
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
Alvian yang tidak pernah melawan, meskipun dia sudah mengecewakan papanya. Hari ini ikut menatap Tuan Abidzar seperti mana musuh.
Itu semua setelah mendengar Ayahnya akan menjodohkan dia degan wanita yang tidak Alvian cintai. Jelas saja dia tidak mau, karena sekarang ada putrinya yang harus diperjuangkan.
"Mau tidak mau kau harus menerimanya, karena jika kali ini kau berani menolak perkataan Papa. Maka anakmu dan wanita itu akan hidup semakin susah dari sekarang." jawab Tuan Abidzar tersenyum penuh arti.
"Pa, apa yang papa lakukan? Biarkan Alvin menikahi gadis itu," ujar Nyonya Lili menatap nyalang pada suaminya.
Bukan hanya Nyonya Lili, akan tetapi semuanya. Mereka tidak menyangka bahwa dibalik sikap tenang Tuan Abidzar. Ternyata sedang merencanakan pernikahan Alvian bersama gadis lain.
"Papa tidak mau menerima putri dari keluarga Wilson. Jadi bila ingin semuanya berjalan baik, maka Alvin harus menuruti perintah Papa. Jika tidak, maka gadis itu dan anaknya yang menjadi taruhannya," ancam beliau dengan serius.
"Kak Abi, apa yang Kakak pikirkan? Kenapa Kakak mempersulit keponakanku?" tanya Tante Anis sambil menagis, karena tahu. Jika kakaknya berkata seperti itu, maka siapapun tidak akan ada yang bisa membantahnya.
"Ini semua demi kebaikan Alvin dan gadis itu. Jika dia ingin putri Wilson hidup dengan damai. Maka biarkan dia hidup bersama anaknya saja dan tidak perlu dibawa ke keluarga Rafael." jawab Tuan Abidzar yang membuat Alvian mengepalkan tangannya erat.
"Abi, apakah kau sudah gila? Apa maksudmu ingin membuat gadis itu dan cucumu sendiri menderita?" seru neneknya Alvian berdiri mengunakan tongkatnya.
"Ibu, dia putri dari Wilson, aku tidak pernah menyukai laki-laki itu sejak dulu. Lalu bagaimana mungkin dia akan menjadi bagian dari keluarga Rafael." jawab Tuan Abidzar menantang perkataan ibunya.
Hal yang belum pernah dia lakukan. Akan tetapi kali ini, gara-gara masalah Alvian menghamili gadis keturunan Wilson. Beliau sampai berdebat dengan anggota keluarganya yang lain.
"Papa jangan pernah bermimpi, karena sampai kapanpun. Alvin hanya akan menikahi Ayara." ucap Alvian berdiri dari tempat duduknya.
"Jika Papa ingin memiliki hubungan dekat dengan Tuan Ricardo, maka Papa saja yang menikahi Alice," ucap pemuda itu yang langsung mendapatkan tamparan lagi dari Ayahnya.
Plaaak!
"Kurang ajar! Apakah kau menjadi durhaka pada orang tuamu karena perempuan? Bagiamana mungkin kau mengambil kesimpulan jika pernikahan mu, karena Papa ingin memiliki hubungan baik dengan Ricardo?" bentak Tuan Abidzar menatap putranya tajam.
Diluar sana, orang-orang boleh menyanjungi Alvian yang notabenenya sebagai member ALV paling berpengaruh, karena dia merupakan vokalis inti.
Akan tetapi bagi keluarganya, dia tetaplah Alvian, yang dipanggil Alvin sejak kecil. Mau sebesar dan sehebat apapun, dia tetaplah anak kecil bagi kedua orang tuanya.
"Alvin lebih baik jadi anak durhaka, daripada menuruti kemauan Papa untuk menikah dengan Alice." jawab Alvian menyeka darah segar dari bibirnya.
"Papa... apa maksudnya? Apa Papa akan membiarkan Alvin tidak bertanggung jawab atas perbuatannya? Bukannya tadi Papa yang bilang, jika tidak pernah mengajarkan anak-anak kita menjadi laki-laki pengecut?" melihat putranya kembali di tampar, Nyonya Lili langsung melindungi anaknya.
Dia bahkan dengan berani memukul dada suaminya yang memiliki tubuh kekar dan tinggi.
"Itu jika bukan anak dari keluarga Wilson," jawab beliau membuat semua keluarganya mengelengkan kepala. Tidak percaya jika Tuan Abidzar berbicara seperti itu.
Biasanya beliau orang yang tidak pernah menghadapi masalah seperti saat ini. Bahkan meskipun Alvian sudah mengecewakan impiannya. Untuk meneruskan perusahaan Evander dan Deri tetap bisa menjadi seorang tentara.
"Terserah Papa, yang jelas Alvin tidak akan pernah menikahi gadis manapun, kecuali ibu dari anakku," pungkas pemuda itu sudah berjalan beberapa langkah.
Namun, setelah mendengar ucapan Ayahnya. Langkah Alvian langsung berhenti di tempatnya berdiri.
"Jika kau menolaknya, maka jangan salahkan anak buah Papa melakukan sesuatu pada gadis penjual bunga itu dan putrimu,"
deg!
Alvian membeku melihat papanya menunjuk kamera ponselnya. Yaitu gambar Toko bunga tempat Ayara bekerja.
"Apa maksud Papa? Apakah Papa lagi mengancam ku?" Alvian berjalan mendekati papanya dan menarik jas kantor yang masih melekat pada tubuh Tuan Abidzar.
