I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Jangan Pernah Cemburu. ( Alvian )



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


Hari begitu cepat berlalu. Sudah empat hari Alvian dan Aya pindah ke rumah baru mereka. Si cantik Vania, terkadang bersama orang tuanya dan terkadang lagi tidur di rumah utama karena di jemput oleh oma, opa dan terkadang Deri yang sengaja datang untuk menjemput sang keponakan.


Namun, malam ini si cantik Vania tidur di rumah bersama kedua orang tuanya, karena hari sabtu pagi. Alvian harus berangkat ke Amerika serikat untuk melakukan tour di sana. Kemungkinan baru akan kembali ke negara mereka, sekitar lima atau enam hari setelahnya.


Sekarang kehidupan Ayara benar-benar sudah sangat bahagia. Meskipun beberapa hari lalu kembali lagi harus menangis ketika bertemu Tuan Edward di makam ibunya.


Namun, kehadiran sosok Alvian membuat Aya dengan cepat bisa melupakan kesedihan tersebut.


Alvian yang mendapat libur selama hampir satu minggu. Tentu tidak ingin menyia-nyiakan waktu tersebut agar bisa bersama anak dan istri bahkan keluarga besar Rafael.


Gara-gara kehadiran Aya dan Vania. Sekarang hubungan Alvian si member ALV bersama ayahnya sudah kembali seperti dulu lagi. Bahkan satu hari yang lalu mereka semua melakukan piknik bersama keluarga besar Rafael.


Di Villa milik Tuan Edward yang dulu pernah didatangi olehnya dan Aya. Yaitu hanya sekedar untuk memadu kasih sebagai bentuk perayaan hari kelulusan mereka berdua.


Ternyata dengan menikahnya Alvian membuat Tuan Edward melupakan rasa kecewanya terhadap sang putra. Sehingga di keluarga Rafael hanya ada kebahagiaan. Di sertai kehebohan yang diciptakan oleh Vania.


Sebagai Princess kecil yang selalu menjadi rebutan oleh sanak saudara papanya. Apabila semuanya lagi berkumpul di rumah utama.


"Sayang," seru Alvian yang melihat Aya baru masuk kedalam kamar mereka. Sambil membawakan air putih. Takutnya saat tengah malam haus ingin minum.


Sedangkan rumah tersebut sangatlah besar, apalagi harus repot-repot menuruni tangga. Makanya di saat Alvian menidurkan putri mereka. Wanita itu pergi turun ke bawah untuk mengambilkan air putih.


"Huem," jawab Aya hanya berdehem. Lalu dia menaruh tempat air yang terbuat dari kaca itu di atas meja samping tempat tidur.


"Apakah Via sudah benar-benar tidur? Kenapa cepat sekali kau kembali ke kamar kita," Tanyanya karena saat Aya turun ke bawah, suaminya itu baru saja mau menidurkan Vania di kamarnya sendiri.


"Sudah! Kau lihat saja pada layar itu," tunjuk pemuda itu pada layar CCTV yang terhubung dengan kamar sang putri.


"Oh, iya! Aku lupa lagi, karena belum terbiasa." Jawab Aya tersenyum seraya naik ke atas ranjang, karena Alvian sudah menarik tangannya agar sama-sama naik ke atas tempat tidur yang berukuran king size.


Cup!


"Aku mencintaimu," bisik Alvian mendekap Aya dalam pelukan dengan posisi duduk bersandar pada kepala ranjang.


"Alvin, kata mama, bagaimana jika Vania dimasukkan sekolah saja? Agar dia mulai mengenal huruf, menghitung dan mewarnai. Supaya saat waktunya tiba, otaknya tidak terperas." tanya si ibu muda itu mendongak keatas untuk bisa bertatap muka dengan suaminya.


