
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
"Tentu saja kami juga mengetahuinya. Akan tetapi sekarang bukannya waktu untuk dirimu terpuruk seperti ini, Al. Kau harus memikirkan bagaimana caranya agar bisa menemukan Aya dan anakmu. Meskipun tanpa melakukan tes DNA ataupun sebagainya. Kita semua sudah yakin bahwa Vania memanglah darah daging mu," jawab Bara menepuk pelan pundak Alvian.
"Yang harus kau pikirkan juga adalah untuk bisa mendekati Aya dan putrimu tidaklah mudah, karena jika Aya berniat memberitahumu tentang Vania. Maka dari dulu pasti sudah dia lakukan," sambung Sandy menatap lekat ke arah Alvian yang matanya masih memerah.
Pemuda tampan itu hanya diam saja. Dia merasa separuh raganya sudah hilang bersama kebenaran yang mereka ketahui malam ini.
"Mungkin dia tidak memberitahuku karena terlalu kecewa dengan keputusanku untuk putus darinya," sahut Alvian yang masih ingat seperti apa Ayara memohon padanya agar tidak mengakhiri hubungan mereka.
"Tentu, tentu Aya sangat kecewa dengan keputusan mu, yang lebih memilih karier daripada dirinya. Namun, aku juga tidak bisa menyalahkan kau dalam hal ini. Sebab kita semua melakukannya karena terpaksa tidak ada pilihan saat itu. Andaikan sudah seperti sekarang. Maka kita bebas untuk berpacaran dengan siapapun." timpal Sandy membenarkan.
"Benar Al, aku rasa saat kau dan Aya putus dia juga tidak tahu jika sedang hamil. Bukannya katamu dia memohon agar menjalin hubungan secara diam-diam. Nah Andai dia sudah mengetahui tengah mengandung Vania, pasti sudah menahanmu dengan anak kalian." ujar Naufal yang masih ingat Alvian juga sangat kacau saat pulang dari mengakhiri hubungan dia bersama Ayara.
"Jika aku tahu dia sedang mengandung anakku. Maka aku tentu akan memilih dirinya daripada menjadi artis terkenal seperti sekarang," ungkap pemuda itu yang agak lebih baik daripada saat baru mengetahui fakta tentang Ayara.
"Huh! Setelah selesai konser besok malam, kami akan kembali bersama Staf Muzaki dan yang lainnya. Agar mereka tidak mengetahui hal ini. Kau akan ditemani oleh Bara," Hanan menarik nafasnya dalam-dalam.
Ternyata mau di mana pun tempatnya. Tetap saja yang namanya penyesalan itu berada di belakang. Bukan di depan, karena apabila dia berada di depan. Maka namanya bukan penyesalan, melainkan pendaftaran.
Hari ini setelah mengetahui bahwa Ayara adalah yang menjadi korban karena pilihan Alvian. Untuk menerima konsekuensi mereka sebagai artis yang resmi di rekomendasikan oleh agensi besar.
Membuat keempat member ALV lainnya. Ikut merasakan penyesalan. Padahal sudah jelas bahwa itu semua bukanlah kesalahan mereka. Melainkan kesalahan Alvian yang sudah menyentuh Ayara sebelum mereka diikat oleh tali suci pernikahan.
"Kalian tenang saja, aku akan menemani Alvian. Makanya tadi aku sudah menelpon Erik untuk membeli satu mobil buat kami pergi mencari Ayara dan kembali ke kota S." sahut Bara yang memiliki pemikiran untuk membeli satu buah kendaraan roda empat.
"Lalu apakah Erik tidak bertanya kenapa kau membeli mobil di sini?" Hanan menatap pada Bara.
"Ck, tentu saja bertanya! Tapi aku sudah bilang padanya bahwa akan tinggal di sini bersama Alvian, karena ingin menemui keluarga ibuku yang ada di sini. Jadi dia percaya saja," decak Bara tersenyum melihat betapa terpuruknya Alvian.
Meskipun sebetulnya dia merasa kasihan. Namun, mengigat betapa sombong nya Alvian karena sudah merasakan nikmat surga dunia diantar keempat sahabatnya. Membuat Bara ingin tertawa. Gara-gara hal tersebut lah sahabatnya itu mempunyai anak yang tidak dia ketahui.
"Sudahlah! Al, anggap saja kau menerima hukuman karena melanggar janji pada mama mu. Bukannya Tante Ines sudah berpesan, jika berpacaran tidak boleh melebihi batas. Lah dirimu bukan melebihi lagi, tapi sudah terbang tinggi diatas pembatasnya," lanjut Bara yang tidak tahan untuk menindas sahabatnya itu.
