I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Ada Didepan Mata.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


Setelah mengudara selama kurang lebih setengah jam. Akhirnya Alvian beserta rombongan dari Agenci AX Si sudah mendarat di ibukota S degan selamat. Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil untuk menunju ke rumahnya masing-masing.


"Sayang, wanita itu mau dibawa kemana?" tanya Alvian karena sejak tadi Alvian tidak bertanya melihat istrinya seperti mengantuk.


Lagian dia juga ingin Ayara merasa bebas. Bukan harus dikekang tidak boleh ini dan itu. Alvian ingin Ayara merasa nyaman, tidak lebih hanya itu saja. Soalnya percuma bila dia memiliki harta berlimpah sedangkan istrinya menderita.


"Aku sudah bilang pada Denis dan Kakak itu agar dibawa ke apartemen Lula. Besok baru kita pikirkan mau ditempatkan dimana," jawab Ayara yang sudah bicara pada Renata juga.


Jika malam ini wanita itu akan tinggal bersama sahabatnya untuk sementara. Soalnya Ayara tidak mau menyuruh Denis membawanya ke hotel.


Cup!


"Baiklah! Lakukanlah bila itu menurutmu baik," Alvian mengecup kening istrinya. Saat ini dia dan Ayara sudah berada di dalam mobilnya sendiri yang di sopir oleh bodyguard pribadi Alvian, tapi bukan Denis.


"Maaf ya, aku jadi merepotkan mu," Aya tersenyum seraya mendongak keatas karena posisinya bersandar di dada bidang suaminya.


Entah mengapa sejak dua hari ini dia sangat suka bila berada dalam mobil dengan posisi seperti saat ini.


"Tidak merepotkan sama sekali. Selama itu membuatmu bahagia karena aku yang tidak maunya kau menderita,"


"Huem," Aya tidak menjawab lagi. Dia hanya mengagguk kecil sambil kembali duduk seperti suaminya.


"Kenapa? Apakah kau mau membeli sesuatu?" tanya pemuda itu karena istrinya menatap keluar jendela mobil yang tertutup rapat.


"Alvin, aku mau itu," tunjuk Aya yang membuat suaminya menoleh cepat karena mobil sedang melaju dengan kecepatan rata-rata.


"Kau mau makanan itu? Yang lagi dibakar?" Alvian memastikannya dulu.


"Iya, aku mau. Ayo cepatlah beli," rengek Ayara yang matanya terus menatap kearah belakangan. Padahal tempatnya sudah tertinggal begitu jauh.


"Baiklah, kita beli di depan saja, ya. Di samping toko bunga di persimpangan ada juga yang menjual makanan seperti itu,"


"Tidak! Aku maunya yang tadi," tolak ibu muda itu cepat.


"Apa! Tapi..." Alvian tidak melanjutkan lagi ucapannya. "Roby, cepat putar arah mobilnya. Kembali ke jalan Asima jalur bandara," titah nya langsung karena tidak mau membuat Ayara kecewa hanya karena makanan.


"Baik Tuan," jawab pria yang lagi fokus melihat kearah depan mobil. Memperhatikan jalanan ibu kota yang sangat ramai oleh kendaraan lain.


"Al, aku mau turun membelinya, sendiri, ya?"


"Tidak boleh! Biarkan Roby yang---"


"Aku tidak mau. Jika bukan aku yang membelinya, maka kau saja," mata Alvian membola mendengar perkataan istrinya. Bagaimana mungkin dia disuruh membeli makanan dipinggir jalan seperti sore ini.


Apalagi di tempat tersebut begitu banyak yang lagi mengantri menunggu pesanan mereka.


"Yasudah, jika tidak mau biarkan aku saja. Dulu saat di kota B aku sering membeli kue bakar seperti itu dan aku membelinya sendiri tidak ada---"


"Tunggu di mobil saja, ya. Biar aku yang belikan," sela Alvian tidak ingin Ayara yang turun membelinya sendiri.


"Benarkah? Wah, terima kasih! Tolong bilang pada penjualnya agar membakarnya agak gosong, ya," seru Ayara tersenyum bahagia.


