I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Pelukan Pertama.



🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


"Astaga! Kenapa badannya panas sekali." gumam Alvian begitu merasakan suhu tubuh Ayara mengunakan punggung tangannya.


"Ian," ucap Lula sudah datang membawa baskom berisi air hangat dan saputangan untuk mengompres Ayara dan diikuti oleh Aldebaran dari belakangnya.


"Bawa sini airnya, biar aku yang mengompresnya," sebelum Lula menjawab, Alvian sudah mengambil alih baskom tersebut.


"Kau duduk saja, biar aku yang lakukan," ucapnya lagi mulai mengompres pelipis Aya yang berkeringat. Namun, tubuhnya menggigil panas.


"Aya, maafkan aku," lirih pemuda itu didalam hatinya.


Melihat keadaan Aya, dia benar-benar semakin merasa bersalah. Tidak menemui Ayara, dia salah karena ada putrinya pada wanita itu.


Dipaksakan datang menemui seperti sekarang, Ayara menjadi semakin tersakiti.


"Mama... Ma," Ayara terus mengigau menyebut nama mamanya.


"Al, apakah kita bawa dia ke rumah sakit saja?" tanya Bara khawatir.


Dia dan Lula hanya duduk menjadi penonton. Melihat Alvian merawat Ayara dengan perasaan yang mereka sendiri tidak tahu seperti apa.


Namun, yang jelas terlihat raut wajahnya sangat bersedih. Tidak seperti tadi, yang tidak terlalu datar.


"Kita tunggu saja dulu, jika tidak juga. Maka kita akan membawanya ke rumah sakit." jawab Alvian tidak mengalihkan pandangan matanya dari Ayara dan Vania.


Kedua wanita yang sangat berharga baginya. Entah itu sebagai mantan pacar atau memang rasa cintanya.


"Oke, aku akan menunggu di depan. Bila ada apa-apa kau panggil saja aku," Bara berdiri mau meninggalkan kamar Ayara. Akan tetapi sebelum benar-benar pergi dia menarik tangan Lula untuk membawa gadis itu keluar bersamanya.


"Albar, kenapa kau malah menarik tanganku? Aku kan ingin menemani Ara," tanya Lula menahan pergelangan tangannya yang ditarik oleh Bara.


"Diamlah! Biarkan Alvian yang menemaninya, mereka berdua membutuhkan waktu. Makanya aku membawamu keluar," jelas pemuda itu setelah mereka sama-sama duduk di kursi kayu yang ada di dalam rumah tersebut.


"Tapi bagaimana bila mereka kembali bertengkar, aku takut keadaan Ara akan tambah parah?" keluh gadis itu tetap mengikuti Bara.


"Kau tenang saja, semua itu pasti tidak akan terjadi, karena mereka sudah bersama bukan sehari atau dua hari. Melainkan hampir dua tahun atau mungkin lebih dari itu." jawab Bara seraya melepas jaketnya.


"Tapi mereka berdua sudah lama berpisah juga. Ara sakit pasti gara-gara masalah dia dan Ian juga,"


"Tenang saja, Alvian tidak mungkin membiarkan hal buruk terjadi pada Ayara, karena aku sangat yakin dalam hatinya masih memiliki perasaan terhadap Aya begitupun sebaliknya." Bara berusaha menyakinkan Lula.


"Baiklah! kalau begitu kita menunggu di sini saja," putus Lula yang mulai mengerti pun akhirnya mengangguk setuju.


Sambil menunggu dua pasangan di dalam kamar. Akan tetapi Lula menata selimut untuk tidur karena dia sangat lelah belum ada istrirhat sama sekali.


Kemudian mereka berdua saling bercerita satu sama lain. Untuk menghilangkan rasa kantuk yang mereka rasakan.


Sementara itu di dalam kamar Alvian terus mengkompres Ayara.


"Aya, tolong jangan seperti ini, sembuh lah! Kasihan Vania apabila dia melihatmu dalam keadaan sakit." gumam pemuda itu yang saat ini satu tangannya ia gunakan untuk menggenggam tangan kecil Ayara.


"Maafkan aku, karena harus membuatmu kembali terluka. Akan tetapi aku datang ingin memperbaiki semuanya." gumamnya dengan sesekali mengelus pipi Ayara.


Lama Alvian mengompres sambil berbicara di dalam hatinya. Sampai lewat dini hari, akhirnya dia yang mengantuk pun turut memejamkan matanya. Dengan tangan masih mengenggam tangan Ayara


Walaupun Alvian sudah tidur dengan posisi duduk di atas kursi yang dia bawa ke dekat tempat Ayara dan buah hatinya.


"Mama..." ucap Vania yang membangunkan Alvian yang lagi tertidur.


"Mama, Via tatut," si cantik kembali memanggil mamanya.


"Eum... Sayang, Via bagun," seru Alvian degan suara kecilnya. Soalnya takut membangunkan Ayara. Si ibu muda baru saja tidur setelah panasnya turun sebelum Alvian tertidur beberapa menit lalu.


