
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
"Kak Renata mau menikah dengan siapa tanya Alvian dan Ayara yang kembali lagi saling tatap.
"Renata akan menikah dengan---"
"Bu--bukan dengan Papa, kan?" Ayara menyela ucapan Tuan Edward. Disertai tatapan penuh selidik.
Dari cara Ayara menatap papanya. Semua orang bisa menebak bahwa gadis itu tidak mau apabila sang ayah menikah bersama Renata. Sehingga gelak tawa pun memenuhi ruangan tersebut.
"Haa... ha... tentu saja tidak, Nak. Papa tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Yaitu menghianati Jasmeen ibumu. Dia mencintai Papa sampai akhir hayat nya. Jadi Papa tidak akan pernah menikah lagi. Karena tujuan hidup Papa sekarang hanya satu," Tuan Edward ikut tertawa seperti yang lainya.
"Tujuan Papa hanya ingin membahagiakanmu, Nak. Sudah cukup waktu belasan tahun yang sudah Papa lewatkan bersama dirimu. Sekarang Papa ingin hidup damai bersama anak, menantu. Beserta cucu-cucu Papa, hanya itu saja tidak lebih," lanjut beliau tersenyum karena Ayara tiba-tiba memeluk dirinya.
Jangan heran kenapa Aya bertingkah seperti mana anak kecil. Semua itu adalah karena dia baru bisa merasakan kasih sayang dari seorang ayah, yang sudah sejak dulu dia impikan.
Apalagi saat ini Tuan Edward hanya memiliki satu-satunya Ayara sebagai keluarga yang tersisa. Jadi sudah pasti Ayara maupun Tuan Edward sendiri akan saling menjaga hubungan di antara mereka berdua.
"Lalu jika Kak Renata tidak menikah dengan papa. Dia mau menikah dengan siapa dalam keadaan sedang hami? Apakah mantan suaminya datang ke sini dan mengajak rujukan lagi?" tebak Ayara setelah melepaskan pelukan bersama papanya.
"Renata akan menikah dengan pengawal Papa Abidzar, Nak. Pengawal yang sudah menjaga Papa saat di rumah sakit. Kemarin siang dia datang ke rumah kita untuk melamar Renata menjadi istrinya," jawab Tuan Edward hanya bisa mengembangkan senyum bahagianya.
Tidak disangka-sangka. Memiliki Ayara sendiri jauh lebih bahagia. Daripada mempunyai istri, anak beserta ibu. Ternyata tidak membuat hidup beliau bahagia karena mereka semua tidak tulus menyayanginya, jika bukan hanya karena harta yang beliau miliki.
"Pengawal Papa yang rambutnya gondrong?" tanya Aya yang begitu penasaran karena takut bila papanya menikahi Renata.
"Iya benar sekali. Namanya Ericson. Dia adalah pengawal Papa sejak masih bujangan seperti mana Denis saat ini. istri dan anaknya sudah meninggal dunia sekitar tujuh atau delapan tahun lalu," sekarang bergantian Tuan Abidzar yang memberi penjelasan pada sang menantu.
Mereka semua bisa mengerti kenapa Ayara bertanya sangat detail. Jadi langsung saja memberi penjelasan degan perlahan.
"Ericson adalah Duda yang tidak memiliki anak dan keluarga yang lainya. Lalu sebelum dia melamar Renata, dia sudah membicarakan kepada papa lebih dulu. Baru setelahnya Papa yang menemaninya ke rumah papamu untuk melamar Renata. Karena kebetulan sekali Renata nya juga mau, jadi akan menikah secepatnya," kata Tuan Abidzar yang sudah biasa menemani para pengawal nya untuk melamar calon istri mereka.
Sebab anak buah Tuan Abidzar rata-ratanya bekerja dengan beliau sejak masih bujangan. Lalu saat mereka mau menikah meminta bantuan sang bos untuk meminang gadis yang mereka sukai.
Soalnya Tuan Abidzar bukanlah orang yang pelit dan sombong pada para pekerjanya. Beliau justru dikenal sebagai bos yang sangat dermawan dan pengertian. Maka dari itu jangan heran kenapa pengawal Rafael sangat banyak dan begitu setia.
"Apakah Ericson tidak keberatan dengan kondisi Kak Renata yang lagi mengandung?" tanyanya lagi karena Ayara tidak mau Renata menderita bila asal menikah saja.
"Tentu saja tidak, justru karena Renata sedang hamil. Itulah alasannya mau menjadi suami Renata sekaligus ayah untuk bayinya," jawab Tuan Abidzar.
