
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
"Bara! Tunggu! Aku bicara denganmu." Ria mendatangi rumah Bara bertepatan dengan pria itu yang mau pergi mencari keberadaan istrinya. Ya, itulah yang bara lakukan beberapa hari terakhir.
Bahkan pemuda itu melewatkan untuk rilis album baru bersama seorang artis dari luar negeri. Entah berapa besar Bara mengalami kerugian atas tidak konsisten nya dia.
Gara-gara masalahnya bersama Lula, pria itu menjadi malas untuk melakukan kegiatan apapun. Untung saja di member ALV tidak ada jadwal konser.
"Kau mau bicara apa?" tanyanya cuek karena tidak mau membuat masalah baru. Apalagi Bara tahu jika anak buah Tuan Abidzar secara diam-diam mengikutinya.
"Bar, kenapa kau tidak mau datang ke rumahku lagi? Padahal kau tahu kan jika papaku masih sakit yang bahkan bertambah parah. Jika sampai Minggu depan sahamnya masih rendah, maka kami akan bangkrut." kata Ria dengan wajah sedihnya.
Selain cintanya pada Bara, wanita itu juga tahu jika satu-satunya orang yang bisa menolong mereka adalah Bara. Ketenaran member ALV sudah pasti akan memperlancar segalanya.
"Kita sudah putus dan aku sudah memiliki istri, Ria. Jadi seperti yang pernah aku bilang kita harus menjaga jarak. Lagian apa yang terjadi di perusahaan kalian adalah atas kesalahan papamu dan mamaku."
"Bara... orang tua kita melakukan karena mau menolong mu. Agar kau terbebas dari Lula." jawab Ria tidak mau melepaskan jaket yang dipakai oleh Bara saat ini.
"Terlepas bagaimana maksudmu? Lula adalah istriku dan dia adalah wanita yang aku cintai. Ri, berhentilah mengejar ku karena semua ini kesalahan mu sendiri yang menolak ajakan ku untuk menikah." seru pemuda itu menarik paksa jaket yang dia pakai.
"Tapi---"
"Jangan sampai aku bertindak tegas padamu karena aku diam hanya menghargai pertemanan kita."
"Teman? Ha... ha... Bara jangan pernah membohongi dirimu sendiri. Jika benar kau hanya menganggap ku teman. Lalu kenapa saat aku mencintaimu, kau diam saja." tawa Ria yang membuat Bara terhenyak.
"Aku tidak pernah menginginkannya karena kau sendiri yang tiba-tiba mencium ku." setelahnya Bara pun pergi meninggalkan Ria yang berteriak memanggil namanya.
"Brengsek! Seharusnya aku tidak pernah menjalin hubungan dengan Ria. Walaupun hanya sebatas teman sekalipun." rutuk Bara memukul setir mobilnya. Tanpa arah dan tujuan pemuda itu mencoba mencari sang istri. Sebab jangankan Tuan Abidzar dan Alvian, sahabat member ALV yang lain juga bungkam. Padahal mereka semua sudah bertemu Lula.
"Apa mungkin Lula sebetulnya ada di kediaman Rafael atau Wilson ya? Tapi dia bersembunyi setiap kali aku datang." tebaknya karena kedua tempat tersebut sudah puluhan kali dia datangi.
"Jika terus seperti ini aku bisa gila." Bara menghentikan mobilnya dan berpikir sejenak ketempat mana lagi yang belum dia datangi. Padahal saat ini Lula tengah duduk bersantai bersama Ayara di salah satu rumah milik Tuan Abidzar.
"Lula, bagaimana keadaanmu dan si kecil?" tanya Ayara setelah mereka tinggal berdua saja. Sedangkan Alvian dan kedua anaknya lagi bermain di Taman belakang rumah itu.
"Keadaanku jauh lebih baik, Aya. Terima kasih ya, semua ini berkat dirimu dan Alvian." jawab Lula yang tidak mengalami morning sickness soalnya jika muntah-muntah setiap bangun tidur sudah dirasakan oleh Bara. Hanya saja pemuda itu tidak sadar bahwa penyakit yang dia alami karena istrinya lagi hamil muda.
"Hei, apa yang kau katakan? Kita ini keluarga, jadi jangan pernah merasa sungkan. Cuma... jujur aku merasa kasihan pada Bara. Dia kadang mengirim ku pesan untuk menanyakan tempat tinggal mu saat ini." Ayara tersenyum kecil.
"Biarkanlah! Sebelum kau dan Alvin membawaku ke rumah sakit, dia tidak mau pulang. Sekarang aku hanya ingin sendiri dan membiarkan dia menentukan pilihan tanpa ada paksaan dari siapapun."
"Iya, aku tahu kau masih kecewa padanya. Namun, aku harap kau mau memberinya kesempatan untuk berubah. Itupun jika dia benar-benar sudah mengambil keputusan untuk memilih dirimu yang mandul." nasehat Aya sebagai sahabat.
"Akan aku pikirkan. Tapi saat mengirim pesan padaku, Bara tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya mau bertemu, itu saja."
"Lalu kau jawab apa?"
"Belum aku jawab karena aku hanya membaca semua pesanannya. Aku belum siap untuk bertemu." jawab Lula seraya mengelus perutnya yang masih datar.
"Ya, aku mengerti. Dulu saat baru pertama kali bertemu Alvin, aku juga merasakan hal yang sama. Namun, ternyata rasa cintaku padanya membuat kami kembali bersatu." kata Ayara hanya tersenyum kecil saat mengingat kisah masa lalunya.
"Karena cinta membuat kita terluka, Aya dan karena cinta pula membuat seseorang menjadi bodoh. Namun, sekarang aku hanya ingin membesarkan anakku. Sudah lama aku menantinya dan setelah terjadi pertengkaran karena fitnah itu dia hadir di rahimku."
"Anggap saja semua ini ujian, Lula. Semua orang memiliki permasalahan masing-masing. Namun, dengan cara berbeda-beda. Kau benar sakali karena cinta kita bisa menjadi egois dan bodoh. Aku hanya bisa mendo'akan yang terbaik untukmu dan Bara." Ayara mengelus lembut tangan sahabatnya.
"Iya, aku juga sudah menganggap ini semua adalah ujian. Namun, untuk sekarang biarkanlah Bara berjuang sendiri. Itupun jika dia benar-benar mau menerima diriku yang mandul."
Gumam Lula di dalam hatinya. Rencana Tuan Abidzar benar-benar bagus dengan mengatakan jika Lula mandul bukan hamil.
...BERSAMBUNG......