
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
"Kenapa kau sudah bangun? Ini kan masih pagi."
"Aku terbangun karena mendengar suara mu." jawab Lula menatap suaminya dengan tatapan tidak menentu.
"Maaf ya, aku sudah menganggu tidur mu. Jika begitu karena sudah bangun kau tidak boleh tidur lagi. Sekarang kau temani aku memasak sesuatu untuk sarapan kita." Bara berdiri dengan semagat empat lima. Padahal beberapa menit lalu dia muntah-muntah dan lemas tidak berdaya.
"Ini rumah siapa? Apaka---"
"Ini rumah baru kita, tapi belum ada asisten rumah tangga di sini. Nanti siang baru datang." sela pria itu cepat.
Bara bagaikan memiliki tenaga super. Dia tidak kelelahan mengendong Lula ala bridal style.
"Bar, ap---"
"Kita akan ke dapur. Kau tidak boleh kelelahan jadi aku yang mengendong mu." sebelum istrinya protes Bara sudah berjalan keluar kamar.
"Ini sebetulnya bukanlah kamar kita, tapi kamar untuk tamu. Namun, selama kau hamil biarkan saja kita tidur di sini. Aku tidak mau kau sampai kenapa-kenapa." jelasnya agar sang istri tidak binggung.
"Eum... sejak kapan kau mempunyai rumah ini? Apaka---"
"Jangan berpikiran yang macam-macam. Ini rumah untukmu. Sebetulnya dulu aku ingin memberimu kejutan seperti Alvin memberikan kejutan pada Aya. Namun, semua itu tertunda karena kau tak kunjung hamil. Akan tetapi setelah aku menyerah akan keadaan, dia hadir di rahimmu. Walaupun dalam keadaan tidak tepat karena kedua orang tuanya lagi bertengkar. Maafkan aku, Sayang." ucap Bara mengelus kepala Lula. Sekarang mereka sudah tiba didalam dapur bersih dan Lula duduk di kursi meja makan.
"Aku mau memasak sesuatu untukmu dan calon anak kita. Jadi kau diam disini tidak boleh kemana-mana." Bara tersenyum karena melihat Lula memanyunkan bibirnya.
Cup!
"Mau marah jangan ditahan ya, karena aku ingin kau terbuka tidak menyembunyikan hal apapun yang membuat badanmu kurus seperti beberapa bulan lalu." pemuda itu mengecup kening istrinya dan langsung saja menuju lemari pendingin untuk melihat bahan yang akan dimasaknya.
"Hanya ada telur, dan beberapa bahan lainya. Eum... aku akan membuat omelette saja yang penting istri dan anakku tidak kelaparan." gumam Bara yang membuat Lula tersenyum melihatnya.
"Ternyata aset negara bisa memasak juga? Baru kali ini aku melihat Bara memasak. Biasanya kan dia hanya membantuku ala kadarnya."
Batin Lula menatap suaminya yang terlihat tanpan. Padahal Bara hanya mencuci mukanya saja, belum mandi.
"Tunggu ya, sebentar lagi akan selesai." kata pemuda itu yang takut Lula kelaparan. "Aku tidak menyiapkan bahan makanan karena tidak menyangka jika tadi malam kita sudah pindah ke sini."
"Lalu itu kapan kau menyiapkannya? Apakah ada yang tinggal di sini sebelum kita datang?" tanya Lula penasaran. Namun, dia menyukai rumah baru mereka.
"Beberapa hari lalu aku ada tidur di sini. Waktu itu aku pernah mencarimu di daerah sini juga. Malas pulang ke rumah akhirnya aku singgah dan menyuruh penjaga membeli bahan makanan."
"Oh, pantas saja." Lula mengagguk mengerti karena dia juga ingat jika Bara mengatakan lagi tidur di suatu tempat. Akan tetapi dia tidak memberi tahu tentang rumah tersebut.
Sambil menunggu masakannya siap. Pasangan suami-istri itu mengobrol tentang rencana mereka hari ini. Bara mau mengajak Lula pergi ke rumah sakit. Untuk memeriksa kandungan istrinya. Wanita itupun tidak menolak karena dia memang sudah waktunya untuk di periksa.
"Sudah siap, ayo kita sarapan. Tapi biar aku yang menyuapi mu." tanpa bantahan Bara menyuapi Lula seperti mana anak kecil.
"Dulu aku merasa iri melihat Aya disuapi oleh Alvin. Namun, pagi ini aku juga disuapi oleh suamiku."
Lula terus mengembangkan senyum bahagianya. Dia benar-benar bahagia dengan perlakuan Bara yang tidak seperti dulu lagi.
"Bara, kau juga harus makan!"
"Iya, tapi perutku sudah kenyang melihat mu makan dengan lahap. Tidak seperti dulu yang hanya mengaduk-aduk makanan saja." jawab Bara yang baru sadar jika istrinya seperti itu karena selalu merasa tertekan.
Lula tidak berkata apa-apa, dia hanya diam setelah itu. Soalnya untuk saat ini Lula malas bila membahas tentang masa lalu mereka. Biarlah semua terkubur dalam ingatan masing-masing.
Setelah selesai sarapan, pasangan suami-istri itu kembali ke kamar dan langsung membersihkan tubuhnya secara bergiliran. Hanya kurang dari waktu satu jam kemudian. Bara dan Lula sudah berangkat ke rumah sakit Hospital Center.