Tadi siang Ayara kembali lagi diajak oleh ibu mertuanya pergi jalan-jalan ke pusat perbelanjaan terbesar di kota tersebut. Nah pada saat itulah sang mertua memberi usul supaya Vania dimasukkan ke sekolah saja.


"Usul yang bagus! Tapi jika hari Senin aku sudah tidak ada di sini. Jadi bagiamana aku bisa menemanimu buat mendaftar Putri kita ke sekolahannya?"


"Jika soal itu kau tidak perlu khawatir, karena aku akan mendaftarkannya sendiri. Lagian kan kau tidak mungkin ikut mendaftarkan Vania ke sekolahannya. Nanti bagaimana bila para guru ada yang mengenalimu."


"Huem, benar juga. Aya maafkan aku karena belum bisa menunjukkan pada publik bahwa aku sebetulnya sudah memiliki istri dan seorang anak," kata pemuda itu merasa bersalah.


"Sudah, tidak apa-apa! Bukankah kita sudah membahas hal ini sebelumnya. Jadi jangan di jadi kan masalah besar hanya perihal mendaftarkan Vania untuk sekolah." Ayara sudah kembali lagi seperti tadi.


Yaitu bersandar pada dada bidang suaminya. Namun, tidak lama setelah itu ponsel milik Alvian kembali menyala karena ada yang menelponnya.


Sehingga membuat Alvian meraih ponsel tersebut yang berada dekat tempat Aya menaruh air minum.


"Alice?" gumam Alvian saat melihat nama yang tertera pada layar ponselnya.


"Vin, siapa?" saat bertanya siapa yang menelepon suaminya malam-malam. Tubuh Aya sudah duduk seperti mana Alvian.


Sehingga dia melihat nama Alice yang menelepon suaminya. Namun, dia hanya diam saja tidak bertanya lagi.


"Ini Alice, pasti kau tahu kan siapa dia. Alice adalah s---"


"Angkat saja, sepertinya sudah dari tadi dia menghubungimu." sela Ayara cepat, karena saat Aya ikut menatap pada ponsel tersebut. Sudah lebih dari lima belas kali wanita itu mencoba menghubungi Alvian.


Namun, tidak diangkat oleh pemiliknya karena Alvian lagi menidurkan si cantik Vania di kamar sebelah. Sedangkan ponsel tersebut ada di meja samping tempat tidur mereka.


"Vin, angkatlah!" seru Ayara karena Alvin tidak kunjung mengangkat panggilan tersebut.


"Sudah, biarkan saja." pemuda tersebut menaruh kembali ponselnya ke tempat semula. Akan tetapi benda pipih tersebut sudah bergetar lagi karena Alvian membuatnya mode silent.


"Huh! Ada apa sih! Mengaggu saja," seru Alvian berniat mau mematikan saja ponselnya karena tidak ingin membuat Aya tidak nyaman gara-gara Alice meneleponnya malam-malam.


Namun, pemuda itu mengurungkan niatnya. Setelah melihat nama yang tertera adalah Sandy sahabatnya.


"Sandy!" ucap Alvian yang langsung mengangkat panggilan tersebut.


📱 Alvian : "Iya, San, ada apa?" tanya Alvian menatap kearah istrinya yang diam seperti lagi memikirkan sesuatu.


📱 Sandy : "Tidak ada, aku hanya mau mengatakan jika besok aku akan menunggu di kantor Agensi kita. Tidak berangkat bersamamu." jawab Sandy langsung saja tanpa berbasa-basi.


Soalnya baru tadi siang mereka berjanji akan berangkat bersama menggunakan satu mobil seperti biasanya. Akan tetapi itu dua hari, dari sekarang.


📱 Alvian : "Apakah ada perubahan jadwal berangkat? Kenapa aku tidak tahu?" seru ayah satu anak itu yang sudah sering terjadi perubahan jadwal keberangkatan mereka.


📱 Sandy : "Iya, kita akan berangkat besok pagi-pagi seperti biasanya. Apakah barusan Staf Muzakki tidak ada menghubungimu?"


