I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Akan Membayar Mahal.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


... HAPPY READING... ...


.


.


"Aya..." Alvian hendak melindungi istrinya. Namun, terlambat karena Tuan Edward yang melihat Rose mau menusuk perut Ayara degan cepat memeluk anaknya dari depan.


Sehingga punggung beliau yang tertusuk oleh pecahan pas bunga tersebut. Begitu tertusuk darah segar langsung mengalir pada lantai keramik yang berwarna putih.


Nyonya Rose langsung ditahan oleh Denis lalu diserahkan pada rekannya karena dia membantu Tuan Edward yang posisinya masih memeluk Ayara.


Semenjak putrinya lewat umur dua tahun. Ini adalah pelukan pertama yang beliau berikan. Biasanya mau Aya sakit parah sekalipun Tuan Edward mana pernah sampai memeluk putrinya.


Padahal dia tahu jika Ayara adalah putri kandungnya. Namun, karena pengaruh buruk dari ibu dan juga istri barunya. Membuat beliau ikut membenci Ayara.


"Papa..." mata Ayara membola keluar setelah merasakan pelukan dari ayahnya. Namun, tidak lama setelah itu tubuh Tuan Edward yang mulai lemah merosot ke atas lantai walaupun ditahan oleh Denis.


Tadi saat Ayara maju mendekati Arianti. Denis dan pengawal lainya mau melindungi Ayara. Namun, Alvian mengangkat tangannya ke atas karena ingin melihat apa yang akan Nyonya Rose dan Arianti lakukan, karena jika Tuan Edward sudah terlihat bahwa beliau sudah menyesali perbuatannya.


Sehingga mereka semua hanya berdiri beberapa meter dari Ayara. Jika mereka berjarak satu meter saja. Jangan harap bisa menyentuh Ayara.


"Papa---"


"Jangan mendekat karena kau bukan putriku Arianti, anakku hanya Ayara. Kau juga tahu jika ibumu berbohong, kan. Tapi kalian semua sama saja. Kalian sama-sama menipuku," lelaki setengah baya itu mencegah agar Arianti tidak mendekat padanya.


Sedangkan Rose meskipun terus berteriak. Namun, pengawal Tuan Abidzar tidak melepasnya.


"Aya... Maafkan Papa, Nak. Papa tahu bahwa Papa tak pantas untuk dimaafkan," ucap beliau menggenggam tangan Ayara yang menagis melihatnya.


"Kenapa Anda melakukan ini?" tanya Ayara memanggil degan bahasa formal. Namun, tadi dia juga sempat menyebutkan kata papa.


"Karena tanggung jawab seorang ayah adalah melindungi putrinya. Bukan malah mengusirnya dari rumah. Selama hidupku tidak pernah membahagiakan mu, Nak. Jadi semua ini tidak ada arti sama sekali dengan perbuatan Papa padamu," jawab Tuan Edward tersenyum menatap pada putrinya.


"Tuan Muda, kita harus cepat membawanya ke rumah sakit. Biarkan Saya yang mengurus siluman ini dan anaknya. Kalian pergilah dari sini," ucap Denis menatap tajam pada Nyonya Rose karena dia mau menyiksa wanita itu dulu sebelum diserahkan ke kantor polisi.


"Iya, kau urus mereka. Wanita ini kau usir dia ke jalanan tanpa membawa barang apapun," seru Alvian sudah membantu Ayara berdiri karena tubuh Tuan Edward di bawa oleh para anak buah ayahnya.


Plaaak!


"Rose... kau akan membusuk dipenjara karena perbutan mu," Ayara menampar ibu tirinya dengan sangat keras. Sampai telapak tangannya terasa kebas.


"Kurang ajar, aku tidak akan dipenjara. Kau yang akan---"


"Tuan pergilah bawa Nona Aya, ini semua serahkan pada Saya," titah Denis yang diiyakan oleh Alvian karena mereka harus berangkat ke rumah sakit.


Walaupun keadaan Tuan Edward tidak terlalu parah. Namun, sudah pasti lelaki itu akan dioperasi.


Setelah kepergian Alvian dan Ayara.


"Aaagh! Kenapa kau menyiksaku," jerit Nyonya Rose karena saat ini tangannya dipegang oleh dua orang pengawal lalu kakinya diinjak oleh Denis mengunakan sepatunya.


