I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Sikap Jutek Aya.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


"Al, kau kenapa?" tanya Bara karena sahabatanya terus melihat kearah dapur. Tepatnya melihat kepergian Lula.


"Eum... tidak ada! Aku hanya lagi melihat Lula. Kenapa dia terlihat sedih, apa dia mendengar pembicaraan kita?" balik bertanya karena menurut Alvian. Lula adalah gadis yang ceria, meskipun mereka baru mengenal gadis itu.


"Memangnya dia bersedih kenapa? Aku rasa itu hanya perasaan mu saja," Bara pun ikut melihat kearah pintu ke dapur.


"Ck, kau ini!" decak Alvian mengelengkan kepalanya pelan. "Tentu saja karena dirimu. Apa kau tidak dengar kata putriku jika kau adalah pacarannya Lula. Mungkin dia bersedih karena mendengar kau sudah memiliki kekasih," lanjut Alvian lagi, karena Vania memang mengatakan bahwa tantenya adalah pacar Bara.


Meskipun si kecil Vania tidak tahu apa yang dimaksud pacaran. Tapi dia selalu mendengarkan hal tersebut setiap diajak sang Tante menonton para member ALV dari ponsel android nya.


"Haa... ha.. Kau ini bicara apa? Bukannya semua fans member ALV adalah pacar kita," tawa Bara yang tidak pernah ambil hati perkataan semua gadis yang mengaku sebagai kekasihnya.


"Jelas saja berbeda, mereka mana ada tidur berdekatan seperti kalian tadi malam. Dia cantik dan baik, Bar," ucap Alvian yang juga tidak menolak perkataan sahabatanya.


Para fansnya memang selalu mengaku sebagai istri atau pacar. Begitulah jika sudah dicinta oleh para penggemar masing-masing.


"Hei... kami hanya tidur berdekatan, bukan berbuat yang aneh-aneh, karena disini tidak ada tempat lagi, makanya aku tidur bersamanya. Apa kau tahu jika badanku terasa sakit. Gara-gara hanya tidur diatas selimut," ujar Bara yang hanya mengangap biasa saja.


"Jika kau ingin tidur enak, nanti setelah aku berhasil membawa Aya pergi dari sini," imbuh Alvian tersenyum.


"Apa kau akan membawanya ke rumah yang kau bangun itu? Atau kemana?"


"Tentu saja ke rumah yang aku bangun. Di sana Via bisa bermain dengan bebas. Tidak seperti di Apartemen." jawab pemuda itu sambil berdiri mendekati putrinya.


Cup!


Alvian mencium pipi Vania yang lagi duduk bermain.


"Ayo kita kebelakang melihat mama," ajak Alvian menuntun tangan kecil putrinya.


"Ayo, tita lihat mama yang lagi matak," jawab Via bersemangat. Ternyata setelah dia tidak merasa terancam dengan kehadiran Alvian. Si cantik sudah bermain seperti biasanya. Dia mulai dekat dengan sang ayah.


"Mama," sapa si kecil tersenyum yang membuat Ayara ikut tersenyum pula. Meskipun dia menatap dingin pada Alvian.


"Lula, tolong kau panggil Bara, ajak dia sarapan," titah Aya karena dia sudah selesai memasak lauk buat putrinya.


Sedangkan mereka akan sarapan dengan makanan yang dibeli oleh Lula.


"Baiklah! Aku panggil sebentar," jawab Lula setelah menata piring diatas meja makan mini yang kursinya baru ditambah dari gudang rumah tersebut.


Biasanya karena hanya berdua saja, jadi Ayara menyimpan kursi lainya.


"Ian, ayo duduklah! Kita bisa sarapan bersama," Lula yang menyuruh Alvian duduk, karena jika Aya tentu tidak akan melakukannya.


"Iya Lula, terima kasih," jawab Alvian memilih duduk disamping Vania.


Jadi posisi si cantik Vania saat ini di tengah-tengah diantara kedua orang tuanya.


"Kenapa kau menatapku! Jika lapar ambil makanannya." seru Ayara degan nada ketus.


"Aku tidak melihat mu, tapi mataku yang terus menatap padamu," bukannya berhenti menatap Ayara. Akan tetapi Alvian malah semakin menatap lekat.