"Iya, tapi tunggu mobilnya sampai dan berhenti," Alvian ikut tersenyum melihat betapa bahagianya Aya hanya karena ingin makanan.


"Tunggu sebentar, ya. Ingat tidak boleh keluar dari mobil. Bila ingin sesuatu lagi biarkan aku yang membelinya," pesan Alvian sambil memasang masker penutup wajah. Agar tidak ada yang mengenal dirinya.


"Iya, kau tenang saja," ucap Ayara sambil menatap kepergian suaminya. Setibanya di luar Alvian langsung mengikuti antrian seperti para pembeli yang lainya.


Meskipun dia menjadi sorotan karena bukan hanya turun dari mobil mewah saja. Akan tetapi Alvian memakai pakai limited edition yang harganya ratusan juta. Lalu bagaimana mungkin ikut mengantri untuk membeli kue yang dicetak dan dibakar seperti mana sate. Mungkin seperti itulah perkiraan orang-orang.


Namun, pemuda itu cuek saja dan tidak memperdulikan hal tersebut. Baginya bisa membahagiakan Ayara adalah yang nomor satu. Biar dia ikut mengantri juga.


"Alvin... dulu saat aku hamil Vania. Sangat sering mengantri seperti dirimu saat ini hanya untuk membeli kuenya." gumam Ayara memperhatikan suaminya yang lagi tegak dibelakang pembeli lainnya.


"Aku begitu iri saat melihat pasangan suami-istri yang membeli makanan bersama-sama. Sedangkan aku hanya sendirian. Akan tetapi sekarang, aku sudah ada dirimu." Aya menyeka air bening dari sudut matanya.


"Itulah alasanku membawa Kak Renata bersama kita. Karena aku sangat yakin bahwa dia adalah orang baik yang teraniaya hatinya." lanjutnya lagi yang tidak bisa melihat ada wanita tersakiti karena dia pernah merasakan hal tersebut.


Hampir dua puluh menit kemudian Alvian sudah kembali masuk kedalam mobil dengan peluh mengucur pada tubuhnya. Baju yang pemuda itu pakai sampai basah oleh keringat.


Sungguh besar perjuangannya untuk bisa membeli kue bakar yang diinginkan oleh istrinya.


"Sayang, ini. Makanlah selagi hangat karena kata yang jual makanan ini enaknya jika sehabis dipanggang saja," ucap Alvian menyerahkan makanan tersebut pada istrinya.


"Roby, ayo jalan. Aku sudah tidak sabar mau bertemu princess," titahnya pada sang sopir.


"Huh! Agh... jadi seperti ini rasanya mengantri," keluh Alvian setelah melepas masker dan bahkan kancing bajunya juga ia buka beberapa.


"Terima kasih! Maaf ya, aku---"


Cup!


"Jangan apa-apa harus berterima kasih. Aku sangat senang bisa melakukannya," Alvian membungkam mulut Ayara dengan mengecup bibir istrinya.


"Apa kau tahu saat berdiri tadi aku malah mengigat pada saat pertama kali aku ke kota B. Aku melihat mu di pinggir jalan lagi ikut membeli martabak. Aku kira salah orang karena terlalu merindukanmu. Tau-taunya kau memang Ayara ku bersama benih yang sudah aku titipkan," ucap Alvian setelah melepas ciumannya.


"Kau mengingatnya? Aku kira sudah lupa karena---"


"Mana mungkin aku bisa lupa. Itu adalah kenangan menyakitkan karena seharusnya saat itu aku ada bersama mu. Kita akan sama-sama membesarkan Via. Namun, aku malah bahagia dengan duniaku sendiri dan kau menderita sendiri ditengah kerasnya kehidupan tanpa seorang suami mau---"


"Enak kan. Jangan diingat lagi. Bukannya kau sendiri yang bilang," Ayara tiba-tiba masukan potongan kue tersebut kedalam mulut suaminya.


"Haa... ha... jadi kau balas dendam," tawa Alvian karena terkadang dia sendiri juga lupa bahwa mereka harus melupakan kenangan masa lalu yang sama-sama menyakitkan untuk keduanya.