Cup!


"Tunggu sebentar, ya. Aku ingin berbicara sama Sandy." ucapnya pada sang istri yang hanya mengagguk di sertai senyuman kecil.


Sebelum benar-benar turun dari ranjang. Alvian mengacak rambut Ayara. Hal yang selalu dia lakukan sejak mereka berpacaran dan ternyata perpisahan mereka selama beberapa tahun belakangan ini. Tidak membuat Alvian melupakan kebiasaan tersebut.


📱 Sandy : "Al, kau sedang apa? Apakah aku telah mengganggu kalian yang sedang---"


📱 Alvian : "Apa yang kau katakan! Aku ini baru pindah tempat duduk." sela pemuda itu yang sudah tahu kemana arah perkataan sang sahabat.


📱 Sandy : "Ha... ha... aku kira kau dan Aya lagi membuat adik untuk Via." tawa Sandy sebeluma bicara serius lagi.


📱 Alvian : "Kenapa jadwalnya bisa berubah? Sepertinya tadi Staf Muzaki ada menghubungiku. Cuma tidak kuangkat karena lagi menidurkan Via di kamar sebelah."


📱 Sandy : "Mendadak kita ada tambahan jadwal konser. Agar tidak terbang kesana-kemari, yang menyita waktu dan tenaga. Jadinya Staf Muzaki mengatur keberangkatan kita di percepatan." jelas Sandy dari seberang sana.



📱 Alvian : "Ya sudah! Tidak apa-apa. Besok aku juga akan berangkat minta di antar Denis saja, karena dia tidak ikut denganku lagi. Biar ada yang menjaga istri dan anakku," ucap Alvian yang tidak ada pilihan lain. Selain harus berpisah dengan anak dan istrinya sampai beberapa hari ke depan.


📱 Sandy : "Iya, Denis orang yang bisa di percaya. Aku setuju jika kau menganti bodyguard mu dengan orang lain saja dan biarkan Denis menjaga anak, istrimu. Oya, Al, apakah Alice tidak ada menghubungimu?"


📱 Alvian : "Ada, barusan! Tapi tidak ku angkat. Memangnya kenapa? Alvian balik bertanya.


📱 Sandy : "Tidak ada apa-apa! Aku hanya bertanya saja, berarti dia meneleponmu untuk memberitahu bahwa kita akan berangkat bersama. Soalnya Alice juga ada satu jadwal konser bersama kita."


📱 Alvian : "Benarkah! Wah sepertinya sudah lama kita tidak satu panggung dengan mereka.


📱 Sandy : "Iya, jadi besok kita akan berangkat di penerbangan yang sama."


📱 Alvian : "Kenapa harus berangkat bersama? Bukanya kita hanya ada satu jadwal yang bersama mereka?"


📱 Sandy : "Entahlah! Soalnya itu kau tanyakan saja langsung pada Staf kita. Tapi aku rasa karena Agensinya sudah ikut bernaung dibawah asuhan Staf Muzaki."


📱 Alvian : "Iya, aku rasa juga seperti itu." ucap Alvian seraya menoleh kearah Ayara yang mulai baring dengan memunggungi dirinya.


"Apakah Aya marah padaku? Sepertinya sejak tahu jika Alice menelepon diriku, dia terlihat cemberut." gumam Alvian tidak mengalihkan pandangan matanya dari sang istri.



"Kenapa aku sangat senang melihatnya cemberut gara-gara cemburu, ya. Itu tandanya Aya juga sama, masih mencintaiku, " pemuda itu tersenyum kecil.


📱 Alvian : "Ya sudah! Ini sudah malam, tidur saja. Agar besok kita tidak terlambat."