"Ck, kalau begitu kenapa matamu tidak di..." Aya tidak melanjutkan lagi ucapannya karena ada Vania bersama mereka.


"Sayang, mama suapi duluan ya, ini sayur buat Vania sudah dingin," mengalihkan topik karena malas mendengar gombalan Alvian


Si cantik Vania tidak menjawab, tapi dia menganggukan kepalanya. Sehingga Aya pun mulai menyuapi sang putri.



"Mau seperti apapun dandanan nya, Ayara ku tetaplah sangat cantik. Ternyata gadis manjaku dulu, sekarang sudah menjadi ibu yang sangat hebat."


Gumam Alvian yang terus menatap pada Ayara penuh kekaguman.


"Aya, setelah ini aku mau membawa Vania jalan-jalan. Bara akan tinggal di sini, jadi kau tidak usah bekerja karena aku akan mengantikan kerugian bos kalian," ucap Alvian lagi, karena Bara dan Lula belum juga menyusul mereka.


"Bukannya kau sudah bilang tadi malam, kenapa bicara lagi dan... kau simpan saja uangmu karena aku sendiri yang akan menghadapi Kak Regina. Dia pasti akan mengerti jika aku sudah menjelaskan padanya,"


"Apakah kau tidak bisa ikut dengan kami? Kita bisa pergi bersama untuk membeli keperluan kalian," itulah tujuan Alvian Kembali berkata seperti tadi karena dia berharap agar Ayara mau ikut bersamanya dan Vania.


"Tidak! Aku akan dirumah," menjawab singkat dan masih degan ketus pula.


Akan tetapi Alvian malah merasa gemas pada Ayara, karena selama mereka menjalin kasih, Ayara tidak pernah bersikap jutek padanya.


"Oke, tidak apa-apa jika kau tidak mau. Lain kali kita masih bisa pergi bersama. Eum... nanti sore aku dan Bara akan kembali ke kota S. Kerena lusa kami ada konser diluar negeri," jelasnya meskipun Ayara tidak berkata apa-apa.


Akan tetapi begitu mendengar Alvi Alvian akan pulang ke kota S. Ayara sempat menghentikan pergerakan tangannya yang akan menyuapi Vania.


Hal itupun tak luput dari perhatian Alvian. Hanya saja dia cuma diam tidak berkata apa-apa.


"Tapi setelah pulang dari sana, aku langsung kembali ke sini lagi dan... mungkin akan membawa kalian pulang ke kota S untuk beberapa hari, karena Vania harus tahu jika dia memiliki keluarga." lanjut Alvian lagi karena Ayara tidak berkata apa-apa.


"Kau sudah siap kan, jika bertemu keluargaku? Soalnya aku tidak mungkin jika hanya membawa putri kita," kata Alvian menatap Ayara lekat.


"Entahlah! Aku tidak tahu," jawab Ayara degan helaan nafas dalam-dalam. "Vania, nanti tidak boleh nakal, ya," ucap wanita itu lagi karena ingin menghindar dari pertanyaan Alvian.


"Boleh beli boteka becal?" tanya si kecil karena tadi Bara mengatakan padanya jika Vania boleh meminta apapun yang dia mau pada sang ayah.


"Eum... jika boneka ka---"


"Boleh sayang, Via boleh meminta apapun karena Papa akan membeli semuanya," sela Alvian cepat.


Sehingga Ayara melihat kearahnya dan terjadilah saling tatap mata sampai kedatangan Bara dan Lula.


"Huem! Apakah kami mengaggu kalian?" basa-basi Bara karena dia dan Lula datang tidak tepat waktu.


"Agh... Bara! Kau tidak mengaggu sama sekali. Ayo silahkan duduk! Beginilah tempatnya, mungkin kau merasa kurang nyaman" ucap Ayara sambil kembali menyuapi putrinya.


"Tidak apa-apa, tempatnya sangat nyaman. Hanya sangat kecil saja," jawab Bara apa adanya, karena memang rumah Ayara cukup nyaman. Meskipun kecil dan tidak memiliki AC.


...BERSAMBUNG......