"Enak juga, tapi aku tidak suka ada rasa pedasnya," keluh pemuda itu tetap memakan yang sudah disuapi oleh istrinya. Agar Ayara tidak tersinggung bila dia menolak makanan tersebut.


"Ini memang di kasih merica makanya pedas," jawab Ayara tidak menyuapi Alvian lagi karena tahu jika suaminya anti dengan makanan pedas.


"Apakah mau minum?" tanya Alvian melihat Aya seperti orang kepedasan.


"Iya, tapi tunggu sebentar lagi," seperti mana anak kecil. Ayara yang makan pedas Alvian yang sibuk menyiapkan air mineral untuk sang istri. Namun, sayangnya Aya hanya memakan beberapa potongan kecil saja. Setelah itu dia sudah tidak mau lagi dan Alvian pun tidak memaksanya.


Setelah dua puluh menit kemudian. Mobil yang dikendarai oleh Roby sudah berbelok ke arah pagar tinggi karena mereka telah sampai ke kediaman keluarga Rafael.


"Hey... pelan-pelan saja. Bagaimana bila kau terjatuh. Lagian Via tidak akan pergi kemana-mana. Dia ada didalam menunggu kita," Alvian menahan pergelangan tangan Ayara yang mau berlari masuk kedalam rumah tersebut.


"Aku hanya---"


"Aku juga sangat merindukan putri kita. Tapi tidak perlu berlari juga, kan," sela si tampan Alvian menarik lembut tangan istrinya.


"Selamat datang Tuan Muda, Nona Muda," sambut pelayan yang sudah menunggu didepan pintu utama rumah mewah tersebut.


"Terima kasih, Bibi. Oya, apaka---"


"Papa... Mama..." seru Vania sudah berlari diikuti oleh omanya dari belakang.


"Aaaa... cantiknya Papa," seru Alvian langsung berjongkok dan menangkap tubuh Vania untuk dia gendong.


"Via, sayangnya Mama," seru Ayara memberikan ciuman pada pipi putrinya berulang kali. "Mama sangat merindukan mu," ucapnya lagi ingin mengendong Vania. Namun, langsung dicegah oleh Alvian.


"Nanti saja, tunggu di dalam. Kau kurang sehat dan si cantik kita seperti bertambah berat saja," ucap Alvian karena tidak mau Ayara sampai kelelahan.


"Tapi---"


"Sayang, benar kata Alvin. Jangan mengendong Via sekarang. Mama tidak mau kau kelelahan karena kurang istirahat. Jika tahu kau akan sakit. Maka Mama tidak akan membiarkan mu ikut bersama Papanya Via," sela Nyonya Lili yang sangat khawatir pada keadaan menantunya.


Soalnya setelah mandi tadi siang. Alvian menelepon mamanya dan berkata jika Ayara sakit kepala. Gara-gara kelelahan tidak istirahat dengan teratur.


Membuat beliau langsung menyuruh Alvian cepat-cepat membawa Ayara kembali. anak dan menantunya memang akan pulang pada sore hari ini juga.


"Mama," seru Ayara langsung memeluk tubuh ibu mertuanya yang sama seperti ibu kandung sendiri. "Aya sangat merindukan Mama,"


"Mama juga sangat merindukanmu. Rasanya seperti sudah pergi berbulan-bulan saja. Sudah ayo masuk jangan berdiri di sini saja," jawab beliau karena juga sudah menganggap Ayara adalah putrinya.


"Alvin, kalian pindah ke sini lagi. Mama tidak mau jauh dari Aya dan Via," pintanya seperti mana sebuah perintah yang tidak bisa tolak oleh sang putra.


"Apa! Mama sayang, kan kami memiliki rumah sendiri. Jadi siapa yang akan menunggu rumahnya bila selalu tinggal disini," protes pemuda itu mengikuti mama dan istrinya. Dengan Vania dalam gendongannya.


"Biarkan saja. Mama tidak mau bila merindukan mereka harus menunggu dulu menaiki mobil. Lagian ini salah papamu, kenapa membeli rumahnya jauh. Coba ada di sekitar sini. Kan Mama ataupun anak dan istrimu bisa bebas. Kapanpun mau berkumpul bersama tidak harus menaiki kendaraan dulu,"


"Kenapa Papa yang disalahkan. Kan disini tidak ada yang menjual rumahnya. Jadi Papa terpaksa membeli rumah yang jauh dari sini. Walaupun hanya sepuluh menit sudah sampai," Tuan Abidzar menyimpan kembali remote televisi yang lagi ia pegang.