"Bara, kau ini," Naufal menatap pada Aldebaran yang malah tersenyum pada mereka semua.
"Baiklah! Ini sudah malam, aku mau istirahat duluan," Alvian tidak menghiraukan ejekan Bara. Dia lebih memilih untuk kembali ke kamarnya.
Kleeek!
Sebab karena keegoisannya yang tidak memberi Ayara kesempatan untuk menjalin hubungan jarak jauh. Tanpa harus saling menghubungi melalui ponsel. Membuat bukan hanya Ayara yang menderita. Namun, juga Vania putrinya. Gadis kecil yang wajahnya seperti duplikat Alvian versi wanita.
"Ayara, kau pasti sangat membenci diriku, kan. Sampai-sampai menyembunyikan status Vania dariku," ucapnya menahan rasa sesak tidak terkira.
"Tidak boleh tiga, dua saja dulu, ya , karena mama tidak punya uang. Nanti apabila mama sudah bekerja lagi dan memiliki uang. Baru kita kembali ke sini untuk membeli lima sekaligus, bukan tiga lagi." perkataan Ayara yang membujuk Vania saat di supermarket. Terus saja berputar di dalam kepalanya.
"Apakah selama ini kalian sangat susah? sehingga buat membeli satu kaleng minuman saja tidak bisa lagi?" bertanya pada foto Aya dan putrinya yang sedang membayar belanjaan tadi siang.
"Kau benar-benar brengsek Alvin, kau brengsek!" umpatnya untuk dirinya sendiri.
"Selama ini kau hidup penuh kemewahan. Sedangkan putrimu, buat membeli satu kaleng minuman saja tidak bisa," pemuda itu kembali menyalahkan dirinya sendiri.
"Mama, Via mau tiga,"
"Mama, Via mau tiga,"
Suara cadel putrinya juga terdengar seakan-akan ada disebelahnya. Sehingga membuat Alvian menutup kedua telinganya mengunakan tangan.
Hampir satu jam dia hanya duduk di bawah pintu. Sedangkan para sahabatnya yang mendengar dari balik pintu. Tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya membiarkan Alvian meratapi kesalahan terlebih dahulu.
Soalnya apabila Alvian lagi memiliki beban pikiran. Maka lebih baik biarkan dia sendirian. Agar bisa tenang dengan sendirinya. Sebab apabila diberi nasehat atau apapun itu. Malah membuat dia terus berada di dalam masalah tersebut dan tidak bisa mencari jalan keluar atau berpikir jernih.
"Vania, bersabarlah! Papa akan menemui kalian. Papa akan belikan apapun yang kau mau," ucapnya pada foto sang putri.
Saat ini dia merasa lebih baik dan bertekad akan menjemput Aya bersama anaknya. Meskipun dia sendiri belum tahu, apakah Aya sudah menikah lagi atau belum
"Aya, aku akan mencari dimanapun tempat kalian berada. Aku harap kau belum menikah dengan orang lain dan mau mengizinkan aku untuk memperbaiki semuanya." setelah benar-benar merasa lebih baik. Vokalis inti Group Boyband ALV itupun pergi kearah ranjang dan merebahkan tubuhnya di sana.
Guna menghilangkan rasa pusing dikepalanya. Mana mungkin dia akan baik-baik saja. Selama beberapa tahun terakhir ini, bukan tidak ada yang mau padanya.
Melainkan Alvian menutup dirinya dari gadis manapun, karena sampai saat ini hanya ada nama Ayara dihatinya. Apalagi sekarang sudah ada Vania diantara mereka.
Si cantik Vania hadir karena hasil buah cintanya dan Ayara. Meskipun saat itu mereka masih sama-sama sekolah menengah atas. Akan tetapi perasaan yang mereka miliki benar-benar tulus, tidak main-main seperti mana pasangan muda-mudi lainya.
"Setelah konser besok malam, maka paginya aku akan pergi mencari kalian Aya. Rasanya aku sudah tidak sabar untuk memeluk putri kita. Pantas saja wajahnya begitu mirip denganku. Ternyata dia memang anakku." meskipun matanya terpejam. Alvian tidak tidur karena ingatannya hanya ada Ayara dan Vania.
"Terima kasih, karena meskipun kau membenciku. Tapi masih membiarkan dia lahir dan tumbuh menjadi anak yang baik," Gumamannya lagi yang tidak terasa sampai tertidur sendiri.
... BERSAMBUNG......