"Haa... haa... apakah sakit? Aku kira kau kebal. Bukannya ini yang kau dan ibu mertuamu lakukan pada Almarhumah Nyonya Jasmeen? Jadi anggap saja ini adalah pembalasan untuk mu," Denis tertawa menyeringai.


"A--apa maksudmu. Kau---"


"Kau pikir Tuan Abidzar akan diam saja setelah mendapatkan bukti kejahatan kalian pada sahabatnya? Kau dan ibu mertuamu juga kan yang sudah merencanakan kecelakaan untuk menghabisi Nyonya Jasmeen?" tanpa rasa ampun Denis membalas seperti apa saja perlakuan biadab Nyonya Rose pada Almarhum ibu Ayara.


"Aagk... sa--sakit. Tolong bawa saja aku kekantor polisi. Aku akan mengakui semuanya di sana," mohon wanita itu menangis menahan siksaan pada tubuhnya.


Arianti yang melihat hal tersebut hanya bisa menagis tidak bisa berbuat apa-apa.


"Diam kau! Apakah kau tahu seperti inilah Nona Aya kecil menangis melihat mamanya disiksa oleh wanita keji ini," tangan kekar Denis menarik rambut Nyonya Rose. Namun, kali ini lebih keras lagi.


"Apa yang kalian lakukan di masa lalu. Maka sekaranglah saatnya kalian menebusnya di penjara. Apabila kau tidak mengakui siapa saja yang terlibat pada kecelakaan Almarhumah Nyonya Jasmeen. Maka anak kesayangan mu ini akan aku jual pada mafia di kota ini. Agar dia dijadikan budak **** di sarang mereka," ancam Denis sesuai rencana yang sudah dibuat oleh Tuan Abidzar.


"Ja--jangan! Aku... berjanji akan mengakui semuanya. Tapi tolong lepaskan putriku,"


"Haaa... haa... jika kau berhasil menyeret keluarga Wilson ataupun orang-orang yang terlibat. Untuk masuk ke penjara bersama mu. Maka baru kami akan melepaskan wanita ini. Tapi jika kau tidak bisa melakukannya dalam waktu tiga hari. Maka anakmu akan aku jual," tawa pengawal Tuan Abidzar yang memegangi Arianti bersama temannya.


"Aku rasa kau tahu kan kemana putra sulung mu? Dia berada di markas Tuan Darwis karena tidak bisa membayar hutang judinya. Jadi bila aku menyerahkan putrimu pada Tuan Darwis, sudah pasti tidak akan menolak,'" ujar Denis tersenyum menyeringai karena mereka tidak perlu repot-repot menjebak ibu dari Tuan Edward agar bisa dipenjara di masa tuanya.


"Denis, lebih baik kita jual langsung wanita ini pada Darwis. Agar mereka semua merasakan seperti apa sakitnya, tidak memiliki keluarga yang bisa melindungi," ucap seorang pengawal yang baru menyusul kembali ke sana setelah mengantar Alvian dan Ayara sampai ke rumah sakit.


"Kau sudah kembali," seru Denis melihat kearah sumber suara. Lalu dia menatap pada Nyonya Rose dan berkata.


"Nyonya, apakah kau belum bisa menentukan pilihanmu? Jika tidak, maka kami akan membawa wanita ini ke markas Tuan Darwis?" tanya Denis karena wanita yang terlihat kacau itu belum juga menjawab pertanyaannya.


"Baiklah, aku berjanji dalam waktu tiga hari. Ibu mertuaku dan semua orang yang terlibat atas kematian Jasmeen. Maka harus dipenjara bersamaku," jawab Nyonya Rose yakin.


"Tapi tolong lepaskan putriku. Apabila mereka semua sudah dipenjara," mohon Nyonya Rose. Karena selain dirinya maka Arianti tidak memiliki kerabat sama sekali.


Adapun mantan suaminya, sama saja menyerahkan Sang Putri pada geng mafia. Karena suami pertamanya juga seorang pemabuk dan tukang judi. Sudah pasti cepat atau lambat Arianti akan dijual seperti dirinya dulu yang juga pernah dijual untuk melayani teman judi suaminya yang menang.


... BERSAMBUNG... ...