"Ya seharusnya kalau tidak ada, maka tidak usah memberi mereka hadiah rumah. Biarkan tinggal di sini saja," Nyonya Lili terus saja mengeluh yang membuat suaminya hanya tersenyum.


"Bersabarlah. Nanti jika ada yang dekat sini lahannya dijual, maka Papa akan menganti hadiahnya disekitar sini. Biar Mama bisa bebas mau menculik Via," Tuan Abidzar tergelak karena untuk rumah baru putra sulungnya itu, hanya dia dan Alvian yang tahu.


Mungkin dalam bulan ini sudah siap karena ada puluhan orang yang bekerja di sana. Tuan Abidzar adalah seorang pengusaha terkenal dan juga merupakan arsitek. Jadi sudah pasti untuk membangun rumah putranya agar cepat selesai bukanlah hal sulit.


"Papa," sapa Ayara dan Alvian secara bergantian pada Tuan Abidzar yang sudah mengambil alih memangku cucunya.


"Bagaimana dengan perjalanannya, apakah menyenangkan?" berpura-pura bertanya padahal beliau tahu semuanya dari laporan Denis. Termasuk Alvian yang menemui Alice untuk memperingati wanita itu agar tidak mengganggu Aya lagi.


"Sangat baik, Pa. Hanya saja Aya tidak kerasan karena selalu merindukan Via. Eh sekali kami pulang tetap saja Via menempel sama opa," jawab Alvian sambil menarik gemas hidup putrinya.


"Haa... ha... ini sekarang putri kami," tawa beliau begitu menikmati masa tua bersama cucu perempuan. Soalnya kedua orang tua Alvian memang sangat menginginkan anak perempuan. Namun, sayangnya Nyonya Lili tidak bisa hamil lagi.


Begitu mengetahui memiliki cucu perempuan. Tuan Abidzar melakukan berbagai cara Agar Alvian dan Ayara bisa bersatu kembali. Sehingga beliau tidak hanya mendapatkan seorang cucu. Namun juga seorang putri.


"Ya-ya! Via anak Papa. Kami akan memiliki anak kembar. Jadi Papa tidak bisa menyegelnya lagi," cibir Alvian ikut duduk bersama kedua orang tuanya.


"Benarkah? Kau membuat Mama hampir jantungan saja Alvin. Mama kira istrimu benar-benar lagi mengandung. Tahu-tahunya kau hanya sedang membuat heboh jagat raya," imbuh Nyonya Lili ingin rasanya memukul sang putra.


"Tolong do'akan saja, Ma. Agar Ayara cepat-cepat hamil lagi," Alvian hanya tersenyum kearah mamanya.


"Tentu saja Mama akan mendoakan yang terbaik buat kalian berdua. Mama juga sangat berharap agar Aya segera hamil lagi,"


"Jika sudah saatnya pasti kita akan memiliki cucu. Entah itu laki-laki ataupun perempuan, Ma. Jadi cukup berdo'a saja, jangan sampai keinginan kita mau memiliki cucu lagi, malah membuat Aya merasa tertekan," kata Tuan Abidzar tidak mau sang menantu memiliki beban pikiran gara-gara belum bisa hamil lagi.


"Astaga! Papa benar sekali, kenapa lama bisa lupa seperti ini," seru Nyonya Lili. "Sayang, tolong maafkan Mama, Nak. Mama benar-benar tidak memiliki maksud apapun. Apa yang Mama katakan hanya refleks karena begitu bahagia memiliki dirimu dan Vania,"


"Iya, Ma. Mama tidak perlu meminta maaf, karena Aya pun sama ingin segera bisa hamil lagi. Agar Via tidak sendirian," jawab Ayara tersenyum.


"Ma, nenek sama Deri kemana?" tanya Ayara untuk mengalihkan pembicaraan tentang anak. Soalnya dia bertanya juga tepat karena di rumah hanya ada kedua mertuanya saja.


