
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
"Apakah kau sudah siap semuanya, Al?" tanya Hanan berjalan masuk kedalam kamar Alvian. Sudah satu Minggu ini mereka kembali tinggal bersama. Setelah satu tahun terakhir ini mereka memang sudah bebas tinggal di rumah ataupun Apartemennya masing-masing.
Asalkan saat latihan koreo mereka ada tepat waktu. Agensi yang dinaungi Alvian dan keempat sahabatnya memang sangat ketat. Namun, semua itu tentu untuk kebaikan para member itu sendiri.
"Sudah," jawab Alvian duduk di samping Hanan sahabat yang sudah seperti saudaranya sendiri.
"Kau kenapa lagi? Apakah ada masalah bersama Alice?" tanyanya lagi. Soalnya Hanan memang begitu perhatian pada teman-temannya. Bila ada salah satu dari mereka yang memiliki masalah. Maka Hanan dan Naufal selalu menjadi penasehat yang bijak.
"Tidak!" Alvian kembali menjawab singkat dan padat. "Han, apa aku boleh..."
"Boleh apa? Apa kau mau melamar Alice?" goda Hanan ingin mengembalikan mood sang sahabat.
"Bukan itu, nanti aku satu mobil dengan mu, ya?"
"Ck, aku kira ada masalah apa. Tidak masalah, tinggal naik ke mobilku saja," decak Hanan karena dia kira ada masalah besar.
"Oke, kalau begitu ayo kita keluar sekarang. Mereka semua sudah bersiap-siap tinggal menunggu dirimu yang seperti anak perempuan saja," ajak Hanan yang memang datang ke sana untuk melihat Alvian, karena mereka sudah mau berangkat ke kota B.
Alvian tidak menjawab. hanya saja dia mengikuti Hanan dari belakang sambil menarik koper baju yang akan dia bawa. Para member memang membawa baju ala kadarnya. Soalnya jika untuk baju konser ataupun acara lainnya. Itu semua adalah urusan staf, bukan urusan mereka.
Mendengar kata anak perempuan membuat Alvian merogol sagu jaket yang ia pakai. Lalu mengeluarkan sepatu kecil yang pernah dia temukan di makam ibu mantan kekasih.
Ya, sepatu itu masih Alvian simpan dengan baik. Bahkan sudah seperti jimat saja, karena tour kemanapun. Dia selalu membawa benda kecil dan mungil itu bersamanya.
"Kau masih membawa sepatu itu juga? Aku kira kali ini, kamu tidak akan membawanya," tawa Hanan karena semua sahabatanya yang lain juga mengetahui jika Alvian selalu membawanya kemana-mana.
"Tentu saja aku bawa bersamaku, karena aku tidak tega meninggalkan sepatu ini menjadi penunggu kamarku," Alvian juga ikut tersenyum. Dia sendiri juga merasa heran kenapa sangat menyukai sepatu itu.
Terkadang bila tidak bisa tidur, Alvian akan memandang sepatu tersebut sampai dia tertidur sendiri.
"Al, kau kenapa lesu sekali? Apakah lagi sakit?" tanya Sandy menyentuh kening Alvian menggunakan punggung tangannya. "Tapi sepertinya baik-baik saja tidak panas," kata Sandy setelahnya.
"Ck, aku memang tidak sakit," decak Alvian berjalan mendahului keempat sahabatnya.
"Aaghk, paling juga Alvian lesu karena Alice tidak ada menghubunginya." ejek Aldebaran yang ikut menyusul Alvian.
"Apa hanya ini barang milik mu?" tanya Staf Muzaki yang baru saja datang bersama staf yang lain dan bodyguard para member ALV.
"Huem, iya," Alvian pun menyerahkan koper kecilnya pada Staf yang biasa membawa barang pribadi nya.
Akhirnya kerena mereka semua sudah siap. Lima belas mobil pun pergi bersama Group Boyband ALV. Para staf dan juga bodyguard ikut serta, makanya begitu ramai.
*
*
Sementara itu di ibu kota B. Sejak pagi-pagi sekali Aira bunga dan Kak Regina sibuk membuat ratusan karangan bunga yang disukai para member ALV. bunga-bunga tersebut akan dikirim jam dua nanti siang.
Soalnya malam ini harus sudah ditata dengan begitu sempurna. Di stasiun televisi terbesar yang ada di kota B. Besok pagi Boyband ALV akan menjadi bintang tamu di sana selama dua satu jam.
Kak Regina memang sengaja tidak mencari karyawan tambahan untuk sementara. Agar Lula dan Ayara bisa mendapatkan bonus Lima kali lipat dari sebelumnya.
Di iming-iming bonus sebesar itu, tentu saja mereka berdua mau. Soalnya baik Ayara ataupun Lula sama-sama memiliki tanggungan beban hidup masing-masing.
Namun, kali ini Ayara berniat akan membawa putrinya pergi jalan-jalan. Hitung-hitung menikmati hidup yang tidak pernah berpihak padanya.
Apalagi Kak Regina mengatakan jika semuanya lancar. Maka mereka diberi bonus libur satu hari.
"Lula, apakah besok pagi kau tidak ingin pergi jalan-jalan bersama aku dan Vania?" tanya Ayara kerena mereka lagi duduk istirahat. Setelah kurang lebih hampir tiga jam tidak berhenti bekerja.
Untung saja si cantik Vania tidak rewel. jadi ayah Ra bisa bekerja dengan benar tanpa ada yang mengganggu pekerjaannya.
"Tidak, soalnya aku akan pergi ke rumah Bibiku, putrinya melahirkan tadi malam dan aku belum menjenguknya." tolak Lula cepat, karena dia juga memiliki acara yang tidak bisa dia lewatkan.
"Sayang sekali, padahal aku dan Vania akan berbelanja sembako sekaligus pergi jalan-jalan," ucap Ayara tersenyum mengerti.
"Tidak apa-apa, kalian pergilah. Aku senang melihat kau dan putrimu bisa bepergian seperti orang-orang," Lula mengelus bahu sabatnya. Lalu karena Aya hanya dia saja dia berkata lagi.
"Jujur Ara, setiap melihat putrimu menatap anak Kak Riri bermain boneka, hati aku sakit melihat nya. Namun, untuk membeli Vania boneka seperti itu, meskipun gaji kita berdua dikumpulkan tidak akan sanggup," ungkap Lula yang menganggap si cantik Vania seperti keponakannya sendiri.
'Tidak apa-apa, daripada uangnya untuk membeli Boneka. Lebih baik uangnya aku gunakan untuk bayar sewa rumah." sahut Ayara sambil menatap sang putri yang lagi bermain sendirian.
"Aku juga merasa kasihan pada putriku, Lula. Tapi mau bagaimana lagi, aku harus bisa menjadi ibu dan ayah buat Vania.".
BERSAMBUNG