"Iya, mama lagi sakit, Via kenapa bangun, huem?" karena Vania mau berbicara dengannya. Alvian memberanikan dirinya lagi untuk mengelus kepala sang putri.


"Via mau..." si kecil tidak melanjutkan lagi ucapannya. Dia hanya menatap Alvian seperti orang takut.


"Iya, Via mau apa? Apa Via lapar?" tanya Alvian dengan suara lembutnya. Rasa kantuknya langsung hilang sekita, begitu melihat putrinya bangun.


Si cantik tidak menjawab, tapi dia mengelengkan kepalanya. Namun, pandangan matanya terus menatap apa yang Alvian lakukan pada mamanya.


"Via mau tidur?" tanya Alvian yang kembali dijawab Vania dengan mengelengkan kepalanya pelan.


"Lalu mau apa? Bermain atau mau sesuatu? Biar Papa temani," Alvian berdiri dari tempat duduknya setelah memperbaiki selimut pada tubuh Ayara.


"Mama lagi sakit, jadi biarkan mama istirahat, ya. Biar papa yang menemani Via," ucapnya lagi yang membuat Vania menatap pada ibunya.


Entah apa yang dipikirkan oleh gadis kecil itu. Sehingga dia berdiri pelan dan mau digendong oleh Alvian, yang sejak beberapa detik lalu mengangkat tangannya untuk mengendong sang putri.


Cup!


"Sayang, jangan takut ya, ini Papa," Alvian langsung memeluk Vania yang sudah dia gendong dan dibawa menjauh dari Ayara. Ini adalah pelukan pertama mereka berdua.


"Apakah Via tidak mau memiliki Papa?" tanyanya karena si kecil hanya diam tidak ada reaksi apa-apa.


"Via mau susu," jawab Vania terus menatap muka Alvian.


"Baiklah! Ayo kita bikin susu dulu," pemuda itu tersenyum bahagia sambil mengendong Vania keluar dari kamar.


"Om Albal," Vania menunjuk pada Bara dan Lula yang sudah tertidur tidak terlalu jauh.


"Iya, itu Om Albar, masih banyak lagi Om Via yang lainnya," jawab Alvian mengelus sayang rambut putrinya.


"Om Opal?" kata Via menatap Alvian memastikan bahwa perkataannya adalah benar.


Cup!


Mendengar perkataan cadel putrinya. Alvian memberikan ciuman pada pipi Vania


"Benar, Om Naufal?" mendengar ucapan pemuda yang mengaku sebagai papanya. Alvian langsung mengangguk membenarkan.


"Ternyata Via sangat mengenal para member ALV. Seharusnya sama Papa tidak perlu takut, ini Papa nya Via," sambil berjalan ke dapur, ayah dan anak itu terus mengobrol.


Vania yang tadinya takut, sekarang mulai menjawab meskipun hanya dengan anggukan kepala.


"Tempat susunya di mana?" tanya pemuda itu lagi karena dia baru kedapur. Bukannya dia tidak mau mencari, tapi leher Alvian dipeluk erat oleh putrinya.


"Itu tempat susu," Vian menunjuk kearah lemari kayu yang terlihat bersih, tapi sudah sangat tua.


"Oke, kita bikin susunya, ya. Putri Papa duduk disini, biar Papa membuatnya," Alvian mendudukkan Vania pada kursi meja makan. Si kecil hanya mengangguk sambil memperhatikan setiap pergerakan Alvian.


"Ya Tuhan! Kasihan sekali Ayara. Dia harus membeli susu untuk putri kami degan gajiannya yang kecil." gumam Alvian sambil membaca petunjuk dari susu tersebut.


"Setelah konser Minggu ini, aku akan kembali ke sini lagi, buat membujuk Ayara agar mau kembali ke kota S. Jika mereka di sana, aku bisa menjaga mereka dan bisa bertemu Via kapanpun aku mau." Alvian kembali bergumam.


"Papa..." ucap Vania yang langsung membuat Alvian meneteskan air matanya. Ya, dia menangis karena mendengar panggilan dari putrinya.


"Iya, ini Papa," serunya langsung memberikan botol susu yang ia bawa dan memeluk sang putri.


"Terima kasih, terima kasih karena Via mau memanggil Papa," ucap Alvian memberikan ciuman bertubi-tubi pada putrinya dan hal tersebut disaksikan oleh Ayara.


Dia terbangun dan kehilangan Vania yang tidak ada disisinya. Aya mengira Alvian sudah membawa putrinya kabur. Namun, begitu keluar dari kamar. Dia melihat Bara dan Lula lagi tertidur nyenyak. Sehingga pikirannya sedikit tenang. Lalu dia melihat kedapur dan ternyata benar, Alvian lagi membuat susu bersama putrinya.


"Coba panggil sekali lagi, Papa sangat ingin mendengar Via memangil Papa," pintanya tersenyum pada sang putri.


"Papa Ian, tan?" tanya Via yang memang sudah mengetahui siapa saja nama para member ALV.


"Iya, Papa Ian. Via jangan takut lagi, ya," kata Alvian membujuk sang putri.


... BERSAMBUNG......