📱 Sandy : "Hei, suaramu kenapa menjadi sedih seperti itu. Kita hanya pergi kurang lebih satu Minggu. Jadi malam ini kau boleh mengambil jatah lebih banyak lagi." tawa Sandy yang langsung sambungan telepon mereka. Sebelum Alvian marah padanya.


"Dasar!" seru pemuda itu yang benar seperti dugaan Sandy bahwa Alvian akan mengumpat kasar karena sudah mengejeknya.


"Ada apa? Apakah kau akan pergi besok pagi?" tanya Ayara karena Alvian langsung berbaring menyamping sama seperti dirinya sehingga posisi mereka saling berhadap-hadapan.


"Huem!" tangan Alvian terangkat untuk mengelus pipi sang istri yang sangat dia yakini sedang marah padanya.


"Besok aku harus berangkat pagi-pagi. Selama aku pergi, Denis yang akan mengantar kemanapun kalian pergi. Dan dia juga yang akan menjaga kau dan putri kita." lanjutnya yang tidak membuat Aya bicara sepatah katapun.


"Aku hanya pergi sekitar paling lama satu Minggu. Jadi jangan marah, apalagi cemburu, karena jangankan sekarang. Ada kau dan Via yang menanti kepulangan ku. Dulu saja, aku tidak pernah tertarik pada gadis manapun," ungkap Alvian menarik Aya agar masuk kedalam pelukannya dengan posisi sama-sama baring.


"Semua itu karena meskipun di luar sana aku milik fans ALV. Akan tetapi mau sampai kapanpun, aku tetap Alvin milik Ayara." lanjutnya tersenyum kecil karena terasa Ayara mengeratkan pelukan pada dada bidangnya. Pertanda bahwa Ayara sudah tidak marah lagi.


"Tolong jangan pernah berpikir bahwa aku akan menduakan mu. Aku memang brengsek karena sudah meninggalkan mu saat mengandung anakku. Tapi aku tidak akan pernah mengkhianati istriku yang aku cintai hanya karena wanita lain."


"Siapa yang mengatakan aku cemburu? Aku tidak marah padamu, aku hanya---"


Cup!


"Hanya tidak suka melihat ada seorang gadis meneleponku saat malam hari?" sela Alvian tersenyum kecil setelah berhasil mengecup bibir ranum istrinya.


"Alvin, aku tidak cemburu padanya. Aku..."


"Aku apa? Huem! Daripada kita membicarakan hal tidak penting. Lebih baik kita membuat adik untuk Via. Agar dia betah tinggal di rumah." seloroh pemuda itu yang langsung membuat mata Aya menelan Saliva nya sendiri.


Soalnya tadi sore, sebelum putri mereka di antar pulang oleh Deri. Alvian dan Aya baru saja melakukan percintaan kurang lebih dua jam. Lalu bagaimana mungkin malah ini suaminya sudah minta lagi.


"Aya, kau kenapa? Ap---"


"Eum... Vin, apakah aku boleh ke makam mama saat kau pergi? Soalnya aku masih belum puas saat kita ke sana. Gara-gara bertemu Edward."


"Tidak boleh bila hanya pergi bersama Via. Bila kau mau pergi, ajak Denis karena mulai sekarang. Dia adalah sopir mu. Mobil yang datang tadi sore, adalah mobil pribadi mu. Hadiah dariku karena sudah mau memberiku kesempatan untuk memperbaiki semuanya."


"Kenapa kau harus repo---"


"Shuuit! Aku tidak pernah merasa direpotkan. Aya, mulai saat ini kau dilarang mengatakan kata repot-repot. Aku melakukan tugasku sebagai suamimu. Agar bisa membahagiakan kau dan Via. Jadi jangan katakan hal seperti itu lagi." Alvian menaruh jari telunjuknya pada bibir Aya.


Sehingga dalam hitungan detik. Tangan tersebut sudah berubah posisi menjadi menahan tengkuk Ayara, karena Alvian sedang melakukan silaturahmi bibir.


*BERSAMBUNG*...