"Eum... satu lagi, Aya. Karena Renata tidak memiliki keluarga. Papa ingin dia menjadi anak angkat Papa. Apakah kau tidak keberatan bila Renata dan Ericson tinggal di rumah? Agar Papa ada yang menemani," Tuan Abidzar kembali menanyai putrinya.
"Tidak sama sekali, Pa. Aya justru juga mau mengusulkan hal itu. Karena Aya tidak mungkin bisa selalu menemani, Papa," jawab Ayara berdiri dari tempat duduknya. Lalu berjalan mendekati Renata yang juga lagi duduk bersama dengan Lula.
"Kak Renata sekarang kita sudah menjadi saudara. Jadi jangan pernah memanggil namaku Nona lagi," ucapnya karena Renata selalu menyebut dia dengan sebutan Nona Ayara.
"Nona Ayara, sungguh Ian benar-benar sangat beruntung bisa memiliki istri seperti Anda. Anda adalah wanita yang berhati seperti malaikat. Saya tidak tahu kebaikan Saya yang mana sehingga bisa bertemu dengan Anda. Secara langsung. Niat hati ingin memberikan hadiah atas kehamilan anak kedua kalian. Namun, justru sekarang kita bisa menjadi keluarga. Terima kasih banyak Nona," ungkap Renata langsung berdiri memeluk Ayara sambil menagis.
"Jika tidak pernah bertemu dengan Anda, maka entah seperti mana nasib Saya saat ini. Sekarang Saya bukan hanya memiliki calon suami dan orang tua angkat. Tapi juga memiliki adik seperti malaikat. Bahkan di sini Saya tidak sendiri. Tapi ada kalian semua yang tidak pernah memandang harta maupun martabat," wanita yang kehamilannya sudah besar itu semakin menagis.
"Sudahlah Kakak jangan menangis lagi. Kita semua sama di mata Tuhan. Hanya saja ada yang terlahir beruntung dan ada pula tidak beruntung. Namun, semuanya sama-sama makhluk ciptaan Tuhan," Ayara berhenti sejenak sebelum melanjutkan lagi ucapannya.
"Dan... bukan Ian ALV yang beruntung memiliki istri seperti diriku. Namun, akulah yang beruntung karena bisa menjadi istrinya. Dia adalah sosok yang baik dan bijaksana. Mama dan papa sudah berhasil mendidik Alvin sehingga bisa menjadi seperti sekarang," puji Ayara untuk sang suami dan juga kedua mertuanya.
"Agh! Bila sudah seperti ini, sama saja kita dengan mengontrak di dunia yang sama," keluh Sandy karena Alvian dan Ayara adalah pasangan yang sangat romantis. Mau dimanapun tempatnya mereka selalu menunjukan kemesraan.
"Ha... ha... makanya kalian berempat segeralah mencari pasangan. Agar bisa merasakan seperti apa mencintai pasangan halal," tawa Tuan Abidzar.
"Belum ada tanda-tanda kami akan menikah dalam waktu dekat ini. Karena belum bisa menemukan gadis seperti Ayara, Om. Sepertinya adik perempuan kami ini limited edition," jawab Naufal yang kembali mengundang gelak tawa.
"Jasmeen... maafkan aku sudah menyakitimu dan juga putri kita. Namun, ketahuilah bahwa aku sangat mencintaimu. Sejak dulu sampai saat ini. Tujuan hidupku hanya ingin membahagiakan Ayara sebelum ajal menjemput ku dan semoga kita masih bisa dipertemukan kembali."
Gumam Tuan Edward yang sudah duduk bersebelahan dengan Alvian. Sedangkan Ayara duduk bersama Nyonya Lili. Ibu mertua yang seperti ibu kandungnya sendiri.
Lalu setelah itu mereka semua saling ngobrol satu sama lain. Sampai waktunya untuk makan malam tiba. Malam ini mereka akan makan malam di rumah mewah Alvian dan Ayara. Karena rencananya besok pagi pasangan suami-istri tersebut akan pindah ke rumah baru mereka.
Malam ini semua adik-adik Tuan Abidzar juga datang. Begitu pula dengan para keponakannya yang merupakan sepupu Alvian sebagai cucu pertama dari keluarga Rafael.
Sehingga membuat Ayara benar-benar merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Sebab hubungan dia dan papanya juga sudah membaik.
"Alvin, terima kasih karena dirimu aku akhirnya bisa memaafkan papa. Benar kata mu bahwa aku tidak akan merasa bahagia yang sesungguhnya. Apabila papaku tidak baik-baik saja."
Sekarang bergantian Ayara yang bergumam di dalam hatinya sambil menatap Alvian yang lagi mengobrol bersama orang tua mereka.
... BERSAMBUNG... ...
.
.