"Sayang, setelah kau lahiran nanti aku mau mengadakan resepsi pernikahan kita."
"Hah? Kenapa?"
"Karena aku mau kau merasakan kebahagiaan saat menikah. Seperti Aya, walaupun Via sudah besar. Namun, dia masih bisa melakukan resepsi seperti gadis pada umumnya." jawab Bara yang sudah lama memikirkan untuk membuat pesta pernikahan mewah. Namun, dikarenakan Lula lagi hamil, jadi dia menundanya sampai anak mereka lahir.
"Tapi---"
"Tidak ada tapi-tapian! Kita akan mengadakan resepsi pernikahan mewah dimanapun yang kau inginkan. Lula, aku ingin semua orang mengetahui bahwa kau adalah wanita yang aku cintai. Istri dari Albar yang mereka idolakan."
"Ya, terserah kau saja. Tapi pulang dari rumah sakit kita---"
"Akan ke rumah Om Abi karena aku juga mau mengucapkan terima kasih karena sudah menjagamu." sela Bara yang diiyakan oleh istrinya. Begitu tiba di rumah sakit Hospital Center. Pasangan suami-istri itu disambut oleh Dokter kandungan. Tadi Lula sudah mengirimkan pesan padanya.
"Bagiamana keluhannya, Nona? Apakah ada?" tanya sang dokter sambil mengolesi gel pada perut Lula.
Untuk pemeriksaan Lula memang private karena belum boleh orang lain tahu jika dirinya adalah istri Aldebaran. Apalagi hari ini Bara yang mengantar sendiri.
"Tidak ada keluhan, Dok. Tapi sepertinya suami Saya yang mengalami ngidamnya."
"Tidak apa-apa, itu jauh lebih baik. Agar tubuh mu jauh lebih sehat. Sebab mengandung anak kembar tidak sama seperti hamil ibu hamil biasanya." Dokter kandungan tersebut tersenyum lebar saat melihat jika Lula hamil anak kembar.
"A--apa? Apakah istri Saya hamil anak kembar, Dok?" Bara memastikan.
"Iya, Nona Lula hamil anak kembar tiga." dokter tersebut menjawab yakin.
"Apa!" seru Lula dan Bara secara bersamaan. Namun, jangan lupakan mereka berdua sama-sama menangis bahagia.
"Bara... A--aku! Aku hamil anak kembar." Lula terbata-bata karena tidak sanggup menahan rasa bahagianya. Anak yang selama ini dinanti-nantikan malah hadir langsung ada tiga calon bayi.
"Iya, sayang. Kita mau punya anak tiga sekaligus. Aku rasanya seperti lagi bermimpi indah." jawab Bara seraya mencium tangan Lula dihadapan sang Dokter.
"Hari ini juga, aku mau membuat konferensi pers untuk mengumpulkan jika aku sudah menikah dan akan menjadi calon ayah."
"Tapi, Bar, bagaimana bila---"
"Jangan cemas karena aku akan menyelesaikan semuanya. Kau jauh lebih penting dari apapun." potong Bara cepat.
"Menurut Saya keputusan Albar sudah benar, Nona. Sekarang Anda sedang hamil dan takutnya ada berita miring lagi tentang anak kalian. Demi kebaikan bersama maka segeralah umumkan. Itu menurut pendapat Saya dan mohon maaf tidak bermaksud ikut campur." timpal sang dokter sudah selesai memeriksa Lula dan bayinya yang tumbuh sehat.
"Tidak apa-apa, Dok. Terima kasih atas sarannya. Saya hanya takut bila fans ALV tidak terima begitu saja, terutama fansnya Bara." ucap Lula karena tidak ingin karier suaminya menjadi bermasalah.
"Cepat atau lambat kan tetap akan diumumkan. Jadi lebih baik sekarang agar hal yang kita takutkan tidak terjadi." sambung Bara sudah bulat pada keputusannya.
Pemeriksaan kali ini agak lama, karena ada beberapa hal yang harus pasangan suami-istri itu ketahui. Selain baru anak pertama, juga karena calon anaknya kembar tiga.
Hampir selama satu jam, barulah keduanya berpamitan pada dokter tersebut dan berangkat menuju kediaman keluarga Rafael.
"Sayang, apakah kau mau makan sesuatu?" tawar Bara karena baru tahu jika ibu hamil suka menginginkan sesuatu.
"Eum... aku mau makan masakan Tante Lili. Karena itu aku mengajak kesana." jawab jujur Lula.
"Tidak apa-apa, nanti aku akan membantu Tante Lili. Apapun yang kau inginkan katakan saja, ya. Jangan ditahan-tahan." ujar Bara mengenggam lembut tangan istrinya.
"Huem, iya." jawab wanita itu tersenyum kecil.
"Terima kasih anakku karena sudah hadir di rahim ku. Aku akan menjaga kalian bertiga."
Lula mengelus perutnya yang terlihat besar. Mungkin karena dia mengandung anak kembar tiga jadi berbeda dari wanita hamil biasanya.
"Ayo turun! Tante dan Om pasti sangat bahagia mendengar kau hamil anak kembar." Bara melepaskan sabuk pengaman pada tubuh istrinya.
"Ya, mereka semua pasti bahagia karena selama ini Dokter Jenny tidak mengatakan bahwa aku hamil anak kembar." kata Lula tidak sabar untuk memberikan kebahagiaan tersebut bersama keluarga angkatnya.
... BERSAMBUNG... ...