tangga mobil sendirian.
"Terima kasih, Kak," sekarang bergantian acara yang mengucapkan terima kasih setelah menempelkan kartu akses yang sering dia gunakan untuk membayar apabila menaiki kendaraan umum seperti saat ini.
"Sama-sama, Nona. Selamat bersenang-senang," ucap si kernet sebelum sopir untuk menjalankan kembali kendaraan tersebut.
"Mama, tita temana?" tanya Vania bingung karena Taman tersebut tidak terlalu ramai. ya pikir itu bukanlah tempat wisata seperti biasanya.
Padahal sekitar satu bulan lalu, dia dan ibunya datang ke sana. Sambil sekalian berbelanja di supermarket yang ada di dekat Taman tersebut. Alasan Ayara sering berbelanja di sana adalah.
Selain harga barangnya lebih murah daripada tempat lain. Juga karena mainan untuk anak-anak seusia putrinya pun tidak banyak. Jadi ibu muda itu tidak perlu takut apabila sang Putri menginginkan salah satu dari mainan yang dijual.
"Kita akan jalan-jalan, setelah itu baru kita makan eskrim dan yang terakhir sebelum pulang adalah, berbelanja kebutuhan kita di rumah," jelasnya satu persatu.
Agar si buah hati tidak bingung dan cepat mengerti pada ucapannya.
Setelahnya mulai memasuki taman sambil menikmati pemandangan Danau buatan namun terlihat asri dan juga ada berbagai macam permainan lagi. Yaitu untuk anak dari umur satu tahun sampai tujuh tahun.
Akan tetapi selama ini Vania tidak pernah menaiki permainan tersebut, karena dia hanya suka bermain boneka Barbie atau boneka-boneka kecil lainnya.
Vania suka diajak jalan-jalan hanya karena bisa memakan eskrim kesukaannya, membeli susu dan juga membeli jajanan sampai sebanyak sepuluh jari tangannya. Hanya itu saja, tidak pernah lebih.
"Nanti jika sudah lelah, Vania bilang sama Mama, ya. Mama tidak mau kau sampai kelelahan," pesan Ayara sambil menuntun tangan sang putri mendekati penyewa sepeda berbagai jenis.
"Permisi Paman, maaf harga sewa sepedanya berapa?" tanya Aya karena merasa kasihan pada putrinya. Apabila cuma sekedar berjalan kaki mengelilingi Taman saja.
"Yang tidak untuk empat orang, mudah, Nona. Anda cukup membayar dua dolar untuk satu jam setengah," jawab si pria penyewa sepeda.
Sangat pas sekali, mungkin bukan hanya dia saja yang menyewa sepeda. Masih ada pengunjung lain yang datang bersama anak kecil seperti dirinya.
"Oke, ini ya. Selamat jalan-jalan, semoga hari kalian menyenangkan," ucap pria itu itu yang mungkin umurnya masih sekitar dua puluh lima tahun. Makanya Ayara memangil dia dengan sebutan kakak.
"Mama, tita mau naik ini?" tanya Vania heran. Soalnya dia belum pernah menaikinya.
"Iya sayang, kita jalan-jalannya menaiki sepeda saja, ya. Biar Mama yang boncengmu," jawab Ayara tersenyum. Lalu diapun mengangkat tubuh Vania dan didudukkan di belakang tempatnya.
"Kita akan pelan-pelan saja, jadi Vania tidak usah takut." ucapnya lagi karena melihat sang Putri masih bingung. Ingin mengatakan sesuatu, tapi mungkin Vania tidak bisa untuk menjelaskannya.
"Iya, tita pelgi naik sepeda," Vania akhirnya mengangguk karena tahu tidak mungkin sang Ibu membawanya dalam bahaya.
"Kak, sepedanya kami bawa dulu, ya. Terima kasih," kata Ayara ikut duduk diatas sepeda dan mulai menjalankan kendaraan tersebut pelan.
"Pegangan ya, kita berangkat sekarang!" ucap Ayara tersenyum bahagia karena sudah lama sekali dia tidak pernah menaiki sepeda seperti saat ini.
"let's go!" Ayara pun mulai mengayuh sepedanya. Mengikuti jalan dari semen untuk bisa menikmati pemandangan tanpa harus lelah berjalan.
"Sayang pegangan," kata wanita itu kembali memperingati sang Putri.
"Iya, Ma," si kecil Vania bersorak kegirangan merasakan kendaraan tersebut karena sudah di kayuh oleh sang ibu.
Sore ini mereka berdua sangat menikmati jalan-jalan sambil menaikkan sepeda. Hal yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya.
Sehingga hampir kurang lebih dari satu jam. Ayara dan Vania sudah menjelajahi seluruh Taman tersebut. Lalu karena kelelahan, mereka berhenti di kedai es krim yang sudah ada penjualnya di dalam Taman tersebut.
"Tita beli estlim cekalang, Ma?"
"Huem, iya. Vania duduk di sini saja, ya. Mama akan membeli eskrim kesukaan mu," titahnya karena Ayara tidak mau putrinya ikut mengantari.
"Iya," jawab si cantik mengiyakan. Selama menunggu mamanya datang. Vania hanya duduk sambil matanya melihat jauh kearah lima orang pria yang memakai penutup wajah.
Kelima orang itu juga lagi berjalan-jalan seperti dia dan ibunya. Cuma mereka sambil berfoto secara bergiliran.
"Vania melihat apa?" tanya Ayara karena putrinya cuma diam saja.
"Itu, olangnya cepelti... lupa," tawa Vania karena dia tidak tahu mirip siapanya.
"Agh, putri Mama ada-ada saja, bisa lupa mau bicara apa," tawa Vania akhirnya menular pada ibunya.
Mereka duduk sambil menikmati es krim kesukaan masing-masing. Ayara dengan rasa strawberry. Sedangkan Vania menyukai rasa vanilla seperti Alvian ayah kandungnya.
Ternyata tidak hanya wajah mereka saja yang mirip. Akan tetapi ada beberapa makanan kesukaan yang sama juga.
Ayara yang sangat menyayangi putrinya. Tentu saja tidak masalah apabila ada beberapa kemiripan dan kesukaan antara Vania dan Alvian. Sebab mau seperti apapun pria yang sudah membuangnya hanya demi sebuah karir. Tetaplah ayah kandung anaknya.
Asalkan Vania bisa merasakan bahagia, maka Ayara akan membiarkan sang putri memakan rasa eskrim yang sama seperti kesukaan Alvian.
...BERSAMBUNG......