"Nenek masih dibawa Tante Anin. Sedangkan Deri lagi pergi kerumah temannya,"


"Pantas saja sepi," sambung Alvian menguap kantuk. Padahal baru jam setengah enam sore.


"Kalian istirahat saja ke kamar. Bawalah Via ke atas. Aya pasti juga mau bersamanya. Nanti saat makan malam Mama akan memanggil kalian," titah Nyonya Lili mengerti perasaan seorang ibu. Apabila baru berjumpa anaknya.


Beliau tidak ingin egois. Yaitu menahan Vania bersama mereka. Sedangkan Ayara adalah ibunya.


"Iya, Ma. Alvin juga sangat mengantuk," tidak bertanya pada Ayara lagi. Alvian langsung mengambil keputusan untuk membawa anak dan istrinya istirahat di kamar.


"Ma, oleh-olehnya dibuka saja. Tadi lagi diturunkan oleh Roby sama Bibi pelayan," ucap pemuda itu hampir lupa.


"Iya, pergilah istirahat. Nanti malam saat tante-tante mau datang, baru Mama akan membukanya," titah Nyonya Lili yang dituruti oleh anak dan menantunya. Begitu pula Vania yang dibawa juga kelantai atas.


"Pa, benarkah papinya Alice Norin mau melakukan kejahatan pada menantu kita?" tanya wanita itu yang tidak sengaja mendengar suaminya bicara dengan seseorang di telepon.


Kejadian itu pun sebelum kedatangan Alvian dan Ayara. Jadinya beliau belum sempat bertanya. Apalagi ada Vania bersama mereka.


"Mama tahu dari mana?" Tuan Abidzar balik bertanya.


"Jadi benar? Apa mau mereka? Bukannya selama ini sudah menumpang berteduh di perusahaan Evander. Lalu kenapa malah mau menyakiti Aya hanya karena Alvin tidak menyukai anaknya yang seperti Alien itu. Sumpah demi apapun, daripada memiliki menantu seperti putrinya. Maka lebih baik putra-putra ku tidak menikah seumur hidupnya," cecar Nyonya Lili kesal karena ada orang yang mau menyakiti putrinya.


"Agh! Mama sejak kapan menguping pembicaraan Papa, huem?" Tuan Abidzar berdiri dari sofa dan mengajak istrinya masuk kedalam kamar mereka.


"Mama bukannya menguping. Tapi kebetulan sekali mendengar Papa berbicara dengan seseorang,"


"Iya, Noah Norin mau mencelakai putri kita. Tapi dia bodoh karena sudah mengabaikan Papa. Dikiranya Aya tidak ada yang menjaga, jadi mau coba-coba bermain degan keluarga Rafael. Mimpi saja dia karena Papa tidak akan membiarkan satu orang pun menyentuh Ayara," ucap tegas Tuan Abidzar.


"Baguslah! Mama kira Papa akan membiarkan saja Noah menyakiti menantuku. Jika benar hal tersebut terjadi, maka Mama akan pergi dari rumah ini membawa Aya dan Vania," ancam beliau yang membuat Tuan Abidzar tersenyum saja.


"Mana mungkin Papa akan membiarkan dia melakukan rencana jahatnya. Mama lihat saja apa yang akan terjadi pada keluarga mereka dalam waktu dekat ini. Begitu pula dengan keluarga Wilson," lanjut beliau berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan ucapannya.


"Besok Alvian akan membawa Ayara mendatangi rumah kediaman Edward bersama anak dan istrinya, yang saat ini rumah itu sudah menjadi milik Aya. Jadi terserah pada putri kita bila mau mengusir mereka pun itu adalah haknya,"


"Apakah Papa serius? Wah, ini adalah balasan untuk mereka yang sudah menyakiti Ayara sejak kecil,"'


"Iya, tentu saja Papa serius, karena Papa benar-benar tidak bisa menerima atas perlakuan buruk Edward pada putri sahabat ku," Tuan Abidzar tersenyum karena rencana pembalasan perlakuan kejam keluarga Wilson sudah ada didepan mata.


... BERSAMBUNG... ...