I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Cucu Wilson.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


... HAPPY READING... ...


.


.


"Apa! Jadi masyarakat sudah tahu?" seru Tuan Edward setelah mendengar penjelasan dari Alvian menantunya.


"Iya, Pa. Jadi untuk saat sekarang, jangan ada yang keluar dari rumah ini," jawab Alvian terdiam sejenak sebelum berbicara lagi. "Member ALV tidak jaya seperti yang dilihat orang-orang. Kami sudah beberapa kali mau dihancurkan oleh perusahaan agensi yang tidak menyukai kami, karena merasa sudah dikalahkan oleh Agensi AX Si," lanjutnya lagi.


"Apakah kalian sebagai musisi juga mengalami seperti mana perusahaan besar?" tanya Tuan Edward yang memang tidak pernah mengetahui tentang bagaimana kehidupan para artis.


"Iya, sama saja. Hanya kami sebagai musisi memiliki pendukung yang lebih banyak daripada heater. Di situlah perbedaannya," jawab Alvian yang telah menghubungi keempat member ALV yang lainya untuk mencari tahu tentang perkembangan berita terkini.


"Kau tenangkan saja Aya, Papa juga akan mencari jalan keluarnya. Tidak akan Papa biarkan Marlin kembali ingin menyakiti cucu Wilson lagi," ucap beliau seraya mengepalkan tangannya erat.


Semenjak Marlin ditahan di kantor polisi ibukota. sudah ada dua kali Tuan Edward mendatangi wanita itu untuk menanyakan sertifikat rumah utama Wilson. Namun, wanita itu malah tertawa, bukannya menjawab.


Soalnya kedua adik tiri Tuan Edward sudah kabur dari rumah itu. Akan tetapi bukan hanya dikunci gerbang nya saja. Tapi juga sudah ada plat bahwa rumah tersebut telah dijual.


Namun, dijual pada siapanya belum bisa diketahui sampai saat ini. Entah itu hanya sebagai rekayasa atau memang sudah dijual pada orang lain. Makanya Tuan Edward meminta agar Marlin memberitahu di mana letak sertifikat rumah orang tuanya.


"Baiklah Pa, kalau begitu Alvin mau kembali ke kamar. Soalnya tadi Aya lagi mandi dan Via lagi tidur," jawab Alvian karena dia memang hanya ingin menyampaikan berita itu saja.


"Iya, pergilah. Kau juga tenang saja. Papa akan membantu menyelesaikan masalah ini. karena semua ini terjadi gara-gara Papa. Kalau tidak, maka papamu mana mungkin mengurus akte kelahiran Aya dari anak seorang pembantu," imbuhnya yang merasa sakit sendiri atas perlakuannya pada sang putri.


"Iya, kalau begitu Alvian mau keatas dulu," setelahnya Alvian langsung berpamitan pergi dari ruang keluarga.


Tap!


Tap!


Baru saja Alvian pergi sudah terdengar suara langkah kaki dari Ericson. Yaitu si penganten pria yang bukannya menikmati hari pengantin mereka. Namun, sudah sibuk mengurus keamanan di luar rumah.


"Apakah Tuan Muda Alvian sudah memberitahu Anda, bahwa di luar ada yang mencoba menyerang mereka saat di balkon?" tanya Ericson yang tidak bisa merubah panggilannya dengan sebutan lain.


"Iya, dia sudah memberitahu Saya. Apakah mereka berhasil di tangkap?" jawab Tuan Edward kembali melemparkan pertanyaan.


"Pasti akan tertangkap. Saat ini Denis dan pengawal lainya tengah mengejarnya,"


"Oh, syukurlah. Semoga mereka segera tertangkap. Kau istirahat lah, biarkan pengawal yang lain menjaga rumah ini. Saya juga sudah menelepon sekertaris Alex untuk mencari pengawal yang bisa membantu," kata Tuan Edward karena dia juga mau masuk kedalam ruang kerjanya.


"Baik, Tuan. Anda juga jangan lupa untuk istirahat. Karena Tuan Abidzar pasti saat ini lagi merencanakan sesuatu. Sebab masalah yang terjadi hari ini ada kaitannya dengan musuh beliau," ucap Ericson sebelum berlalu pergi ke kamarnya yang ada di lantai satu rumah tersebut.


... BERSAMBUNG... ...