"Papa tidak mengancam mu, tapi lagi memberi pilihan. Kau bersedia menikah dengan wanita pilihan Papa, atau kau tidak akan pernah melihat anakmu lagi."
"Pa, apa yang Papa lakukan? Biar bagaimanapun, Vania cucu Papa. Kenapa malah mengancam kakak?" seru Deri membela sang kakak.
"Kak Abi... apakah kakak salah minum obat? Apakah Kakak adalah kakak kami?" Tante Anis menatap kecewa pada kakaknya.
"Terserah kalian mau bicara apa, yang jelas Alvin harus memilih sekarang juga. Dia memilih pilihannya sendiri, atau menikah dengan wanita yang aku pilihkan. Jika tidak, maka ke-dua wanita ini akan meninggalkan kota B." kata Tuan Abidzar tidak mendengarkan perkataan seluruh keluarganya.
"Abidzar! Jagan gila kau, Nak! Apakah kau tidak memikirkan nasib cucumu?" perkataan nenek Alvian saja tidak didengar lagi ucapnya oleh Tuan Abidzar. Lalu bagaimana mungkin beliau mau mendengar ucapan orang lain. Termasuk perkataan Nyonya Lili istrinya.
"Ibu, percayalah! Ini yang terbaik untuk Alvin. Aku tidak pernah salah dalam menentukan pilihan," jawab Beliau yang tidak ada harapan untuk dibantahkan lagi.
"Alvin, kenapa kau diam? Jika kau ingin mereka pindah dari kota B. Maka silahkan pergi dari sini," Tuan Abidzar kembali menyuruh putranya menentukan pilihan.
"Apa yang harus aku lakukan? Jika aku menolaknya, maka orang-orang papa akan menyakiti Aya dan putriku?" gumam Alvian berperang dengan pikirannya.
"Nak, jangan ikuti permintaan gila papamu. Kita akan jemput Ayara dan anakmu sekarang juga." Nyonya Lili mengelengkan kepalanya. Agar Alvian tidak menentukan pilihan yang akan menyakiti semuanya.
"Dari sini ke kota B, membutuhkan waktu kurang lebih lima jam. Jika aku langsung pergi membawa mereka, maka tidak ada waktu karena orang-orang papa sudah ada di sana. Ya Tuhan! Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Pemuda tampan itu lagi diam sambil berpikir langkah apa yang akan dia ambil. Sungguh semua ini adalah pilihan yang sulit baginya.
Alvian bisa saja menuruti permintaan papanya untuk sementara waktu. Tapi Ayara akan kecewa padanya yang tidak bisa menepati janjinya.
Tapi bila Alvian menantang justru Ayara dan Vania lagi dalam ancaman.
"Ya sudah, jika kau tidak bisa menentukan pilihan mu. Maka silahkan pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi," usir Tuan Abidzar karena mulai kesal menunggu jawaban sang putra.
"Sekarang kau sudah kaya raya, tidak perlu uang Papa sejak dulu. Bahkan uangmu lebih banyak dari harta Keluarga Rafael. Jadi masa' hanya melindungi gadis itu dan anakmu kau tidak bisa. Kau kalah daripada Lula, selama ini dia bisa membantu Ayara dari ejekan para tetangganya." sengaja menyebutkan nama Lula. Agar Alvian tahu bahwa dia tidak main-main dengan ancamannya.
"Abidzar, jika kau melakukan sesuatu pada cucuku, maka kau akan berhadapan denganku." seru Nyonya Lili tetap menantang kehendak suaminya.
"Mama... ya Tuhan! Apa yang harus aku lakukan. Bila dibiarkan, bisa-bisa mama dan papa yang akan bertengkar. Tidak-tidak! Selama ini mama sudah banyak mengalah karena membela diriku." ucap Alvian menatap iba pada sang ibu yang sejak tadi menagis karena ulahnya dan sekarang menangis dan memohon karena membela dirinya lagi.
"Alvin, cepat pergilah, Nak. Biar adikmu yang menemanimu pergi ke kota B." seru Tante Anis memohon karena tahu jika keponakannya tidak mungkin mengikuti permintaan sang kakak.
"Aya, maafkan aku. Aku tidak ada pilihan lain. Maafkan aku karena lagi-lagi harus memilih pilihan sulit seperti dulu."
Tes!
Tes!
Alvian meneteskan air matanya sebelum menjawab perkataan Ayahnya.
"Via, maafkan papa, sudah kembali menyakiti kalian," degan menahan sesak di dadanya. Akhirnya Alvian berkata.
"Jika degan menuruti keinginan Papa, bisa melindungi Aya dan anakku. Maka Baiklah! Tapi Papa jangan pernah menyentuh mereka." ucapnya dengan mengepalkan tangannya erat.
"Haa... haa..." tawa Tuan Abidzar yang langsung berhenti. "Akhirnya kau tunduk juga. Baiklah, Papa berjanji padamu, jika tidak akan mengaggu mereka, dan kau bebas mau menemui anakmu kapanpun itu, karena Papa tidak akan melarangnya. Akan tetapi kau akan menikah dalam waktu dua hari lagi." lanjut beliau bagaikan petir menyambar di siang hari.
Bukan hanya Alvian yang kaget, tapi juga anggota keluarga yang lainnya.
"Abidzar! Kenapa kau sangat tergila-gila mau memiliki menantu seperti Alice. Apakah matamu sudah buta? Kau menelantarkan cucumu sendiri karena perempuan seperti itu." seru neneknya Alvian yang ucapnya bagaikan angin lalu di telinga putranya.
...BERSAMBUNG......